Share

75. Dendam

last update Petsa ng paglalathala: 2025-04-05 22:15:35
Setelah hujan turun semalam dengan suasana kamar yang begitu panas. Pagi ini, Hans menerima panggilan Liam, bertanya mengenai keadaan Sandra yang mengejutkan mereka. Panggilan keduanya kini tersambung.

"Hallo, Pak. Maaf, mengganggu hari libur Anda," ucap Liam menyapa.

"Hm. Ada apa kamu menelpon pagi sekali?"

Mendengar protes sang CEO, Liam menggaruk tengkuknya meski tak terlihat, "Maaf, Pak, saya sudah melihat keadaan Sandra di rumah sakit. Dokter mengatakan dia sangat trauma dengan kondis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (28)
goodnovel comment avatar
Gadis Bar bar
kenapa nyari doni sie?? apa jngn mau kerja sma mwnagkap pelaku nya ya
goodnovel comment avatar
kurotul uyun i
si doni malah dendam emang ya keluarga kalian keluarga toxic
goodnovel comment avatar
Cica
hadeuhh Ko Malah jdi gt Jdi dendam karena mungkin terjadi apa pada sandra gara-gara si ashley
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   170. Happy Ending

    Langit pagi tampak suram di atas bangunan tua yang dikelilingi pagar kawat berduri. Lapas itu, tempat para narapidana kelas berat menanti akhir dari sisa hidup mereka. Di dalam salah satu bloknya, terdengar erangan tertahan.Hendrik tergeletak di sudut sel tahanan. Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Tubuhnya gemetar. Nafasnya sesak, seolah paru-parunya dihantam ribuan kepalan tangan.Dua hari lalu, ia resmi dipindahkan dari sel umum ke blok isolasi "khusus".Dan sejak itu ... hidupnya tak pernah sama lagi.Setiap malam, pintu sel dibuka tanpa aba-aba. Beberapa sipir masuk. Beberapa membawa tongkat, sebagian hanya menggunakan sarung tangan dan sepatu boot baja. Mereka tidak berbicara. Tak memberi

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   169. Aku Akan Menjaganya

    Suasana kamar ICU yang kini sepi tanpa ada perawat maupun dokter, menjadi tambah sunyi tatkala Bu Riana memberikan sebuah saran agar semua yang ada di ruangan itu mempersiapkan mental dan hati mereka. Sejenak, Ashley dan Hans nampak bingung dengan apa yang akan disampaikan oleh wanita paruh baya ini.Hans dan Ashley sejenak saling pandang, kini mulai merasakan getaran aneh di dada mereka. Seolah firasat buruk mulai menyelimuti.Bu Riana menghela napas berat, lalu mulai berbicara dengan suara pelan namun tegas."Sebenarnya... ada satu rahasia yang Mama simpan yang membuat Soni pergi. Dan hari ini ... Mama ingin mengungkapkannya dan ingin kalian mengetahui semuanya.""Rahasia?" Ashley menahan n

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   168. Siapkan Mental

    Lorong rumah sakit itu terasa semakin panjang dan sunyi, seolah menyimpan rahasia besar yang baru saja akan terungkap. Langkah kaki Doni, Ashley, dan Hans menggema perlahan. Doni berjalan dengan dada sesak, pikirannya berkecamuk sejak mendengar nama "Sisil" keluar dari mulut Hans.Ashley yang berada di sisi Doni juga masih memikirkan hal yang sama. Perasaan tak suka dan benci pada Sisil masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa khawatir dan penasaran.Setibanya di ruang IGD, Hans mengangkat tirai putih yang menutupi salah satu ranjang pasien."Sini ... dia di sini," gumam Hans pelan. "Coba lihat."Seketika, Ashley menoleh ke arah Doni. "Don?"

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   167. Mungkinkah ...

    Pagi merekah perlahan di langit yang cerah. Udara masih terasa segar meski lalu lintas di sekitar RS Puri Medika mulai riuh. Cahaya matahari menembus celah jendela lobi rumah sakit, membentuk garis-garis hangat di lantai putih mengkilap.Doni memasuki rumah sakit dengan langkah ringan dan ekspresi wajah yang sulit disembunyikan dan penuh rasa kemenangan. Ia baru saja kembali dari rumah untuk mengambil pakaian ganti, beberapa dokumen penting, dan barang keperluan lain. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak begitu sumringah.Sementara Ashley keluar dari kafetaria kecil di dekat pintu utama, membawa dua bungkus nasi uduk dalam kantong plastik. Rambutnya diikat sederhana, tanpa make-up, namun aura ketenangan terpancar dari wajahnya yang kini sedikit membaik. Ia berhenti sejenak saat melihat Doni, lalu melambai pelan.

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   166. Permintaan

    Rendra mengerutkan kening, memandang Hendrik yang jelas-jelas sedang berusaha keras menahan perasaannya. "Mulai dari kejadian Sandra, adik Doni. Apa yang sebenarnya terjadi?"Hendrik terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, sesekali mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar. "Itu... aku tidak tahu, aku...""Jangan coba berbohong, Hendrik!" potong Alvin yang sudah tidak sabar. "Kami tahu apa yang terjadi. Kamu sudah memperkosa Sandra. Kamu tahu betul apa akibatnya dari perbuatanmu itu."Hendrik mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku tidak bisa mengendalikan diriku waktu itu.""Cukup!" seru Rendra, suaranya keras dan tegas. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Hendrik. Tidak ada alas

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   165. Penyergapan

    Rendra mengedipkan mata, lalu mengakhiri sambungan dengan cepat sebelum Hendrik benar-benar menutup lebih dulu. "Terima kasih waktunya, Pak. Mohon maaf kalau mengganggu. Selamat sore."Begitu telepon ditutup, Alvin langsung bergerak cepat di komputernya. Ia menghubungkan layar ke sistem pelacakan satelit dan memperbesar lokasi yang baru saja dikunci. Gambar dari CCTV pelabuhan mulai muncul, meski tidak terlalu jernih."Ini dia. Sinyal ponsel aktif di sekitar pinggiran kota. Kamera menangkap pergerakan pria dengan hoodie gelap, masuk ke area rumah tak berpenghuni tanpa izin. Wajah tidak jelas, tapi ... sepertinya dia menyembunyikan sesuatu," kata Alvin sambil menunjuk ke layar."Apakah kita yakin itu Hendrik?" tanya Alvin, meski nadanya sudah agak yakin.

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   36. Penebusan

    Setelah hampir beberapa jam, Hans dan Liam cukup lama menghabiskan waktu untuk mencari ibu susu Haneul. "Pak, mau kemana lagi kita cari Bu Ash?" tanya Liam yang masih fokus dengan kemudi sambil sesekali melihat sekitar tepi jalanan. "Tidak mungkin kan, Bu Ashley bersembunyi di dalam?" imbuhnya.

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   35. Pelarian

    Malam itu, di dalam diskotik yang riuh dengan musik dan lampu berkelip, suasana berubah tegang. Mami, yang sebelumnya tampak tenang, kini marah besar. Dua anak buahnya yang seharusnya mengawasi Ashley, tampak panik dan cemas. Kesalahan mereka tak bisa diterima begitu saja. Dengan langka

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   34. Dia Kabur

    Riana menuju mall yang tidak jauh dari tempat ia menjual Ashley. Wajahnya tampak berbinar senang setelah mendapatkan keuntungan berkali lipat.Tangannya menggenggam ponsel penuh kegirangan setelah melihat transaksi dari Mami yang baru saja masuk ke dalam rekeningnya."Ternyata k

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   33. Dijual Pada Pria Hidung Belang

    Hari itu, Hans semakin frustasi. Sejak pagi, Liam telah mencari Ashley ke segala penjuru kota. Namun, hasilnya tetap nihil. Terlebih, saat Winda mengatakan bila Ashley masih sempat memompa ASI-nya untuk Haneul, Hans semakin cemas bila sampai Liam tidak menemukannya. "Saya sudah mencarinya kemana

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status