LOGINCahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian menyiksa. Tangannya hanya bisa meremas sprei sutra, menahan teriakan yang tak sanggup keluar.
Pintu kamar terbuka pelan, suara langkah kecil yang ragu-ragu terdengar. "Mommy...?" Rebecca tersentak. Suara itu bukan tangisan Jourell yang melengking, melainkan suara lembut seorang bocah laki-laki. Ia menoleh perlahan dan menemukan Richard berdiri di sana, memeluk sebuah buku cerita yang terlihat usang. "Mommy sudah bangun?" anak kecil itu mendekat, matanya yang bulat, sangat mirip dengan mata Roberto... menatap Rebecca dengan binar rindu yang murni. "Daddy bilang Mommy sakit karena rindu Richard. Apa sekarang Mommy sudah sembuh?" hati Rebecca mencelos. Richard adalah darah dagingnya, anak yang ia lahirkan dengan penuh cinta sebelum badai menghancurkan semuanya. Namun melihat Richard sekarang, ia malah teringat dengan Jourell yang ia tinggalkan dalam kondisi merah di rumah sakit. "Richard..." suara Rebecca serak. Tangannya ingin memeluk bocah itu, namun bayangan Roberto dan ancamannya... membuatnya urung. Di ambang pintu, dua orang maid senior, Martha dan Jane, berdiri mematung. Mata mereka berkaca-kaca melihat nyonya muda mereka kembali. Mereka menunduk saat bayangan Roberto melintas. Di mansion ini, cinta adalah pelanggaran. Ketenangan itu pecah saat suara deru mobil-mobil hitam terdengar memasuki halaman mansion. Darwin melangkah cepat ke ruang kerja Roberto dengan wajah pucat pasi. "Tuan... Nyonya Margareth dan Tuan besar Justin sudah sampai di depan." Roberto yang menyesap wiskinya langsung berdiri tegak. Rahangnya mengeras, pikirannya mendadak kacau hingga terdiam beberapa detik. "Sial! Mengapa mereka kemari tanpa memberitahuku lebih dulu?!" Darwin menunggu Roberto untuk keluar, nadanya khawatir. "Tuan Justin murka karena Anda mengabaikan pertemuan dengan Adam dan Berlina semalam. Mereka menuntut kejelasan mengenai pertunangan Anda dengan Eliza, Tuanku." Roberto tahu, jika ayahnya... sang pemimpin organisasi Serphent, sudah turun tangan, maka tidak ada ruang tersisa untuk negosiasi. "Bawa Richard ke kamarnya. Sekarang." perintah Roberto dingin. Emma, pengasuh Richard yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, memegang erat bahu mungil Richard dengan tangan gemetar. Ia baru saja melihat mobil Rolls-Royce milik Justin Serphent memasuki pelataran. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bersamaan dengan itu, Darwin baru saja datang dengan tergesa untuk mengantar putra Roberto itu ke kamarnya. "Richard, dengarkan Emma," bisik Emma berlutut agar sejajar dengan tinggi bocah itu, matanya menatap Darwin sekilas. "Apapun yang terjadi, jangan bilang jika kau melihat mommy di kamar tadi. Paham?" Richard mengernyitkan dahi kecilnya, matanya yang polos menatap Emma bingung. "Tapi mommy ada di sana, Emma. Mommy sedang tidur, tapi mengapa Richard tidak boleh bilang Grandpapa?" Emma berbisik semakin lirih, bibirnya bergetar bingung dengan mata yang kesana kemari menyusun alasan. "Karena... karena ini kejutan untuk Grandpapa," Emma terpaksa berbohong, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Jika Richard memberitahu, kejutannya tidak dan Daddy akan marah besar. Richard sayang Daddy, kan?" Richard terdiam, bocah kecil itu ingin sekali memamerkan kepulangan ibunya pada sang kakek, Justin, pria yang selama ini selalu memanjakannya dengan mainan namun tetap terasa mengintimidasi. Tapi, belum sempat Richard bicara, pintu besar mansion terbuka, membuat Darwin buru-buru menggendong Richard, dengan Emma yang mengekori. Roberto berlari menuju kamar Rebecca. Tanpa ketukan, ia membuka pintu. Wanita itu terlihat sedang berusaha untuk duduk, refleks tersentak ketakutan. "Ikut aku. Sekarang." Roberto menarik lengan mantan istrinya dengan kasar, mengabaikan rintihan kesakitannya karena luka operasi yang tertarik. "Robert, sakit! Mau ke mana?!" Rebecca menahan napas dengan mata terpejam. "Bersuara sedikit saja, dan kau tak akan melihat bayimu lagi." ancam Roberto dengan suara rendah yang mematikan. Ia menyeret Rebecca ke sebuah rak buku besar di sudut kamar. Dengan satu tarikan pada sebuah tuas tersembunyi, rak itu bergeser, memperlihatkan sebuah ruang rahasia yang gelap dan dingin. Roberto mendorong Rebecca masuk ke dalam. "Jangan mengeluarkan suara sekecil apapun. Ibuku bisa mencium bau pengkhianatan bahkan dari jarak satu mil, sedangkan ayahku... kau tahu sendiri bagaimana cara Serphent menghilangkan nyawa. Tetap disini hingga aku menjemputmu." Klik. Pintu rahasia itu tertutup, meninggalkan Rebecca yang ditarik dalam kegelapan total, hanya ditemani detak jantungnya yang berpacu liar ditambah rasa perih yang menjalar di seluruh perutnya. (St. Mary's Hospital, London) Suasana di suite VIP itu tidak kalah menegangkan. Arthur Hale berdiri di depan layar monitor besar yang menampilkan jaringan koordinat GPS yang buntu. Elion berada di sampingnya, matanya cekung dan merah karena kurang tidur, wajahnya yang tampan terlihat liar dan berbahaya. "Bagaimana bisa mobil itu hilang dari satelit tepat di pinggiran London?!" bentak Elion pada seorang detektif swasta di hadapannya. "Sepertinya mereka menggunakan pengacak sinyal tingkat militer, Tuan Hale. Ini bukan penculikan biasa, ini profesional." jawab sang detektif gemetar. Di sudut ruangan, Henry dan Eleanor duduk di kursi tunggu kayu. Mereka terlihat seperti dua orang asing di tengah kecanggihan teknologi itu. Henry meremas-remas tangannya kasar, bau napas yang tercampur tembakau berpadu dengan dinginnya AC. Sedangkan Eleanor memeluk botol susu Jourell yang baru saja dibeli Elion. Beatrice Hale mendekat, mencoba menawari minuman hangat. "Henry, Eleanor... makanlah sedikit. Kalian butuh tenaga." Henry mendongak, matanya yang tua menampilkan sorot penderitaan. "Tuan putri... uang kalian sedang berperang dengan teknologi, namun putri saya sedang bertaruh nyawa. Saya ingin mencari ke jalanan, kalau perlu bertanya pada setiap orang. Tapi kalian bilang itu tidak berguna." Ia menatap tangannya yang pecah-pecah. "Di dunia kalian, otot seorang buruh seperti saya tidak pernah berarti. Yang bisa saya lakukan hanya duduk seperti orang bodoh, sedangkan anak saya entah sedang diapakan oleh iblis itu." Beatrice terdiam, hatinya tersayat. Status sosial mereka memang berbeda langit dan bumi, namun rasa takut kehilangan anak adalah bahasa yang sama bagi mereka. Di ruang utama mansion Victoria, suara denting langkah sepatu hak.tinggi Margareth bergema. Di belakangnya, Justin melangkah dengan aura yang begitu berat hingga udara seolah menghilang. Semua maid yang membungkuk bahkan tak berani mengangkat kepala sambil bernapas, menunggu Tuan dan Nyonya besar itu sampai tujuan. "Di mana kau menyembunyikan mainanmu, Roberto?" suara Margareth tajam, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan teliti. "Kau pikir aku tidak tahu mengapa kau menghindari Eliza?" Justin duduk di kursi kebesaran Roberto, menatap putranya dengan mata elang yang dingin. "Kau tahu hukum Serphent, Roberto. Tidak boleh ada gangguan dalam aliansi kita dengan Adam. Siapa wanita yang membuatmu kehilangan akal sehat ini?" Di balik dinding rahasia, Rebecca membekap mulutnya sendiri dengan tangan gemetar. Ia mendengar suara Margareth, suara yang empat tahun lalu memerintahkan orang untuk menyeretnya keluar dari mansion ini saat ia hamil Richard. Memori itu memenuhi pikirannya, membuat tubuhnya linglung dengan rasa takut yang luar biasa. Ia meringkuk di lantai yang dingin, air matanya jatuh tanpa suara. Di tengah ketakutannya pada Justin dan Margareth, Rebecca hanya bisa berdoa agar Jourell mendapatkan susu yang cukup di rumah sakit. 