Share

74. HARAPAN KECIL

Penulis: Purple Rain
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-22 20:13:09

Ares terdiam. Sejenak, waktu di ruangan itu seperti berhenti. Hanya terdengar detik jam dinding dan desiran halus infus yang menetes perlahan.

Zivanna menegakkan tubuhnya dengan susah payah, matanya bergantian memandang dua pria di hadapannya— masa lalunya, dan luka yang belum sempat sembuh.

“Kay… tolong tenang dulu,” kata Ares pelan, suaranya nyaris serak.

Namun Kayandra tidak bergeming. Langkahnya maju satu, dua langkah, mendekat ke arah tempat tidur Zivanna. Matanya tajam menatap Ares, penuh kebingungan yang bercampur marah, sedih, dan sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.

“Jadi ini alasan kamu menghilang, Ares?” tanya Kay dengan nada rendah tapi tegas. “Selama ini aku cari kamu ke mana-mana. Semua orang bilang kamu pergi ke luar negeri. Dan sekarang aku temukan kamu di sini— di ruang rawat Zivanna, dalam keadaan seperti ini. Bagaimana bisa, Ares? Apa kamu tidak bisa memberikan penjelasan padaku sedikit saja?”

Ares menarik napas dalam, menunduk. Tangannya yang pucat memegangi kur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    154. ENGGAN UNTUK PERGI

    ​Bella mengenakan setelan blazer hitam yang sangat rapi, rambutnya diikat rendah, memancarkan aura profesionalisme yang mengejutkan. Ia tidak datang sebagai kekasih yang manja, melainkan sebagai seseorang yang memiliki hak untuk berada di sana.​"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Ethan datar saat ia menarik kursi utama. Ia tidak langsung duduk, melainkan memberi isyarat agar sekretarisnya menyiapkan kursi tambahan tepat di sampingnya untuk Bella.​"Ethan, ini adalah pertemuan tertutup konsorsium," protes Tuan Markus, matanya melotot ke arah Bella. "Siapa wanita ini dan apa haknya berada di sini?"​"Namanya Violla Isabella," jawab Ethan, suaranya berat dan penuh wibawa. "Dan dia hadir di sini sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan kita. Mengingat sebagian besar dari kalian meragukan integritasku karena rumor yang beredar, aku membawa seseorang untuk membantu mengidentifikasi siapa sebenarnya yang membocorkan data Goc'ta Company ke publik."​Ruangan mendadak sunyi. Wajah Alex

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    153. NEGOSIASI DI ANTARA DUA HATI

    ​Alexa tidak segera membalas. Ia menatap tangan Ethan yang melingkar di pinggang Bella seolah tangan itu adalah belati yang baru saja menusuk jantungnya. Tanpa kata lagi, ia menyambar tas desainer-nya dan melangkah keluar. Suara ketukan stiletto-nya di lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng peringatan yang menggema di seluruh koridor Dirgantara Empire. ​Setelah pintu tertutup rapat, keheningan menyelimuti ruangan. Ethan menghembuskan napas panjang, ketegangan di bahunya sedikit mengendur, namun matanya masih memancarkan sisa-sisa amarah. ​"Kau tidak perlu melakukan itu, Mas," suara Bella memecah kesunyian. Ia meletakkan gelas kopi di atas meja kerja Ethan yang berantakan dengan dokumen. "Menjadikanku tameng di depan Alexa hanya akan membuatnya semakin menggila." ​Ethan memutar tubuh Bella agar menghadap padanya sepenuhnya. "Aku tidak menjadikanmu tameng, Bella. Aku menjadikanmu pusat. Aku ingin dia—dan semua orang di gedung ini—paham bahwa posisimu tidak bisa dinegosiasika

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    152. DIA PRIORITAS UTAMAKU

    ​Keheningan yang damai itu tiba-tiba pecah oleh getaran keras dari ponsel Ethan yang tergeletak di konsol tengah. Cahaya layar yang terang benderang membelah remang kabin, menampilkan sebuah nama yang seketika membuat suasana hangat di dalam mobil itu mendingin.​Alexa Grace.​Bella melirik layar itu dengan tatapan datar, namun rahangnya mengeras. Keintiman yang baru saja mereka bagi seolah terusik oleh realitas yang menolak untuk pergi.​Ethan menghela napas berat, tangannya masih melingkar di pinggang Bella. Ia tidak meraih ponsel itu, membiarkannya terus bergetar hingga panggilan tersebut mati dengan sendirinya. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponsel itu kembali menyala. Getarannya kali ini terasa lebih menuntut, seolah mencerminkan ego pemiliknya yang tidak terbiasa diabaikan.​"Angkatlah," bisik Bella dingin, meski jemarinya masih bermain di tengkuk Ethan. "Sepertinya ada urusan yang sangat mendesak hingga dia lupa waktu."​"Abaikan saja, Sayang," jawab Ethan serak, ia mencoba

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    151. SEBUAH NARASI

    Tatapan Ethan yang dalam dan pengakuannya yang tulus membuat pertahanan Bella runtuh sepenuhnya. Rasa cemburu yang tadinya membakar hati kini berubah menjadi gelora yang berbeda—sebuah keinginan yang mendesak untuk membuktikan bahwa Ethan memang miliknya.​Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik kerah kemeja Ethan, memangkas jarak di antara mereka, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut. Seakan ingin membersihkan jejak ciuman Alexa di bibir pria yang telah membuatnya cinta mati.Ethan tertegun sejenak, namun segera membalasnya dengan intensitas yang sama. Suara napas yang memburu mulai memenuhi kabin mobil yang kedap suara itu.​"Bel..." geram Ethan di sela ciuman mereka, tangannya berpindah dari jemari Bella menuju tengkuknya, memperdalam pagutan itu.“Hm?” Gumam Bella.“Alexa, Elena, atau siapa pun itu. Mereka hanya sebuah sisipan di perjalanan hidupku. Tapi kamu…”​Ethan melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk menurunkan sandaran kursi penumpang, mencip

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    150. TIDAK INGIN YANG LAIN

    Hening sejenak menyelimuti meja makan itu sebelum akhirnya Tuan Mario terkekeh pelan, memecah ketegangan yang sempat memuncak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, sebuah gestur menyerah yang tampak ramah.​"Tenanglah, Ethan. Kau selalu saja tegang seperti sedang berada di garis start sirkuit," ujar Mario dengan nada santai. "Aku mengundang kalian ke sini karena aku mendengar kabar bahagia. Bukankah tidak sopan jika aku hanya mengirimkan karangan bunga untuk pertunangan kalian?”​Mario meraih botol wine, lalu mengisi kembali gelas Ethan dan Bella dengan gerakan yang luwes.​"Selamat atas pertunangan kalian. Bella, kau benar-benar membawa perubahan besar pada Ethan. Dia sekarang terlihat lebih... bernyawa," lanjut Mario tulus, atau setidaknya terdengar sangat tulus.​Bella perlahan melonggarkan genggamannya pada tangan Ethan. Ia mencoba tersenyum, kali ini lebih alami. "Terima kasih, Tuan Mario. Saya hanya mengikuti takdir ke arah mana menuntun hubungan ini, dan mencoba menjadi ruma

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    149. SUPERHERO

    Bella terdiam di pelukan Ethan. Pertanyaan itu—“Secinta itu kamu sama aku, Bel?”—terasa seperti gema dari masa lalu yang akhirnya mendapatkan jawaban, namun di waktu yang jauh berbeda.🍁🍁🍁Bella melepaskan pelukan itu perlahan, menatap mata biru Ethan yang kini tidak lagi sedingin es, melainkan penuh dengan kobaran api protektif."Dulu, aku mencintaimu sampai aku kehilangan diriku sendiri, Mas. Sampai aku tidak mengenal siapa aku ini sebenarnya? Kenapa begitu terobsesi denganmu?" Ucap Bella jujur, suaranya tenang namun tajam. "Sekarang, aku mencintaimu sampai aku takut kehilangan kamu lebih dari aku takut kehilangan nyawaku sendiri. Jadi, tolong... jangan jadikan makan malam ini sebagai ajang balas dendam atau melanjutkan ambisimu yang tertunda."Ethan tertegun. Ia mengusap pipi Bella dengan ibu jarinya, merasakan sisa kehangatan kulit wanita itu. "Ini bukan sekadar dendam, Bel. Ini tentang menutup bab yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu. Mario punya kunci yang selama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status