LOGINMataku spontan terbelalak ketika melihat Claire sudah terduduk rapih diatas sofa dengan beberapa buku, kertas dan juga pena diatas meja.
Aku sempat mengucek mataku yang membawa gelak tawa pada Claire yang masih duduk manis diatas sofa. "Ada apa tuan Harrie?" Tukasnya sambil tersenyum ramah kearahku. "Ada sesuatu yang aneh? Atau, tuan Harrie merasa bersalah karna terlambat 15 menit dari perjanjian awal?" Bibirnya kembali terkekeh sambil menepuk salah satu buku diatas mejanya "a-aku- "Aku bercanda tuan. Aku memang sengaja datang lebih awal agar tidak terlambat" "Jadi, apa yang tuan Harrie lakukan didepan pintu? Masuklah" Mendengar ajakan itu sontak aku berjalan ragu kedalam ruangan seraya menutup pintu kayu tersebut dengan rapat. Tentu, ada banyak hal yang kupikirkan. Tentang bagaimana perubahan sikapnya yang terasa palsu dan tidak menyakinkan. Dan jujur, duduk dimeja kerja dengan bola mata ambernya yang terus mengamati setiap pergerakan tubuhku dengan lekat, sedikit menganggu konsentrasiku untuk berfikir lebih jernih. Aku menghembuskan nafasku. Berfikir mungkin ucapan yang aku sampaikan malam itu mampu membuatnya merenung dalam semalam. "Sebelumnya, aku meminta maaf atas keterlambatannya. Aku tidak menyangka bahwa nona clairence Winston akan datang lebih awal hari ini" Aku tersenyum tipis kearahnya sambil membuka salah satu buku bersampul merah tebal tentang sejarah kekaisaran sekaligus beberapa buku lainnya yang menjelaskan bagaimana keluarga Dominique tercipta. "Baik, sebelumnya apakah nona sudah pernah mempelajari tentang asal usul kekaisaran Gloria sebelumnya?" Claire menggeleng pelan "belum. Dan apakah harus?" Aku spontan mengangguk "Lebih tepatnya, karna sejarah keluarga Dominique sendiri berhubungan dengan berdirinya kekaisaran Gloria terdahulu" Dahinya kini mengkerut hingga membuat kedua alisnya menyatu. Mata ambernya menatap mataku seakan berharap bahwa aku bersedia untuk membacanya sekaligus menjelaskannya dengan rinci. Kualihkan pandanganku kearah buku tersebut. halaman demi halaman kubacakan untuknya secara jelas dan perlahan. kujelaskan bagaimana kekaisaran Gloria tercipta, hingga bagaimana sebuah perebutan tahta dan juga kuasa mampu menewaskan banyak rakyat jelata tak berdosa yang harus mati ditangan musuh karna peperangan saudara. Seluruh bagian terpenting pada sejarah telah kubacakan dengan baik untuknya. namun, "Jadi, bagaimana kekaisaran Gloria tercipta?" Tanyanya yang sontak membuatku bertanya - tanya. Apakah pelafalanku begitu buruk hingga ia kesulitan memahami dan mendengarnya? "Seperti yang ku jelaskan terjadi. Kekaisaran Gloria tercipta karna adanya peperangan saudara yang membuat kepemilikan tanah kini terbagi dua. Kekaisaran Gloria dan juga kekaisaran lumina" "perang saudara? Memangnya kekaisaran lumina dan kekaisaran Gloria bersaudara?" Aku menghembuskan nafasku kembali. Kesabaranku perlahan, mulai diuji kembali. "Iyaaa. Karna pemimpin kekaisaran gloria yang pertama adalah adik dari dari pemimpin kekaisaran lumina" "Kenapa mereka membangun kekaisaran masing - masing. Kenapa tidak buat saja satu kekaisaran yang sama?" Aku kini mengusap wajahku dengan tangan kananku. "Karna, seperti yang saya sudah ceritakan sebelumnya. Keduanya terpecah karna peperangan saudara untuk saling berebut akan tahta. Membuat sang kaisar memutuskan membagi tanah wilayahnya menjadi dua bagian. Satu untuk putra sulungnya yang kini menjadi kekaisaran lumina. Dan satu untuk putra bungsunya yang kini kita kenal sekarang sebagai kekaisaran Gloria" "Berarti, raja kekaisaran Gloria dan lumina yang sekarang adalah saudara?" Pertanyaan itu lantas membuat rasa kesabaranku berubah menjadi rasa penasaran. "Maaf, apakah nona sudah pernah mempelajari tentang silsilah keluarga?" "Maksudnya?" "Seperti- Kalimatku terjeda ketika melihat raut ketidaktahuan Claire yang terpancar polos diwajahnya. Aku kembali menghembuskan nafas panjang seraya mataku berpendar mencari sesuatu yang bisa kujadikan sebagai contoh hingga aku menemukan selembar kertas kosong yang tersimpan didalam laci meja kerja. Ku ambil selembar kertas itu seraya menuliskan suatu silsilah keluarga dalam peta simple yang bergambarkan nama dan juga garis keturunan. Begitu aku selesai. Aku segera menunjukannya pada Claire sambil menunjuk silsilah keluarga Dominique dengan pena kering yang masih kugenggam erat dijemari tanganku. "Kita mulai dengan silsilah keluarga Duke Dominique itu sendiri" Aku mulai menunjuk beberapa nama dengan pena lalu mulai menceritakan dengan rinci. "Keluarga dominique itu awalnya bukanlah bagian dari bangsawan. Keluarga Dominique itu adalah seorang pebisnis sukses yang akhirnya menikah dengan salah seorang putri bungsu kekaisaran Gloria yang pertama" "Berkat citra yang bagus serta kontribusi yang baik pada kekaisaran kala itu. Keluarga Dominique akhirnya diberikan gelar kebangsawanan Duke yang akhirnya mengangkat derajat keluarga dominique yang awalnya sudah sukses. Kini semakin mengembangkan bisnisnya diberbagai industri perhiasan, pakaian bahkan tren yang populer dikalangan bangsawan hingga saat ini" "Bisnis terus dikembangkan lewat keturunan - keturunan mereka hingga kini dipegang oleh pewaris keluarga utama sekarang, Duke Eric Dominique" "Apakah nona mengerti sekarang?" alih - alih membuatnya mengerti. Gelengan kepala Claire sontak membuat rasa kesabaranku mulai sampai dibatasnya. "Maaf, aku tidak mengerti apa hubungannya keluarga Dominique dengan kekaisaran lumina dan juga kekaisaran Gloria" "Apakah keluarga Duke Dominique bersaudara dengan dua kekaisaran lainnya?" Pernyataan yang keluar dari bibir Claire sontak membuatku menghembuskan nafas yang lebih panjang dan tentu lebih berat dari sebelumnya. Aku tidak mengerti. Mengapa otaknya masih tidak bekerja, bahkan ketika aku menjelaskannya lebih jelas, rinci dan mudah dipahami. Sungguh, wajah polosnya yang seakan menatapku tidak mengerti terasa menjengkelkan dimataku. "Intinya adalah, pembicaraan yang kusebutkan tadi. Tidak ada hubungannya dengan kekaisaran Gloria maupun lumina" "Semuanya adalah silsilah keluarga Dominique itu berdiri" "Lalu apa hubungannya dengan kekaisaran glo- "TIDAK ADA!" "KELUARGA DOMINIQUE TIDAK BERSAUDARA DENGAN KEKAISARAN MANAPUN" tanpa sadar suara telah melengking tinggi ketika berbicara dengannya. Aku telah kehilangan kesabaran. Mataku spontan menoleh kearahnya. Bola mata ambernya kini memancarkan aura ketakutan di sana. Pupilnya seakan bergetar hebat ketika kami saling berkontak mata. "Maaf. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu" "Aku hanya- "Maaf, aku tidak bermaksud membuat tuan Harrie marah padaku" "Aku hanya tidak mengerti. Tapi, aku malah membuat tuan Harrie marah padaku" "Maaf" suara lirihnya yang sedikit terlihat gemetar membuat perasaanku kini tenggelam dalam suatu perasaan yang sulit aku jelaskan dengan kata - kata. Aku kini menghela nafasku "Maaf, bolehkah aku izin keluar sebentar?" Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera berlari kecil menuju pintu keluar dan segera menutup pintu itu rapat - rapat. Nafasku tersengal seperti sedang berlari. Wajahku terasa memanas seperti terkena teriknya matahari. Aku menundukan kepalaku sambil sesekali berusaha mengatur nafasku yang mulai tak beraturan. Sungguh, ini bukan keinginanku. Ini bukanlah diriku. Seorang guru seharusnya penyabar seperti yang countess Winston katakan padaku. Namun kali ini, aku mengacaukannya. Aku merasa tak pantas. Aku merasa berbeda. Ucapan itu terus menerus terngiang di kepalaku menguasai pikiranku hingga aku kesulitan bersitatap dengannya. Bahkan ketika aku kembali masuk kedalam ruangan, aku bisa melihat wajahnya yang terlihat ketakutan sambil terus menghindari kontak mataku dengannya. "Sial" ..."saya memang tidak melihatnya secara langsung. tapi entah kenapa saya berfikir bahwa nona memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita"Claire mengangguk anggukan kepalanya dengan pelan dan memijit jemari tangannya dengan gusar. menciptakan suasana canggung diantara senyapnya malam dengan pencahayaan yang remang. terlebih. kami berdiam - diaman cukup lama karna kebingungan dengan apa yang harus dibicarakan. Membuat suasananya jauh lebih canggung dari biasanya."a-apa nona sudah menemukannya?" tanyaku memutus untuk membuka suara.Claire nampak tersentak dalam lamunannya seraya tangannya kini menyelipkan anak rambutnya kesisi telinga "b-belum. saya belum menemukannya" tukasnya sambil menggeleng kaku. "mau saya bantu carikan?" Hening. Claire tidak menjawab pertanyaanku dan sibuk termenung menatap kegelapan diluar pintu dapur yang entah mengapa sedikit membuatku merinding untuk sesaat. merasa di abaikan, aku berniat untuk mencarinya seorang diri sebelum pakaianku ditarik kencang
Kutarik nafasku dan perlahan kuhembuskan dengan berat "aku.. menyukaimu tuan Harrie"hening. Kelopak matanya yang terbuka kini mulai tertutup menunjukan bola mata ambernya yang membulat sempurna. Claire sempat menatapku dengan helaan nafas yang panjang, sebelum tangannya dengan segera ia singkirkan begitu menyadari pisau yang ia acungkan begitu dekat dengan dadaku "ah, maaf tuan Harrie" lirihnya sambil terburu - buru menaruh pisau itu diatas meja.aku sendiri hanya bilang menghela nafas lega dan perlahan menurunkan kedua tanganku ke samping pinggang. Disaat bola mata claire kini bergetar begitu menyadari goresan pisau yang ia torehkan berhasil menembus lapisan kulit kepalaku yang tipis hingga darah segar mengalir dari sana. "ah, yaampun" "kenapa anda tidak bilang pada saya?" tanya Claire dengan nada khawatir. Keadaan ruang dapur yang remang membuat claire semakin cemas tak terkendali. ia terus meraba apa yang bisa ia temukan dilemari atau meja dapur. sebelum kuraih pergelangan tan
ku berbaring kesana, kemari mencari posisi yang pas untuk memejamkan mata hanya untuk mendapati suara Rei yang terus bergema dikepalaku tanpa henti "nona mungkin terlihat bodoh dimata anda. tapi sesungguhnya, itu hanya sebagian kebohongan yang ia buat untuk menutupi sifat aslinya yang nyata""Karna pada dasarnya, tuan hanya tau bayangannya saja. bukan tubuh aslinya"aku terbangun dalam tidurku dengan mata segar tanpa rasa kantuk mengintai tubuhku. sungguh, disuasana gelap tanpa penerangan. aku hanya bisa menataplangit - langit kamar yang gelap gulita. Beradaptasi dengan pekatnya kegelapan sejauh mata ini memandang. Kuusap wajahku dengan nafas berat seraya jemariku mulai meraba - raba korek api yang tersimpan diatas meja. memercik api kehidupan yang meski terlihat kecil namun cahayanya sudah cukup menerangi gelapnya pandangan yang berbayang hitam. Aku memutuskan bangkit dari ranjangku seraya berjalan pelan keluar kamar dengan lilin kecil menemani perjalananku. suasana senyap dan s
Srak Srak Pandanganku kini tertuju pada suara goresan sekop yang beradu dengan tumpukan salju yang menggunung tebal menutupi jalan masuk menuju gerbang utama. Para pelayan saling bahu membahu, menggunakan pakaian yang jauh lebih tebal dan berlapis untuk membersihkan halaman kediaman yang cukup memakan waktu dan tenaga. sedangkan pandanganku sempat teralih pada kereta kuda asing yang terparkir diluar dengan posisi gerbang terbuka lebar. Meninggalkan kuda berwarna coklat muda itu berdiam diri disana cukup lama hingga bibirku bermonolog, merasa iba melihatnya berdiri tegap disaat angin musim dingin menerpa. Kakiku kini melangkah menjauh meninggalkan ambang jendela hanya untuk berbaring di atas ranjang sambil menatap langit - langit kamar yang terasa begitu membosankan. Kuhembuskan nafasku ke langit - langit sambil menutup kedua mataku. Ingatan demi ingatan terlintas. pertanyaan yang claire ajukan dan perubahan sikapnya yang sulit aku mengerti. aku bahkan bisa melihat dengan jel
Pelayan itu pamit undur diri dan kembali menutup pintu ruang kelas dengan rapat. Claire mulai meraih sekeping kue kering kedalam mulutnya. sambil menyesap teh chamomilenya sedikit demi sedikit seperti yang biasa ia lakukan. "Jadi, apa jawabannya?" "jawaban?" tanyaku dengan mata yang masih sepenuhnya terpaut pada kertas jawaban dihadapanku. Claire kini menaruh cangkir berbahan keramik itu keatas meja. meninggalkan suara yang nyaring bersamaan dengan nadanya yang lebih terdengar riang "iyaa jawaban. apa jawaban tuan Harrie?"Dahiku seketika mengernyit. pandanganku kini mengintip diantara kertas jawaban milik Claire yang kini menutupi seluruh wajahku. Jemari yang dipijat pelan dengan ketukan kaki yang ia lakukan saat merasa gugup. aku tau bahwa ia begitu penasaran dengan jawabannya. Kuperbaiki postur tubuhku dan berusaha bersikap setenang mungkin. "Jawaban? eum.. belum" Claire seketika menoleh dengan mata terbelalak seakan tidak percaya "belum? tuan Harrie belum memutuskan jawaban
kembali aku terduduk disisi ranjang sembari meratapi surat yang Eric kirimkan padaku sore hari tadi. .. Untukmu Harrie Smith Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karna tidak memberitahu bagian terpenting dari rencanaku padamu. aku sungguh - sungguh ingin mengatakannya tapi, aku pikir akan lebih baik jika memberitahukannya tepat setelah makan malam. namun, berhubung kau sudah tau. mungkin aku akan menjelaskannya tepat setelah perjamuan makan malam yang akan kalian hadiri nanti. karna rasanya, ada banyak pertanyaan dan penjelasan yang mungkin tidak akan muat jika ditulis disatu lembar surat ini. Dan, aku sudah mengirimkan surat undangan resmi pada countess Winston untuk mengundangnya dan calon tunanganku "clairence" ke perjamuan makan malam Minggu depan. Jadi, kau tidak perlu memberitahukannya lagi karna aku sudah mengirimkan undangannya langsung kepadanya. dan.. Aku memang tidak mengatakannya didalam surat undangan yang kukirimkan pada countess. Tapi, biar kuberi tahu







