Mag-log inLondon di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul.
"Pelan-pelan, Henry. Supnya nanti tumpah," tegur Eleanor lembut. Wajahnya yang menua terlihat bersinar. Dalam benaknya sudah terbesit akan menggendong cucunya, sambil mencium aroma bayi baru lahir. Henry hanya bergumam, tapi matanya terus menatap gedung Rumah sakit St. Mary's. Sebagai pria dengan kerja kasar di gudang logistik, ia selalu merasa rendah diri untuk masuk ke tempat mewah seperti ini. Tapi demi Rebecca, ia menegakkan punggungnya. Begitu mereka melangkah masuk ke koridor lantai tiga, suasana 'hangat' itu pecah seketika. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman mereka, tetapi ada yang salah. Suara tangisan bayi terdengar, bukan tangisan haus yang biasa, tapi jeritan melengking yang penuh ketidakberdayaan. Henry mendorong pintu kamar 302. Bruk. Termos di tangan Eleanor terlepas. Kuah putih itu tumpah di lantai granit putih, uap panasnya naik ke udara, menguarkan aroma kaldu yang mendadak begitu amis dan memuakkan. "Eca? Rebecca?! Anakku... anakku di mana, Elion?!" Eleanor berteriak, suaranya pecah begitu mendapati ranjang di depannya kosong. Hanya ada sprei yang kusut dengan noda darah kering yang belum sempat dibersihkan... jejak perjuangan Rebecca yang saat ini terasa seperti bekas pembantaian. "Kalian bilang dia di sini. Kalian bilang dia aman." Di pojok ruangan, Elion terduduk di lantai. Kemejanya yang selalu terlihat rapi kini berantakan, matanya merah dan kosong, menatap nanar ke arah boks bayi transparan di mana Jourell sedang meronta. Ia diam tak merespon jeritan ibu mertuanya. Bungkus rokok ditangannya diremas kuat hingga bunyi kerta terlipat terdengar. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah baju Elion dan menariknya hingga berdiri. Tangan Henry yang kasar dan pecah-pecah gemetar hebat, "Ini Roberto, kan?" ucapnya pelan. Ia tak menangis, pun juga berteriak. Elion tak menjawab dengan kata-kata, ia hanya terisak, mencoba menelan ludah yang terasa seperti racun mematikan. Suara yang keluar dari tenggorokannya lebih mirip rintihan binatang yang terluka. "Kau membiarkannya? Kau bilang London aman! Kau bilang iblis itu tidak akan menyentuhnya lagi!" Badan Elion gemetar, "Aku hanya pergi sepuluh menit, Yah... sepuluh menit untuk administrasi..." Henry memejamkan mata, mencoba menekan emosinya. "Sepuluh menit adalah waktu yang cukup untuk membawa pergi putriku." raung Henry. Ia berbalik, menatap boks bayi tempat Jourell mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Tangisnya mengecil, menyisakan suara serak yang memilukan. Lima belas menit kemudian, langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di koridor. Arthur dan Beatrice Hale masuk ke dalam ruangan. Penampilan mereka tetap elegan dengan overcoat wol, kontras dengan wajah mereka yang menunjukkan ketegangan yang luar biasa. "Elion! Apa yang terjadi?!" Arthur bertanya, suaranya memenuhi ruangan yang pengap. Henry berpaling, menatap besannya yang kaya raya itu dengan api di matanya. Sedangkan Beatrice langsung berlutut dan memeluk besannya yang menangis diantara sup ayam yang sudah hampir dingin. "Oh, Tuhan... Eleanor," bisiknya. "Aku disini." Wanita sederhana dengan pakaian lusuh, dan wanita elegan dengan mantel mahal itu meratapi nasib. Tak ada jarak di antara mereka, hanya dua ibu yang kehilangan. "Apa yang terjadi, Sir Arthur? Putra anda baru saja membiarkan putri saya diculik! Rebecca hilang! Dan lihat cucu Anda!" tangannya menunjuk Jourell. "Dia belum minum setetespun sejak lahir! Apa uang Anda bisa membuat bayi itu kenyang?!" Arthur mengernyit, "Henry, kendalikan dirimu. Kita semua hancur. Elion pun tidak menginginkan ini." Henry tertawa getir, "Hancur? Putra Anda masih punya nyawa! Putri saya sekarang entah di mana, dengan luka jahitan yang masih basah di perutnya! Dia baru saja melahirkan dan butuh perawatan medis, bukan di culik kembali ke penjara lamanya!" Kegentingan terasa tebal akibat dua emosi pria ini berkumpul, Beatrice menarik Eleanor berdiri lalu menghentakkan kaki untuk melerai mereka. "Cukup!" ia kemudian mendekati boks bayi, melihat Jourell yang bibirnya mulai pucat. Matanya berkaca-kaca mencoba memberikan kehangatan buatan. "Arthur, hentikan debat ini. Jourell harus minum. Dia butuh asupan sekarang." Eleanor menarik pelan tangan suaminya, mencoba meredam emosi pria itu dengan mengajaknya duduk. Henry pasrah, ia mengembuskan napas dan memberikan kedua besannya itu memperbaiki keadaan. Arthur mengusap wajahnya kasar, rahangnya masih mengeras. Sementara Beatrice menatap Elion tajam. "Elion, berdiri! Jika kau mencintai Rebecca, buktikan dengan menjaga nyawa yang dia tinggalkan untukmu. Pergi ke apotek bawah sekarang. Beli susu formula terbaik untuk bayi baru lahir. Sekarang!" Elion menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedih di matanya perlahan mulai mengeras menjadi sesuatu yang lebih gelap: dendam. Arthur mengeluarkan ponselnya, "Cari semua rekaman CCTV. Hubungi pengamanan bandara. Aktifkan jaringan," ucapnya dingin. "Kita tidak akan membiarkan bajingan itu menang. Gunakan semua sumber daya perusahaan, tidak ada batas!" Elion berlari keluar kamar, menyusuri koridor rumah sakit yang panjang dan dingin. Di apotek bawah, ia berdiri terpaku di depan rak susu bayi. Banyak pilihan yang tersaji, namun kepalanya terasa kosong. Ia memegang satu persatu sambil memikirkan mana yang terbaik. Di sampingnya, seorang ayah muda tertawa sambil memilih botol bayi berwarna biru. Dada Elion terasa sesak seolah menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. "Ma..." Elion berbisik di ponselnya ketika menelepon ibunya dari depan kasir. "Aku ayah gagal. Aku bahkan tidak tahu susu apa yang harus ku beli untuk putraku sendiri." tangannya mencengkeram kaleng susu itu hingga penyok. Di detik itu, Elion yang lembut telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang siap membakar London demi istrinya. Sementara itu, di sebuah mansion Victoria yang tersembunyi di balik hutan pribadi yang tidak tercantum di peta di pinggiran London... Rebecca terbangun karena rasa nyeri yang luar biasa itu datang lagi. Bukan hanya berasal dari perutnya, tapi dari dadanya. Payudaranya terasa panas, mengeras, dan berdenyut... tubuhnya secara biologis menagih bayi yang telah direnggut darinya. "Jourell..." rintihnya, mencakar sprei sutra yang dingin. Air matanya membasahi bantal mewah yang rasanya seperti duri. Roberto masuk ke kamar, membawa nampan berisi obat-obatan. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap Rebecca dengan tatapan pemilik yang puas. "Makanlah, Ca. Kau harus pulih." ujarnya lembut, namun dingin. "Kau gila, Roberto... kembalikan aku. Dia butuh aku." Isak Rebecca, mencoba mendorong pria di hadapannya meski tubuhnya remuk. "Dia akan aman bersama Elion. Tapi kau? Kau punya tempat sendiri di sini." Roberto mengelus dahi Rebecca, pelan, dan lembut. Bagi semua wanita hal itu terlihat begitu romantis, tapi bagi Rebecca, ini adalah sentuhan siksaan pertamanya di neraka yang dulu ia tinggalkan. Ia ketakutan hingga badannya menggigil, Roberto acuh, meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening sebelum beranjak keluar dengan senyum penuh kemenangan. Di hirupnya udara dengan kuat seolah napas rumah ini dan kehidupan damainya empat tahun lalu telah kembali. Roberto duduk tenang di ruang kerjanya, menatap layar monitor di hadapannya yang menampilkan rekaman CCTV setiap sudut mansion. Rebecca tertidur meringkuk di ranjang, matanya bengkak, bahunya naik turun karena sisa tangis yang tertahan. Kamera menyorot setiap sudut tanpa celah. Tak lama, ponselnya bergetar. "Tuanku," suara Darwin terdengar tegang. "Elion dan ayahnya mulai bergerak. Jaringan mereka aktif." Roberto tersenyum tipis sebelum menjawab, "Biarkan mereka mencoba." katanya santai. "London sangat luas bagi mereka yang buta." ia meneguk minumannya, tatapannya kembali ke layar. Mansion itu sunyi, bukan rumah. Melainkan penjara emas yang dibangun khusus untuk satu wanita. Di Rumah Sakit St. Mary's, tangis Jourell akhirnya berhenti saat botol susu menyentuh bibirnya, tapi matanya yang kecil tetap terbuka lebar, seolah mengerti bahwa dekapan hangat yang sesungguhnya kini telah hilang ditelan kegelapan mansion Victoria. Perang besar baru saja dimulai di tengah kabut London yang kian menebal. ***Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng
Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina
Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.
Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu
Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p
Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin







