แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Piemar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 14:33:19

Helena membawa nampan berisi teh herbal seolah-olah ingin menyambut adik madunya dengan tangan terbuka.

“Aku sangat cemas, Isabella,” suara Helena mendayu, matanya melirik ranjang yang tampak berantakan. Pintu kamar itu memang tidak tertutup sempurna. “Semalam Alex tiba-tiba pergi dari istana Rose. Kupikir dia akan pergi ke ruangannya karena sedang banyak pikiran urusan perang, tapi …” ia menjeda kalimatnya. Tatapannya menyisir wajah Isabella, lalu turun ke leher lalu ke bagian tulang selangkanya yang terekspos. 

Senyum samar terbit di bibirnya. Tidak ada tanda-tanda kepemilikan Alex di tubuh gadis itu. “Ternyata ia berakhir di sini,”

“Pangeran Alex hanya ingin memastikan keamananku, Nyonya Helena,” jawab Isabella tenang.

“Begitukah? Kau pasti sangat lelah, Isabella. Mengingat kau harus melakukan banyak cara untuk membuat Alex menginap di sini semalam,” sindir Helena tetapi dengan nada prihatin yang dibuat-buat. 

“Maksudmu memaksa Pangeran untuk bermalam di sini?” Ulang Isabella, mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. “Yang Mulia Putri Helena, Pangeran Alex datang ke sini atas keinginan sendiri, bukan karena aku memohon,” sergah Isabella dengan tatapan yang dingin. 

Wajah Helena memucat mendengar keberanian adik madunya—yang ternyata di luar dugaannya. Gadis di depannya tidak seperti rumor yang diceritakan. Dia baru saja melawan secara terang-terangan pada sang putri!

Helena berusaha tenang. Dalam sekejap mimik wajahnya terlihat normal. “Kau tahu, gara-gara kau, Alex melanggar protokol istana. Seharusnya Alex bermalam denganku semalam.”

Isabella tertawa kecil. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Protokol istana?” Ia menjeda kalimatnya. “Yang benar saja, Putri Helena. Di mana-mana pasangan yang baru saja menikah akan menghabiskan malam pertama bersama.”

Helena melangkah mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Isabella. “Jangan terlalu besar kepala, Sayang. Dia datang ke sini bukan karena tertarik padamu, apalagi rindu, tapi karena dia merasa terhina saat tahu kau merayakan ketidakhadirannya. Pria seperti Alex tidak suka diabaikan.”

Deg,

Wanita ini lebih licik dari yang Isabella kira. Ia melakukan berbagai cara untuk mengintimidasinya. 

Tepat saat itu, Alex muncul dari dalam kamar dengan jubah militer yang sudah terpasang sempurna. Wajahnya datar, tetapi auranya yang awur-awuran membuat siapapun menahan napas.

“Alex, kau sudah siap?” Helena segera berbalik, wajahnya berubah drastis menjadi sosok istri yang penuh perhatian. Ia mendekat untuk merapikan kerah baju Alex. “Aku baru saja membawakan teh untuk Isabella dan buatmu juga. Isabella tampak pucat. Sepertinya dia kelelahan akibat pesta pernikahan—”

“Helena, aku sudah minum teh.” Alex menepis tangan Helena dengan halus tetapi tegas. Gerakannya cukup singkat, tetapi cukup membuat senyum Helena memudar. 

Tatapan Alex beralih pada Isabella, mengabaikan Helena yang tergugu dengan wajah yang sendu. “Bersiaplah untuk jamuan pagi. Ayahanda menunggumu,”

“Isabella kelelahan, Alex,” sela Helena, suaranya sedikit bergetar, mencoba membujuk suaminya. “Sebaiknya Isabella istirahat. Lihat wajahnya,”

Alex menatap Helena lekat. Tatapannya berubah dingin. “Dengar, Helena, aku yang bermalam di sini, dan aku tahu persis keadaan istriku. Berhentilah mengatur apa yang harus dia lakukan. Ayo, Isabella!” 

Alex tidak menunggu jawaban. Ia justru mengulurkan tangannya pada Isabella, sebuah gerakan spontan yang sangat jarang ia lakukan di depan Helena.

Isabella menyambut tangan itu, merasakan telapak tangan Alex yang kasar dan hangat. Saat mereka berjalan keluar melewati Helena, Isabella bisa merasakan tatapan mata Helena yang setajam belati menusuk punggungnya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau betah tinggal di sana?” tanya Cecilia berbasa-basi. 

Isabella tersenyum canggung. “Tentu saja, Yang Mulia. Paviliun itu sangat nyaman hamba tempati. Pemandangannya sangat indah.”

