مشاركة

7. PROJECT RUINED HOME

مؤلف: FWW
last update تاريخ النشر: 2026-05-14 11:00:00

Hujan di luar apartemen The Horizon turun dengan ritme yang monoton, membasuh kaca jendela yang tinggi dengan aliran air yang menyerupai air mata.

Di dalam ruang kerjanya yang remang, Reihan duduk tegak di depan deretan monitor. Cahaya biru dari layar memantul di bola matanya, memberikan kesan pualam yang dingin dan tak tersentuh.

Di salah satu monitor, terdapat sebuah folder digital yang diberi label: "PROJECT RUINED HOME".

Reihan menggerakkan kursornya, membuka deretan foto digital yang telah ia restorasi dari sebuah hard drive tua milik sekolah sepuluh tahun lalu. Foto-foto itu bukan sekadar gambar masa muda yang naif.

Di sana, terlihat Ardian dan Mariska sedang duduk berdekatan di sebuah kafe remang-remang, tempat yang jelas tidak mungkin dikunjungi oleh murid teladan. Ada foto di mana tangan Ardian melingkar di pinggang Mariska.

Dan yang paling utama, sebuah foto dokumen yang mereka pegang bersama, yaitu lembar jawaban ujian nasional yang asli.

"Cihh ... Kalian tidak hanya berbagi tempat tidur, tapi juga berbagi dosa," gumam Reihan. Suaranya rendah, hampir tertelan oleh deru pendingin ruangan.

Reihan tahu, menghancurkan karier politik Ardian saja tidak cukup. Ia harus meruntuhkan benteng terakhir tempat pria itu berlindung. Helena.

Tanpa dukungan finansial dan pengaruh politik dari keluarga Helena, Ardian hanyalah seekor tikus tanah yang berusaha memakai mahkota emas. Jejak korupsi ayahnya dulu saat menjadi dewan tidak akan pernah hilang.

Dengan satu ketukan tombol, Reihan mengirimkan seluruh isi folder tersebut ke nomor pribadi Helena. Ia menyisipkan sebuah pesan singkat yang dingin.

[ Kebaikan adalah mata uang yang tidak pernah dimiliki suamimu. Lihatlah bagaimana ia membangun 'kerajaan' ini di atas ranjang wanita lain dan air mata orang yang ia hancurkan. ]

Di kediaman mewah keluarga Ardian, suasana jauh dari kata tentram. Helena sedang duduk di sofa ruang tengah yang luas, menatap kosong ke arah taman belakang yang gelap. Ia baru saja kembali dari pertemuan dengan pengacaranya untuk membahas pemisahan aset, namun hatinya masih terasa berat.

Kehancuran kampanye suaminya adalah satu hal, tapi rasa malu yang ia tanggung sebagai istri seorang "penindas" adalah hal lain.

Ting.

Ponsel di atas meja marmer bergetar. Helena meraihnya dengan malas, menyangka itu adalah pesan permintaan maaf lainnya dari Ardian yang kini sedang mengungsi di kantor pemenangannya.

Begitu ia membuka pesan, napas Helena tercekat. Sebuah nomor anonim mengiriminya file foto yang tak kalah menghantam dari pada kampanye tadi.

Jarinya gemetar saat ia mulai menggeser layar, melihat satu demi satu foto masa muda suaminya dengan Mariska. Ada pula foto yang diambil beberapa Minggu lalu saat Ardian dan Mariska memasuki sebuah hotel.

Bukan hanya kemesraan mereka yang membuat dadanya sesak, tapi bukti bahwa Ardian dan Mariska telah bersekongkol sejak remaja untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Termasuk memfitnah seorang anak miskin bernama Reihan demi menutupi kecurangan mereka sendiri.

Dan lebih dari itu yang lebih membuat Helena geram adalah, bukti bahwa Ayah Ardian memakai uang yayasan milik keluarganya untuk menutupi kasus Ardian di masa lalu.

"Jadi... ini alasannya," bisik Helena, suaranya bergetar karena amarah yang mulai membakar.

Ia teringat betapa seringnya Mariska muncul di acara-acara sosialita mereka belakangan ini. Betapa hangatnya Ardian menyapa Mariska, seolah-olah mereka adalah teman lama yang "saling menghormati".

Ternyata, di balik senyum ramah itu, ada sejarah busuk yang disembunyikan darinya selama pernikahan mereka.

Helena merasa seperti orang bodoh.

Ia telah memberikan segalanya. Nama besar keluarganya, modal politik, dan kesetiaannya kepada seorang pria yang bahkan tidak mampu jujur tentang masa lalunya.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Ardian masuk dengan langkah gontai, wajahnya tampak kuyu dan berantakan. Ia tidak menyadari keberadaan Helena yang sedang duduk di kegelapan.

"Helena? Kenapa tidak menyalakan lampu?" tanya Ardian sambil mencoba melepaskan sepatunya.

"Aku sedang pening, vendor-vendor gila itu—"

"Siapa Mariska bagimu, Ardian?"

Suara Helena memotong kalimat Ardian seperti sabetan pedang.

