Share

Bab 2 

Penulis: Simon
Keesokan harinya, di Pengadilan Negeri Kota.

Palu diketuk dan hakim ketua menyatakan terdakwa tidak bersalah.

Saat Alesha membereskan dokumen-dokumennya, ibu terdakwa menggenggam tangannya dan mengucapkan "terima kasih" berulang kali. Dia menyuruh ibu terdakwa untuk tidak perlu berterima kasih karena ini adalah pekerjaannya. Bahkan saat meninggalkan gedung pengadilan, dia masih mengulang detail persidangan itu.

"Itu orangnya!" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang melengking.

Sebelum Alesha sempat bereaksi, sekelompok orang sudah mengerumuninya.

Wanita paruh baya yang memimpin kelompok itu menarik lengan baju Alesha dan berseru, "Kamu yang bela bajingan itu! Putriku baru berusia 18 tahun. Sekarang, dia terbaring di rumah sakit karena sudah mengiris pergelangan tangannya tiga kali! Dasar pengacara nggak berperasaan! Kalian akan melakukan apa saja demi uang!"

"Bibi, tolong dengarkan dulu penjelasanku ...."

"Nggak!" Wanita itu mendorong Alesha dengan kuat. "Kalian itu cuma antek-antek orang kaya! Keluarga bajingan itu kaya, makanya kalian bantu dia lolos dari hukuman! Putriku sudah dinodai, tapi kalian berani bilang dia melakukannya atas kemauannya sendiri?"

Orang yang berkerumun makin banyak.

Alesha mencoba menjelaskan, "Buktinya memang tidak cukup kuat. Pada saat itu, pihak polisi ...."

"Bukti nggak cukup kuat?" Wanita itu menyela dengan suara melengking, "Bukannya pengacara seperti kalian paling pintar manfaatkan celah hukum? Kalian bisa mengubah yang salah jadi benar, bahkan bisa hidupkan kembali orang yang sudah mati!"

Alesha menutup mulutnya. Dia tahu bahwa apa pun yang dia katakan sekarang tetap salah.

"Pukul dia! Dasar pengacara tak berperasaan!"

Orang-orang melempar Alesha dengan sayuran busuk dan botol air mineral. Bahkan ada orang yang melempar batu dan menyebabkan rasa sakit yang tumpul di bahunya.

Saat batu kedua meluncur ke arahnya, Alesha menunduk dan melindungi map berkas di tangannya. Namun, rasa sakit yang diharapkan tidak datang. Dia ditarik seseorang dari belakang, hingga punggungnya membentur dada yang hangat.

Orang itu mengangkat tangannya dan menarik Alesha ke dalam pelukannya. Sebuah batu menggores wajahnya dan meninggalkan bekas darah.

"Aus ...." Alesha sangat terkejut.

Austin mengucapkan beberapa kata kepada satpam yang bergegas datang. Suaranya rendah, tetapi terdengar berwibawa.

Setelah kerumunan dihalau oleh satpam, Austin membawa Alesha menuju tempat parkir bawah tanah. Kenapa Austin ada di sini? Bukannya dia tidak pernah ....

"Perhatikan jalan."

Terdengar suara datar Austin dari atas kepala Alesha. Alesha menunduk dan menyadari dirinya hampir salah langkah.

Setelah sampai di tempat parkir, Austin melepaskan Alesha dan menyampirkan mantelnya di bahu wanita itu.

"Kamu tampil sangat baik di sidang tadi," ucap Austin.

Alesha mendongak. Luka di wajah pria itu masih mengeluarkan darah dan dia tidak menyekanya.

"Kamu berhasil patahkan rantai buktinya habis-habisan. Di sesi pemeriksaan saksi, pengacara pihak lawan sampai nggak punya bantahan lagi."

Alesha mencengkeram kerah mantel itu erat-erat. Dia tiba-tiba tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Austin tidak pernah menyaksikan sidangnya. Dalam empat tahun pernikahan mereka, dia telah menangani ratusan kasus, baik yang besar maupun kecil. Namun, Austin tidak pernah menghadiri satu pun persidangan itu.

Terkadang, Alesha bercanda dengannya, "Pak Austin, datang dan beri aku beberapa petunjuk, dong."

Namun, Austin akan menyahut, "Litigasi komersial dan pembelaan pidana beda jalur. Aku nggak akan bisa membantu."

Alesha mengira ....

"Austin!" Tidak jauh dari sana, Prisha keluar dari mobil Austin. Setelah melihat jelas penampilan Austin, Alesha pun mengernyit.

"Sudah kubilang kita seharusnya parkir di pintu masuk. Lihat saja penampilanmu sekarang." Prisha menatap Austin dan melanjutkan dengan nada menegur, "Karena khawatir orang-orang itu akan melukaiku saking emosinya, kamu bersikeras antar aku sampai ke tempat parkir sebelum pergi sendiri. Itu kan buang-buang waktu banget!"

Austin menjelaskan dengan sabar, "Lingkaran sosialmu sederhana. Kamu nggak tahu apa yang bisa dilakukan orang yang sudah gelap mata."

Prisha langsung cemberut. "Iya, iya. Kamu masih saja secerewet biasa. Aku bukan anak kecil lagi."

Alesha berdiri mengamati mereka dari samping. Obrolan mereka terdengar ringan, tetapi mampu menghantam hatinya dengan kuat. Ternyata seperti inilah sikap Austin ketika benar-benar menyukai seseorang. Meskipun dia berada dalam bahaya, pria itu juga harus memastikan keamanan Prisha dulu sebelum memilihnya. Padahal, dialah istri sah Austin.

Prisha menatap Alesha. "Bu Alesha, ayo naik ke mobil. Penampilanmu menyedihkan juga. Suruh Austin antar kamu pulang biar kamu bisa mandi dengan baik."

Sambil berbicara, Prisha menyingkir dengan santai, seperti seorang nyonya rumah.

Alesha tersenyum tipis. "Nggak perlu. Aku juga nyetir kemari."

Alesha melepas mantel itu dan menyerahkannya kepada Austin. "Terima kasih."

Austin tidak menerimanya. "Pakai saja."

"Nggak usah."

Alesha menyelipkan mantel itu ke tangan Austin, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Saat menyeka cairan telur dari wajahnya, dia baru menyadari tangannya gemetar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 23 

    Ketika pintu ruang rapat dibuka, kedua sisi meja panjang sudah dipenuhi orang. Alesha dan Javier berjalan masuk secara berdampingan. Pandangan mereka menyapu setiap orang yang hadir. Semua orang menyimpan niat tersendiri.Austin duduk di samping Rafka. Sebuah dokumen terbentang di depannya dan dia sedang berbicara pelan.Prisha duduk di sebelahnya. Ekspresinya terlihat angkuh."Bu Alesha, aku nggak nyangka akan bertemu denganmu di sini. Dengar-dengar, kamu sudah dipindahkan ke Kabupaten Aruna? Kenapa? Nggak tahan tinggal di sana?"Terdengar tawa pelan beberapa orang yang duduk di sekitar.Alesha tidak menjawab, hanya membuka map di depannya.Javier mewakili Alesha berbicara, "Mari kita mulai rapatnya." Rapat resmi dimulai.Di paruh awal, Keluarga Muliadi selalu memegang kendali, sampai Rafka mengumumkan pemungutan suara."Yang setuju saya mengambil alih perusahaan, silakan angkat tangan." Orang-orang dari kedua sisi meja mulai mengangkat tangan masing-masing.Rafka menurunkan tangann

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 22

    Setelah kuah mendidih, Kayla mulai menambahkan bahan-bahan makanan ke dalam pot sambil bertanya, "Ayo ceritakan padaku. Apa hubunganmu dengan Javier?""Dia cuma teman.""Kalau cuma teman, apa mungkin dia temani kamu kembali untuk menangani urusan?" Kayla terlihat tidak percaya."Lesha, aku memang nggak pernah ketemu sama dia. Tapi dalam tiga tahun terakhir, hampir setiap kali waktu kita teleponan, kamu pasti akan ungkit soal dia. Mungkin kamu juga nggak nyadar." Gerakan Alesha mengambil makanan terhenti sejenak.Kayla berbicara sambil menghitung dengan jarinya, "Hari ini, Javier bantu entah siapa cari ayam lagi. Javier berkelahi lagi. Javier dimarahi lagi karena bermulut usil. Javier membawakanmu makanan lagi. Coba dengar sendiri, apa ini sikap seorang teman yang normal?" Alesha terdiam beberapa detik."Dia ...." Alesha hendak berbicara, tetapi terdiam lagi.Kayla menunggunya melanjutkan."Dia lumayan baik," kata Alesha pada akhirnya.Kayla menatapnya sejenak dan tersenyum. "Oke. Yan

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 21 

    Saat mobil memasuki kota, Alesha menyadari bahwa dia sudah tidak kembali selama tiga tahun penuh. Gedung-gedung tinggi berkelebat di luar jendela, papan reklame menampilkan wajah-wajah yang tidak dikenal, bahkan pohon-pohon di pinggir jalan juga tumbuh lebih tinggi dari yang dia ingat.Javier terus berbicara di telepon sepanjang perjalanan. Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Alesha. "Kita istirahat di hotel dulu. Nanti malam, ada yang perlu kita temui.""Siapa?""Bawahan lama ayahku yang masih berusaha pertahankan perusahaan sampai sekarang. Ada beberapa hal yang perlu aku klarifikasi terlebih dahulu." Alesha mengangguk tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut.Pukul delapan malam itu, Javier membawa Alesha ke sebuah kafe. Di ruang privat, duduk seorang pria berusia 50-an tahun yang beruban dan berkacamata. Matanya langsung memerah saat melihat Javier masuk."Javier ....""Paman Gading." Javier berjalan mendekat dan menjabat tangannya. "Aku sudah kembali." Gading menepuk-ne

