แชร์

Bab 4.

ผู้เขียน: Meera
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-04 03:26:35

Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semakin menganga.

"Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya parau.

Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku. Ia memaksa mataku menatap matanya dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?"

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang sudah mengerak di dasar hati. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa begitu tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan; ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi pahit dari cinta ini.

"Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?"

Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke netra gelapnya. Dalam diamku, aku menyalurkan seluruh tekad yang kubawa dari Jakarta.

"Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu."

Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis ide gila yang kusodorkan. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirkan ini. Tolong, jangan buat ini semakin rumit."

"Tidak!" jawabku tegas, hingga ia tampak terkejut. "Aku tidak akan pulang sampai kamu mengatakan iya akan menikahiku, Hafiz. Aku nggak bisa balik ke Jakarta tanpa kamu."

Hafiz menatapku, seolah ia mulai goyah oleh tekadku, namun aku bisa melihat ketakutan akan sosok Zuhra kembali menghantui wajahnya. Ia mencium rambutku lembut, menghirup aroma yang dulu selalu ia rindukan. Tatapannya kemudian jatuh ke bibirku yang masih basah oleh sisa air mata.

Tanpa sadar, Hafiz menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibirku. Ciuman itu awalnya lembut namun lama-lama menjadi menuntut, seolah ia sedang melepaskan seluruh kerinduan yang terpasung selama lima tahun. Aku membalasnya dengan hasrat yang sama; ketergantungan fisiku kembali mengambil alih kendali akal sehatku.

Namun tiba-tiba, Hafiz mendorong bahuku pelan hingga aku hampir terjatuh ke belakang. Ia menatapku dengan pandangan terkejut, seolah baru saja tersentak bangun dari mimpi buruk. Aku tahu, wajah Zuhra—istri lembut yang menunggunya di rumah—baru saja melintas di benaknya.

"Maaf... aku harus pulang," katanya dengan suara gemetar. Ia bangkit berdiri dan keluar dari kamar hot*lku dengan tergesa-gesa.

Aku hanya bisa bengong menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Air mata kembali mengalir deras. Sikap Hafiz yang berubah-ubah antara cinta dan rasa bersalah membuatku bingung dan semakin sakit.

Hafiz memacu mobilnya dengan jantung yang berdebar kencang. Pikirannya kacau balau. Sesampainya di rumah, ia masuk dengan tergesa-gesa seolah sedang dikejar hantu masa lalu.

"Zuhra.. Zuhra.." panggilnya dengan nada cemas.

Zuhra yang sedang duduk di ruang tamu membaca buku, tersentak kaget. "Hafiz? Kamu kenapa, Sayang?"

Hafiz langsung memeluk Zuhra erat, sangat erat, seolah ia takut kehilangan pegangan pada realitanya saat ini. Ia menciumi wajah Zuhra berkali-kali, sebuah usaha putus asa untuk menghapus bayanganku dari pikirannya. Meski merasa aneh, Zuhra membalas pelukan itu.

"Kamu kenapa, Sayang? Apa ada masalah di pelabuhan?"

Hafiz menatap wajah istrinya yang sabar itu. "Aku hanya rindu kamu, Zuhra."

"Aku kan di rumah, Sayang," sahut Zuhra dengan senyum lembut tanpa curiga.

"Maafkan aku kalau aku ada salah, Zuhra," gumam Hafiz dengan tatapan bersalah yang mendalam.

Malam itu, di dalam kamar mereka, Hafiz mencoba melupakanku dengan melimpahkan seluruh kasih sayangnya pada Zuhra. Ia memberikan afeksi yang luar biasa, mencoba melepaskan kerinduan kepada dua wanita sekaligus—Zuhra di pelukannya dan aku di dalam pikirannya.

Namun, saat keintiman itu memuncak dan ia bersiap menyatu dengan istrinya, bayanganku kembali muncul. Bayanganku yang sedang menangis di kamar hot*l. Bayanganku yang memohon untuk dinikahi.

Kepala Hafiz mendadak pusing. G*irahnya padam seketika. Ia tidak bisa melanjutkan penyatuan itu. Hafiz mundur dan terduduk di pinggir ranjang, memegang kepalanya yang terasa mau pecah.

"Kamu kenapa, Sayang? Tidak biasanya seperti ini," tanya Zuhra cemas.

"Aku... aku hanya lelah, Zuhra."

Hafiz menarik selimut dan tidur memeluk Zuhra dari belakang. Punggungnya bergetar pelan. Ia mencoba memejamkan mata, namun seluruh pikirannya tertuju padaku yang sedang merana sendirian di hotel. Kenangan lima tahun lalu saat kami pertama kali bertemu di Jakarta kembali berputar, membuat malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa baginya.

Matahari pagi itu terasa lebih hangat, menyelinap di sela-sela gorden kamar hotelku. Namun bagiku, hangatnya mentari tak mampu mencairkan dingin yang membeku di hati. Aku merasa jiwaku seperti cermin yang retak. Aku tetap terlihat pendiam dan kalem, namun di dalam kepalaku, badai obsesi sedang mengamuk hebat.

Aku menyadari satu hal: aku tidak bisa terus-menerus mengurung diri di kamar ini sendirian. Aku butuh pelarian, atau setidaknya seseorang yang bisa kuajak bicara dalam bahasa yang sama. Dengan jemari gemetar, aku mencari komunitas orang Indonesia di Mumbai lewat media sosial.

Aku menemukan akun bernama Azizah, wanita asal Bandung yang menetap di sini. Gayung bersambut, Azizah adalah sosok yang sangat hangat. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan dan jalinan persahabatan kami terbentuk dengan cepat. Ia tampaknya iba melihat gurat kesedihan di wajahku yang ia sebut cantik namun redup.

"Zara, besok datanglah ke rumahku. Ibuku sedang rindu masakan Indonesia, kami akan masak besar," ajaknya suatu sore.

Aku yang merasa begitu kesepian akhirnya mengiyakan.

Rumah Azizah terletak di pinggiran kota yang tenang. Di sana, aku diperkenalkan kepada keluarganya. Namun di tengah keramahtamahan itu, aku menyadari ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerikku.

Azzam, kakak laki-laki Azizah. Pria itu tegap, pendiam, dan memiliki tatapan yang sangat dalam. Saat pertama kali aku turun dari taksi, Azzam seolah terpaku. Aku bisa merasakan detak jantungnya seolah sinkron dengan kecemasanku. Ada pesona melankolis pada diriku yang tampaknya membuat pria itu ingin melindungiku.

Sore itu, di halaman belakang rumah Azizah, kami duduk menyesap teh. Suasana tenang itu membuat dinding pertahananku perlahan runtuh.

"Zara, boleh aku tanya sesuatu? Sebenarnya, apa tujuan utamamu datang jauh-jauh ke Mumbai ini?" tanya Azizah lembut.

Aku tidak langsung menjawab. Aku memandang tanaman di depanku dengan tatapan kosong. Mataku mulai berkaca-kaca, gurat kesedihan terpancar jelas dari wajahku.

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin bicara sekarang," sambung Azizah merasa bersalah.

"Aku mencari pria yang aku cintai, Azizah," jawabku lirih, dengan suara yang hampir pecah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 21

    Zuhra melepaskan jabatan tangan kami, ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah sofa, tetap berdiri dengan posisi yang dominan. "Kamu pasti sudah tahu apa tujuan saya datang kemari, bukan?" Aku tersenyum anggun, mencoba mengimbangi ketenangan Zuhra. "Iya, tentu saya tahu. Suami Anda sedang tidak ada di sini sekarang." "Saya tahu," jawab Zuhra santai, seolah keberadaan Hafiz saat ini bukan lagi r4h4si4 baginya. "Sejak kapan Anda menyukai suami saya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sangat lembut namun tajam seperti sembilu. Aku terdiam sesaat, aku membasahi bibirku lalu menjawab dengan suara yang mantap. "Sebelum Anda menikah dengannya." Kali ini, giliran Zuhra yang terkejut. Alisnya bertaut, meski ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Maksudnya?" "Iya, betul," aku melangkah satu tindak lebih dekat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zuhra. "Kami sudah saling mencin

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 20

    ​Pagi itu di kediaman Adnan, keheningan di meja makan terasa begitu mencekam, meski hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Hafiz menyesap kopinya dengan perlahan, namun pikirannya melayang jauh ke kamar 301. Kata-kata Zuhra semalam tentang "suami yang menyewa hotel untuk wanita lain" terus berdengung di telinganya seperti lebah yang mengamuk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sindiran halus yang mematikan.​"Aku harus segera memindahkan Zara ke apartemen," batin Hafiz gelisah. Hotel terlalu terbuka. Zuhra mulai mencium baunya.​Zuhra, yang duduk di hadapannya, tampak tenang menyantap sarapannya. Namun, ketenangan itu adalah topeng paling sempurna yang pernah ia kenakan.​"Sayang," suara Zuhra memecah keheningan. "Aku belakangan ini merasa suntuk sendirian di rumah saat kamu bekerja. Bagaimana kalau makan siang nanti aku antarkan makanan ke kantormu? Aku masak menu favoritmu."​Hafiz nyaris tersedak kopinya. Ia menata

