Se connecterApartemen Mariska yang biasanya riuh dengan suara musik dan tawa palsu para sosialita, kini terasa seperti bangkai gedung yang membusuk. Sejak skandal penyiksaan itu meledak di live streaming, pintu depan rumah itu tidak berhenti digedor wartawan, hingga akhirnya polisi memasang garis kuning. Mariska mengunci diri di kamar utama, menenggelamkan diri dalam botol-botol wine mahal dan obat penenang, membiarkan rumahnya jatuh dalam kegelapan.
Namun, bagi Reihan, garis polisi hanyalah pita dekorasi yang tidak berarti.
Ia bergerak di dalam saluran udara, merayap dengan presisi seorang teknisi bayangan. Sepatu taktisnya tidak menimbulkan suara saat ia turun melalui panel plafon di ruang lobi dalam. Reihan mendarat dengan lentur, tudung hoodie-nya tetap menutupi wajah. Mata Icy Blue-nya berpendar dingin, memindai ruangan yang kini berantakan dengan pecahan kaca dan botol kosong.
Langkah pertamanya adalah menuju meja rias Mariska. Dengan sarung tangan hitam, ia mulai memindahkan barang-barang pribadi wanita itu. Sebuah lipstik merah diletakkan di atas bantal. Foto pernikahan Mariska dengan mantan suaminya yang sudah robek, ia tempel di cermin kamar mandi dengan posisi terbalik. Ia ingin Mariska bangun dan merasa bahwa udara di rumahnya sendiri telah diracuni oleh kehadiran "sesuatu" yang tak terlihat.
Setelah selesai menanam benih kegilaan untuk Mariska, Reihan melangkah menuju pintu kecil di dekat area servis. Kamar Marion.
Reihan membuka pintu itu tanpa suara. Ruangan itu masih pengap, namun di sudut tempat tidur yang lusuh, ia melihat boneka beruang kecil yang ia berikan untuk Marion mendekap erat di pelukan gadis kecil itu. Marion tidak tidur. Ia duduk meringkuk, matanya yang besar menatap kosong ke arah jendela yang tertutup jeruji besi.
Begitu pintu terbuka, Marion tersentak. Tubuhnya gemetar hebat, menyangka Ibunya yang kejam itu datang untuk meluapkan amarah lagi. Namun, saat ia melihat bayangan tinggi dengan tudung hitam itu, ketakutannya mendadak luruh.
"Paman Mata Biru?" bisik Marion. Suaranya sangat kecil, hampir tenggelam dalam kesunyian.
Reihan tidak menjawab. Ia mendekat, lalu berlutut di depan tempat tidur Marion. Ia mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya. Sebuah kotak bekal berwarna biru cerah yang masih hangat, berisi nasi dengan lauk yang sehat, bukan biskuit kering sisa.
Marion menatap kotak itu, lalu menatap mata Reihan. "Mama bilang... ada iblis yang merusak HP-nya. Mama bilang Paman itu jahat."
Reihan terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menepuk pelan puncak kepala Marion. Gerakannya kaku, karena sudah sepuluh tahun ia tidak menyentuh manusia dengan kelembutan.
"Iblis hanya datang untuk orang yang memelihara kegelapan, Marion," bisik Reihan, suaranya melembut meski tetap dalam. "Untukmu, aku bukan iblis."
Reihan mengeluarkan sebuah jam tangan pintar kecil berbahan karet dari sakunya. Ia memakaikannya ke pergelangan tangan kurus Marion. "Jika kau merasa takut, tekan tombol merah ini dua kali. Aku akan mendengarmu. Aku akan datang."
Marion menyentuh jam tangan itu dengan takjub. Baginya, pria asing ini adalah satu-satunya keajaiban di tengah neraka hidupnya. "Paman akan membawaku pergi?"
"Segera," janji Reihan. "Tapi dunia harus melihat warna asli ibumu terlebih dahulu. Makanlah, lalu tidurlah. Jangan keluar kamar sebelum matahari terbit."
Reihan berdiri. Ia melihat bekas lebam biru di lengan Marion yang tak sengaja tersingkap. Rahangnya mengeras. Rasa kasihan di matanya seketika menguap, berganti dengan api dendam yang membara. Ia meninggalkan kamar Marion, mengunci pintunya dari luar agar Mariska tidak bisa masuk, lalu berjalan menuju kamar utama.
Di kamar utama, Mariska terbangun karena suara gesekan sesuatu di bawah tempat tidurnya. Kepalanya berdenyut karena pengaruh alkohol. Ia meraba saklar lampu, namun lampu tidak menyala.
"Sial... listriknya mati lagi?" gumam Mariska parau.
Ia menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih itu menyapu ruangan, dan jantungnya hampir melompat keluar saat ia melihat cermin meja riasnya. Di sana, tertulis pesan besar menggunakan lipstik merah miliknya sendiri.
"ANAKMU LAPAR, MARISKA. TAPI DOSAMU SUDAH KENYANG."
Mariska menjerit, melemparkan ponselnya ke arah cermin. Prang! Kaca itu pecah berkeping-keping. Di tengah kepanikannya, pintu kamarnya yang terkunci rapat tiba-tiba terbuka perlahan. Suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat.
"Siapa di sana?! Bimo? Ardian? Tolong aku!" teriak Mariska histeris.
Dari kegelapan di ambang pintu, sepasang mata biru es menyala terang. Reihan berdiri di sana, membiarkan cahaya senter ponsel Mariska yang tergeletak di lantai menyoroti siluetnya yang mengerikan.
"Mereka tidak akan menolongmu, Mariska," suara Reihan menggema di ruangan itu. "Karena mereka sedang sibuk menjahit luka mereka masing-masing."
Reihan melemparkan sebuah flashdisk ke atas tempat tidur Mariska. "Di dalam sana ada semua rekaman pesanan narkobamu dan bukti bahwa kau menjual perhiasan palsu pada teman-teman sosialitamu. Pilihannya dua. Kau menyerahkan hak asuh Marion padaku secara sukarela, atau aku mengirimkan ini ke grup W******p yayasan besok pagi."
Mariska merayap mundur hingga terpojok di kepala tempat tidur. "Kau... kau si pecundang kacamata itu? Reihan?"
Reihan tidak menjawab. Ia hanya berjalan maju, satu langkah demi satu langkah, hingga bayangannya menutupi seluruh tubuh Mariska yang gemetar.
Mariska baru saja ingin berteriak minta tolong ketika tiba-tiba seluruh layar televisi dan bingkai foto digital di kamarnya menyala secara bersamaan, menampilkan video CCTV saat ia sedang menyiksa Marion di dapur tempo hari—namun kali ini dengan suara audio yang jauh lebih keras dan jernih, seolah-olah kejadian itu sedang berlangsung tepat di depannya.
"Berhenti! Kumohon berhenti!" Mariska menutup telinganya.
Di saat yang sama, ponsel Reihan bergetar. Sebuah notifikasi dari sistem keamanannya di luar gedung menunjukkan sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan lobi. Helena turun dari mobil itu, membawa map hitam, dan matanya menatap tajam ke arah jendela apartemen Mariska.
Reihan menoleh ke arah jendela, lalu kembali menatap Mariska yang sudah menangis histeris. "Tamumu sudah datang, Mariska. Dan dia tidak datang untuk menghiburmu."
Reihan menghilang ke dalam kegelapan balkon tepat saat pintu depan apartemen didobrak paksa dari luar. Bukan oleh polisi, melainkan oleh Helena yang membawa pengacara dan seorang algojo pribadi.
"Kau punya waktu kurang dari tiga puluh menit, Peretas muda. Gunakan sisa waktumu dengan baik, karena enkripsi itu dibuat untuk memastikan bahwa dunia tidak akan pernah melihat rahasia di dalam galeriku."Ejekan Julian Drax berdengung di dalam studio Gotik yang remang-remang, menyatu dengan pekikan konstan alarm frekuensi tinggi dari mainframe komputer lokal.Di sudut layar, angka digital merah terus menyusut tanpa ampun.00:28:45.Dua puluh delapan menit empat puluh lima detik sebelum pembersihan massal terjadi. Reihan langsung mengambil alih terminal utama Julian, menghubungkan laptop taktisnya dengan kabel intersep ganda. Jemarinya yang dingin mulai menghantam papan ketik dengan kecepatan ekstrem. Di atas monitor, barisan kode enkripsi destruktif bergerak turun bagai air terjun digital hitam-hijau, memakan, menimpa, dan memusnahkan seluruh klaster data kejahatan Julian yang tersebar di berbagai cloud server publik.Keringat dingin
Menembus sisa asap kelabu dari panel pilar yang hancur, Tuan Penjaga dan Reihan merangsek bagai badai melewati pintu besi sekunder yang terbuka sebagian. Mereka merayap masuk ke ruang pribadi Julian Drax. Sebuah ruangan melingkar berarsitektur gotik modern yang berfungsi sebagai studio kerja sekaligus ruang kendali darurat miliknya.Di tengah ruangan, di bawah pendaran redup lampu darurat, Julian sedang berusaha mengikat tubuh Rhena yang setengah sadar ke sebuah kursi pelarian yang terhubung dengan lift dinding vertikal khusus. Kehadiran kilat Unit 0 menghancurkan rencana pelarian instannya."Berhenti di tempat, Drax!" Tuan Penjaga meraung, suara baritonnya menggetarkan dinding ruangan.Julian bergerak secepat kilat. Dari balik celemek bedahnya, ia menarik sebuah pistol saku kaliber kecil dan melepaskan satu tembakan liar.DOR! Peluru menyerempet pelat baja di rompi taktis Tuan Penjaga, memercikkan bunga api. Namun, kemarahan murni yang
"Selamat datang di pameranku yang sesungguhnya, Unit 0. Langkah kaki kalian di dalam ruangan ini telah mengaktifkan sesuatu yang tidak akan bisa kalian hentikan dengan senjata api bodoh itu."Selesai Julian mengucapkan kalimat terkutuk itu, bunyi KLAK mekanis yang berat berdentang dari balik meja bedah besi.Detik berikutnya, keheningan aula neoklasik itu pecah oleh gemuruh raksasa yang mengerikan. Suara derit rantai besi tebal dan roda gigi berkarat yang bergesek kasar menggema dari dalam dinding beton, menggetarkan lantai marmer di bawah kaki mereka.BRAAAKK!Dari balik langit-langit, tiga bilah sekat jeruji besi tebal meluncur turun dengan kecepatan hidrolik murni yang tidak membutuhkan daya listrik kota. Sekat-sekat itu menghantam lantai dengan daya hantam masif, menimbulkan percikan api dan memotong aula menjadi beberapa bagian terisolasi.Tuan Penjaga dan Reihan seketika terpisah sejauh lima meter, terkurung di balik jeruji baja yan
BOOM!Dentuman peledak tempel analog menghancurkan engsel pintu sekat baja menghasilkan deburan debu dan serpihan beton purba dari langit-langit terowongan.Pintu baja tebal itu terhempas ke dalam, membentur lantai dengan suara dentang logam yang memekakkan telinga. Asap mesiu abu-abu yang pekat dan berbau belerang seketika menyembur keluar, mengaburkan pandangan.Tanpa menunggu asap mereda, Tuan Penjaga merangsek masuk terlebih dahulu. Senapan taktisnya terangkat lurus ke depan dada, memotong sisa kepulan asap dengan moncong senjata yang siap memuntahkan timah panas.Di belakangnya, Reihan melangkah masuk dengan jantung yang menghantam rongga dada begitu keras, menggenggam pistol cadangannya dengan tangan dingin yang gemetar hebat.Namun, begitu mereka melewati ambang pintu, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membekukan darah di dalam nadi mereka.Di balik pintu itu, mereka tidak menemukan bunker militer yang berantakan a
"Nyalakan sentermu. Saatnya kita turun ke labirin dan mengambil kembali prajurit kita dengan cara lama."Pintu besi berbentuk lingkaran di sudut gardu utilitas kuno itu mengerang berat saat Tuan Penjaga mendobraknya dengan hantaman bahu yang keras. Begitu celah terbuka, aroma udara yang membusuk. Perpaduan pekat antara lumut basah, karat berabad-abad, dan bau tanah mati langsung menyengat indra penciuman, seolah-olah mereka baru saja membuka mulut neraka.Di bawah pendaran redup senter militer yang bergoyang, sebuah tangga besi vertikal yang berkarat mengarah lurus ke dalam kegelapan pekat perut bumi. Reihan melirik jam digital di pergelangan tangannya. Angka merah itu berkedip di kegelapan, memancarkan teror visual yang kejam.01:55:22.Satu jam lima puluh lima menit lagi sebelum tubuh Rhena mulai kaku dan Julian mengeksekusinya secara konvensional. Waktu seakan bertransformasi menjadi pisau yang perlahan menyayat kewarasan Reihan.
"Kita harus mematikan seluruh pasokan listrik di distrik pelabuhan tua itu terlebih dahulu untuk melumpuhkan sistem keamanan otomatisnya. Kita akan membuat seluruh wilayah kekuasaannya gelap gulita sebelum kita turun ke neraka."Rencana ekstrem itu langsung menghentak atmosfer di dalam van taktis Unit 0. Van itu melesat cepat membelah sisa-sisa kegelapan subuh Jakarta Utara yang berkabut, menuju ke satu titik fatal: Gardu Induk Distribusi Listrik Sektor Utara. Dengan lumpuhnya jaringan siber publik akibat ulah Julian sebelumnya, Reihan tidak memiliki cara untuk melakukan peretasan dari jarak jauh. Mereka harus menyusup langsung, menyentuh sirkuit fisik gardu tersebut secara manual. Sementara angka merah di sudut laptop Reihan terus berkedip kejam, menyusut melewati batas kritis.02:20:14.Waktu terus mengikis sisa hidup Rhena tanpa ampun. Setiap detik yang hilang terasa seperti jeratan yang semakin mencekik leher mereka.Van berhenti den
BRAK!Gelas berisi wiski murahan menghantam dinding ruang kontrol Iron Fist Academy, pecah berkeping-keping meninggalkan noda kecokelatan yang merembes di dinding semen yang dingin.Bimo terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Napasnya berbau alkohol dan ketakutan yang busuk
Hujan di luar apartemen The Horizon turun dengan ritme yang monoton, membasuh kaca jendela yang tinggi dengan aliran air yang menyerupai air mata.Di dalam ruang kerjanya yang remang, Reihan duduk tegak di depan deretan monitor. Cahaya biru dari layar memantul di bola matanya, memberikan k
Pukul empat pagi di kantor pusat pemenangan Ardian adalah sarang kepanikan. Ruangan yang biasanya riuh dengan strategi politik itu kini dipenuhi aroma kopi basi dan kepulan asap rokok yang menyesakkan. Ardian duduk di kursi kebesarannya, dasinya sudah longgar, rambutnya yang klimis berantakan. Di h
Malam di Jakarta Pusat seharusnya menjadi waktu bagi Bimo untuk berpesta. Sebagai pemilik sasana bela diri ternama yang melatih anak-anak pejabat dan pengusaha, dunianya adalah tentang otot, kekuasaan, dan rasa hormat yang dipaksakan. Namun, sejak kejadian di lobi gedung Media Center malam itu, ras







