Share

BAB 7

Penulis: my_ladyyy
last update Tanggal publikasi: 2026-02-12 18:52:23

Arthur Hale berdiri di depan dinding layar, sorot matanya dingin. Deretan data mengalir cepat: rekaman lalu lintas komunikasi, pergerakan keamanan pribadi, serta jalur distribusi logistik yang seharusnya sudah lama tidak aktif. Salah satunya menyala kembali.

"Konfirmasi terakhir?" tanyanya singkat menuntun jawaban. "Unit Ravenscroft mulai bergerak, Tuan." jawab petugas komunikasi. "Bukan terbuka, namun mereka memakai jalur lama... orang lama." Arthur tidak langsung menjawab. Adam bukanlah tipe orang yang bergerak tanpa alasan, pria itu mempunyai pengaruh yang tidak biasa bagi seperempat bagian London Utara. Jika jaringan lamanya diaktifkan, itu artinya ada sesuatu yang ingin dia pastikan sendiri, bukan diserahkan ke tangan orang lain.

Layar lain menampilkan laporan medis Elion. Stabil, namun belum sadar. Arthur menyipitkan matanya, menyadari terlalu banyak variabel yang bergerak bersamaan. Serphent aktif, Adam bangkit, dan Roberto... terlalu percaya diri untuk seseorang yang seharusnya terpojok. "Periksa ulang latar belakang Roberto Serphent," perintah Arthur, suaranya sedikit naik. "Bukan yang di arsip publik. Cari yang disembunyikan."

"Sudah kami mulai, Tuan." Arthur melipat tangan di belakang punggungnya. Jika Adam bergerak sekarang, itu berarti dia ragu dengan versi yang disampaikan Serphent. Dan bila Adam mulai curiga, satu nama pasti akan muncul di jalurnya.

Rebecca Forest.

Ayah Elion itu menatap layar terakhir sedikit lebih lama dari yang lain. Jika Adam dan Roberto bergerak di waktu yang sama, itu bukan kebetulan. Itu awal dari bencana.

Dan putranya... harus sadar sebelum bencana itu menciptakan kerugian.

---

Keheningan di bangsal VVIP itu pecah bukan karena suara tangis, melainkan oleh suara detak cepat jemari di atas keyboard. Willy, asisten pribadi sekaligus ahli IT kepercayaan Elion, duduk di sudut ruangan dengan mata merah karena tidak tidur. Sedangkan Elion masih terbaring kaku di bawah pengaruh sedatif, Willy akhirnya berhasil menemukan satu celah kecil yang ditinggalkan Darwin.

Asisten Roberto itu memiliki rasa percaya diri yang berlebihan dengan sistem signal jammer-nya. Namun, pria itu tidak menyadari bahwa Willy menggunakan metode backdoor lewat frekuensi pemancar radio tua yang masih aktif di sekitar Mansion Victoria. "Dapat," bisik Willy lirih. Layar monitornya memperlihatkan titik koordinat yang sempat berkedip di area terpencil London Utara. Itu adalah Mansion Victoria. Tapi, sebelum pria berkacamata itu bisa melakukan pelacakan lebih detil, layar itu kembali statis.

Darwin mungkin belum menyadari sistemnya kebobolan, namun sistem itu dilengkapi self-healing otomatis yang sangat kuat.

Celah itu menutup, seolah tidak pernah ada.

Willy menghela napas panjang. Ia tidak berhasil menembus lebih jauh… tapi itu sudah cukup.

---

Aroma antiseptik menyusup pelan ke dalam kesadarannya, seperti kabut dingin yang memaksa masuk ke paru-paru. Detak jantung yang terekam di monitor berbunyi cepat dan tidak beraturan, seolah beradu dengan amarah yang mendadak meluap saat potongan ingatan terakhir menghantam kepalanya... wajah Roberto, tatapan dingin itu, dan kegelapan.

Di sudut ruangan, Willy tersentak. Kursinya berderit keras saat ia berdiri terlalu cepat hingga membuat laptopnya hampir jatuh.

"Eca..." suara Elion terdengar parau, hampir tidak terdengar.

"Tuan Elion?" suaranya gemetar menahan tidak percaya. "Tuan...?" wajah Willy penuh kelegaan meskipun cemas mendapati bosnya membuka mata lagi, dan kali ini lebih lama.

Langit-langit putih terlalu bersih, bau rumah sakit yang khas dan sesuatu yang terpasang di tangan Elion membuat kesadaran pria itu kembali penuh.

Sapaan asistennya tidak di respon. Yang ia lakukan adalah menarik napas dalam, paru-parunya terasa kering dan perih.Ia menoleh perlahan, melihat selang infus yang menusuk kulit punggung tangannya.

Tanpa ragu, dengan sekali hentakan tangan, jarum itu terlepas hingga membuat darah segar membasahi sprei putih. "Tuan! Jangan-!" Willy bergegas mendekat dengan wajah panik.

"Kepalaku..." Elion mengering pelan, menekan pelipisnya. Potongan-potongan ingatan datang tak berurutan... Rebecca, teriakan, gelap, lalu kosong. Ia menatap Willy dengan mata merah dan fokus yang belum sepenuhnya utuh. "Apa... yang terjadi?"

Willy menelan ludah, "Anda kolaps, Tuan. Dokter-" ucapannya terpotong, begitu Elion menyela cepat. "Rebecca." suaranya lebih tegas dari keadaan tubuhnya. "Di mana istriku?"

Keheningan sesaat memenuhi ruangan. Bayinya tidak ada disana karena dipindahkan ke ruang bayi untuk pemeriksaan lebih lanjut, dengan orangtua dan mertuanya yang menjaganya. Arthur Hale pergi sejak kemarin malam dan belum kembali hingga sekarang, ia mengawasi langsung ke pusat komunikasi.

Willy tidak langsung menjawab. Matanya fokus pada laptop lalu mengarahkannya pada atasannya dengan tangan yang sedikit gemetar, seolah tahu pertanyaan itu akan membawa mereka ke jurang yang mustahil ditarik kembali. "Kami... masih mencarinya."

Rahang Elion mengeras. Ada sesuatu yang berubah di matanya... bukan kepanikan, bukan kebingungan, namun kesadaran perlahan bahwa waktu telah direnggut darinya. "Sudah terlalu lama," gumamnya lirih, lebih ke dirinya sendiri.

Ia mencoba duduk. Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya menolak, tapi Elion memaksa. Willy refleks menahan bahunya. "Tuan, tubuh Anda belum-" suara dingin Elion menghentikannya, "Berapa lama aku terbaring di sini?" nadanya rendah, begitu berbahaya. Willy terdiam sesaat. "Cukup lama," jawabnya hati-hati. Mata Elion seketika menyalah penuh amarah. Dengan kesadarannya yang menghilang lama, itu artinya istrinya berada di tangan monster itu, pun dengan bayinya tidak merasakan dekapan ibunya.

"Willy, katakan padaku kau sudah menemukan lokasinya." Elion mulai tenang namun tidak menurunkan rasa waspadanya. "Saya mempunyai koordinat kasarnya, Tuan. Tapi kita punya masalah besar. Bukan hanya Roberto yang menjaga mansion itu, namun intelijen Adam, calon mertua Roberto... juga mulai memantau area tersebut. Mansion itu sekarang menjadi pusat gravitasi dari semua musuh kita. Ini akan menjadi-"

"Perang." potong Elion mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ia tahu, penyelamatan ini tidak akan semudah menyerbu markas preman jalanan. Ia kini berhadapan dengan seluruh lingkaran Serphent dan ancaman Adam yang siap menghancurkan siapapun yang mengganggu rencana pernikahan putrinya.

Pria itu menggeser kakinya turun dari ranjang, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya seperti godam. Monitor di sampingnya mulai berbunyi lebih cepat. "Maka biarlah menjadi perang," lanjutnya pelan, sembari mematikan suara mesin itu dengan satu sentuhan kasar.

"Siapkan semuanya, Willy," katanya rendah, membuat udara seolah menghilang. "Jika hukum tidak bisa membawanya pulang... maka aku sendiri yang akan menurunkan mansion itu dengan tanganku."

Willy terdiam.

Di ranjang rumah sakit itu, bukan lagi seorang pasien yang baru sadar. Tapi seorang suami yang siap menjadi iblis, demi menjemput belahan jiwanya.

---

Di sisi lain kota, Justin Serphent berdiri di ruang kerjanya, menatap hujan yang mulai turun. Ia baru selesai memarahi Roberto. Justin melakukannya bukan hanya karena putranya itu menculik Rebecca, namun karena kecerobohannya yang bisa menghancurkan reputasi klan Serphent di depan keluarga Adam.

"Aku sangat tahu bagaimana kau menginginkan Rebecca, tapi lihatlah situasinya! Gunakan otakmu!" Justin memukul meja kerja.

"Sudah dua tahun Ayah. Aku sudah tidak bisa melihat Rebecca bahagia dengan Elion. Rebecca milikku!" balas Roberto dengan napas memburu. Justin menghela napas panjang, ia tahu Adam sedang bergerak. Jika Adam tahu Rebecca masih hidup di mansion itu, nyawa mantan menantunya berada di ujung tanduk. "Untuk saat ini, turuti perintah ibumu. Nikahi Eliza agar kecurigaan Adam mereda. Ayah akan membantumu mendapatkan Rebecca kembali... dengan cara yang lebih rapi." Justin tidak sepenuhnya jujur.

Ia mulai merasa Roberto adalah beban yang bisa menempatkan perusahaan dalam bahaya. Tapi di sisi lain, Justin mulai mempertimbangkan untuk bermain aman. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk meredam kegilaan Roberto adalah dengan membiarkan Elion, selama suami Rebecca itu tidak melampaui batas yang mengancam Richard.

Malam itu, Roberto pulang ke Mansion dengan perasaan berkecamuk. Ia melihat Rebecca sedang tertidur di samping Richard. Pemandangan itu seharusnya indah, namun bagi Roberto justru ada yang salah. Ya tidak tahu bahwa di luar sana, "naga" yang selama ini ia anggap tidur sudah terbangun. Dan ia juga tidak tahu bahwa adiknya, Rachel, sudah mulai menyiapkan undangan pernikahan yang kelak akan mengikat banyak nama... dan menumpahkan lebih dari sekadar sampanye.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 21

    Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 20

    Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 19

    Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 18

    Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 17

    Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 16

    Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status