Share

Bab 4

Author: Meera
last update publish date: 2026-04-04 03:26:35

Aku berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mataku bengkak. Aku menatap diriku sendiri, merasa jijik sekaligus merindukan sosok yang ada di cermin itu.

Aku teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, membuatku merasa hidup hanya ketika bersamanya.

"Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. “Aku bertingkah seperti orang gila.”

Namun, bayangan Hafiz selalu muncul. Pria itu yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain.

Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif Mumbai, Hafiz sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, baru saja mengetuk pintu dan membawakan teh hangat.

"Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra lembut.

Hafiz menatap istrinya itu. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka didasari perjodohan, namun seiring berjalannya waktu, Hafiz tumbuh menyukainya. Budaya mereka menuntut kesetiaan, dan keluarga Zuhra sangat berpengaruh.

"Aku hanya... banyak beban pekerjaan, Sayang," bohong Hafiz. Aku tahu hatinya pasti sakit.

Setelah Zuhra keluar, Hafiz menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kata-kataku terus terngiang di telinganya: “Nikahin aku, Hafiz. Aku terima menjadi istri kedua.”

Ia mencintaiku. Aku tahu itu. Ia tidak pernah benar-benar melupakanku. Tapi ia juga menghormati Zuhra, dan ia takut pada konsekuensi jika keluarganya tahu ia memiliki wanita lain—apalagi wanita asing sepertiku.

Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan was-was. Aku menatap ponsel yang baru saja kunyalakan. Tidak ada pesan dari Hafiz.

Aku memutuskan untuk keluar karena membutuhkan udara segar, atau mungkin aku butuh koneksi lain untuk menekannya. Aku berjalan menuju area resepsionis.

"Permisi, apa ada pesan untuk saya? Atas nama Zara?" tanyaku pada resepsionis hotel.

Resepsionis itu memeriksa sistem. “Maaf, Miss. Tidak ada.”

Aku menghela napas kecewa dan kembali ke kamar dengan rasa putus asa. Aku membuka laptop, mencoba mencari informasi tentang Zuhra. Aku menemukan profil sosial medianya. Ia tampak anggun, foto-fotonya menunjukkan kehidupan pernikahan yang bahagia.

Cemburu membakar hatiku. "Pesan gila itu... apa aku harus mengirimnya lagi?" bisikku pada diri sendiri.

@Zara: “Hafiz, aku nggak bisa tidur. Aku butuh jawaban sekarang. Aku di hotel nungguin kamu.”

Tidak ada jawaban. Jam demi jam berlalu, dan aku mulai merasa paranoid. Aku membayangkan Hafiz sedang bersama Zuhra, dan aku ingin berteriak. Ketergantungan ini membuatku tidak bisa berpikir jernih. Jiwaku kosong tanpa kehadirannya.

Malam itu, aku memutuskan pergi ke dekat pelabuhan, tempat yang pernah ia ceritakan sebagai pelariannya. Mumbai malam hari terasa lebih mencekam. Aku berjalan di sepanjang dermaga, angin laut bertiup kencang. Aku menatap kapal-kapal besar, membayangkan Hafiz ada di salah satunya.

Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram bahuku dari belakang. Aku hendak berteriak, namun mulutku langsung dibekap.

“Ini aku, Zara.”

Aku mengenali suara itu. Hafiz. Ia melepaskan bekapannya dengan napas memburu. “Apa yang kamu lakukan di sini? Ini berbahaya!”

"Aku mencari kamu. Kamu nggak balas pesanku," sahutku dengan mata berkaca-kaca.

Hafiz membawaku ke sebuah warung kecil di dekat pelabuhan. "Aku sudah memikirkannya," katanya pelan. “Aku nggak bisa. Ini gila. Aku punya tanggung jawab.”

Duniaku runtuh lagi. “Tanggung jawab? Apa aku bukan tanggung jawab kamu setelah apa yang kita lakukan dulu?!”

"Itu dulu! Sekarang situasinya berbeda!" bentaknya frustrasi. “Keluargaku, budaya, bisnis... semuanya taruhannya!”

"Aku nggak peduli sama semua itu! Aku peduli sama kamu!" teriakku, tak peduli pada orang-orang di sekitar yang mulai memperhatikan kami.

Hafiz menatapku dengan tatapan lelah yang teramat sangat. “Pulanglah. Tolong. Aku akan memberimu uang. Aku akan melakukan apa saja agar kamu pulang.”

Aku menatapnya dengan kekecewaan mendalam. Ia sudah berubah. "Aku nggak butuh uangmu, Hafiz," jawabku dingin. Air mataku berhenti, berganti dengan tekad. “Aku akan tetap di sini sampai kamu memutuskan.”

Aku bangkit dan meninggalkannya di warung itu, berjalan sendirian kembali ke hotel di tengah malam yang dingin. Udara menusuk tulang, tapi aku tidak merasakannya. Aku, yang biasanya dikenal sebagai wanita pendiam dan lembut, kini terasa seperti orang lain. Jiwaku terbakar api obsesi.

Di belakangku, sosok tinggi tegap mengikuti dalam bayang-bayang. Hafiz. Aku masuk ke lobi hotel dan melesat ke dalam lift. Hafiz menyusul masuk tepat sebelum pintu tertutup. Aku tersentak, lalu menunduk menyembunyikan wajahku yang berantakan.

"Kamu gila," bisiknya dingin saat lift mulai naik.

Aku tidak menjawab, hanya meremas tas kecilku hingga buku jari memutih. Begitu pintu kamar terbuka, aku langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang, menangis sejadi-jadinya. Aku meraung dalam diam, tubuhku bergetar hebat.

Hafiz menghela napas panjang, menutup pintu kamar, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di sampingku, lalu menarikku ke dalam pelukannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 5

    Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku. @Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?” Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens. Dengan ragu, aku membalas. @Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?” Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perla

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4

    Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku di hotel Royal Plaza. Temui aku.” @Hafiz: “Nggak mungkin. Zara, kamu gila? Kenapa kamu ke sini?” @Zara: “Karena aku mencintaimu, Hafiz! Dan aku pantas mendapatkan jawaban! Aku butuh kamu di sini!” Di seberang sana, aku membayangkan Hafiz menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Beribu-ribu pesan yang pernah kukirimkan selama lima tahun ini ia abaikan, tapi pesan yang satu ini... pesan yang mengatakan aku ada di kota yang sama dengannya... akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Aku menunggu di lobi hotel. Setiap kali pintu kaca terbuka, jantungku berpacu gila. Satu jam, dua jam berlalu. Hampir tengah malam, sesosok pria berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mant

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4

    Aku berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mataku bengkak. Aku menatap diriku sendiri, merasa jijik sekaligus merindukan sosok yang ada di cermin itu. Aku teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, membuatku merasa hidup hanya ketika bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. “Aku bertingkah seperti orang gila.” Namun, bayangan Hafiz selalu muncul. Pria itu yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif Mumbai, Hafiz sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, baru saja mengetuk pintu dan membawakan teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra lembut. Hafiz menatap istrinya itu. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka didasari perjodohan, namun seiring berjalannya wa

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 3

    Aku meronta pelan, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, mencoba menenangkanku. "Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang mendalam. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi dari cinta itu. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke matanya. Dalam diamku, ada tatapan penuh tekad. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, menolak ide gila itu. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirka

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 2

    Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?” "Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata. Azizah segera berpindah duduk dan memelukku. “Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.” Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu. Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar sel

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 1

    Kegelapan malam di kamar utama rumah keluarga Hafiz terasa begitu menekan. Zuhra yang berbaring membelakangi Hafiz, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. Bahunya yang bergetar hebat tidak bisa membohongi siapa pun. Di dalam hatinya, ada luka yang menganga lebar melihat sikap dingin suaminya beberapa hari terakhir. Hafiz, yang belum sepenuhnya terlelap, merasakan getaran itu. Penyesalan kecil menyelinap di antara rasa obsesinya padaku. Ia bergeser perlahan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zuhra, memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu kenapa, Zuhra?" bisik Hafiz rendah, suaranya terdengar lembut namun ada nada canggung di sana. Zuhra menyeka air matanya dengan ujung selimut, mencoba menetralkan suaranya yang serak. “Tidak apa-apa, Hafiz.” Hafiz menghela napas, ia mengeratkan pelukannya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih peduli. “Katakan padaku. Kenapa menangis?” Zuhra terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa suamin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status