ログインAzizah sedikit terperanjat.
“Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?” "Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata. Azizah segera berpindah duduk dan memelukku. “Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.” Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu. Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Kepalan tangannya menguat. Ada rasa marah pada pria yang disebut Hafiz itu, namun ada obsesi lain yang tumbuh di hatinya: ia ingin menolongku. Ia ingin menggantikan posisi Hafiz dan menghapus air mata itu. Azzam yang pendiam mulai memendam keinginan untuk memilikiku. Malam harinya, setelah kembali ke hotel, aku duduk di tepi ranjang. Rasa rinduku pada Hafiz justru semakin menggila setelah aku menceritakan kepedihanku pada Azizah. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat yang menuntut. @Zara: “Hafiz, datang ke hotelku sekarang.” Beberapa menit kemudian, balasan masuk. @Hafiz: “Iya, nanti malam aku akan ke sana. Tunggu aku.” Pukul sepuluh malam, pintu kamar hotelku diketuk. Hafiz masuk dengan langkah yang lebih tenang. Kali ini, ia tidak lagi tampak meledak-ledak. Ada rasa lelah dan sayang yang bercampur di matanya. Ia duduk di hadapanku, menatapku yang tetap diam membisu. "Zara," suara Hafiz lembut, penuh kesabaran. “Aku masih mencintaimu. Kamu selalu ada di hatiku, setiap detik selama ini.” Aku mendongak, mataku yang sembab menatap Hafiz mencari kejujuran. “Lalu kenapa kamu meninggalkanku?” Hafiz memegang tanganku. “Keadaannya rumit. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Bisakah kamu menjaga rahasia ini? Bisakah kamu tetap di sini sebagai rahasiaku?” Aku yang sudah kehilangan akal sehat karena cinta, menjawab dengan lembut. “Bisa, Hafiz. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, asal aku tetap bersamamu. Aku tidak peduli lagi.” Hafiz menghela napas lega, namun ada gurat kesedihan di wajahnya. “Aku akan terus bersamamu sampai kapan pun. Tapi... aku tidak bisa menikahimu. Tanpa pernikahan, apa kamu sanggup?” Hatiku tertusuk, namun aku sudah terlalu lemah untuk melawan. “Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Hafiz. Asal kamu tetap di sini, bersamaku.” Hafiz merasa sangat bersalah. Hatinya menjerit ingin meresmikan hubungan ini, namun bayangan keluarga besar di Mumbai dan wajah istrinya, Zuhra, membuatnya ketakutan. Ia adalah seorang pengecut yang terjebak di antara dua dunia. Dalam kesunyian malam yang mencekam, Hafiz menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh kami agar tak terpisahkan lagi. Gairah yang tertahan selama bertahun-tahun mendadak pecah. Hafiz mulai menciumi dahi, pipi, hingga bibirku dengan penuh nafsu. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan lembut namun pasti, Hafiz menciumi leherku, menghirup aroma tubuhku yang selalu menghantuinya. Tangannya bergerak gemetar membuka satu per satu kancing bajuku. Ia memeluk pinggangku, membawaku agar telentang di atas kasur yang empuk. Hafiz menatap tubuhku di bawah lampu kamar yang temaram. Memori lima tahun lalu di Jakarta berputar seperti film di kepalanya. Bagaimana kami dulu bercinta tanpa beban, tanpa pihak ketiga. Ia mulai menciumi seluruh tubuhku, seolah ingin menandai kembali miliknya. Hafiz menjilati dadaku dengan nafsu yang membara, lalu turun ke perut, dan terus turun ke area sensitifku. Nafsunya sudah di puncak. Hafiz mengeluarkan lidahnya, menjilati milikku dengan dahsyat. Aku memejamkan mata, air mata mengalir di sudut mataku. Rasa nikmat dan sakit bercampur menjadi satu. Aku teringat kembali ke masa lima tahun lalu, saat cinta kami masih murni. Aku mendesah, suara desahanku memenuhi kamar hotel. "Fiz... oohh," aku merintih. Aku mengangkat kepala Hafiz, menciumi pria itu dengan nafsu yang tak kalah besar. Seluruh badan Hafiz kujilati, seolah aku ingin menelan pria itu ke dalam diriku. Saat Hafiz sudah mencapai titik ketegangan yang maksimal, aku mengambil alih. Aku menjilati terong Hafiz dengan dahsyat, gerakan keluar masuk yang membuat Hafiz mengerang hebat. Hafiz merasa sensasi ini tidak pernah ia dapatkan dari Zuhra. Bersamaku, segalanya terasa lebih liar, lebih dalam, dan lebih nyata. "Masukkan sayang... aku sudah tidak tahan," bisik Hafiz dengan napas serak, suaranya hampir hilang di tenggorokan. Aku bangkit, aku naik ke atas tubuh Hafiz. Dengan satu gerakan yang penuh penyerahan, aku memasukkan kebanggaan Hafiz ke dalam diriku. "Oohhhggg..." Hafiz mendesah hebat, memeluk punggungku kuat-kuat. Tubuh kami menyatu, seolah dunia di luar sana tidak lagi ada. Aku menggoyangkan badanku dengan ritme yang teratur, menatap mata Hafiz yang sayu karena nikmat. "Katakan padaku, kamu ingin gaya seperti apa?" bisikku penuh godaan. "Tetap seperti ini, sayang... posisi ini yang paling enak," jawab Hafiz sambil memejamkan mata. “Aku mau keluar, Hafiz... Oohhh... ssshhh...” Aku terus menggoyangkan pinggulku sambil menunduk menciumi dada Hafiz. Hafiz memegang bokongku, mengatur ritme agar kenikmatan itu bertahan lebih lama. Ruangan itu dipenuhi suara napas yang memburu dan aroma gairah yang menyesakkan. Hingga akhirnya, aku pun mencapai puncaknya. “Ooghhhh sayang... Oowwhhhhhh!” Kami ambruk di atas kasur. Napas kami menderu, tubuh kami basah oleh keringat. Dalam kelelahan yang luar biasa, kami saling berpelukan dan berciuman sangat lama di bawah selimut, mengabaikan kenyataan bahwa di luar sana, fajar akan segera menyingsing dan membawa kami kembali pada kenyataan yang pahit. Pagi menyapa dengan hiruk-pikuk klakson yang bersahutan di kejauhan, namun di dalam rumah mewah keluarga Hafiz, keheningan terasa begitu mencekam. Zuhra berdiri di dekat jendela kamar yang luas, menatap taman depan yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk menyesap teh pagi bersama Hafiz. Namun, pagi ini kursi di seberangnya kosong. Hafiz tidak pulang semalaman. Kegelisahan merayap di hati Zuhra. Sebagai istri yang dibesarkan dengan nilai-nilai kesetiaan dan pengabdian, ia selalu menaruh kepercayaan penuh pada suaminya. Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda dari Hafiz. Suaminya itu seolah memiliki dunia lain yang tidak bisa ia masuki.Zuhra melepaskan jabatan tangan kami, ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah sofa, tetap berdiri dengan posisi yang dominan. "Kamu pasti sudah tahu apa tujuan saya datang kemari, bukan?" Aku tersenyum anggun, mencoba mengimbangi ketenangan Zuhra. "Iya, tentu saya tahu. Suami Anda sedang tidak ada di sini sekarang." "Saya tahu," jawab Zuhra santai, seolah keberadaan Hafiz saat ini bukan lagi r4h4si4 baginya. "Sejak kapan Anda menyukai suami saya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sangat lembut namun tajam seperti sembilu. Aku terdiam sesaat, aku membasahi bibirku lalu menjawab dengan suara yang mantap. "Sebelum Anda menikah dengannya." Kali ini, giliran Zuhra yang terkejut. Alisnya bertaut, meski ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Maksudnya?" "Iya, betul," aku melangkah satu tindak lebih dekat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zuhra. "Kami sudah saling mencin
Pagi itu di kediaman Adnan, keheningan di meja makan terasa begitu mencekam, meski hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Hafiz menyesap kopinya dengan perlahan, namun pikirannya melayang jauh ke kamar 301. Kata-kata Zuhra semalam tentang "suami yang menyewa hotel untuk wanita lain" terus berdengung di telinganya seperti lebah yang mengamuk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sindiran halus yang mematikan."Aku harus segera memindahkan Zara ke apartemen," batin Hafiz gelisah. Hotel terlalu terbuka. Zuhra mulai mencium baunya.Zuhra, yang duduk di hadapannya, tampak tenang menyantap sarapannya. Namun, ketenangan itu adalah topeng paling sempurna yang pernah ia kenakan."Sayang," suara Zuhra memecah keheningan. "Aku belakangan ini merasa suntuk sendirian di rumah saat kamu bekerja. Bagaimana kalau makan siang nanti aku antarkan makanan ke kantormu? Aku masak menu favoritmu."Hafiz nyaris tersedak kopinya. Ia menata
Begitu mobil berhenti di depan pagar rumah, Zuhra segera turun."Terima kasih, Shena. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini.""Telepon aku jika terjadi sesuatu, Zuhra. Aku akan selalu ada," jawab Shena sebelum memutar balik mobilnya dan menghilang di kegelapan jalan.Sepuluh menit berlalu seperti berjam-jam bagi Zuhra. Ia duduk di sofa ruang tengah, memegang sebuah buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Namun, matanya sama sekali tidak membaca barisan kata di sana. Ia sedang menghitung detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang saat mendengar suara deru mesin mobil Hafiz memasuki halaman.Klik.Suara kunci pintu diputar. Hafiz melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah. Ia langsung melepas kemejanya yang sudah sedikit kusut. Begitu melihat Zuhra masih terjaga, ia mencoba memaksakan sebuah senyum hangat yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati istrinya."Loh, Sayang? Kok belum tidur? Kan
Dengan jemari yang dingin, Zuhra mengetik barisan kata yang tampak sangat manis namun beracun.Zuhra: "Sayang, rapatnya sudah mulai? Jangan lupa makan malam ya, aku menunggumu di rumah."Di lantai tiga, tepatnya di kamar 301, suasana panas baru saja mereda. Keheningan yang intim menyelimuti ruangan. Hafiz dan aku masih terbaring bersinggungan kulit di bawah selimut sutra yang berantakan. Napas kami perlahan mulai teratur setelah pergulatan hebat yang menguras tenaga tadi. Hafiz memiringkan tubuhnya, mengecup bahuku yang masih lembap oleh keringat dengan penuh kasih.Ting!Suara notifikasi itu memecah kesunyian. Ponsel Hafiz yang tergeletak di atas nakas menyala, memendarkan cahaya putih di kegelapan kamar. Hafiz meraihnya dengan malas, mengira itu hanya urusan kantor. Namun, matanya seketika membelalak saat membaca nama pengirimnya.Zuhra.Hafiz terdiam membeku seolah seluruh aliran darahnya berhenti. Pesan itu tampak sangat sede
Tanpa disadari oleh mereka semua, di seberang hotel, sebuah mobil lain berhenti mendadak. Azzam. Pria itu baru saja pulang kerja dan rute rumahnya memang melewati hotel ini. Matanya yang tajam menangkap sosok Hafiz yang sedang melangkah masuk ke lobi.Azzam mengernyitkan dahi. Rahangnya mengeras. Pria itu lagi. Apa yang dia lakukan di sini sore-sore begini? Azzam memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis untuk mengintai. Ia akan menunggu sampai Hafiz keluar.Di dalam lift, Shena berdiri tepat di belakang Hafiz, menunduk seolah sibuk mengirim pesan. Begitu lift berdenting di lantai 3, Hafiz keluar. Shena mengikuti dengan jarak yang aman. Ia pura-pura menempelkan ponsel di telinganya seolah sedang menelepon.Hafiz berhenti di depan kamar 301. Ia mengetuk pintu dengan ritme khusus. Tak lama, pintu terbuka."Sayang! Aku kangen sekali, tahu tidak!" suaraku terdengar begitu riang dan manja dari dalam k
Aku keluar dari lobi mengenakan pakaian tertutup yang anggun. Aku melangkah masuk ke dalam mobil Azzam dengan gerakan lembut, mencoba tetap tenang di tengah badai perasaan yang berkecamuk.Di dalam mobil, keheningan menyergap. Azzam mengemudi dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang basah. Ia tidak menyalakan musik, hanya suara wiper kaca yang bergerak ritmis di depanku. Setelah beberapa menit membisu, Azzam akhirnya membuka suara. Suaranya berat dan berwibawa."Sampai kapan kamu mau tinggal di hotel itu, Zara?"Aku menoleh, menatap profil samping wajah Azzam yang tegas. "Aku tidak tahu, Azzam.""Tinggallah dengan Azizah di rumah kami. Itu jauh lebih aman untukmu daripada sendirian di hotel seperti ini," Azzam bicara tanpa menoleh, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak luka. "Nanti aku pikirkan lagi, Azzam."Azzam menghela napas, ia sedikit melambatkan laju
"Tidak ada yang direpotkan. Orang tuaku menyukaimu, Azizah juga. Kalau kamu mau, nanti aku yang bicara dengan Azizah agar dia memintamu pindah," Azzam tidak menyerah begitu saja. Di dalam benaknya, jika aku tinggal di rumahnya, ia bisa melindungiku sepenuhnya dari gangguan Hafiz."Tida
Namun, di belahan kota Mumbai yang lain, di kediaman orang tua Zuhra, suasana batin sangatlah berbeda. Zuhra berdiri di dapur yang sunyi, mencoba menenangkan pikirannya yang terus-menerus tertuju pada Hafiz. Rasa haus yang tiba-tiba menyerang membuatnya meraih sebuah gelas kristal dari rak. Namun, e
Suasana kamar hotel kembali senyap setelah sisa-sisa aroma makanan yang dibawa Hafiz perlahan memudar. Namun, keheningan itu justru memicu ketegangan lain yang jauh lebih berbahaya. Di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti berputar. Nafsu dan obsesi masa lalu yang belum tuntas kini berkumpul di u
Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam







