LOGINHujan di luar apartemen The Horizon turun dengan ritme yang monoton, membasuh kaca jendela yang tinggi dengan aliran air yang menyerupai air mata.
Di dalam ruang kerjanya yang remang, Reihan duduk tegak di depan deretan monitor. Cahaya biru dari layar memantul di bola matanya, memberikan kesan pualam yang dingin dan tak tersentuh.
Di salah satu monitor, terdapat sebuah folder digital yang diberi label: "PROJECT RUINED HOME".
Reihan menggerakkan kursornya, membuka deretan foto digital yang telah ia restorasi dari sebuah hard drive tua milik sekolah sepuluh tahun lalu. Foto-foto itu bukan sekadar gambar masa muda yang naif.
Di sana, terlihat Ardian dan Mariska sedang duduk berdekatan di sebuah kafe remang-remang, tempat yang jelas tidak mungkin dikunjungi oleh murid teladan. Ada foto di mana tangan Ardian melingkar di pinggang Mariska.
Dan yang paling utama, sebuah foto dokumen yang mereka pegang bersama, yaitu lembar jawaban ujian nasional yang asli.
"Cihh ... Kalian tidak hanya berbagi tempat tidur, tapi juga berbagi dosa," gumam Reihan. Suaranya rendah, hampir tertelan oleh deru pendingin ruangan.
Reihan tahu, menghancurkan karier politik Ardian saja tidak cukup. Ia harus meruntuhkan benteng terakhir tempat pria itu berlindung. Helena.
Tanpa dukungan finansial dan pengaruh politik dari keluarga Helena, Ardian hanyalah seekor tikus tanah yang berusaha memakai mahkota emas. Jejak korupsi ayahnya dulu saat menjadi dewan tidak akan pernah hilang.
Dengan satu ketukan tombol, Reihan mengirimkan seluruh isi folder tersebut ke nomor pribadi Helena. Ia menyisipkan sebuah pesan singkat yang dingin.
[ Kebaikan adalah mata uang yang tidak pernah dimiliki suamimu. Lihatlah bagaimana ia membangun 'kerajaan' ini di atas ranjang wanita lain dan air mata orang yang ia hancurkan. ]
Di kediaman mewah keluarga Ardian, suasana jauh dari kata tentram. Helena sedang duduk di sofa ruang tengah yang luas, menatap kosong ke arah taman belakang yang gelap. Ia baru saja kembali dari pertemuan dengan pengacaranya untuk membahas pemisahan aset, namun hatinya masih terasa berat.
Kehancuran kampanye suaminya adalah satu hal, tapi rasa malu yang ia tanggung sebagai istri seorang "penindas" adalah hal lain.
Ting.
Ponsel di atas meja marmer bergetar. Helena meraihnya dengan malas, menyangka itu adalah pesan permintaan maaf lainnya dari Ardian yang kini sedang mengungsi di kantor pemenangannya.
Begitu ia membuka pesan, napas Helena tercekat. Sebuah nomor anonim mengiriminya file foto yang tak kalah menghantam dari pada kampanye tadi.
Jarinya gemetar saat ia mulai menggeser layar, melihat satu demi satu foto masa muda suaminya dengan Mariska. Ada pula foto yang diambil beberapa Minggu lalu saat Ardian dan Mariska memasuki sebuah hotel.
Bukan hanya kemesraan mereka yang membuat dadanya sesak, tapi bukti bahwa Ardian dan Mariska telah bersekongkol sejak remaja untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Termasuk memfitnah seorang anak miskin bernama Reihan demi menutupi kecurangan mereka sendiri.
Dan lebih dari itu yang lebih membuat Helena geram adalah, bukti bahwa Ayah Ardian memakai uang yayasan milik keluarganya untuk menutupi kasus Ardian di masa lalu.
"Jadi... ini alasannya," bisik Helena, suaranya bergetar karena amarah yang mulai membakar.
Ia teringat betapa seringnya Mariska muncul di acara-acara sosialita mereka belakangan ini. Betapa hangatnya Ardian menyapa Mariska, seolah-olah mereka adalah teman lama yang "saling menghormati".