Alex hanya diam, tangannya sibuk mengaduk acar. Lalu dengan gerakan cepat ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Sebuah sikap yang secara tidak langsung menunjukkan keberatannya akan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya. 

“Aku harap kau segera mengandung,” pungkas Cecilia antusias. Ia memberi kode pada pelayan untuk memberikan sebuah kotak pada Isabella. “Ini obat herbal terbaik. Semoga segera ada kabar baik.”

Raja Dominic yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat suara. “Alex, kuharap pernikahan ini tidak mengganggu fokusmu melawan Damon.”

Alex mendongak tajam. “Tentu saja tidak, Ayah.”

Setelah jamuan yang menyesakkan itu usai, seminggu berlalu dengan tenang. Tanpa Alex, berarti tanpa gangguan Helena. Pangeran itu sibuk dengan persiapan perang dan urusan upeti di luar istana. Isabella mulai menikmati kebebasannya, sampai suatu malam...

Ketika ia sedang berendam di kamar mandi, Mona mengabarinya kalau pangeran Alex akan menginap di sana. 

“Apa?” pekik Isabella tanpa sadar ia berdiri tegak hingga air membasahi lantai kamar mandi. Otaknya yang terbiasa berpikir tenang dan logis mendadak lamban. 

Mengapa pangeran kembali lebih cepat?

Belum sempat ia mencerna situasi, suara langkah kaki yang berwibawa khas Alex terdengar mendekat. Dengan gerakan secepat kilat, Isabella menyambar handuk linen lalu melilitkan ke tubuhnya asal. 

Saat Isabella keluar dari kamar mandi, langkahnya langsung terkunci. Di sana, di bawah remang lampu kamar, Alex sudah duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedekap di dada. Tatapannya yang tajam langsung menguliti sosok Isabella, hingga membuatnya merasa sangat gugup. 

Tanpa sepatah kata pun, Alex bangkit dan memangkas jarak di antara mereka. Sebelum gadis itu bersuara, pria itu sudah berada di belakangnya, mulai mendaratkan kecupan singkat yang panas di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. 

Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas.

Untuk sesaat, Isabella termangu. Wajahnya menegang. Bahkan ia merasa kesulitan hanya untuk bernapas. Dan, saat itulah tanpa ia sadari tubuhnya didorong pelan oleh pria yang kini menjadi suaminya hingga jatuh ke atas ranjang.

“Pangeran, tidak,” ucap Isabella, suaranya tenggelam. 

“Aku tidak punya alasan untuk menunda malam pertama. Ayo kita selesaikan,” bisik Alex terdengar serak. Ia sendiri tidak tahu kenapa di depan gadis itu hasratnya naik begitu cepat. Mungkin pengaruh alkohol yang ia cecap. 

Detik berikutnya pria itu naik ke atas ranjang, menindih tubuh Isabella. 

“Yang Mulia,” kata Isabella tangannya berusaha menahan dada pria itu. Naasnya, dengan gerakan pelan, Alex mengunci ke dua tangannya di atas kepalanya.  

Tubuhnya menegang. Tidak, jangan sekarang.

“Tidak … Yang Mulia,” 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 338

    Simon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 337

    Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 336

    Isabella tersentak mendengar ucapan Alex. Alex menyebut satu nama yang berhasil membuat bulu romanya berdiri laksana ujung candrasa. Wanita yang baru saja melahirkan itu tampak pucat pasi. Matanya berkedip dua kali. Napasnya mendadak terengah, sesak, seperti ada sesuatu yang mengendap di balik dadanya. Apakah ia tidak salah mendengar kalau seseorang yang menyelamatkan putra mereka adalah wanita yang justru sebelumnya berusaha menghabisi nyawanya?Semesta sedang bermain-main kah?Tanpa sadar, Isabella menggelengkan kepalanya ribut. “Kau pasti salah, Alex,”Alex menyentuh punggung tangan istrinya dengan lembut. “Itu memang kenyataannya. Aku juga tidak percaya dengan apa yang ku lihat.” Nada suaranya rendah tetapi berat. Ingatan beberapa saat yang lalu langsung melintas di benaknya. Helena terkapar dalam kondisi tubuh lemah dan bersimbah darah. Prajurit Damon menusukkan pedang ke arah dadanya. “Itu benar, Nyonya,” sahut Chloe menundukkan kepalanya, ikut berkomentar. “Hamba juga melih

