Mag-log inLantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent dan Ravenscroft. Setiap detailnya harus sempurna. Pernikahan ini bukan soal cinta, melainkan pameran kekuasaan. Bagi Margareth, anak hanyalah alat.
"Pastikan daftar tamunya tidak ada yang terlewat, Rachel. Terutama kolega ayahmu dan klan Ravenscroft." ucap Margareth tanpa menoleh. Suaranya tenang, namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah. Baginya, pernikahan ini adalah mahakarya. Ravenscroft bukan keluarga yang bisa ditolak, Adam Ravenscroft adalah pria yang tidak pernah menerima kata 'maaf'. Jika kedua klan ini menjadi keluarga, maka bisa dipastikan, Serphent memiliki kekuasaan yang tak tertandingi di tanah Eropa. Rachel, adik Roberto mengangguk patuh sambil tersenyum miring. Nadanya begitu angkuh seperti menyombongkan sesuatu. "Tenang saja Ibu, semua akan berjalan seperti keinginan Ibu." wanita muda itu diam-diam menyembunyikan satu undangan ke dalam tasnya. Justin masuk ke ruangan itu dengan langkah berat badan. Ia menatap istrinya, wanita yang selama puluhan tahun menjadi rekannya dalam membangun dinasti Serphent. Tapi malam ini, Margareth terlihat lebih seperti orang asing baginya... seorang ratu yang siap mengorbankan apa pun demi mahkotanya. Wanita itu segera mendekat dengan undangan di tangannya begitu Justin selesai menuangkan wiski ke gelas kristal di sudut ruangan. Mereka berdiri sambil menatap ruang tengah yang kini sudah disulap Margareth menjadi lautan bunga lily untuk menyambut kedatangan keluarga Adam. Aroma bunga itu begitu kuat, namun bagi Justin, itu adalah aroma kematian bagi kedamaian klan mereka. "Lihatlah logo ini, Justin. Bukankah ini luar biasa?" Margareth menunjukkan undangan itu pada suaminya. "Setelah Roberto dan Eliza mengucap janji lusa nanti, Serphent dan Ravenscroft akan memegang kendali penuh. Aku sudah tidak sabar melihat Roberto berdiri di altar bersama Eliza." Justin berbalik, menatap tajam lambang burung gagak hitam milik Ravenscroft di undangan itu. Pikirannya melayang ke Mansion Victoria, properti pribadi putranya yang terletak beberapa mil dari sini. Ia tahu ada rahasia busuk yang disimpan Roberto di sana. "Kau terlalu memuja Adam, Margareth. Kau lupa bahwa Ravenscroft tidak pernah memberi tanpa meminta tebusan yang jauh lebih besar," ucap Justin menatap tajam istrinya. "Jika Adam tahu Roberto sedang bermain api di belakang putrinya, gagak-gagak itu akan mencabik rumah ini sampai ke fondasinya." Margareth tertawa kecil, tawa yang penuh penghinaan. "Aku tahu Roberto sedikit rewel belakangan ini. Mungkin dia merindukan masa lalunya yang konyol itu. Tapi dia Serphent, Justin. Dia akan menekuk lutut pada ambisinya sendiri. Aku sudah memastikan rumah itu bersih untuk kedamaian taman yang ku bangun dengan susah payah. Dia tahu konsekuensinya jika mengecewakan Ravenscroft." Justin menyesap wiskinya, matanya menatap hujan yang mulai menghantam jendela besar aula dengan beringas. Di kepalanya, ia masih terngiang laporan Darwin siap sistem keamanan yang sempat berkedip tiga jam yang lalu. Justin bukan pria bodoh; ia tahu itu bukan sekadar gangguan teknis biasa. Anggota intelijennya melapor bahwa naga itu... Elion Hale, sudah bangun. Dan dia sedang mengasah taringnya di kegelapan. "Hati-hati, Margareth," bisiknya lirih. "Taman yang kau banggakan itu mungkin berdiri diatas tanah yang sudah dipasangi bom oleh lawan kita. Dan kau bahkan tidak menyadari kapan pemicunya akan ditekan." Margareth tidak menjawab. Ia memilih mengecek dekorasi di taman, sedangkan Justin ke ruang kerjanya sambil memanggil Darwin untuk datang. Asisten Roberto itu datang 10 menit kemudian begitu menyerahkan keamanan Mansion Victoria kepada anak buahnya. Pria itu berdiri kaku, menyembunyikan kecemasannya di balik wajah datarnya. Sedangkan Justin juga terlihat serius, menyadari waktu mereka tidak banyak. "Darwin, aku tahu sistemmu kebobolan. Jangan coba-coba berbohong padaku." Justin memulai, suaranya rendah namun penuh otoritas, membuat Darwin tertunduk. "Hanya celah kecil, Tuan Besar. Saya sudah menutupnya.." lapor Darwin cepat. Pembicaraan mereka malam itu teredam di ruangan tanpa siapapun tahu. Justin mengisap cerutunya, tatapannya mengarah ke jendela dengan pandangan kabut yang mulai tebal. "Intelijen Ravenscroft sudah mulai mengendus ketidakhadiran Roberto. Adam mulai curiga mengapa calon menantunya sulit ditemui." Darwin menunduk, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Tuan Roberto hanya ingin memastikan Nona Rebecca tetap aman, Tuan Besar." Justin mendengus sinis, "Aman?" tangannya memukul kasar meja kerjanya. "Elion Hale sudah bangun. Dan asistennya yang cerdik itu sudah menemukan koordinat Mansion Victoria. Jika terjadi baku tembak di rumah pribadi Roberto saat Adam ada di kota ini, Serphent akan tamat." Ia lalu menyesap wiskinya, matanya berkilat licik. "Aku ingin kau melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Roberto." Darwin mendongak, terkejut dengan kalimat Justin. "Maksud Anda, Tuan?" "Buat satu celah," perintah Justin dingin. "Cukup besar untuk Elion masuk, cukup sunyi agar Ravenscroft tidak mencium apa pun. Biarkan 'tikus' itu masuk jika dia memang sudah di depan gerbang," perintahnya. Darwin terperangah. "Tuan, itu sama saja membiarkan Elion Hale masuk ke jantung pertahanan kita!" Justin melanjutkan dengan suara rendah. "Aku tidak membuka jalan untuk Elion," lanjut Justin pelan. "Aku hanya memastikan kekacauan itu terjadi di luar rumah ini. Jika Elion bisa mengambil Rebecca diam-diam tanpa ada keributan besar yang merusak reputasi Serphent, biarkan saja. Aku lebih suka menghadapi kemarahan Roberto karena kehilangan tawanan, daripada harus melihat klan ini hancur karena perang dengan Ravenscroft." Justin memutar gelas wiskinya. "Anggap saja ini bantuan terakhirku untuk menanti yang tidak pernah kuakui itu. Biarkan Elion membawa Rebecca pergi secepat kilat, sebelum badai yang sebenarnya menghantam mansion ini." Ia tak peduli siapa yang terluka malam ini, selama nama Serphent tetap berdiri saat mata Ravenscroft memandang. --- Ruang makan Mansion Utama Serphent malam itu terasa lebih sempit dari biasanya, meskipun langit-langitnya setinggi lima meter. Aroma daging panggang premium dan anggur merah tahun 1945 memenuhi udara, tapi bagi siapa pun yang duduk di sana, oksigen terasa tipis. Justin duduk di kepala meja, wajahnya sedingin marmer. Di sisi kanannya, Margareth terlihat memukau dengan balutan gaun beludru hitam, sedangkan di sisi kiri, Roberto duduk kaku... pikirannya tidak berada di ruangan ini. Rachel, sang adik, duduk di samping ibunya, menyesap wine dengan tatapan mata yang licik. "Gaun Eliza untuk pesta pernikahan nanti sudah selesai," suara Margareth memecah keheningan, terdengar begitu puas. "Klan Ravenscroft sangat detail. Mereka mengirimkan sutra langsung dari Italia. Eliza akan terlihat seperti