Ardian membeku di tempatnya. Ia perlahan menoleh, menatap istrinya yang kini berdiri tegak, memegang ponsel yang layarnya masih menyala terang.

"Apa maksudmu? Dia... dia teman sekolahku dulu, kau tahu itu," jawab Ardian, mencoba mempertahankan nada suara yang tenang, meski jantungnya mulai berpacu liar.

Helena melangkah maju, melemparkan ponselnya ke atas sofa tepat di depan Ardian. "Teman lama yang berbagi lembar jawaban curian? Atau teman lama yang tidur bersamamu saat aku sedang sibuk mengurus kampanye pertamamu?"

Ardian mengambil ponsel itu. Begitu melihat foto-foto tersebut, wajahnya yang kuyu berubah menjadi pucat pasi. Ia merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya baru saja amblas.

"Ini... ini hanya masa lalu, Helena! Seseorang mencoba menjatuhkanku dengan foto-foto lama yang tidak berarti!"

"Tidak berarti?!" teriak Helena, air mata amarah mulai mengalir di pipinya. "Kau menggunakan dana yayasan keluargaku untuk menutupi jejak kecuranganmu sepuluh tahun lalu! Kau menghancurkan hidup seorang anak hanya agar kau terlihat seperti pahlawan! Dan selama ini kau masih berhubungan dengan wanita ular itu!"

"Aku bisa jelaskan—"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" bantah Helena. Sorot matanya tajam tak terbantahkan.

"Kau ingin menjadi pemimpin rakyat, tapi kau bahkan tidak bisa memimpin dirimu sendiri untuk menjadi manusia yang jujur. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi orang sepertimu." Helena pergi begitu saja. Meninggalkan Ardian dalam keadaan kacau.

Helena tidak bisa mengusir Ardian saat ini juga karena sebagian aset mereka masih atas nama bersama. Jika ia berpisah dengan Ardian sekarang. Maka Ardian akan mendapatkan sebagian dari harga gono-gini. Helena tidak ingin Ardian mendapatkan harta peninggalan kakeknya meski sepeser pun.

Dari kejauhan, melalui sistem penyadap suara yang ia tanam di sistem keamanan rumah Helena, Reihan mendengarkan setiap kata yang terucap. Bunga dendamnya perlahan mulai merekah.

Ia bersandar di kursinya, matanya terpejam sesaat. Suara tangisan Helena tidak membuatnya merasa bersalah. Baginya itu adalah bagian dari proses pembersihan. Lagipula, Adrian tidak pantas menjadi pasangan dari wanita sejujur Helena.

"Retakan itu perlahan menjadi jurang bagi kehancuramu, Ardian," gumam Reihan. Sedikit tawa kecil keluar dari mulutnya. Ia melihat melalui CCTV tersembunyi di dalam rumah Ardian 

Reihan mengambil sebuah spidol merah dan mendekati papan tulis di sudut ruangannya. Ia menyilang foto Ardian yang berada tepat di tengah.

"Target pertama: Terisolasi secara sosial dan domestik. Selesai," tulis Reihan di papan itu.

Namun, perhatiannya belum berakhir. Ia beralih ke monitor ketiga. Di sana, Bimo terlihat sedang duduk di sebuah bar remang-remang, menenggak botol ketiga wiski dengan tatapan paranoid.

Bimo terus-menerus menoleh ke arah pintu setiap kali ada orang masuk, tangannya selalu berada di dekat saku jaketnya, tempat ia menyimpan senjata ilegalnya.

Reihan tersenyum tipis. Sang predator fisik kini sedang sekarat karena ketakutannya sendiri. Saatnya memberikan sedikit "dorongan" agar Bimo melakukan kesalahan fatal.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   28. RUNTUHNYA TOPENG IBU PERI

    Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden apartemen terasa seperti sembilu yang menyayat mata Mariska. Ia terbangun bukan oleh alarm musik klasik yang lembut, melainkan oleh getaran ponsel yang tak henti-henti di atas nakas, berderu layaknya serangga kelaparan yang mengerumuni bangkai. Dengan tangan gemetar dan kepala yang berdenyut hebat akibat depresi dan kurang tidur, Mariska meraih benda itu. ​Satu notifikasi dari akun gosip Lambe Elit muncul di layar terkunci: "EKSKLUSIF: Rekaman Suara 'Ibu Peri' Mariska. Apakah ini wajah asli sang aktivis anak?" ​Jantung Mariska seolah berhenti berdetak. Ia menyentuh tautan itu dengan ujung jari yang dingin. Sebuah video dengan latar belakang hitam mulai berputar. Suara yang keluar dari sana adalah suara yang sangat ia kenali. Suaranya sendiri, namun dalam nada yang tidak pernah ia tunjukkan di depan kamera. ​"Diam, Marion! Hapus air

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   27. SEKUTU YANG MENGUNTUNGKAN

    Musuh dari musuhku adalah temanku. Seperti itu perumpamaannya.Helena mengayunkan gelas kristal berisi cairan amber itu perlahan, memperhatikan bagaimana pantulan lampu galeri menari di permukaannya.Di depannya, sebuah lukisan abstrak berukuran raksasa dengan sapuan warna merah darah dan hitam jelaga tampak seolah sedang menelan ruangan itu. Galeri seni pribadi miliknya ini adalah tempat di mana keheningan terasa seperti kemewahan yang mahal, namun malam ini, keheningan itu terasa lebih tajam.Langkah kaki yang hampir tak terdengar bergema di lantai granit. Helena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya ada satu orang di kota ini yang bisa masuk ke tempat pribadinya tanpa memicu alarm, dan hanya ada satu orang yang memiliki aura sedingin musim dingin di Siberia."Kau tepat waktu, Reihan," ucap Helena tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan. Suaranya tenang, namun ada getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.Reihan m

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   26. PERTARUNGAN REIHAN & BIMO

    Samsak tinju seberat delapan puluh kilogram berayun liar di tengah sasana yang remang-remang, dihantam oleh pukulan beruntun yang membabi buta.Bugh! Bugh! Bugh!Suaranya menggema di ruangan luas yang kini terasa seperti kuburan. Bimo, sang mantan juara nasional yang kini hanya menjadi paria olahraga, terus memukul hingga buku jarinya memerah dan pecah.Peluh membanjiri tubuhnya yang kekar, bercampur dengan aroma alkohol yang menguap dari pori-porinya.Sejak lisensi pelatihnya dicabut dan video skandal kecurangannya viral, sasana ini menjadi satu-satunya tempat persembunyiannya. Ia ingin menghancurkan sesuatu. Ia ingin mematahkan leher seseorang.Langkah kaki yang tenang terdengar di atas lantai kayu yang berderit. Iramanya lambat, konstan, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.Bimo menghentikan pukulannya. Ia memeluk samsak itu, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegap. Ca

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   25. KEBANGKRUTAN MARISKA

    Mariska menghantamkan tas Birkin kulit buaya berwarna zamrud ke atas meja rias marmernya dengan tenaga yang menyisakan bunyi berdebam hampa.Ia tidak lagi membelainya dengan sarung tangan sutra. Ia mencengkeramnya seolah ingin mencekik benda mati itu.Di sekelilingnya, istana yang dulu ia banggakan kini terasa seperti makam yang menunggu untuk ditutup. Lampu kristal di tengah ruangan hanya berkedip-kedip redup, sisa dari daya listrik yang belum diputus paksa oleh perusahaan negara."Lima puluh juta?" suara Mariska melengking, bergetar di ambang histeria. "Tas ini harganya setara dengan satu unit apartemen di pusat kota saat aku membelinya! Kau mencoba merampokku di rumahku sendiri?"Di depannya, duduk seorang wanita paruh baya bernama Madam Lusi, seorang tengkulak barang mewah yang dikenal dingin. Ia menyesap teh dari cangkir porselen milik Mariska yang kini sedikit retak di bagian pinggirnya."Dunia sudah berubah, Mariska," sahut Madam L

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   24. RENTENIR ARDIAN

    Ardian menghantamkan kepalan tangannya ke dinding ruko yang berkerak, meninggalkan noda debu pada buku jarinya yang gemetar. Bau pesing dari gang sempit di samping bangunan itu menusuk hidungnya, beradu dengan aroma amis dari selokan yang tersumbat.Ia, Ardian Pratama, pria yang dulunya hanya butuh satu jentikan jari untuk mencairkan kredit miliaran rupiah, kini harus berdiri mengantre di sebuah kantor "pembiayaan cepat" yang lebih mirip sarang penyamun daripada lembaga keuangan."Selanjutnya!" teriak sebuah suara parau dari dalam.Ardian merapikan kerah kemeja mahalnya yang kini tampak lusuh dan tak lagi licin. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan pengap yang dipenuhi asap rokok murah.Di balik meja kayu jati yang sudah terkelupas permukaannya, duduk seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga yang melilit hingga ke lehernya. Bang Jago, begitu orang-orang menyebutnya.Bang Jago tidak mendongak. Ia sibuk menghitung tumpukan uang kertas k

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   23. MALAIKAT PENYELAMAT MARION

    Reihan bergerak tanpa suara, menyatu dengan kegelapan koridor lantai dua yang hanya diterangi lampu dinding temaram yang berkedip.Di bawah sana, di lantai utama, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking yang pecah menjadi tangis histeris. Suara Mariska yang sedang bertarung dengan hantu-hantu di kepalanya sendiri.Reihan tidak menoleh. Fokusnya tertuju pada sebuah pintu kayu ek putih yang terkunci rapat dari luar, sebuah sangkar emas yang menyembunyikan dosa paling busuk dari sang "Ibu Peri".Jari Reihan menari di atas layar ponselnya, meretas sistem kunci elektronik pintu tersebut dalam hitungan detik. Klik. Bunyi kecil itu terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian rumah yang mencekam.Reihan mendorong pintu itu pelan. Udara di dalam kamar tercium seperti wangi lavender yang bercampur dengan rasa takut yang pekat. Di sudut tempat tidur besar yang tampak terlalu luas untuk tubuh mungilnya, Marion meringkuk. Gadis kecil itu memeluk lututnya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status