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 19

    Begitu mobil berhenti di depan pagar rumah, Zuhra segera turun.​"Terima kasih, Shena. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini."​"Telepon aku jika terjadi sesuatu, Zuhra. Aku akan selalu ada," jawab Shena sebelum memutar balik mobilnya dan menghilang di kegelapan jalan.​Sepuluh menit berlalu seperti berjam-jam bagi Zuhra. Ia duduk di sofa ruang tengah, memegang sebuah buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Namun, matanya sama sekali tidak membaca barisan kata di sana. Ia sedang menghitung detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang saat mendengar suara deru mesin mobil Hafiz memasuki halaman.​Klik.​Suara kunci pintu diputar. Hafiz melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah. Ia langsung melepas kemejanya yang sudah sedikit kusut. Begitu melihat Zuhra masih terjaga, ia mencoba memaksakan sebuah senyum hangat yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati istrinya.​"Loh, Sayang? Kok belum tidur? Kan

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 18

    Dengan jemari yang dingin, Zuhra mengetik barisan kata yang tampak sangat manis namun beracun.Zuhra: "Sayang, rapatnya sudah mulai? Jangan lupa makan malam ya, aku menunggumu di rumah."Di lantai tiga, tepatnya di kamar 301, suasana panas baru saja mereda. Keheningan yang intim menyelimuti ruangan. Hafiz dan aku masih terbaring bersinggungan kulit di bawah selimut sutra yang berantakan. Napas kami perlahan mulai teratur setelah pergulatan hebat yang menguras tenaga tadi. Hafiz memiringkan tubuhnya, mengecup bahuku yang masih lembap oleh keringat dengan penuh kasih.Ting!Suara notifikasi itu memecah kesunyian. Ponsel Hafiz yang tergeletak di atas nakas menyala, memendarkan cahaya putih di kegelapan kamar. Hafiz meraihnya dengan malas, mengira itu hanya urusan kantor. Namun, matanya seketika membelalak saat membaca nama pengirimnya.Zuhra.Hafiz terdiam membeku seolah seluruh aliran darahnya berhenti. Pesan itu tampak sangat sede

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 17

    ​Tanpa disadari oleh mereka semua, di seberang hotel, sebuah mobil lain berhenti mendadak. Azzam. Pria itu baru saja pulang kerja dan rute rumahnya memang melewati hotel ini. Matanya yang tajam menangkap sosok Hafiz yang sedang melangkah masuk ke lobi.​Azzam mengernyitkan dahi. Rahangnya mengeras. Pria itu lagi. Apa yang dia lakukan di sini sore-sore begini? Azzam memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis untuk mengintai. Ia akan menunggu sampai Hafiz keluar.​Di dalam lift, Shena berdiri tepat di belakang Hafiz, menunduk seolah sibuk mengirim pesan. Begitu lift berdenting di lantai 3, Hafiz keluar. Shena mengikuti dengan jarak yang aman. Ia pura-pura menempelkan ponsel di telinganya seolah sedang menelepon.​Hafiz berhenti di depan kamar 301. Ia mengetuk pintu dengan ritme khusus. Tak lama, pintu terbuka.​"Sayang! Aku kangen sekali, tahu tidak!" suaraku terdengar begitu riang dan manja dari dalam k

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 16

    Aku keluar dari lobi mengenakan pakaian tertutup yang anggun. Aku melangkah masuk ke dalam mobil Azzam dengan gerakan lembut, mencoba tetap tenang di tengah badai perasaan yang berkecamuk.Di dalam mobil, keheningan menyergap. Azzam mengemudi dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang basah. Ia tidak menyalakan musik, hanya suara wiper kaca yang bergerak ritmis di depanku. Setelah beberapa menit membisu, Azzam akhirnya membuka suara. Suaranya berat dan berwibawa."Sampai kapan kamu mau tinggal di hotel itu, Zara?"Aku menoleh, menatap profil samping wajah Azzam yang tegas. "Aku tidak tahu, Azzam.""Tinggallah dengan Azizah di rumah kami. Itu jauh lebih aman untukmu daripada sendirian di hotel seperti ini," Azzam bicara tanpa menoleh, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak luka. "Nanti aku pikirkan lagi, Azzam."Azzam menghela napas, ia sedikit melambatkan laju

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status