ratu di sampingmu, Roberto." Roberto hanya menatap piringnya. Denting pisaunya yang beradu dengan porselen terdengar seperti detak jantung yang tidak teratur. "Hm," gumamnya singkat. "Hanya 'hm'?" Alis Margareth terangkat, nada bicaranya mulai menajam. "Ibu menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk memastikan aliansi ini sempurna. Kau seharusnya lebih antusias menyambut calon pengantinmu, bukan malah terlihat seperti orang yang sedang berkabung." Rachel terkekeh, suaranya terdengar seperti gesekan amplas. "Mungkin kakak sedang sibuk, Ibu. Mengurus... properti pribadinya di pinggiran kota?" Gerakan tangan Roberto terhenti. Ia mendongak, menatap Rachel dengan tatapan yang bisa membunuhnya. "Ku dengar Mansion Victoria sedang dijaga ketat akhir-akhir ini," lanjut Rachel sambil memutar-mutar gelas kristalnya. "Banyak pengawal batu. Apa ada 'tamu rahasia' yang begitu berharga di sana, Kak? Sampai-sampai kau jarang pulang ke rumah utama?" "Rachel, tutup mulutmu," desis Roberto. Suaranya rendah, penuh ancaman. "Kenapa? Aku hanya bertanya, Kak. Rasanya aneh saja, kau begitu protektif pada sebuah rumah tua yang biasanya kau biarkan kosong," Rachel melempar senyum sinis ke arah kakaknya. Margareth mengernyit, mulai mencium sesuatu yang salah. "Apa maksudmu, Rachel? Tamu apa?" "Cukup." Suara berat Justin menginterupsi, membungkam semua orang seketika. Ia meletakkan garpunya dengan pelan, tapi dentingan itu terdengar seperti vonis di tengah kesunyian. Tatapannya lurus ke arah Roberto... tatapan seorang pemimpin yang tahu segalanya namun memilih kapan harus menghancurkan. "Aku tidak peduli mainan apa yang sedang kau sembunyikan, Roberto," ucap Justin. Suaranya tenang, namun setiap kata mengandung beban ribuan ton. "Tapi ingat satu hal: Nama Serphent dibangun di atas reputasi, bukan obsesi murahan." Justin menyesap anggurnya perlahan, sebelum melanjutkan, "Adam Ravenscroft akan tiba di London dalam waktu dekat untuk meninjau persiapan pernikahan. Aku tidak ingin ada satu pun noda yang mengusik penglihatan mereka." Roberto mengepalkan tangan di bawah meja, tapi ia tetap diam. "Mansion Victoria harus bersih dalam dua puluh empat jam," Justin memberikan peringatan keras, matanya berkilat dingin. "Siapa pun yang tidak berkepentingan, siapa pun yang tidak memiliki nama Serphent di nadinya, harus segera dipindahkan. Kau mengerti maksudku, Roberto?" Kalimat itu bukan sekadar saran. Itu adalah ultimatum. Justin sedang memberi kode: 'Singkirkan Rebecca, atau aku yang akan melenyapkannya dengan caraku sendiri.' "Atau jika kau tidak menyingkirkannya," Justin menyambung, suaranya kini hampir seperti bisikan yang mencekam, "maka aku akan memastikan dia tidak pernah ditemukan kembali." Wajah Roberto memucat, namun rahangnya mengeras. Ia tahu ayahnya tidak pernah menggertak. Di sisi lain meja, Margareth menatap suaminya dengan bingung, sedangkan Rachel tersenyum penuh kemenangan. Makan malam itu berakhir dalam keheningan yang lebih mematikan dari sebelumnya. Api perang di luar sana sudah berkobar, tapi sumbu perang di dalam rumah ini baru menyala. ***Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng
Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina
Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.
Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu
Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p
Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin







