MasukMataku kini Lamat - Lamat memperhatikan wajah Claire sebelum,
"Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu asal nona tidak mengirim saya kembali kesana" mendengar hal itu, claire nampak mengedipkan matanya tidak percaya. Matanya kini berpendar kearah lainnya seakan menimbang - nimbang tentang permintaanku yang terdengar seperti seseorang yang tengah memohon dimatanya. yaa, aku tau bahwa harga diriku akan dipertaruhkan secara tidak langsung disini. tapi, kupikir ini lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali. "Melakukan apapun?" tanyanya mencoba memastikan kembali yang spontan membuatku mengangguk "Apapun" Kali ini ia tidak menyembunyikan senyuman itu dibalik wajah datarnya. bibirnya tersenyum tipis sambil sesekali berkontak mata denganku. "Tapi.. apa tuan Harrie yakin dapat menyanggupinya? Tuan kan, tidak tau apa yang kuinginkan sekarang kan?" "yaa.. saya memang tidak tau, apakah bisa menyanggupi keinginan nona apa tidak. Tapi.. saya yakin bahwa nona memiliki keinginan yang bisa saya wujudkan" meski tentu Didalam hatiku, aku cuman bisa berdoa agar ia tidak meminta sesuatu yang aneh atau lebih buruk, diluar kendaliku. Aku menunggunya dengan sabar sambil memainkan jemariku merasa gugup setiap matanya menatapku dengan tatapan yang sulit aku jelaskan dalam kata - kata. "Baik. Aku sudah memutuskannya" Claire kini meneguk secangkir teh itu hingga habis dan menaruhnya kembali keatas meja.Tak "awalnya aku tidak ingin berubah pikiran. Tapi sepertinya, tuan Harrie Sangat menyukai diriku hingga tidak ingin meninggalkan kediaman ini secepat mungkin" tukas Claire dengan senyuman puas yang kini terukir diwajahnya. "aku ingin tuan Harrie mewujudkan satu permintaanku"Masa tegang yang terjadi beberapa detik yang lalu kini hilang digantikan rasa bingung yang seketika membuatku mengkerutkan dahiku hingga kedua alisku menyatu. "Satu?"
Claire mengangguk pelan sambil menjawab dengan antusias "Iyaa. Satu" "Kenapa? apakah tuan Harrie keberatan?" "Tidak. Sama sekali tidak" celetukku yang langsung mengundang senyuman tipis diwajahnya. "Jadi, satu permintaan apa yang nona inginkan?" "Iya" Aku kembali mengkerut dahiku sambil mengubah posisi duduk ku yang sedikit agak tegak. "Iyaa. Jadi satu permintaan apa yang nona inginkan?" "Iya" "Aku ingin tuan Harrie bilang iya pada apapun keinginanku" Mataku seketika terbelalak begitu mendengar keinginannya "Sebentar, nona bilang bahwa permintaannya hanya satu. dan nona ingin saya bilang iya pada apapun yang nona inginkan?" Gadis itu spontan mengangguk antusias "Benar" "Rupanya tuan Harrie mudah mengerti yaa?" Gadis itu terkekeh tidak berdosa, seakan menertawakan kekalahanku untuk kedua kalinya. Rautku seketika berubah muram. Tentu, meski aku berjanji padanya pada bahwa ledakan emosi itu tidak akan kembali. Aku juga tidak berjanji bahwa aku bisa menahannya lebih lama. Begitu ia selesai menyelesaikan kalimat itu. Lantas, aku beranjak dari meja. Membereskan setiap buku - buku yang berserak diatas meja kerja. dan berusaha menghindari kontak mata dengannya. Karna sepertinya, emosiku akan meledak kembali. Aku memang tidak mengamatinya secara jelas. Tapi aku bisa melihat dari sudut mataku, bahwa gadis itu ikut beranjak dari sofa begitu aku melangkah keluar dari meja. tangannya kini menahan pergelanganku dengan erat "Ada apa? Bukannya tuan Harrie sudah berjanji akan menyanggupi apapun keinginanku?" Aku kini mengatur nafasku "Aku memang berjanji akan menyanggupinya. Tapi ini diluar kendaliku nona" "Lebih baik aku pergi dari sini seperti yang nona inginkan sejak awal" Tangannya kini mulai mengendur. Aku bisa merasakan jemarinya mulai melemah "Bahkan aku belum sempat menyelesaikan keinginanku. tapi tuan harrie sudah mengambil kesimpulan sendiri" ucapan yang sebelumnya melembut perlahan mulai terdengar sedikit ketus. Aku kini menolehkan wajahku kearahnya Dan melihat rautnya yang berubah muram dengan sepasang mata amber menatapku dengan tatapan tajam "Tuan bahkan baru mengenaliku lima hari. Dan sekarang tuan bisa membaca pikiranku sekarang?" Gadis itu sepenuhnya melepas jemarinya dari pergelangan tanganku dan melipat kedua tangannya kedepan dada. "Sungguh luar biasa. Itulah kenapa aku membenci orang dewasa. Mereka berfikir bahwa mereka adalah manusia yang sempurna dan penuh pengalaman. Padahal mereka hanyalah manusia yang sedikit lebih tua tapi bertindak seakan tau segalanya" "Dan Sekarang, orang dewasa itu bahkan berusaha membaca pikiran seorang anak berusia 16 tahun yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu. Sungguh mengesankan" Claire nampak berdecak sambil tertawa angkuh dihadapanku.sungguh, perasaanku kini berubah menjadi campur aduk. disatu sisi aku berusaha untuk tidak masuk kedalam perangkapnya, namun disisi lainnya, egoku berkata bahwa emosiku sudah berada diambang batas kesabaran yang tinggi. dan tanpa kusadari, bibirku yang awalnya terbungkam perlahan mulai terbuka.
"ohh yaa, apakah aku terlihat seperti orang dewasa yang nona bicarakan itu?" Kini aku mulai tertawa
"Lalu, apa yang nona pikirkan sekarang? berfikir bahwa pria dewasa ini sosok munafik yang terlihat baik Dimata semua orang? Atau, seseorang yang tidak pantas menjadi seorang guru karna kehilangan kesabaran saat mengajar seorang murid?""Bilang saja pada saya. Nona tidak menyukai saya sejak kedatangan saya kesini. Dan sejak awal, nona memang berniat untuk mengusir saya secara halus bukan?"
"Saya memang bukanlah manusia yang terlahir dari keluarga bangsawan. Tapi saya sudah cukup mendengar penghinaan yang nona lontarkan sejak awal" "Jika nona memang tidak menginginkan saya. Maka dengan terhormat saya akan pergi dari kediaman ini"aku menyelesaikan kalimatku dengan nafas yang sedikit tersengal - sengal. Mataku secara nanar, menangkap sepasang mata ambernya yang menatapku dengan tatapan yang sulit aku jelaskan dengan kata - kata. jujur melihat tubuhnya yang tidak bergeming. rasa puas yang kurasakan sekarang, kini berganti menjadi penyesalan yang diakhir oleh rasa khawatir yang menggebu - ngebu dalam diriku. aku takut ucapan yang kukatakan terdengar kasar untuknya. Aku memang marah padanya, tapi aku juga tidak ingin menyakitinya.
Tanganku secara tidak sadar, berusaha meraih jemarinya hingga, tawa renyahnya seketika membuat mataku terbelalak sempurna. "Hahahaha. Maaf aku bukan menertawakan kalimatmu tuan. tapi aku menertawakan raut tuan yang berubah kaku begitu menyadari seberapa banyak kalimat yang tuan lontarkan sebelumnya" claire terus tertawa geli hingga ia memegang perutnya merasa sesak sekaligus lelah karna terlalu banyak tertawa. alisku kini menyatu meninggalkan mata yang masih berusaha menangkap apa yang terjadi. Jujur aku tidak paham dengan perubahan sikapnya yang secara drastis berubah menjadi lebih- hangat mungkin? begitu ia merasa puas karna terlalu banyak tertawa, claire kini menarik nafasnya panjang. sebelum memulai pembicaraan kembali. "Ada apa? apa ada yang aneh dengan wajah saya?" "yang aneh bukan wajah nona. Tapi sikap nona" Claire kini mengekerutkan dahinya nampak tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan. "Lupakan saja" Claire kini terkekeh sambil menatap wajahku dengan lekat "Jadi, apakah tuan Harrie sudah lebih lega sekarang?" "Ya. Sangat lega hingga membuatku bingung Sekarang" Mendengar hal itu, Claire kembali terkekeh. "Jadi, bolehkah aku menyelesaikan keinginanku yang sempat terpotong sebelumnya?" Melihat anggukan kepala dariku, Claire dengan semangat mulai melanjutkan keinginannya yang sempat terpotong beberapa menit yang lalu. "Jadi, seperti keinginanku sebelumnya, bahwa aku ingin tuan Harrie menyetujui segala keinginanku dengan kata iya" "Tapiii, aku tau bahwa keinginanku terkesan seperti tengah memperbudak seseorang secara tidak langsung" "Oleh karna itu. Karna tuan Harrie sendiri adalah guru pembimbingku. Maka, rasanya akan lebih tepat jika menggunakan kesempatan ini untuk digunakan ke hal yang lebih positif" aku kini menaikan satu alisku, "Jadi?" "Jadi.. tuan Harrie hanya wajib menyetujui keinginanku apabila itu berhubungan dengan pendidikan. Jika diluar dari hal itu, tuan Harrie bisa menolak atas dasar kesepakatan yang sudah dibuat" "Bagaimana?""ayo" "saya antarkan kekamar nona" tukasku sambil berjalan pelan mendahului Claire yang masih terlihat gusar di sisi tangga. kakinya kini mulai melangkah kaku dengan kedua tangannya terlipat kedepan. Claire berusaha untuk tidak menoleh kearahku disaat matanya terus melirik setiap 5 detik sekali. diantara cahaya remang yang menuntun kami menaiki anak tangga. tidak ada percakapan apapun selain sibuk dengan isi pikiran masing - masing. suasana terasa begitu hening dan senyap. Meninggal derap langkah kaki yang menemani perjalanan kami. begitu berada diambang pintu kakiku kini berhenti sambil berbalik badan kearah Claire yang ikut terhenti di belakang punggungku. "sudah sampai" Claire kini menganggukan kepalanya dengan kaku sambil memainkan jemari tangannya. kakinya kini berjalan mendahului tubuhku sambil meraih gagang pintu kamarnya yang mulai meninggalkan celah kecil disana. Claire sempat menatap celah pintu itu cukup lama sebelum jemarinya melepas gagang pintu dan membalika
"apa maksudnya nyubit - nyubit?" "mentang - mentang udah ketahuan makanya jadi bersikap seenaknya?"jawabnya ketus dengan suara parau yang tengah menahan tangisannya untuk pecah. Kepalaku kini menggeleng pelan sambil menunjuk kearah ruang utama yang sepenuhnya telah senyap tanpa suara bahkan bayangan dari cahaya lilin. Claire kini memberanikan diri untuk menolehkan wajahnya hanya untuk mendapati tubuhnya kehilangan tenaga. bulir air mata kini turun dari pelupuk matanya untuk kedua kalinya. Membuatku berfikir 'apa terlalu berlebihan membuatnya menangis dua kali dalam satu malam seperti ini?' dengan isakan kecil. Claire yang kehilangan seluruh tenaganya kini terjatuh dalam posisiku terpelungkup diatas dadaku.membuat pakaian tipis yang kugunakan. untuk kedua kalinya kembali digenangi oleh air mata yang sama yang kini membasahi ditempat yang berbeda. Jika sebelumnya genangan itu terbentuk diatas pundak kanan. sekarang genangan itu terbentuk diatas dada layaknya lingkaran sungai di b
perlahan kutolehkan kepalaku dengan pelan kearahnya dengan gerakan kaku seperti engsel pintu yang terlalu tua untuk digunakan.Pipinya yang bersemu merah seperti buah Cherry dimusim semi, kini menatapku dengan tatapan lekat yang sungguh membuat jantungku berpacu lebih cepat lagi.Deru nafasnya yang kembang kempis kini mampu kurasakan dengan jarak yang tidak lebih dari satu centi. perlahan, aku mulai memundurkan tubuhku sebelum tubuhnya ikut mendekat seberapa keras aku berusaha menjaga jarak dengannya. "kenapa tuan Harrie membisu? apa anda masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk mengatakannya?" Kutelan Salivaku dengan kesulitan dan mulai menarik nafas dalam - dalam "s-saya.. Tap Tap Tap "suara siapa itu?" Derap langkahnya yang terdengar terburu - buru membuatku dan juga Claire mendadak kalang kabut hingga lilin tak sengaja tersenggol oleh tangannya dan padam dalam sekejap. situasi semakin tidak kondusif disaat tubuhnya mulai terjatuh tepat diatas dadaku dengan pos
suara langkah kaki itu kian mendekat. baik aku dan claire nampak saling berdiam diri mematung satu sama lain sambil menatap kearah pintu berukuran sedang disamping tubuh kami. suaranya semakin terdengar jelas. hingga.. Tap Tap Tap "madam, saya menemukan beberapa barang di dalam dapur dalam keadaan berantakan" "apa yang kau temukan?" "Pisau yang tergeletak diatas meja. dan ada bekas darah segar yang masih menempel diujung pisau" mendengar hal itu sontak tanganku kini menyentuh dahi kepalaku yang yang masih menyisakan luka meski darah segar sudah tidak keluar dari sana. Claire nampak cemas menatapku sebelum aku berusaha menenangkannya dan mendengar percakapan mereka kembali. aku memang tidak terlalu mendengarnya tapi yang jelas, wanita paruh baya itu menyuruh para penjaga untuk berpatroli keseluruh ruangan yang ada tanpa terkecuali. Ketukan langkahnya kini mulai senyap bersamaan dengan bayangan tubuhnya yang mulai terlihat membesar lewat langkah kakinya y
Claire yang sejak tadi menggerutu seorang diri kini kubungkam dengan salah satu tanganku. membuat tubuhnya kini memberontak kecil sambil berusaha melepas bekapan tanganku dari mulutnya. "mphh hmphhh?"kuhela nafasku sambil berbisik ditelinganya "ada suara langkah kaki dilantai dua" mendengar hal itu Claire seketika berhenti memberontakan tubuhnya dan mulai menoleh kearah anak tangga yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. suara derap langkah juga kian terdengar jelas bersamaan Claire yang kini menarik pakaianku sambil menunjuk ruangan sempit dibawah anak tangga. awalnya aku menggeleng pelan berusaha menolak ide konyolnya. bagaimana mungkin ruangan yang hampir berukuran setengah kamar tidurku mampu menampung dua orang dalam satu tempat. mungkin itu akan cukup untuknya. tapi bagaimana denganku? aku menggeleng seraya berpendar kesekitar mencari sudut atau ruang kosong diantara keterbatasan pandangan antara cahaya lilin dan juga kegelapan. "Siapa disana?" suara salah seorang wani
"saya memang tidak melihatnya secara langsung. tapi entah kenapa saya berfikir bahwa nona memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita"Claire mengangguk anggukan kepalanya dengan pelan dan memijit jemari tangannya dengan gusar. menciptakan suasana canggung diantara senyapnya malam dengan pencahayaan yang remang. terlebih. kami berdiam - diaman cukup lama karna kebingungan dengan apa yang harus dibicarakan. Membuat suasananya jauh lebih canggung dari biasanya."a-apa nona sudah menemukannya?" tanyaku memutus untuk membuka suara.Claire nampak tersentak dalam lamunannya seraya tangannya kini menyelipkan anak rambutnya kesisi telinga "b-belum. saya belum menemukannya" tukasnya sambil menggeleng kaku. "mau saya bantu carikan?" Hening. Claire tidak menjawab pertanyaanku dan sibuk termenung menatap kegelapan diluar pintu dapur yang entah mengapa sedikit membuatku merinding untuk sesaat. merasa di abaikan, aku berniat untuk mencarinya seorang diri sebelum pakaianku ditarik kencang







