Share

BAB 3

Author: my_ladyyy
last update publish date: 2026-02-07 13:59:44

London di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul.

"Pelan-pelan, Henry. Supnya nanti tumpah," tegur Eleanor lembut. Wajahnya yang menua terlihat bersinar. Dalam benaknya sudah terbesit akan menggendong cucunya, sambil mencium aroma bayi baru lahir.

Henry hanya bergumam, tapi matanya terus menatap gedung Rumah sakit St. Mary's. Sebagai pria dengan kerja kasar di gudang logistik, ia selalu merasa rendah diri untuk masuk ke tempat mewah seperti ini. Tapi demi Rebecca, ia menegakkan punggungnya. Begitu mereka melangkah masuk ke koridor lantai tiga, suasana 'hangat' itu pecah seketika. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman mereka, tetapi ada yang salah. Suara tangisan bayi terdengar, bukan tangisan haus yang biasa, tapi jeritan melengking yang penuh ketidakberdayaan.

Henry mendorong pintu kamar 302.

Bruk.

Termos di tangan Eleanor terlepas. Kuah putih itu tumpah di lantai granit putih, uap panasnya naik ke udara, menguarkan aroma kaldu yang mendadak begitu amis dan memuakkan. "Eca? Rebecca?! Anakku... anakku di mana, Elion?!" Eleanor berteriak, suaranya pecah begitu mendapati ranjang di depannya kosong. Hanya ada sprei yang kusut dengan noda darah kering yang belum sempat dibersihkan... jejak perjuangan Rebecca yang saat ini terasa seperti bekas pembantaian. "Kalian bilang dia di sini. Kalian bilang dia aman."

Di pojok ruangan, Elion terduduk di lantai. Kemejanya yang selalu terlihat rapi kini berantakan, matanya merah dan kosong, menatap nanar ke arah boks bayi transparan di mana Jourell sedang meronta. Ia diam tak merespon jeritan ibu mertuanya. Bungkus rokok ditangannya diremas kuat hingga bunyi kerta terlipat terdengar. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah baju Elion dan menariknya hingga berdiri. Tangan Henry yang kasar dan pecah-pecah gemetar hebat, "Ini Roberto, kan?" ucapnya pelan. Ia tak menangis, pun juga berteriak.

Elion tak menjawab dengan kata-kata, ia hanya terisak, mencoba menelan ludah yang terasa seperti racun mematikan. Suara yang keluar dari tenggorokannya lebih mirip rintihan binatang yang terluka. "Kau membiarkannya? Kau bilang London aman! Kau bilang iblis itu tidak akan menyentuhnya lagi!"

Badan Elion gemetar, "Aku hanya pergi sepuluh menit, Yah... sepuluh menit untuk administrasi..." Henry memejamkan mata, mencoba menekan emosinya. "Sepuluh menit adalah waktu yang cukup untuk membawa pergi putriku." raung Henry. Ia berbalik, menatap boks bayi tempat Jourell mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Tangisnya mengecil, menyisakan suara serak yang memilukan.

Lima belas menit kemudian, langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di koridor. Arthur dan Beatrice Hale masuk ke dalam ruangan. Penampilan mereka tetap elegan dengan overcoat wol, kontras dengan wajah mereka yang menunjukkan ketegangan yang luar biasa. "Elion! Apa yang terjadi?!" Arthur bertanya, suaranya memenuhi ruangan yang pengap. Henry berpaling, menatap besannya yang kaya raya itu dengan api di matanya.

Sedangkan Beatrice langsung berlutut dan memeluk besannya yang menangis diantara sup ayam yang sudah hampir dingin. "Oh, Tuhan... Eleanor," bisiknya. "Aku disini."

Wanita sederhana dengan pakaian lusuh, dan wanita elegan dengan mantel mahal itu meratapi nasib. Tak ada jarak di antara mereka, hanya dua ibu yang kehilangan. "Apa yang terjadi, Sir Arthur? Putra anda baru saja membiarkan putri saya diculik! Rebecca hilang! Dan lihat cucu Anda!" tangannya menunjuk Jourell. "Dia belum minum setetespun sejak lahir! Apa uang Anda bisa membuat bayi itu kenyang?!"

Arthur mengernyit, "Henry, kendalikan dirimu. Kita semua hancur. Elion pun tidak menginginkan ini." Henry tertawa getir, "Hancur? Putra Anda masih punya nyawa! Putri saya sekarang entah di mana, dengan luka jahitan yang masih basah di perutnya! Dia baru saja melahirkan dan butuh perawatan medis, bukan di culik kembali ke penjara lamanya!"

Kegentingan terasa tebal akibat dua emosi pria ini berkumpul, Beatrice menarik Eleanor berdiri lalu menghentakkan kaki untuk melerai mereka. "Cukup!" ia kemudian mendekati boks bayi, melihat Jourell yang bibirnya mulai pucat. Matanya berkaca-kaca mencoba memberikan kehangatan buatan. "Arthur, hentikan debat ini. Jourell harus minum. Dia butuh asupan sekarang."

Eleanor menarik pelan tangan suaminya, mencoba meredam emosi pria itu dengan mengajaknya duduk. Henry pasrah, ia mengembuskan napas dan memberikan kedua besannya itu memperbaiki keadaan. Arthur mengusap wajahnya kasar, rahangnya masih mengeras.

Sementara Beatrice menatap Elion tajam. "Elion, berdiri! Jika kau mencintai Rebecca, buktikan dengan menjaga nyawa yang dia tinggalkan untukmu. Pergi ke apotek bawah sekarang. Beli susu formula terbaik untuk bayi baru lahir. Sekarang!" Elion menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedih di matanya perlahan mulai mengeras menjadi sesuatu yang lebih gelap: dendam.

Arthur mengeluarkan ponselnya, "Cari semua rekaman CCTV. Hubungi pengamanan bandara. Aktifkan jaringan," ucapnya dingin. "Kita tidak akan membiarkan bajingan itu menang. Gunakan semua sumber daya perusahaan, tidak ada batas!"

Elion berlari keluar kamar, menyusuri koridor rumah sakit yang panjang dan dingin. Di apotek bawah, ia berdiri terpaku di depan rak susu bayi. Banyak pilihan yang tersaji, namun kepalanya terasa kosong. Ia memegang satu persatu sambil memikirkan mana yang terbaik. Di sampingnya, seorang ayah muda tertawa sambil memilih botol bayi berwarna biru. Dada Elion terasa sesak seolah menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

"Ma..." Elion berbisik di ponselnya ketika menelepon ibunya dari depan kasir. "Aku ayah gagal. Aku bahkan tidak tahu susu apa yang harus ku beli untuk putraku sendiri." tangannya mencengkeram kaleng susu itu hingga penyok. Di detik itu, Elion yang lembut telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang siap membakar London demi istrinya.

Sementara itu, di sebuah mansion Victoria yang tersembunyi di balik hutan pribadi yang tidak tercantum di peta di pinggiran London...

Rebecca terbangun karena rasa nyeri yang luar biasa itu datang lagi. Bukan hanya berasal dari perutnya, tapi dari dadanya. Payudaranya terasa panas, mengeras, dan berdenyut... tubuhnya secara biologis menagih bayi yang telah direnggut darinya.

"Jourell..." rintihnya, mencakar sprei sutra yang dingin. Air matanya membasahi bantal mewah yang rasanya seperti duri.

Roberto masuk ke kamar, membawa nampan berisi obat-obatan. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap Rebecca dengan tatapan pemilik yang puas. "Makanlah, Ca. Kau harus pulih." ujarnya lembut, namun dingin. "Kau gila, Roberto... kembalikan aku. Dia butuh aku." Isak Rebecca, mencoba mendorong pria di hadapannya meski tubuhnya remuk. "Dia akan aman bersama Elion. Tapi kau? Kau punya tempat sendiri di sini." Roberto mengelus dahi Rebecca, pelan, dan lembut.

Bagi semua wanita hal itu terlihat begitu romantis, tapi bagi Rebecca, ini adalah sentuhan siksaan pertamanya di neraka yang dulu ia tinggalkan. Ia ketakutan hingga badannya menggigil, Roberto acuh, meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening sebelum beranjak keluar dengan senyum penuh kemenangan. Di hirupnya udara dengan kuat seolah napas rumah ini dan kehidupan damainya empat tahun lalu telah kembali.

Roberto duduk tenang di ruang kerjanya, menatap layar monitor di hadapannya yang menampilkan rekaman CCTV setiap sudut mansion. Rebecca tertidur meringkuk di ranjang, matanya bengkak, bahunya naik turun karena sisa tangis yang tertahan. Kamera menyorot setiap sudut tanpa celah.

Tak lama, ponselnya bergetar. "Tuanku," suara Darwin terdengar tegang. "Elion dan ayahnya mulai bergerak. Jaringan mereka aktif." Roberto tersenyum tipis sebelum menjawab, "Biarkan mereka mencoba." katanya santai. "London sangat luas bagi mereka yang buta." ia meneguk minumannya, tatapannya kembali ke layar.

Mansion itu sunyi, bukan rumah.

Melainkan penjara emas yang dibangun khusus untuk satu wanita.

Di Rumah Sakit St. Mary's, tangis Jourell akhirnya berhenti saat botol susu menyentuh bibirnya, tapi matanya yang kecil tetap terbuka lebar, seolah mengerti bahwa dekapan hangat yang sesungguhnya kini telah hilang ditelan kegelapan mansion Victoria.

Perang besar baru saja dimulai di tengah kabut London yang kian menebal.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 90

    BAB 90Waktu akhirnya berlalu. Townhouse milik Elion terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Tidak ada lagi derap langkah kaki Elion yang terburu-buru menuruni tangga. Tidak ada lagi suara pintu kamar yang berderit terbuka, disusul panggilan santainya pada Rebecca hanya untuk menanyakan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa ia cari tahu sendiri. Yang tersisa kini hanyalah ketenangan—jenis ketenangan yang dingin, berat, dan menekan dada.Rebecca berdiri membisu di depan lemari pakaian Elion. Sudah hampir dua minggu sejak makam Elion mengering, namun baru hari ini jemarinya memiliki cukup keberanian untuk sekadar menyentuh kenop pintu itu. Ia menarik napas panjang, meresapi udara yang terasa sesak, kemudian membukanya dengan perlahan.Deretan pakaian Elion masih tergantung rapi di sana. Kemeja-kemeja kerjanya, jaket tebal, beberapa sweater favoritnya, hingga celana kain yang masih tersusun presisi di rak bawah. Semuanya masih berada di posisi yang sama—seolah-olah sang pemilik hanya se

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 89

    "Darwin Serphent telah menemukan petunjuk baru." Adam berhenti. Pesan berikutnya masuk. "Mereka menemukan simbol pada kendaraan eksekutor." Senyum Adam perlahan menghilang, digantikan dengan sesuatu yang lebih serius—ekspresi yang jarang muncul di wajah pria itu. Ia membaca baris itu dua kali. Tiga kali. Pesan ketiga muncul: "Mereka belum mengetahui pemiliknya." Keheningan menggantung di ruangan itu, hanya ditemani suara hujan yang mengetuk kaca jendela dengan irama yang tidak peduli pada permainan manusia dibaliknya. Sudut bibir Adam kembali terangkat—perlahan, seperti seseorang yang baru saja memutuskan bahwa ini justru menjadi lebih menarik. "Kalau begitu..." ia mematikan layar ponselnya. "...mari kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan jawabannya." Di luar sana, hujan London semakin deras meski waktu hampir masuk pukul dua belas malam. Dan tanpa diketahui Roberto Serphent, dua permainan sedang berjalan bersamaan di tengah kegelapan yang sama. Satu untuk menemu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 88

    "Anda memanggil saya, Tuan Adam?" Adam mengibaskan tangan, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk, Mr. Vance." Pria itu mengambil tempat, Adam menggeser map hitam di mejanya ke tengah. "Saya ingin proses gugatan perceraian Eliza Ravenscroft dan Roberto Serphent resmi disiapkan mulai hari ini." Pengacara itu tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia menatap Adam, mencoba membaca arah angin. "Perceraian? Apakah Nyonya Eliza sudah menandatangani persetujuan?" Adam mendongak, tatapannya mendingin. "Eliza tidak berada dalam posisi untuk menentukan arah keputusan keluarga Ravenscroft." Jawaban itu cukup untuk membuat sang pengacara bungkam. Adam membalik lembaran berkas satu persatu. "Tetapi saya tidak meminta Anda melayangkan gugatan ini ke pengadilan besok pagi. Persiapkan seluruh dokumennya hingga matang, tanpa cela." "Termasuk draf pembagian klaim?" "Termasuk seluruh klausul yang memojokkan pihak Serphent." Vance mengangguk paham. "Kapan kita akan mengakses pe

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 87

    Kembali ke pusat pemantauan, Darwin masih terpaku di depan deretan layar. Ia telah menandai setiap pemunculan titik gelap—kendaraan yang membuntut SUV Elion—pada peta digital kota London. Garis-garis merah saling terhubung, membentuk rute presisi dari luar area pemukiman townhouse, menyisir jalan arteri, hingga berakhir persis beberapa ratus meter sebelum persimpangan layang.Telepon di meja Darwin berdering, sambungan dari Willy."Aku dapat konfirmasi," kata Willy cepat. "Truk itu memang unit resmi. Pengemudinya bernama James Carter, dan rutenya diubah secara manual pada jam dua lebih dua puluh menit siang kemarin oleh manajer logistik bernama Theo Mason. Keduanya sekarang kabur."Darwin mendengarkan sambil terus memperhatikan monitor. "Berarti seseorang sengaja menempatkan truk itu di jalur Elion.""Kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV?" tanya Willy. "Sedan yang mengikuti Elion selalu memotong jalan ke titik blind spot kamera kota," jawab Darwin. "Pengemudinya tahu betul letak ka

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 86

    London belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 85

    Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 8

    Lantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 7

    Arthur Hale berdiri di depan dinding layar, sorot matanya dingin. Deretan data mengalir cepat: rekaman lalu lintas komunikasi, pergerakan keamanan pribadi, serta jalur distribusi logistik yang seharusnya sudah lama tidak aktif. Salah satunya menyala kembali."Konfirmasi terakhir?" tanyanya singkat

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 6

    Luka bekas operasi itu hampir mengering, tapi rasa nyeri di bagian dalam tak bisa Rebecca tahan hingga membuatnya selalu menangis dalam diam, membiarkan rasa nyeri itu menggerogoti dirinya.Tapi yang jauh lebih menyakitkan lagi adalah rasa sesak di dadanya. Air susu yang terus berproduksi namun tid

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 5

    Keheningan yang tercipta setelah jawaban Richard seolah membekukan oksigen di ruang tamu utama. Margareth Serphent menyipitkan mata, tatapannya yang tajam bak belati kini hanya fokus tertuju pada wajah polos sang cucu. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan mudahnya percaya pada dongeng, apalagi jika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status