Ternyata, di balik senyum ramah itu, ada sejarah busuk yang disembunyikan darinya selama pernikahan mereka.
Helena merasa seperti orang bodoh.
Ia telah memberikan segalanya. Nama besar keluarganya, modal politik, dan kesetiaannya kepada seorang pria yang bahkan tidak mampu jujur tentang masa lalunya.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Ardian masuk dengan langkah gontai, wajahnya tampak kuyu dan berantakan. Ia tidak menyadari keberadaan Helena yang sedang duduk di kegelapan.
"Helena? Kenapa tidak menyalakan lampu?" tanya Ardian sambil mencoba melepaskan sepatunya.
"Aku sedang pening, vendor-vendor gila itu—"
"Siapa Mariska bagimu, Ardian?"
Suara Helena memotong kalimat Ardian seperti sabetan pedang.
Ardian membeku di tempatnya. Ia perlahan menoleh, menatap istrinya yang kini berdiri tegak, memegang ponsel yang layarnya masih menyala terang.
"Apa maksudmu? Dia... dia teman sekolahku dulu, kau tahu itu," jawab Ardian, mencoba mempertahankan nada suara yang tenang, meski jantungnya mulai berpacu liar.
Helena melangkah maju, melemparkan ponselnya ke atas sofa tepat di depan Ardian. "Teman lama yang berbagi lembar jawaban curian? Atau teman lama yang tidur bersamamu saat aku sedang sibuk mengurus kampanye pertamamu?"
Ardian mengambil ponsel itu. Begitu melihat foto-foto tersebut, wajahnya yang kuyu berubah menjadi pucat pasi. Ia merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya baru saja amblas.
"Ini... ini hanya masa lalu, Helena! Seseorang mencoba menjatuhkanku dengan foto-foto lama yang tidak berarti!"
"Tidak berarti?!" teriak Helena, air mata amarah mulai mengalir di pipinya. "Kau menggunakan dana yayasan keluargaku untuk menutupi jejak kecuranganmu sepuluh tahun lalu! Kau menghancurkan hidup seorang anak hanya agar kau terlihat seperti pahlawan! Dan selama ini kau masih berhubungan dengan wanita ular itu!"
"Aku bisa jelaskan—"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" bantah Helena. Sorot matanya tajam tak terbantahkan.
"Kau ingin menjadi pemimpin rakyat, tapi kau bahkan tidak bisa memimpin dirimu sendiri untuk menjadi manusia yang jujur. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi orang sepertimu." Helena pergi begitu saja. Meninggalkan Ardian dalam keadaan kacau.
Helena tidak bisa mengusir Ardian saat ini juga karena sebagian aset mereka masih atas nama bersama. Jika ia berpisah dengan Ardian sekarang. Maka Ardian akan mendapatkan sebagian dari harga gono-gini. Helena tidak ingin Ardian mendapatkan harta peninggalan kakeknya meski sepeser pun.
Dari kejauhan, melalui sistem penyadap suara yang ia tanam di sistem keamanan rumah Helena, Reihan mendengarkan setiap kata yang terucap. Bunga dendamnya perlahan mulai merekah.
Ia bersandar di kursinya, matanya terpejam sesaat. Suara tangisan Helena tidak membuatnya merasa bersalah. Baginya itu adalah bagian dari proses pembersihan. Lagipula, Adrian tidak pantas menjadi pasangan dari wanita sejujur Helena.
"Retakan itu perlahan menjadi jurang bagi kehancuramu, Ardian," gumam Reihan. Sedikit tawa kecil keluar dari mulutnya. Ia melihat melalui CCTV tersembunyi di dalam rumah Ardian
Reihan mengambil sebuah spidol merah dan mendekati papan tulis di sudut ruangannya. Ia menyilang foto Ardian yang berada tepat di tengah.
"Target pertama: Terisolasi secara sosial dan domestik. Selesai," tulis Reihan di papan itu.
Namun, perhatiannya belum berakhir. Ia beralih ke monitor ketiga. Di sana, Bimo terlihat sedang duduk di sebuah bar remang-remang, menenggak botol ketiga wiski dengan tatapan paranoid.
Bimo terus-menerus menoleh ke arah pintu setiap kali ada orang masuk, tangannya selalu berada di dekat saku jaketnya, tempat ia menyimpan senjata ilegalnya.
Reihan tersenyum tipis. Sang predator fisik kini sedang sekarat karena ketakutannya sendiri. Saatnya memberikan sedikit "dorongan" agar Bimo melakukan kesalahan fatal.
"Kau punya waktu kurang dari tiga puluh menit, Peretas muda. Gunakan sisa waktumu dengan baik, karena enkripsi itu dibuat untuk memastikan bahwa dunia tidak akan pernah melihat rahasia di dalam galeriku."Ejekan Julian Drax berdengung di dalam studio Gotik yang remang-remang, menyatu dengan pekikan konstan alarm frekuensi tinggi dari mainframe komputer lokal.Di sudut layar, angka digital merah terus menyusut tanpa ampun.00:28:45.Dua puluh delapan menit empat puluh lima detik sebelum pembersihan massal terjadi. Reihan langsung mengambil alih terminal utama Julian, menghubungkan laptop taktisnya dengan kabel intersep ganda. Jemarinya yang dingin mulai menghantam papan ketik dengan kecepatan ekstrem. Di atas monitor, barisan kode enkripsi destruktif bergerak turun bagai air terjun digital hitam-hijau, memakan, menimpa, dan memusnahkan seluruh klaster data kejahatan Julian yang tersebar di berbagai cloud server publik.Keringat dingin
Menembus sisa asap kelabu dari panel pilar yang hancur, Tuan Penjaga dan Reihan merangsek bagai badai melewati pintu besi sekunder yang terbuka sebagian. Mereka merayap masuk ke ruang pribadi Julian Drax. Sebuah ruangan melingkar berarsitektur gotik modern yang berfungsi sebagai studio kerja sekaligus ruang kendali darurat miliknya.Di tengah ruangan, di bawah pendaran redup lampu darurat, Julian sedang berusaha mengikat tubuh Rhena yang setengah sadar ke sebuah kursi pelarian yang terhubung dengan lift dinding vertikal khusus. Kehadiran kilat Unit 0 menghancurkan rencana pelarian instannya."Berhenti di tempat, Drax!" Tuan Penjaga meraung, suara baritonnya menggetarkan dinding ruangan.Julian bergerak secepat kilat. Dari balik celemek bedahnya, ia menarik sebuah pistol saku kaliber kecil dan melepaskan satu tembakan liar.DOR! Peluru menyerempet pelat baja di rompi taktis Tuan Penjaga, memercikkan bunga api. Namun, kemarahan murni yang
"Selamat datang di pameranku yang sesungguhnya, Unit 0. Langkah kaki kalian di dalam ruangan ini telah mengaktifkan sesuatu yang tidak akan bisa kalian hentikan dengan senjata api bodoh itu."Selesai Julian mengucapkan kalimat terkutuk itu, bunyi KLAK mekanis yang berat berdentang dari balik meja bedah besi.Detik berikutnya, keheningan aula neoklasik itu pecah oleh gemuruh raksasa yang mengerikan. Suara derit rantai besi tebal dan roda gigi berkarat yang bergesek kasar menggema dari dalam dinding beton, menggetarkan lantai marmer di bawah kaki mereka.BRAAAKK!Dari balik langit-langit, tiga bilah sekat jeruji besi tebal meluncur turun dengan kecepatan hidrolik murni yang tidak membutuhkan daya listrik kota. Sekat-sekat itu menghantam lantai dengan daya hantam masif, menimbulkan percikan api dan memotong aula menjadi beberapa bagian terisolasi.Tuan Penjaga dan Reihan seketika terpisah sejauh lima meter, terkurung di balik jeruji baja yan
BOOM!Dentuman peledak tempel analog menghancurkan engsel pintu sekat baja menghasilkan deburan debu dan serpihan beton purba dari langit-langit terowongan.Pintu baja tebal itu terhempas ke dalam, membentur lantai dengan suara dentang logam yang memekakkan telinga. Asap mesiu abu-abu yang pekat dan berbau belerang seketika menyembur keluar, mengaburkan pandangan.Tanpa menunggu asap mereda, Tuan Penjaga merangsek masuk terlebih dahulu. Senapan taktisnya terangkat lurus ke depan dada, memotong sisa kepulan asap dengan moncong senjata yang siap memuntahkan timah panas.Di belakangnya, Reihan melangkah masuk dengan jantung yang menghantam rongga dada begitu keras, menggenggam pistol cadangannya dengan tangan dingin yang gemetar hebat.Namun, begitu mereka melewati ambang pintu, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membekukan darah di dalam nadi mereka.Di balik pintu itu, mereka tidak menemukan bunker militer yang berantakan a
"Nyalakan sentermu. Saatnya kita turun ke labirin dan mengambil kembali prajurit kita dengan cara lama."Pintu besi berbentuk lingkaran di sudut gardu utilitas kuno itu mengerang berat saat Tuan Penjaga mendobraknya dengan hantaman bahu yang keras. Begitu celah terbuka, aroma udara yang membusuk. Perpaduan pekat antara lumut basah, karat berabad-abad, dan bau tanah mati langsung menyengat indra penciuman, seolah-olah mereka baru saja membuka mulut neraka.Di bawah pendaran redup senter militer yang bergoyang, sebuah tangga besi vertikal yang berkarat mengarah lurus ke dalam kegelapan pekat perut bumi. Reihan melirik jam digital di pergelangan tangannya. Angka merah itu berkedip di kegelapan, memancarkan teror visual yang kejam.01:55:22.Satu jam lima puluh lima menit lagi sebelum tubuh Rhena mulai kaku dan Julian mengeksekusinya secara konvensional. Waktu seakan bertransformasi menjadi pisau yang perlahan menyayat kewarasan Reihan.
"Kita harus mematikan seluruh pasokan listrik di distrik pelabuhan tua itu terlebih dahulu untuk melumpuhkan sistem keamanan otomatisnya. Kita akan membuat seluruh wilayah kekuasaannya gelap gulita sebelum kita turun ke neraka."Rencana ekstrem itu langsung menghentak atmosfer di dalam van taktis Unit 0. Van itu melesat cepat membelah sisa-sisa kegelapan subuh Jakarta Utara yang berkabut, menuju ke satu titik fatal: Gardu Induk Distribusi Listrik Sektor Utara. Dengan lumpuhnya jaringan siber publik akibat ulah Julian sebelumnya, Reihan tidak memiliki cara untuk melakukan peretasan dari jarak jauh. Mereka harus menyusup langsung, menyentuh sirkuit fisik gardu tersebut secara manual. Sementara angka merah di sudut laptop Reihan terus berkedip kejam, menyusut melewati batas kritis.02:20:14.Waktu terus mengikis sisa hidup Rhena tanpa ampun. Setiap detik yang hilang terasa seperti jeratan yang semakin mencekik leher mereka.Van berhenti den
Bimo menghantamkan tinjunya ke samsak kulit yang tergantung di tengah ring dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang rusuk manusia normal.BUGH! BUGH! BUGH!Suara hantaman itu bergema di seluruh penjuru sasana MMA miliknya yang megah, mendominasi deru napas para atlet muda
BRAK!Gelas berisi wiski murahan menghantam dinding ruang kontrol Iron Fist Academy, pecah berkeping-keping meninggalkan noda kecokelatan yang merembes di dinding semen yang dingin.Bimo terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Napasnya berbau alkohol dan ketakutan yang busuk
Pukul empat pagi di kantor pusat pemenangan Ardian adalah sarang kepanikan. Ruangan yang biasanya riuh dengan strategi politik itu kini dipenuhi aroma kopi basi dan kepulan asap rokok yang menyesakkan. Ardian duduk di kursi kebesarannya, dasinya sudah longgar, rambutnya yang klimis berantakan. Di h
Apartemen Mariska yang biasanya riuh dengan suara musik dan tawa palsu para sosialita, kini terasa seperti bangkai gedung yang membusuk. Sejak skandal penyiksaan itu meledak di live streaming, pintu depan rumah itu tidak berhenti digedor wartawan, hingga akhirnya polisi memasang garis kuning. Maris