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 335

    “Helena—” bisik Alex parau.Sesaat, tubuhnya membeku. Wanita yang selama ini ia buru atas kejahatannya terkulai pasrah bersimbah darah di samping keranjang bayinya. Bahkan di saat kesadarannya menipis, jemari Helena masih mencengkeram erat tepi keranjang. Seolah-olah dengan sisa nyawanya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi itu. Tidak boleh ada yang melukai bayi itu!Wanita itu diam, tidak merespon apapun. “Yang Mulia Pangeran Alex,”Beberapa ksatria Silver Eagle menyeruak masuk ke kebun belakang paviliun, menyusul sang pangeran. Melihat Alex yang hanya termangu, salah seorang di antara ksatria itu mendekati Helena lalu mengangkat bayi Alex dengan sangat hati-hati, lalu menyerahkannya ke dalam dekapannya.“Yang Mulia, bayi Anda selamat,”Tangisan mungil itu akhirnya pecah.Alex segera mendekap putranya erat-erat dengan perasaan berkecamuk. Perlahan bayi lelaki tampan—yang bahkan belum memiliki nama itu berhenti menangis. Matanya yang masih belum fokus membuat hati Alex

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 334

    Sarah, yang menggendong bayi Isabella erat-erat, segera berlari sekencang mungkin. Ia menjalankan perintah terakhir Isabella menuju tempat persembunyian yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah lokasi rahasia yang diyakini paling aman untuk melindungi sang bayi. Wanita itu berlari sekuat tenaga bersama seorang perawat yang sudah kelelahan. Beberapa bidikan berasal dari senjata api menyasar mereka. Namun semua peluru itu meleset.“Kita kemana, Sarah?”“Tenang, kita akan sembunyi di sana.”Wanita itu menunjuk sebuah pagar yang tertutupi oleh pepohonan yang merambat. “Sarah, aku tidak kuat.”Perawat itu jatuh lalu tak sadarkan diri. Sektika lutut Sarah gemetar. Tinggal dirinya seorang. Dia harus bisa menyelamatkan bayi ini meski harus membayar dengan nyawanya. Wanita yang sudah pucat pasi itu terus berlari tanpa rasa kenal lelah. Naasnya … Takk!Sarah terjatuh. Sebuah anak panah melesat, bukan lagi senapan. Anak panah itu menusuk tepat di lengan kanannya. Wanita itu tersentak

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 333

    “Nyonya, kita harus pergi sekarang!” Mei Lin bersiap-siap merangkul lengan Isabella yang masih lemah. “Ada apa?” Isabella mengerjap beberapa kali. Bahkan ia tidak sanggup untuk berdiri. Kepalanya terasa berat sebab pendarahan hebat. Mei Lin terdiam, meneguk salivanya beberapa kali. Sarah mendekati Mei Lin. “Ada apa Mei? Kau jangan membuat Nyonya panik.”“Kau tidak dengar? Pasukan Damon menyerang membabi buta. Mereka mengirim pasukan bayaran dengan kemampuan yang sangat kuat. Kemungkinan Ashmond tidak bisa memukul mundur mereka. Pasukan Ashmond tidak siap. Sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan. Kita harus segera membawa Nyonya Isabella dan bayinya keluar lewat jalur evakuasi.”“Tapi kata Sir Noah, kita harus menunggu di sini.” Sarah tampak panik. “Tidak bisa. Noah dan pasukannya kewalahan. Pangeran Alex bahkan kini terjebak di istana utama.” Bisik Mei Lin, baru pertama kalinya suaranya bergetar. Sarah mengangguk pasrah. Ke dua tangannya mencengkram rok gaunnya. Matanya tertuju p

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 29

    “Apa yang kaulakukan?” tanya Noah bernada penuh curiga. Isabella tersentak mendengar suara yang familiar. Namun segera ia mencoba menormalkan perasaannya. Beruntung ia sempat mengolesi sari arang yang dicampur minyak kacang ke wajahnya hingga menciptakan noda kusam dan bintik-bintik yang menyamark

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 23

    Isabella berbicara dengan lantang. Tak ada keraguan dalam nada bicaranya. Ia menatap jasad Emma dan Koroner John Holloway bergantian. “Emma tidak gantung diri. Gadis malang ini dibunuh.”Helaan napas lega lolos begitu saja. “Apa yang kaukatakan, Duchess! Hati–hati Anda bicara. Jangan bicara sembara

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 21

    Helena memberi hormat pada sang ratu. Satu jam yang lalu ia menerima perintah langsung dari pengawalnya untuk datang ke istana utama. Ratu ingin bicara empat mata dengannya. “Duduklah! Aku ingin bicara,” titah Cecilia di atas singgasananya. Cara ia menatapnya seperti Alex, tajam, dingin dan terkesa

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 20

    Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status