Share

BAB 2

Penulis: my_ladyyy
last update Tanggal publikasi: 2026-02-06 13:01:51

Langkah kaki pelan terdengar dari balik pintu. Roberto menoleh saat seorang pria berusia lima puluhan masuk membawa tas medis hitam. Rambutnya sudah memutih di pelipis, wajahnya kaku, jelas tidak nyaman berada di tempat itu.

"Apa kau sudah gila, Roberto?" suara Christopher direndahkan, amarahnya mengintip kecil.

"Dia baru saja melahirkan, kau membawanya keluar rumah sakit tanpa izin dokter?" Roberto tidak menjawab. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Rebecca yang masih tidak sadarkan diri. "Periksa saja," katanya singkat.

Christopher mendekat, membuka perban yang membalut perut Rebecca dengan hati-hati. Dahinya mengernyit saat melihat bekas operasi yang masih basah.

"Lukanya belum stabil, risiko infeksinya tinggi. Dia butuh observasi, bukan dipindahkan ke mansion dengan sistem pengamanan seperti penjara."

"Aku yang memegang kendali atas hidupnya, Dokter. Kau hanya perlu memastikan dia tetap bernapas," balas Roberto dingin, suaranya setajam pisau bedah. Christopher menghela napas panjang. "Bagaimana dengan bayinya?" Roberto menoleh perlahan. "Jangan membuang napasmu untuk membahas sesuatu yang tidak memiliki setetes pun darah Serphent di nadinya. Dia bukan urusanku, Chris. Sama sekali bukan."

Kalimat itu membuat tangan Christopher berhenti sesaat. Ia menatap Roberto, seolah berharap pria di depannya ini masih memiliki sisa kewarasan. "Kau sedang melampaui batas, Roberto."

"Aku sudah lama melampuinya," jawabnya tanpa emosi. "Pastikan dia hidup, Dok. Itu saja."

Christopher menutup kembali perban dengan gerakan profesional. "Dia akan sadar dalam satu jam. Jangan biarkan dia stres berlebihan. Kondisinya rapuh... secara fisik dan mental."

"Lakukan tugasmu, Dokter." potong Roberto penuh penekanan.

Sebelum pergi, dokter yang telah mengabdi kepada klan Serphent selama 30 tahun itu berhenti di depan pintu. "Jika sesuatu terjadi padanya..." Roberto menatapnya tajam. "... aku tidak akan tinggal diam."

Pintu tertutup. Kesunyian kembali bertahta di kamar, membiarkan Roberto menikmati wajah damai Rebecca yang masih tidur. Mengatur antisipasi jika jika Rebecca terbangun dan menyadari ia telah dipisahkan dari bayinya.

Kesadaran Rebecca kembali terbuka bukan karena cahaya, melainkan rasa nyeri yang tajam di perutnya. Seperti ada tangan tak kasatmata yang menariknya keluar dari kegelapan terlalu cepat dan kasar. Untuk bernapas pun terasa sulit, udara disekitar sangat menusuk, aromanya familiar... bukan antiseptik rumah sakit.

Ia membuka mata perlahan. Yang pertama menyambut ialah langit-langit putih dengan ukiran tipis dengan lampu kristal yang menggantung terlalu rendah. Tirai tebal berwarna gelap menutup jendela, bertugas menyaring cahaya malam. Jantung Rebecca berhenti berdetak selama satu detik. Bukan. Ini bukan rumah sakit. Ini... kamar itu.

Wanita itu mencoba bangkit, namun tubuhnya lagi-lagi menolak. Nyeri di perut bagian bawah kian menyiksanya menyebabkan pandangannya berkunang. Tangannya reflek meraih sprei, dan detik itulah ia menyadari satu hal yang membuat darahnya membeku... bahkan teksturnya tidak berubah. Empat tahun lalu, dan kamar ini tetap sama. Terlalu sama.

"Mommy?"

