Share

BAB 4

Penulis: my_ladyyy
last update Tanggal publikasi: 2026-02-08 08:48:50

Cahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian menyiksa. Tangannya hanya bisa meremas sprei sutra, menahan teriakan yang tak sanggup keluar.

Pintu kamar terbuka pelan, suara langkah kecil yang ragu-ragu terdengar. "Mommy...?" Rebecca tersentak. Suara itu bukan tangisan Jourell yang melengking, melainkan suara lembut seorang bocah laki-laki. Ia menoleh perlahan dan menemukan Richard berdiri di sana, memeluk sebuah buku cerita yang terlihat usang. "Mommy sudah bangun?" anak kecil itu mendekat, matanya yang bulat, sangat mirip dengan mata Roberto... menatap Rebecca dengan binar rindu yang murni.

"Daddy bilang Mommy sakit karena rindu Richard. Apa sekarang Mommy sudah sembuh?" hati Rebecca mencelos. Richard adalah darah dagingnya, anak yang ia lahirkan dengan penuh cinta sebelum badai menghancurkan semuanya. Namun melihat Richard sekarang, ia malah teringat dengan Jourell yang ia tinggalkan dalam kondisi merah di rumah sakit. "Richard..." suara Rebecca serak. Tangannya ingin memeluk bocah itu, namun bayangan Roberto dan ancamannya... membuatnya urung.

Di ambang pintu, dua orang maid senior, Martha dan Jane, berdiri mematung. Mata mereka berkaca-kaca melihat nyonya muda mereka kembali. Mereka menunduk saat bayangan Roberto melintas. Di mansion ini, cinta adalah pelanggaran.

Ketenangan itu pecah saat suara deru mobil-mobil hitam terdengar memasuki halaman mansion. Darwin melangkah cepat ke ruang kerja Roberto dengan wajah pucat pasi. "Tuan... Nyonya Margareth dan Tuan besar Justin sudah sampai di depan."

Roberto yang menyesap wiskinya langsung berdiri tegak. Rahangnya mengeras, pikirannya mendadak kacau hingga terdiam beberapa detik. "Sial! Mengapa mereka kemari tanpa memberitahuku lebih dulu?!"

Darwin menunggu Roberto untuk keluar, nadanya khawatir. "Tuan Justin murka karena Anda mengabaikan pertemuan dengan Adam dan Berlina semalam. Mereka menuntut kejelasan mengenai pertunangan Anda dengan Eliza, Tuanku." Roberto tahu, jika ayahnya... sang pemimpin organisasi Serphent, sudah turun tangan, maka tidak ada ruang tersisa untuk negosiasi.

"Bawa Richard ke kamarnya. Sekarang." perintah Roberto dingin.

Emma, pengasuh Richard yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, memegang erat bahu mungil Richard dengan tangan gemetar. Ia baru saja melihat mobil Rolls-Royce milik Justin Serphent memasuki pelataran. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bersamaan dengan itu, Darwin baru saja datang dengan tergesa untuk mengantar putra Roberto itu ke kamarnya.

"Richard, dengarkan Emma," bisik Emma berlutut agar sejajar dengan tinggi bocah itu, matanya menatap Darwin sekilas. "Apapun yang terjadi, jangan bilang jika kau melihat mommy di kamar tadi. Paham?" Richard mengernyitkan dahi kecilnya, matanya yang polos menatap Emma bingung. "Tapi mommy ada di sana, Emma. Mommy sedang tidur, tapi mengapa Richard tidak boleh bilang Grandpapa?" Emma berbisik semakin lirih, bibirnya bergetar bingung dengan mata yang kesana kemari menyusun alasan. "Karena... karena ini kejutan untuk Grandpapa," Emma terpaksa berbohong, keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Jika Richard memberitahu, kejutannya tidak dan Daddy akan marah besar. Richard sayang Daddy, kan?" Richard terdiam, bocah kecil itu ingin sekali memamerkan kepulangan ibunya pada sang kakek, Justin, pria yang selama ini selalu memanjakannya dengan mainan namun tetap terasa mengintimidasi. Tapi, belum sempat Richard bicara, pintu besar mansion terbuka, membuat Darwin buru-buru menggendong Richard, dengan Emma yang mengekori.

Roberto berlari menuju kamar Rebecca. Tanpa ketukan, ia membuka pintu. Wanita itu terlihat sedang berusaha untuk duduk, refleks tersentak ketakutan. "Ikut aku. Sekarang." Roberto menarik lengan mantan istrinya dengan kasar, mengabaikan rintihan kesakitannya karena luka operasi yang tertarik.

"Robert, sakit! Mau ke mana?!" Rebecca menahan napas dengan mata terpejam. "Bersuara sedikit saja, dan kau tak akan melihat bayimu lagi." ancam Roberto dengan suara rendah yang mematikan. Ia menyeret Rebecca ke sebuah rak buku besar di sudut kamar. Dengan satu tarikan pada sebuah tuas tersembunyi, rak itu bergeser, memperlihatkan sebuah ruang rahasia yang gelap dan dingin. Roberto mendorong Rebecca masuk ke dalam.

"Jangan mengeluarkan suara sekecil apapun. Ibuku bisa mencium bau pengkhianatan bahkan dari jarak satu mil, sedangkan ayahku... kau tahu sendiri bagaimana cara Serphent menghilangkan nyawa. Tetap disini hingga aku menjemputmu."

Klik.

Pintu rahasia itu tertutup, meninggalkan Rebecca yang ditarik dalam kegelapan total, hanya ditemani detak jantungnya yang berpacu liar ditambah rasa perih yang menjalar di seluruh perutnya.

(St. Mary's Hospital, London)

Suasana di suite VIP itu tidak kalah menegangkan. Arthur Hale berdiri di depan layar monitor besar yang menampilkan jaringan koordinat GPS yang buntu. Elion berada di sampingnya, matanya cekung dan merah karena kurang tidur, wajahnya yang tampan terlihat liar dan berbahaya. "Bagaimana bisa mobil itu hilang dari satelit tepat di pinggiran London?!" bentak Elion pada seorang detektif swasta di hadapannya.

"Sepertinya mereka menggunakan pengacak sinyal tingkat militer, Tuan Hale. Ini bukan penculikan biasa, ini profesional." jawab sang detektif gemetar.

Di sudut ruangan, Henry dan Eleanor duduk di kursi tunggu kayu. Mereka terlihat seperti dua orang asing di tengah kecanggihan teknologi itu. Henry meremas-remas tangannya kasar, bau napas yang tercampur tembakau berpadu dengan dinginnya AC. Sedangkan Eleanor memeluk botol susu Jourell yang baru saja dibeli Elion. Beatrice Hale mendekat, mencoba menawari minuman hangat. "Henry, Eleanor... makanlah sedikit. Kalian butuh tenaga."

Henry mendongak, matanya yang tua menampilkan sorot penderitaan. "Tuan putri... uang kalian sedang berperang dengan teknologi, namun putri saya sedang bertaruh nyawa. Saya ingin mencari ke jalanan, kalau perlu bertanya pada setiap orang. Tapi kalian bilang itu tidak berguna." Ia menatap tangannya yang pecah-pecah. "Di dunia kalian, otot seorang buruh seperti saya tidak pernah berarti. Yang bisa saya lakukan hanya duduk seperti orang bodoh, sedangkan anak saya entah sedang diapakan oleh iblis itu."

Beatrice terdiam, hatinya tersayat. Status sosial mereka memang berbeda langit dan bumi, namun rasa takut kehilangan anak adalah bahasa yang sama bagi mereka.

Di ruang utama mansion Victoria, suara denting langkah sepatu hak.tinggi Margareth bergema. Di belakangnya, Justin melangkah dengan aura yang begitu berat hingga udara seolah menghilang. Semua maid yang membungkuk bahkan tak berani mengangkat kepala sambil bernapas, menunggu Tuan dan Nyonya besar itu sampai tujuan.

"Di mana kau menyembunyikan mainanmu, Roberto?" suara Margareth tajam, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan teliti. "Kau pikir aku tidak tahu mengapa kau menghindari Eliza?" Justin duduk di kursi kebesaran Roberto, menatap putranya dengan mata elang yang dingin. "Kau tahu hukum Serphent, Roberto. Tidak boleh ada gangguan dalam aliansi kita dengan Adam. Siapa wanita yang membuatmu kehilangan akal sehat ini?"

Di balik dinding rahasia, Rebecca membekap mulutnya sendiri dengan tangan gemetar. Ia mendengar suara Margareth, suara yang empat tahun lalu memerintahkan orang untuk menyeretnya keluar dari mansion ini saat ia hamil Richard. Memori itu memenuhi pikirannya, membuat tubuhnya linglung dengan rasa takut yang luar biasa. Ia meringkuk di lantai yang dingin, air matanya jatuh tanpa suara. Di tengah ketakutannya pada Justin dan Margareth, Rebecca hanya bisa berdoa agar Jourell mendapatkan susu yang cukup di rumah sakit.

'Tuhan, biarkan aku mati asalkan anak-anakku selamat.' batinnya putus asa.

Justin Serphent masih menatap Roberto yang berdiri kaku di depannya. Tatapan Margareth yang berdiri di samping suaminya penuh penghinaan. "Di mana dia, Roberto?" Justin bertanya lagi, suaranya yang rendah menggetarkan ruangan. "Aku tidak tahu maksud Ayah," jawab Roberto datar, sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan itu. "Jangan berbohong pada pembuat hukum, Nak." Justin mengetukkan tongkatnya. "Aku mendukungmu dengan Rebecca dulu karena aku melihat kekuatan di matanya, tapi sekarang? Kau sudah bertunangan dengan Eliza, Serphent tidak butuh skandal." entah mengapa setelah menyebut nama Rebecca, sesuatu yang hangat menyapa dadanya. Sepertinya dugaannya benar. Ia memilih menyimpannya dulu.

Hening. Roberto masih bungkam, diam-diam emosinya hampir tiba di puncak. Ia tak boleh kelepasan, ia tak ingin Richard tahu wajah aslinya. Tapi tidak di sangka, di tengah keadaan mencekam itu, langkah kaki kecil Richard mendekat. Padahal Emma maupun Darwin sudah berusaha mencegah. "Grandpapa!" nalurinya mendorong untuk menolong ayahnya. Baginya, sekarang adalah waktu yang membuatnya tak nyaman. Semua orang dewasa berkumpul, dan di hati kecilnya, semua punya arti sendiri. Justin itu raksasa, Margareth itu penyihir, sedangkan ayahnya adalah pahlawan yang sedang ketakutan. Ia akan melindungi ayahnya.

Justin tersenyum tipis, satu-satunya kelembutan yang ia miliki hanyalah untuk cucunya. Ia mengangkat Richard ke pangkuannya. "Bagaimana kabarmu, jagoan?" Margareth mendekat, mengusap kepala Richard. "Richard, Daddy-mu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami. Apa kau melihat ada 'tamu' di kamar Daddy tadi?"

Jantung Roberto seolah berhenti. Emma yang berdiri di pojok ruangan hampir pingsan jika saja tak berpegangan pada pinggiran vas bunga besar. Rebecca di balik dinding membekap mulutnya sendiri, telinganya menempel erat pada celah udara. Richard menatap ayahnya, lalu menatap Grandpapa-nya yang menunggu dengan tatapan elang. Ia teringat janji "kejutan" pada Emma, namun ia juga melihat betapa pucatnya wajah ayahnya sekarang.

"Tadi..." Richard menggantung ucapannya, jemari kecilnya memainkan kancing jas Justin. "Tadi Richard melihat..."

"Melihat apa Sayang?" desak Margareth, matanya berkilat licik.

Richard menatap Margareth. "Richard melihat... ada malaikat di kamar Daddy."

Ruangan itu mendadak senyap. Margareth menajamkan matanya, sedangkan tangan Roberto sudah menyentuh senjata di balik jasnya.

Sedangkan di rumah sakit, Elion dan Arthur masih berpacu dengan waktu, tak tahu bahwa di mansion itu, nyawa Rebecca sedang digantungkan pada kejujuran seorang bocah berusia empat tahun.

Di balik dinding rahasia, Rebecca menutup mata erat-erat hingga bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang beradu dengan suara Richard. Ia tahu, satu kata lagi dari bibir mungil itu, nyawanya... dan mungkin nyawa Jourell di rumah sakit... akan berakhir dalam sekejap.

'Tolong, Richard... diamlah.' batinnya dalam kegelapan yang menyesakkan.

Di luar, udara London terasa dingin, seolah ingin menyembunyikan dosa-dosa yang sebentar lagi akan tumpah di mansion Victoria.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 21

    Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 20

    Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 19

    Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 18

    Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 17

    Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 16

    Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status