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 20

    Javier membuka mulutnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Alesha melanjutkan, "Kembalilah. Rebut kembali apa yang seharusnya adalah milik ayahmu. Mampu mempertahankan atau nggak adalah perkara yang berbeda dengan apakah kamu mencoba memperjuangkannya. Ayahmu tinggalkan perusahaan itu kepadamu, bukan untuk buat kamu bersembunyi di sini."Javier memandang Alesha. Matahari terbenam di belakangnya menyelimuti siluetnya dengan lapisan emas. Dia tiba-tiba teringat pertama kali dia melihat Alesha tiga tahun lalu. Wanita itu berdiri di tengah kerumunan yang kacau dengan kening berkerut dan ekspresi serius. Saat itu, dia merasa pengacara dari kota yang serius itu pasti susah diajak bergaul.Dalam tiga tahun terakhir, Javier pernah melihat Alesha membanting file karena marah, melihatnya bergadang sampai tengah malam demi mengerjakan sebuah kasus, melihatnya berjongkok di pintu masuk desa untuk mengobrol dengan bibi-bibi di desa, melihatnya diam-diam menyeka air mata setelah memenangkan kasusnya.

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 19

    Sampai malam hari, Javier juga tidak kembali. Keesokan harinya, dia juga tidak kembali.Pada sore hari ketiga, Alesha duduk di bawah pohon belalang pintu masuk desa sambil menyaksikan matahari terbenam sedikit demi sedikit. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di belakangnya.Javier berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat."Kamu nggak mau tanya aku pergi ke mana?" Javier berbicara lebih dulu."Kalau mau ngomong, kamu pasti akan ngomong."Javier tersenyum, tetapi senyumnya terlihat agak pahit."Alesha." Jarang sekali Javier memanggil Alesha dengan nama lengkapnya. "Kamu tahu apa alasanku dibuang kemari?""Katamu, kamu buat kakekmu kesal sampai masuk rumah sakit.""Aku cuma mengada-ada."Alesha menoleh ke arah Javier. Matahari terbenam menyinari wajahnya, tetapi cahayanya agak redup sehingga ekspresinya tidak terlihat jelas."Ayahku ...." Javier terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Aku yang celakai ayahku."Angin berhenti bertiup. Suasananya me

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 18

    Ayu tertegun sejenak, lalu matanya memerah. "Bu Alesha, kamu benar-benar orang yang baik."Alesha tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah mengantar mereka pergi, Javier muncul entah dari mana dan melihat keranjangnya."Wah, kamu dapat telur lagi? Apa kamu mau buka peternakan ayam?"Alesha mengabaikannya.Javier lanjut berbicara sendiri, "Tapi nggak sia-sia juga kamu jadi pengacara. Lihat saja ekspresi pasangan itu. Mereka bahkan kelihatan nyaris bersujud padamu."Alesha berjalan pergi dengan membawa keranjang. "Ngapain kamu ikuti aku?""Aku mau ajak kamu makan." Javier mengikuti Alesha sambil berkata, "Hari ini, Bibi Leni masak iga. Dia suruh aku datang ajak kamu makan di rumahnya."Alesha menghentikan langkahnya dan menatap Javier. "Kenapa kamu datang untuk ajak aku makan setiap hari?"Javier tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Karena makan sendirian nggak seru."Pria itu terlihat seperti tidak memiliki beban pikiran, tetapi sepertinya tersembunyi sesuatu yang lain di matan

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 3 

    Trending topic itu meledak di pukul tiga dini hari. Ketika menerima telepon, Alesha baru selesai mandi."Bu Alesha, kamu masuk trending topic." Suara asisten Alesha terdengar agak ragu."Karena kasus sore ini?" tanya Alesha sambil mengeringkan rambutnya. "Nggak apa-apa. Masalahnya akan berlalu dalam

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 1

    "Kayla, aku ...." Alesha menyela ucapan Kayla. Tatapannya tertuju pada syarat-syarat di layar. "Aku akan segera cerai dengannya."Kayla pun tersentak."Dulu, kamu sudah berusaha begitu keras untuk ciptakan pertemuan tak disengaja dan cari tahu jadwalnya ke sana kemari. Bahkan kesempatan ikut lomba d

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 7

    Saat Alesha membuka pintu, Austin dan Prisha mendongak bersamaan."Bu Alesha?" Prisha berbicara lebih dulu sambil mengangkat alisnya, "Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu akan dipindahkan?"Alesha tidak melirik Prisha, hanya memandang Austin. "Kenapa kamu nggak terima kasus Seto?"Austin menutup

  • Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis   Bab 6

    Pada hari ini, Alesha menerima pesan teks dari maskapai.[ Penumpang yang terhormat, penerbangan Anda besok pagi telah dikonfirmasi. Silakan tiba di bandara dua jam sebelumnya untuk check-in. ]Pada saat yang sama, ponsel Alesha bergetar. Itu adalah pesan dari Austin.[ Prisha sudah cerita padaku te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status