Suara kecil itu datang dari sisi lain ruangan. Rebecca menoleh cepat. Dari ambang pintu berdiri seorang bocah laki-laki mengenakan piyama biru tua. Rambut hitamnya sedikit berantakan, matanya bulat dan berbinar. Bocah itu menatapnya dengan senyum lebar, seperti pemandangan di depannya adalah hal yang sudah lama ia nantikan.

"Mommy sudah pulang," katanya polos. Napas Rebecca tertahan. Dunia seakan miring.

Richard Serphent.

Tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena anak itu, bukan karena wajah kecilnya yang dulu sering ia kecup sebelum semuanya runtuh... melainkan kenyataan bahwa Richard ada disini. Artinya. Ia juga ada di sini.

Langkah kaki terdengar dari belakang bocah itu. Ritmenya teratur, setiap jengkal menarik udara, menyisakan ruang hampa. "Richard," suara bariton itu terdengar rendah. "Sudah malam. Mommy masih sakit, kembali ke kamarmu." Roberto muncul dari balik bayangan lorong. Setelan rumah berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, seolah tengah malam bukan alasan untuk terlihat lengah. Tatapannya mengunci Rebecca... tajam, dalam, dan membuat dadanya sesak.

Bocah itu mengangguk patuh. "Daddy sudah janji Mommy tidak pergi lagi, kan?" Roberto tersenyum kecil. "Daddy tidak pernah ingkar janji, jagoan. Mommy hanya sedang 'kelelahan' karena terlalu lama bermain jauh dari kita. Pergilah tidur, Daddy akan menjaga Mommy supaya dia tidak menghilang lagi." Pintu itu tertutup pelan bersamaan langkah kaki kecil itu pergi. Bunyi klik kunci terdengar jelas. Terlalu nyaring. Rebecca mencoba bersuara, tapi tenggorokannya kering. "Roberto..." Namanya keluar seperti bisikan orang tenggelam. "Apa yang kau lakukan?"

Roberto mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Rebecca dengan gerakan lambat, seperti menenangkan hewan liar yang terluka. "Kau lemah," katanya lembut. "Jangan bergerak." Rebecca spontan menarik tangannya. "Di mana aku?"

"Kau di rumah." Roberto menatap sekeliling seakan bangga. "Rumahmu."

"Itu tidak benar," suara Rebecca bergetar. "Aku di rumah sakit dan baru saja melahirkan. Bayiku-"

"Cukup." nada Roberto berubah. Tidak keras, namun cukup membuat udara di antara mereka membeku. "Berhenti membicarakan hal yang tidak perlu." Air mata mulai menggenang di mata Rebecca. "Kau menculikku." Roberto menghela napas, seperti seseorang yang lelah menjelaskan hal yang sama berulang kali. "Aku membawamu pulang."

"Aku istri orang," bisik Rebecca putus asa. "Aku milik Elion sekarang." Nama itu membuat rahang Roberto menegang. Tangannya berpindah, mencengkeram bahu Rebecca. Tekanannya yang kuat membuat wanita itu bungkam. "Istri orang? Julukan yang lucu, Ca. Kau pikir secarik kertas dan pria lemah itu bisa menghapus jejakku di tubuhmu? Kesalahan terbesarmu bukan melarikan diri, namun berpikir bahwa aku akan membiarkanmu bernapas di bawah atap pria lain. Kau lahir dan akan mati dengan nama Serphent di belakang namamu."

Rebecca menggertakkan gigi, menahan nyeri. "Lepaskan aku. Aku harus kembali... Jourell membutuhkanku." Wajah Roberto tidak menunjukkan emosi. "Anak itu bukan urusanku." Kata-kata itu menghantam Rebecca lebih keras daripada sebuah tamparan. Napasnya tersendat. "Dia baru lahir..."

"Jangan menyebut nama itu di depanku jika kau masih ingin lidahmu berfungsi dengan baik. Richard butuh ibunya, dan aku butuh wanitaku. Anak itu hanyalah kesalahan yang harus kau lupakan jika ingin bertahan hidup di rumah ini." potong Roberto. "Dan dia sudah kehilangan ibunya terlalu lama." Rebecca tertawa lirih, nyaris histeris sambil mencerna semua ini. "Kau menyebut ini ibu? Mengurungku di rumah ini?" Roberto berdiri, berjalan mengitari ranjang. "Kau aman disini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu. Tidak ibuku. Tidak Rachel. Tidak siapapun."

Nama-nama itu membuat Rebecca menegang. Ingatan lamanya menyerbu... tatapan tajam Margareth, senyum tipis Rachel, ancaman yang dibungkus sopan santun. Tangannya gemetar. "Kau berbohong," bisiknya. "Mereka akan membunuhku jika tahu aku di sini."

"Mereka tidak akan tahu." jawab Roberto datar. "Aku sudah mengatur semuanya." Rebecca mencoba bangkit. Baru setengah duduk, rasa nyeri itu menusuk perutnya. Ia terjatuh kembali ke ranjang, meringis kesakitan. Roberto refleks menahan tubuhnya. Tangannya sekarang berada terlalu dekat dengan luka operasi yang masih terbalut perban.

"Jangan keras kepala," katanya. "Lukamu masih basah." Rebecca mulai terisak. "Biarkan aku pergi. Aku mohon... aku akan kembali ke Richard nanti. Aku janji." Roberto menatapnya lama. Tatapan itu bukan marah, bukan sedih, tapi sesuatu yang lebih menakutkan. Tatapan kepemilikan.

"Kau tidak akan pergi ke mana pun," ucapnya akhirnya. "Pintu-pintu di rumah ini hanya mengenal sidik jariku. Jendela-jendelanya diperkuat. Tidak ada sinyal keluar." Rebecca menoleh cepat ke arah jendela. Tirai terbuka sedikit, memperlihatkan kaca tebal dengan lapisan baja. Dadanya begitu menyesakkan. Ini tidak pantas disebut rumah. Ini adalah penjara.

"Aku akan mencari Elion," katanya nekat. "Dia akan mencariku." Roberto tersenyum tipis. "Dan dia tidak akan menemukanmu."

Air mata Rebecca jatuh tanpa isakan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. "Kau menghancurkan hidupku..." Roberto mendekat lagi, sekarang ia duduk di sampingnya. Tangannya mengusap rambut Rebecca dengan gerakan hampir lembut. "Aku sedang menyelamatkannya."

Rebecca menepis tangan itu. "Ini salah. Semua ini salah." matanya begitu merah, tatapannya nyalang penuh emosi. "Mungkin," jawab Roberto pelan. "Tapi kau di sini. Dan akan tetap di sini."

Ia bangkit, melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. "Istirahatlah. Turuti apa yang dokter katakan."

Pintu tertutup, terkunci otomatis. Rebecca berbaring kaku, menatap langit-langit. Isakannya mulai keras tapi suara itu tak mampu menembus keluar karena terdapat penyadap suara. Di luar kamar ini, ada seorang anak yang memanggilnya ibu. Sedangkan di tempat lain, ada bayi yang bahkan belum sempat ia peluk dengan layak.

Dan di antara keduanya, berdiri seorang pria yang bersedia menjadi iblis demi memilikinya kembali. Rebecca akhirnya menyadari satu hal yang membuat dadanya nyeri lebih dari luka operasi manapun... ia tidak dibawa pulang.

Ia dikubur hidup-hidup di dalam rumah yang dulu pernah ia sebut surga.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 89

    "Darwin Serphent telah menemukan petunjuk baru." Adam berhenti. Pesan berikutnya masuk. "Mereka menemukan simbol pada kendaraan eksekutor." Senyum Adam perlahan menghilang, digantikan dengan sesuatu yang lebih serius—ekspresi yang jarang muncul di wajah pria itu. Ia membaca baris itu dua kali. Tiga kali. Pesan ketiga muncul: "Mereka belum mengetahui pemiliknya." Keheningan menggantung di ruangan itu, hanya ditemani suara hujan yang mengetuk kaca jendela dengan irama yang tidak peduli pada permainan manusia dibaliknya. Sudut bibir Adam kembali terangkat—perlahan, seperti seseorang yang baru saja memutuskan bahwa ini justru menjadi lebih menarik. "Kalau begitu..." ia mematikan layar ponselnya. "...mari kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan jawabannya." Di luar sana, hujan London semakin deras meski waktu hampir masuk pukul dua belas malam. Dan tanpa diketahui Roberto Serphent, dua permainan sedang berjalan bersamaan di tengah kegelapan yang sama. Satu untuk menemu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 88

    "Anda memanggil saya, Tuan Adam?" Adam mengibaskan tangan, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk, Mr. Vance." Pria itu mengambil tempat, Adam menggeser map hitam di mejanya ke tengah. "Saya ingin proses gugatan perceraian Eliza Ravenscroft dan Roberto Serphent resmi disiapkan mulai hari ini." Pengacara itu tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia menatap Adam, mencoba membaca arah angin. "Perceraian? Apakah Nyonya Eliza sudah menandatangani persetujuan?" Adam mendongak, tatapannya mendingin. "Eliza tidak berada dalam posisi untuk menentukan arah keputusan keluarga Ravenscroft." Jawaban itu cukup untuk membuat sang pengacara bungkam. Adam membalik lembaran berkas satu persatu. "Tetapi saya tidak meminta Anda melayangkan gugatan ini ke pengadilan besok pagi. Persiapkan seluruh dokumennya hingga matang, tanpa cela." "Termasuk draf pembagian klaim?" "Termasuk seluruh klausul yang memojokkan pihak Serphent." Vance mengangguk paham. "Kapan kita akan mengakses pe

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 87

    Kembali ke pusat pemantauan, Darwin masih terpaku di depan deretan layar. Ia telah menandai setiap pemunculan titik gelap—kendaraan yang membuntut SUV Elion—pada peta digital kota London. Garis-garis merah saling terhubung, membentuk rute presisi dari luar area pemukiman townhouse, menyisir jalan arteri, hingga berakhir persis beberapa ratus meter sebelum persimpangan layang.Telepon di meja Darwin berdering, sambungan dari Willy."Aku dapat konfirmasi," kata Willy cepat. "Truk itu memang unit resmi. Pengemudinya bernama James Carter, dan rutenya diubah secara manual pada jam dua lebih dua puluh menit siang kemarin oleh manajer logistik bernama Theo Mason. Keduanya sekarang kabur."Darwin mendengarkan sambil terus memperhatikan monitor. "Berarti seseorang sengaja menempatkan truk itu di jalur Elion.""Kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV?" tanya Willy. "Sedan yang mengikuti Elion selalu memotong jalan ke titik blind spot kamera kota," jawab Darwin. "Pengemudinya tahu betul letak ka

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 86

    London belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 85

    Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 84

    Pagi berikutnya menyongsong dengan sisa-sisa embun dingin yang melekat di kaca jendela. Pintu kamar utama terdorong pelan. Henry memasuki membawa nampan berisi segelas susu hangat dan bubur gandum. Di atas ranjang, Rebecca sudah terbangun, duduk membisu menatap lantai dengan tatapan hampa. Henry meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan lembut, pria itu merengkuh jemari dingin putrinya. "Makan sedikit ya, Nak? Demi ibu, demi Jourell..." bisik Henry lembut. Rebecca mendongak, air mata yang mengering di pipinya kembali menetes tipis. "Ayah..." Suaranya serak dan parau. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku ini benar-benar menantu yang gagal?" Henry tertegun, menatap putrinya dalam-dalam, seolah ingin memastikan ia masih sanggup bertahan. "Aku tidak bisa membuat Elion bertahan," bisik Rebecca, napasnya bergetar menahan sesak yang kembali menghantam. "Aku takut Ayah Arthur dan Ibu Beatrice membenciku. Aku takut mereka menganggapku penyebab El

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 8

    Lantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 4

    Cahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 3

    London di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul."Pelan-p

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 1

    Bau antiseptik menyusup perlahan ke dalam kesadaran Rebecca, menusuk hidungnya bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Cahaya putih rumah sakit terlalu terang, menekan kelopak matanya yang bengkak dan perih. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja ditarik kembali dari laut setelah nyaris tengg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status