'Tuhan, biarkan aku mati asalkan anak-anakku selamat.' batinnya putus asa. Justin Serphent masih menatap Roberto yang berdiri kaku di depannya. Tatapan Margareth yang berdiri di samping suaminya penuh penghinaan. "Di mana dia, Roberto?" Justin bertanya lagi, suaranya yang rendah menggetarkan ruangan. "Aku tidak tahu maksud Ayah," jawab Roberto datar, sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan itu. "Jangan berbohong pada pembuat hukum, Nak." Justin mengetukkan tongkatnya. "Aku mendukungmu dengan Rebecca dulu karena aku melihat kekuatan di matanya, tapi sekarang? Kau sudah bertunangan dengan Eliza, Serphent tidak butuh skandal." entah mengapa setelah menyebut nama Rebecca, sesuatu yang hangat menyapa dadanya. Sepertinya dugaannya benar. Ia memilih menyimpannya dulu. Hening. Roberto masih bungkam, diam-diam emosinya hampir tiba di puncak. Ia tak boleh kelepasan, ia tak ingin Richard tahu wajah aslinya. Tapi tidak di sangka, di tengah keadaan mencekam itu, langkah kaki kecil Richard mendekat. Padahal Emma maupun Darwin sudah berusaha mencegah. "Grandpapa!" nalurinya mendorong untuk menolong ayahnya. Baginya, sekarang adalah waktu yang membuatnya tak nyaman. Semua orang dewasa berkumpul, dan di hati kecilnya, semua punya arti sendiri. Justin itu raksasa, Margareth itu penyihir, sedangkan ayahnya adalah pahlawan yang sedang ketakutan. Ia akan melindungi ayahnya. Justin tersenyum tipis, satu-satunya kelembutan yang ia miliki hanyalah untuk cucunya. Ia mengangkat Richard ke pangkuannya. "Bagaimana kabarmu, jagoan?" Margareth mendekat, mengusap kepala Richard. "Richard, Daddy-mu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami. Apa kau melihat ada 'tamu' di kamar Daddy tadi?" Jantung Roberto seolah berhenti. Emma yang berdiri di pojok ruangan hampir pingsan jika saja tak berpegangan pada pinggiran vas bunga besar. Rebecca di balik dinding membekap mulutnya sendiri, telinganya menempel erat pada celah udara. Richard menatap ayahnya, lalu menatap Grandpapa-nya yang menunggu dengan tatapan elang. Ia teringat janji "kejutan" pada Emma, namun ia juga melihat betapa pucatnya wajah ayahnya sekarang. "Tadi..." Richard menggantung ucapannya, jemari kecilnya memainkan kancing jas Justin. "Tadi Richard melihat..." "Melihat apa Sayang?" desak Margareth, matanya berkilat licik. Richard menatap Margareth. "Richard melihat... ada malaikat di kamar Daddy." Ruangan itu mendadak senyap. Margareth menajamkan matanya, sedangkan tangan Roberto sudah menyentuh senjata di balik jasnya. Sedangkan di rumah sakit, Elion dan Arthur masih berpacu dengan waktu, tak tahu bahwa di mansion itu, nyawa Rebecca sedang digantungkan pada kejujuran seorang bocah berusia empat tahun. Di balik dinding rahasia, Rebecca menutup mata erat-erat hingga bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang beradu dengan suara Richard. Ia tahu, satu kata lagi dari bibir mungil itu, nyawanya... dan mungkin nyawa Jourell di rumah sakit... akan berakhir dalam sekejap. 'Tolong, Richard... diamlah.' batinnya dalam kegelapan yang menyesakkan. Di luar, udara London terasa dingin, seolah ingin menyembunyikan dosa-dosa yang sebentar lagi akan tumpah di mansion Victoria. ***"Darwin Serphent telah menemukan petunjuk baru." Adam berhenti. Pesan berikutnya masuk. "Mereka menemukan simbol pada kendaraan eksekutor." Senyum Adam perlahan menghilang, digantikan dengan sesuatu yang lebih serius—ekspresi yang jarang muncul di wajah pria itu. Ia membaca baris itu dua kali. Tiga kali. Pesan ketiga muncul: "Mereka belum mengetahui pemiliknya." Keheningan menggantung di ruangan itu, hanya ditemani suara hujan yang mengetuk kaca jendela dengan irama yang tidak peduli pada permainan manusia dibaliknya. Sudut bibir Adam kembali terangkat—perlahan, seperti seseorang yang baru saja memutuskan bahwa ini justru menjadi lebih menarik. "Kalau begitu..." ia mematikan layar ponselnya. "...mari kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan jawabannya." Di luar sana, hujan London semakin deras meski waktu hampir masuk pukul dua belas malam. Dan tanpa diketahui Roberto Serphent, dua permainan sedang berjalan bersamaan di tengah kegelapan yang sama. Satu untuk menemu
"Anda memanggil saya, Tuan Adam?" Adam mengibaskan tangan, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk, Mr. Vance." Pria itu mengambil tempat, Adam menggeser map hitam di mejanya ke tengah. "Saya ingin proses gugatan perceraian Eliza Ravenscroft dan Roberto Serphent resmi disiapkan mulai hari ini." Pengacara itu tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia menatap Adam, mencoba membaca arah angin. "Perceraian? Apakah Nyonya Eliza sudah menandatangani persetujuan?" Adam mendongak, tatapannya mendingin. "Eliza tidak berada dalam posisi untuk menentukan arah keputusan keluarga Ravenscroft." Jawaban itu cukup untuk membuat sang pengacara bungkam. Adam membalik lembaran berkas satu persatu. "Tetapi saya tidak meminta Anda melayangkan gugatan ini ke pengadilan besok pagi. Persiapkan seluruh dokumennya hingga matang, tanpa cela." "Termasuk draf pembagian klaim?" "Termasuk seluruh klausul yang memojokkan pihak Serphent." Vance mengangguk paham. "Kapan kita akan mengakses pe
Kembali ke pusat pemantauan, Darwin masih terpaku di depan deretan layar. Ia telah menandai setiap pemunculan titik gelap—kendaraan yang membuntut SUV Elion—pada peta digital kota London. Garis-garis merah saling terhubung, membentuk rute presisi dari luar area pemukiman townhouse, menyisir jalan arteri, hingga berakhir persis beberapa ratus meter sebelum persimpangan layang.Telepon di meja Darwin berdering, sambungan dari Willy."Aku dapat konfirmasi," kata Willy cepat. "Truk itu memang unit resmi. Pengemudinya bernama James Carter, dan rutenya diubah secara manual pada jam dua lebih dua puluh menit siang kemarin oleh manajer logistik bernama Theo Mason. Keduanya sekarang kabur."Darwin mendengarkan sambil terus memperhatikan monitor. "Berarti seseorang sengaja menempatkan truk itu di jalur Elion.""Kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV?" tanya Willy. "Sedan yang mengikuti Elion selalu memotong jalan ke titik blind spot kamera kota," jawab Darwin. "Pengemudinya tahu betul letak ka
London belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk
Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban
Pagi berikutnya menyongsong dengan sisa-sisa embun dingin yang melekat di kaca jendela. Pintu kamar utama terdorong pelan. Henry memasuki membawa nampan berisi segelas susu hangat dan bubur gandum. Di atas ranjang, Rebecca sudah terbangun, duduk membisu menatap lantai dengan tatapan hampa. Henry meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan lembut, pria itu merengkuh jemari dingin putrinya. "Makan sedikit ya, Nak? Demi ibu, demi Jourell..." bisik Henry lembut. Rebecca mendongak, air mata yang mengering di pipinya kembali menetes tipis. "Ayah..." Suaranya serak dan parau. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku ini benar-benar menantu yang gagal?" Henry tertegun, menatap putrinya dalam-dalam, seolah ingin memastikan ia masih sanggup bertahan. "Aku tidak bisa membuat Elion bertahan," bisik Rebecca, napasnya bergetar menahan sesak yang kembali menghantam. "Aku takut Ayah Arthur dan Ibu Beatrice membenciku. Aku takut mereka menganggapku penyebab El
London di pagi buta selalu terasa mencekam, namun hal itu tidak berlaku bagi Henry dan Eleanor Foster. Kabut yang menyelimuti area Paddington pagi itu terasa seperti pelukan hangat. Mereka turun dari taksi hitam, membawa tas kain berisi pakaian bayi dan termos sup ayam yang masih mengepul."Pelan-p
Langkah kaki pelan terdengar dari balik pintu. Roberto menoleh saat seorang pria berusia lima puluhan masuk membawa tas medis hitam. Rambutnya sudah memutih di pelipis, wajahnya kaku, jelas tidak nyaman berada di tempat itu. "Apa kau sudah gila, Roberto?" suara Christopher direndahkan, amarahnya m
Bau antiseptik menyusup perlahan ke dalam kesadaran Rebecca, menusuk hidungnya bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Cahaya putih rumah sakit terlalu terang, menekan kelopak matanya yang bengkak dan perih. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja ditarik kembali dari laut setelah nyaris tengg
Lantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent







