MasukHelena membawa nampan berisi teh herbal seolah-olah ingin menyambut adik madunya dengan tangan terbuka.
“Aku sangat cemas, Isabella,” suara Helena mendayu, matanya melirik ranjang yang tampak berantakan. Pintu kamar itu memang tidak tertutup sempurna. “Semalam Alex tiba-tiba pergi dari istana Rose. Kupikir dia akan pergi ke ruangannya karena sedang banyak pikiran urusan perang, tapi …” ia menjeda kalimatnya. Tatapannya menyisir wajah Isabella, lalu turun ke leher lalu ke bagian tulang selangkanya yang terekspos.
Senyum samar terbit di bibirnya. Tidak ada tanda-tanda kepemilikan Alex di tubuh gadis itu. “Ternyata ia berakhir di sini,”
“Pangeran Alex hanya ingin memastikan keamananku, Nyonya Helena,” jawab Isabella tenang.
“Begitukah? Kau pasti sangat lelah, Isabella. Mengingat kau harus melakukan banyak cara untuk membuat Alex menginap di sini semalam,” sindir Helena tetapi dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
“Maksudmu memaksa Pangeran untuk bermalam di sini?” Ulang Isabella, mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. “Yang Mulia Putri Helena, Pangeran Alex datang ke sini atas keinginan sendiri, bukan karena aku memohon,” sergah Isabella dengan tatapan yang dingin.
Wajah Helena memucat mendengar keberanian adik madunya—yang ternyata di luar dugaannya. Gadis di depannya tidak seperti rumor yang diceritakan. Dia baru saja melawan secara terang-terangan pada sang putri!
Helena berusaha tenang. Dalam sekejap mimik wajahnya terlihat normal. “Kau tahu, gara-gara kau, Alex melanggar protokol istana. Seharusnya Alex bermalam denganku semalam.”
Isabella tertawa kecil. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Protokol istana?” Ia menjeda kalimatnya. “Yang benar saja, Putri Helena. Di mana-mana pasangan yang baru saja menikah akan menghabiskan malam pertama bersama.”
Helena melangkah mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Isabella. “Jangan terlalu besar kepala, Sayang. Dia datang ke sini bukan karena tertarik padamu, apalagi rindu, tapi karena dia merasa terhina saat tahu kau merayakan ketidakhadirannya. Pria seperti Alex tidak suka diabaikan.”
Deg,
Wanita ini lebih licik dari yang Isabella kira. Ia melakukan berbagai cara untuk mengintimidasinya.
Tepat saat itu, Alex muncul dari dalam kamar dengan jubah militer yang sudah terpasang sempurna. Wajahnya datar, tetapi auranya yang awur-awuran membuat siapapun menahan napas.
“Alex, kau sudah siap?” Helena segera berbalik, wajahnya berubah drastis menjadi sosok istri yang penuh perhatian. Ia mendekat untuk merapikan kerah baju Alex. “Aku baru saja membawakan teh untuk Isabella dan buatmu juga. Isabella tampak pucat. Sepertinya dia kelelahan akibat pesta pernikahan—”
“Helena, aku sudah minum teh.” Alex menepis tangan Helena dengan halus tetapi tegas. Gerakannya cukup singkat, tetapi cukup membuat senyum Helena memudar.
Tatapan Alex beralih pada Isabella, mengabaikan Helena yang tergugu dengan wajah yang sendu. “Bersiaplah untuk jamuan pagi. Ayahanda menunggumu,”
“Isabella kelelahan, Alex,” sela Helena, suaranya sedikit bergetar, mencoba membujuk suaminya. “Sebaiknya Isabella istirahat. Lihat wajahnya,”
Alex menatap Helena lekat. Tatapannya berubah dingin. “Dengar, Helena, aku yang bermalam di sini, dan aku tahu persis keadaan istriku. Berhentilah mengatur apa yang harus dia lakukan. Ayo, Isabella!”
Alex tidak menunggu jawaban. Ia justru mengulurkan tangannya pada Isabella, sebuah gerakan spontan yang sangat jarang ia lakukan di depan Helena.
Isabella menyambut tangan itu, merasakan telapak tangan Alex yang kasar dan hangat. Saat mereka berjalan keluar melewati Helena, Isabella bisa merasakan tatapan mata Helena yang setajam belati menusuk punggungnya.
…
“Bagaimana kabarmu? Apa kau betah tinggal di sana?” tanya Cecilia berbasa-basi.
Isabella tersenyum canggung. “Tentu saja, Yang Mulia. Paviliun itu sangat nyaman hamba tempati. Pemandangannya sangat indah.”
Alex hanya diam, tangannya sibuk mengaduk acar. Lalu dengan gerakan cepat ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Sebuah sikap yang secara tidak langsung menunjukkan keberatannya akan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya.
“Aku harap kau segera mengandung,” pungkas Cecilia antusias. Ia memberi kode pada pelayan untuk memberikan sebuah kotak pada Isabella. “Ini obat herbal terbaik. Semoga segera ada kabar baik.”
Raja Dominic yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat suara. “Alex, kuharap pernikahan ini tidak mengganggu fokusmu melawan Damon.”
Alex mendongak tajam. “Tentu saja tidak, Ayah.”
Setelah jamuan yang menyesakkan itu usai, seminggu berlalu dengan tenang. Tanpa Alex, berarti tanpa gangguan Helena. Pangeran itu sibuk dengan persiapan perang dan urusan upeti di luar istana. Isabella mulai menikmati kebebasannya, sampai suatu malam...
Ketika ia sedang berendam di kamar mandi, Mona mengabarinya kalau pangeran Alex akan menginap di sana.
“Apa?” pekik Isabella tanpa sadar ia berdiri tegak hingga air membasahi lantai kamar mandi. Otaknya yang terbiasa berpikir tenang dan logis mendadak lamban.
Mengapa pangeran kembali lebih cepat?
Belum sempat ia mencerna situasi, suara langkah kaki yang berwibawa khas Alex terdengar mendekat. Dengan gerakan secepat kilat, Isabella menyambar handuk linen lalu melilitkan ke tubuhnya asal.
Saat Isabella keluar dari kamar mandi, langkahnya langsung terkunci. Di sana, di bawah remang lampu kamar, Alex sudah duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedekap di dada. Tatapannya yang tajam langsung menguliti sosok Isabella, hingga membuatnya merasa sangat gugup.
Tanpa sepatah kata pun, Alex bangkit dan memangkas jarak di antara mereka. Sebelum gadis itu bersuara, pria itu sudah berada di belakangnya, mulai mendaratkan kecupan singkat yang panas di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya.
Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas.
Untuk sesaat, Isabella termangu. Wajahnya menegang. Bahkan ia merasa kesulitan hanya untuk bernapas. Dan, saat itulah tanpa ia sadari tubuhnya didorong pelan oleh pria yang kini menjadi suaminya hingga jatuh ke atas ranjang.
“Pangeran, tidak,” ucap Isabella, suaranya tenggelam.
“Aku tidak punya alasan untuk menunda malam pertama. Ayo kita selesaikan,” bisik Alex terdengar serak. Ia sendiri tidak tahu kenapa di depan gadis itu hasratnya naik begitu cepat. Mungkin pengaruh alkohol yang ia cecap.
Detik berikutnya pria itu naik ke atas ranjang, menindih tubuh Isabella.
“Yang Mulia,” kata Isabella tangannya berusaha menahan dada pria itu. Naasnya, dengan gerakan pelan, Alex mengunci ke dua tangannya di atas kepalanya.
Tubuhnya menegang. Tidak, jangan sekarang.
“Tidak … Yang Mulia,”
Suara tangisan bayi yang baru saja terlahir seharusnya bisa membuat Alex merasa senang. Naasnya, bertepatan bayi itu lahir, Isabella tak sadarkan diri. Alex dilanda panik. Ia memekik, berusaha membangunkan istrinya. “Isabella bangun! Bangun, Sayang!” teriaknya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang sedikit berjambang. Ia menoleh tajam ke arah tabib dengan tatapan yang memicing tajam. “Lakukan sesuatu, Tabib!”Suara baritonnya yang menggelegar membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkesiap. Perawat langsung membawa bayi itu dari sana untuk membersihkan bayi yang masih berlumur darah itu. Sarah mengekori wanita itu, mengawasinya dengan siap siaga. Begitupula dengan Mei Lin terus berada di sana mendampingi Isabella dengan perasaan sesak. Dengan tangan yang gemetar sang tabib segera memeriksa denyut nadi Isabella yang lemah. Seketika ia menghela napas panjang. Isabella masih bernapas meskipun lemah. “Yang Mulia, Nyonya kehilangan banyak darah.
“Yang Mulia, ada apa?” bisik dayang sang ratu tatkala melihat Cecilia diam termangu, menatap lama Sophia.Cecilia meneguk salivanya sebelum menjawab. “Aku harus memastikan sesuatu,” balasnya. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang masih tampak lesu. Di samping ranjang, ibunya, Maria menyuapinya bubur. “Maaf, Yang Mulia. Ini sudah waktunya Sophia makan dan minum obat.” Ujar Maria meminta ijin. Sebuah kehormatan kedatangan sang ratu yang sudi menjenguk putrinya. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Silakan, lanjutkan saja!” ucap Cecilia sembari meneguk minumannya kembali.Namun, tatapannya masih tertuju pada Sophia, mengamati gerak geriknya secara cermat. Barulah setelah gadis itu minum obat, Cecilia memberanikan diri berbicara. “Sophia. Bolehkah saya melihat bahumu? Saya hanya ingin memastikan luka. Jika tak kunjung sembuh. Istana akan mengirimkan tabib terbaik lagi untuk mengobatimu.”Sophia menatap Cecilia dengan sungkan. “Oh, boleh.”Gadis itu kemudian menyingkap a
“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Mendengar kabar tentang keluarganya, hatinya hancur berkeping-keping. Semua telah raib. Ia tidak memiliki apapun saat ini. Keluarga, suami dan harta serta harga dirinya sudah hilang. Bahkan, ia telah resmi menjadi buronan istana Ashmond! Bukan lagi putri mahkota. Pun, bukan lagi anak seorang Kepala Klan besar bernama Moreau. Helena mencengkram gaunnya dengan sorot mata yang gelap. Ia berdiri gemetar di tengah ruangan yang luluh lantak. Vas bunga, cermin hias, hingga perabotan kayu habis hancur berantakan di lantai. Perkamen maklumat kerajaan berstempel emas yang membawa kabar kematian ayahnya dan kehancuran klan Moreau lecek tercengkeram di tangannya.Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Air mata kemurkaan dan rasa frustrasi yang membakar terus melintasi pipinya yang tirus dan pucat.“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris seraya menyapu kasar barang-baran
“Bella,” panggil Alex bernada lembut. “Ah, apa Alex?” jawab Isabella bangun dari lamunannya. Alex menautkan jari jemarinya ke tangan istrinya. Senyum hangat masih terulas dari wajahnya. “Kau suka kan aku renovasi istana ini? Meski hanya beberapa bagian saja,”Isabella menghela napas panjang. Tatapannya mengitari semua sudut bangunan tersebut. “Aku suka. Nuansanya jadi beda dan lebih segar”Alex tersenyum penuh kelegaan. Akhirnya, ia bisa memboyong Isabella ke istana itu tanpa banyak drama. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Toh, istri pertamanya yang sudah bikin dosa padanya justru memilih melarikan diri dari istana. Sudah tidak ada lagi tempat untuknya baik istana apalagi … hatinya. Alex ingin memulai kehidupan barunya dengan istri satu-satunya. Tidak ada lagi istri kedua atau istri lainnya. Tiba-tiba langkah Isabella menghentikan langkah kakinya sesaat. “Kenapa kau lakukan ini? Aku rasa.. Istana sudah sangat indah sebelumnya.”Isabella tidak mempermasalahkan soal temp
“Eksekusi!” titah Alex dingin, tak memberi panggung lebih lama bagi musuhnya.Algojo menekan bahu Valentin hingga leher pria itu terbaring kaku di atas balok kayu. Sang algojo kemudian mengangkat kapak perak raksasa nan tajam tinggi-tinggi ke udara.Semua orang menahan napas. Semua kepala tertuju pada satu titik. Valentin Moreau.Isabella terdiam sesaat menatap pria tua itu. Matanya melebar seketika saat melihat tanda di pergelangan tangannya. Sebuah luka melintang. Teringat percakapannya dengan Ethan, anak arsitek pelabuhan Utama Royal Ashmond. Bahwa pria dengan luka di tangannya itu adalah orang yang sama berada di ruang kerja sang ayah. Pria itu memiliki salinan Blueprint Pelabuhan Royal Ashmond.“Tunggu, Alex,” suara Isabella terdengar dingin, membuat suaminya menoleh ke arahnya. “Ada apa Isabella?” tanya Alex singkat. Ia tidak bisa menunggu waktu lagi untuk mengeksekusi pria itu. “Tunggu!” teriak Isabella hingga semua mata menoleh ke arahnya. Isabella berjalan turun dari tribu
Satu minggu telah berlalu sejak gema ledakan di penjara bawah tanah Istana Ashmond memicu perburuan besar-besaran di seluruh penjuru negeri.Sejak maklumat sayembara berstempel emas disebarkan, atmosfer di perbatasan utara kian tegang. Namun, di saat pasukan Silver Eagle milik Pangeran Alex terfokus menyisiri aliran sungai bagian timur tempat Valentin menjatuhkan diri, Johan Dubois justru menggunakan taktik yang jauh lebih licik dan agresif.Hanya dalam kurun waktu tujuh hari, Johan mengerahkan seluruh prajurit privat klan Dubois dan memanfaatkan jaringan penyelundup bahan bangunan yang pernah bekerja sama dengan klan Moreau. Ia sangat yakin pria tua yang terluka seperti Valentin tidak akan sanggup berlari jauh, melainkan bersembunyi di tempat yang paling dekat dan tak terduga, bekas tambang batu kapur milik klan Dubois yang telah ditutup di perbatasan terluar.Malam itu, hujan deras mengguyur celah-celah tebing terjal perbatasan.Dengan jubah basah kuyup dan pedang terhunus, Johan me
Istana Rose,Helena berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia diserbu gelombang rasa gelisah. Alex belum datang mengunjunginya. Biasanya, dalam seminggu pria itu akan menghabiskan dua atau tiga malam di sini. Namun belakangan Alex lebih memilih tidur di ruang pribadinya—sebuah wilayah terlarang yang b
Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar
Isabella menatap Cecilia dengan perasaan bersalah. “Mohon maaf, Yang Mulia, Ratu. gaun yang Anda berikan sangat indah dan mewah. Saya sangat terkesan melihatnya. Saya pikir itu gaun untuk acara pesta khusus.”Helena mendelik tajam ke arah Isabella. Gadis itu ternyata pandai bersilat lidah. Sementara
Esok hari. Kamar Paviliun Honeysuckle. Sebuah peta dari bahan kulit sapi terbentang di atas meja di dalam kamar. Isabella mengamati peta itu dengan seksama. Ia sedang mencari tahu tentang denah istana Ashmond yang sangat luas. “Baiklah, kita akan mulai mencari tahu di mana lokasi lorong rahasia is







