LOGINAku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semakin menganga.
"Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya parau. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku. Ia memaksa mataku menatap matanya dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang sudah mengerak di dasar hati. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa begitu tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan; ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi pahit dari cinta ini. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke netra gelapnya. Dalam diamku, aku menyalurkan seluruh tekad yang kubawa dari Jakarta. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis ide gila yang kusodorkan. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirkan ini. Tolong, jangan buat ini semakin rumit." "Tidak!" jawabku tegas, hingga ia tampak terkejut. "Aku tidak akan pulang sampai kamu mengatakan iya akan menikahiku, Hafiz. Aku nggak bisa balik ke Jakarta tanpa kamu." Hafiz menatapku, seolah ia mulai goyah oleh tekadku, namun aku bisa melihat ketakutan akan sosok Zuhra kembali menghantui wajahnya. Ia mencium rambutku lembut, menghirup aroma yang dulu selalu ia rindukan. Tatapannya kemudian jatuh ke bibirku yang masih basah oleh sisa air mata. Tanpa sadar, Hafiz menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibirku. Ciuman itu awalnya lembut namun lama-lama menjadi menuntut, seolah ia sedang melepaskan seluruh kerinduan yang terpasung selama lima tahun. Aku membalasnya dengan hasrat yang sama; ketergantungan fisiku kembali mengambil alih kendali akal sehatku. Namun tiba-tiba, Hafiz mendorong bahuku pelan hingga aku hampir terjatuh ke belakang. Ia menatapku dengan pandangan terkejut, seolah baru saja tersentak bangun dari mimpi buruk. Aku tahu, wajah Zuhra—istri lembut yang menunggunya di rumah—baru saja melintas di benaknya. "Maaf... aku harus pulang," katanya dengan suara gemetar. Ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar hot*lku dengan tergesa-gesa. Aku hanya bisa bengong menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Air mata kembali mengalir deras. Sikap Hafiz yang berubah-ubah antara cinta dan rasa bersalah membuatku bingung dan semakin sakit. Hafiz memacu mobilnya dengan jantung yang berdebar kencang. Pikirannya kacau balau. Sesampainya di rumah, ia masuk dengan tergesa-gesa seolah sedang dikejar hantu masa lalu. "Zuhra.. Zuhra.." panggilnya dengan nada cemas. Zuhra yang sedang duduk di ruang tamu membaca buku, tersentak kaget. "Hafiz? Kamu kenapa, Sayang?" Hafiz langsung memeluk Zuhra erat, sangat erat, seolah ia takut kehilangan pegangan pada realitanya saat ini. Ia menciumi wajah Zuhra berkali-kali, sebuah usaha putus asa untuk menghapus bayanganku dari pikirannya. Meski merasa aneh, Zuhra membalas pelukan itu. "Kamu kenapa, Sayang? Apa ada masalah di pelabuhan?" Hafiz menatap wajah istrinya yang sabar itu. "Aku hanya rindu kamu, Zuhra." "Aku kan di rumah, Sayang," sahut Zuhra dengan senyum lembut tanpa curiga. "Maafkan aku kalau aku ada salah, Zuhra," gumam Hafiz dengan tatapan bersalah yang mendalam. Malam itu, di dalam kamar mereka, Hafiz mencoba melupakanku dengan melimpahkan seluruh kasih sayangnya pada Zuhra. Ia memberikan afeksi yang luar biasa, mencoba melepaskan kerinduan kepada dua wanita sekaligus—Zuhra di pelukannya dan aku di dalam pikirannya. Namun, saat keintiman itu memuncak dan ia bersiap menyatu dengan istrinya, bayanganku kembali muncul. Bayanganku yang sedang menangis di kamar hot*l. Bayanganku yang memohon untuk dinikahi. Kepala Hafiz mendadak pusing. G*irahnya padam seketika. Ia tidak bisa melanjutkan penyatuan itu. Hafiz mundur dan terduduk di pinggir ranjang, memegang kepalanya yang terasa mau pecah. "Kamu kenapa, Sayang? Tidak biasanya seperti ini," tanya Zuhra cemas. "Aku... aku hanya lelah, Zuhra." Hafiz menarik selimut dan tidur memeluk Zuhra dari belakang. Punggungnya bergetar pelan. Ia mencoba memejamkan mata, namun seluruh pikirannya tertuju padaku yang sedang merana sendirian di hotel. Kenangan lima tahun lalu saat kami pertama kali bertemu di Jakarta kembali berputar, membuat malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa baginya. Matahari pagi itu terasa lebih hangat, menyelinap di sela-sela gorden kamar hotelku. Namun bagiku, hangatnya mentari tak mampu mencairkan dingin yang membeku di hati. Aku merasa jiwaku seperti cermin yang retak. Aku tetap terlihat pendiam dan kalem, namun di dalam kepalaku, badai obsesi sedang mengamuk hebat. Aku menyadari satu hal: aku tidak bisa terus-menerus mengurung diri di kamar ini sendirian. Aku butuh pelarian, atau setidaknya seseorang yang bisa kuajak bicara dalam bahasa yang sama. Dengan jemari gemetar, aku mencari komunitas orang Indonesia di Mumbai lewat media sosial. Aku menemukan akun bernama Azizah, wanita asal Bandung yang menetap di sini. Gayung bersambut, Azizah adalah sosok yang sangat hangat. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan dan jalinan persahabatan kami terbentuk dengan cepat. Ia tampaknya iba melihat gurat kesedihan di wajahku yang ia sebut cantik namun redup. "Zara, besok datanglah ke rumahku. Ibuku sedang rindu masakan Indonesia, kami akan masak besar," ajaknya suatu sore. Aku yang merasa begitu kesepian akhirnya mengiyakan. Rumah Azizah terletak di pinggiran kota yang tenang. Di sana, aku diperkenalkan kepada keluarganya. Namun di tengah keramahtamahan itu, aku menyadari ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerikku. Azzam, kakak laki-laki Azizah. Pria itu tegap, pendiam, dan memiliki tatapan yang sangat dalam. Saat pertama kali aku turun dari taksi, Azzam seolah terpaku. Aku bisa merasakan detak jantungnya seolah sinkron dengan kecemasanku. Ada pesona melankolis pada diriku yang tampaknya membuat pria itu ingin melindungiku. Sore itu, di halaman belakang rumah Azizah, kami duduk menyesap teh. Suasana tenang itu membuat dinding pertahananku perlahan runtuh. "Zara, boleh aku tanya sesuatu? Sebenarnya, apa tujuan utamamu datang jauh-jauh ke Mumbai ini?" tanya Azizah lembut. Aku tidak langsung menjawab. Aku memandang tanaman di depanku dengan tatapan kosong. Mataku mulai berkaca-kaca, gurat kesedihan terpancar jelas dari wajahku. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin bicara sekarang," sambung Azizah merasa bersalah. "Aku mencari pria yang aku cintai, Azizah," jawabku lirih, dengan suara yang hampir pecah."Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k
Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin
Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang
"Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut
Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur
"Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa
Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. B
Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang ka
Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam
Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku







