LOGINAlex berhenti, napasnya masih terasa hangat di kulit Isabela. Ia menatap Isabella dengan tatapan menuntut. Dia pria dewasa yang baru saja terpantik hasratnya.
Namun tepat ketika Alex hendak menciumnya, Isabella memanfaatkan kebebasan tangannya. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong dada bidang itu agar berhenti.
Sang pangeran masih berada di atasnya, memerangkap tubuhnya. “Yang Mulia, tunggu,” bisik Isabella berusaha terdengar setegas mungkin.
Alex menatap dalam ke manik mata berwarna biru itu. “Kenapa?” katanya, suara husky-nya keluar.
Isabella menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Wajahnya memerah seperti buah delima. Antara malu, kesal dan marah menyatu.
Gadis itu seketika berpikir cepat. “Maafkan hamba, Yang Mulia.” Isabella mengambil jeda. Suaranya segetas ranting kering. Ia menurunkan tatapannya dengan rona malu yang dibuat-buat. “Sepertinya semesta sedang tidak berpihak pada keinginan Anda Yang mulia,”
“Apa maksudmu?” tanya Alex mulai merasa tidak nyaman mendengar ucapan Isabella. Perlahan, hasratnya mulai turun. Ia tidak suka penolakan.
“Saya sedang dalam keadaan tidak suci.” Isabella beralasan.
Tangan Alex yang berada di pinggangnya langsung membeku. Ia mendengus pelan. Ia bangun dari posisinya. Tak lama kemudian ia memperbaiki jubahnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan gejolak yang baru saja dipadamkan secara paksa.
Alex terdiam tetapi wajahnya mengeras. Sebaliknya, Isabella hanya memberikan tatapan polos padanya. Pria itu berdiri dengan wajah yang kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.
“Besok,” suara Alex terdengar lebih dingin dari sebelumnya. “Aku akan kembali.”
Isabella bangun, buru-buru menyambar jubah tidurnya, lalu berkata dengan nada rendah tetapi serius. “Maaf, Yang Mulia, saya baru datang bulan hari ini dan biasanya berlangsung beberapa hari,” nada suaranya mantap, tidak ada keraguan dalam ucapannya.
Alex terdiam lalu berbalik dan keluar dari kamar itu dengan bantingan pintu yang teramat keras. Ia merasa kesal. Entah karena ia tiba-tiba saja memiliki hasrat untuk menidurinya atau gagalnya malam pertama.
Tubuh Isabella merosot, duduk di pinggiran ranjang. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Ia menyeka bulir keringat dingin di dahinya.
“Sial,” umpatnya lirih. “Hampir saja!”
Ia meremat rambutnya pelan. “Hari ini aku selamat. Tapi … besok?”
Helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia belum bisa membayangkan jika malam pertama itu segera terjadi. Ia tidak mau mati cepat seperti cerita asli dalam novel. Ia hamil, melahirkan lalu mati dalam keadaan tragis.
…
Keesokan harinya, Isabella diundang untuk mengikuti jamuan pagi di istana utama Kerajaan Ashmond untuk ke dua kalinya. Namun kali ini jamuan itu dihadiri juga oleh Helena.
Aula makan istana tersebut tampak seperti aula theater The Old Vic di London yang megah tetapi mencekam di saat yang sama. Betapa tidak, di kepala meja, sosok Raja Dominic duduk dengan aura otoritas yang berat, didampingi Ratu Cecilia yang memiliki tatapan sedingin es.
Di sisi kanan, Alex duduk tegap dan tatapan mata yang intimidatif. Di sampingnya, Helena duduk anggun bagaikan permaisuri yang sempurna tanpa sedikitpun cela.
Di manakah Isabella? Dia duduk di seberang mereka, sendirian. Kendati demikian ia tetap mempertahankan punggungnya dengan tegak. Tidak seperti di dalam cerita novel, Isabella hanya menunduk dengan memilin jari jemarinya karena rasa takut dan gelisah.
“Isabella,” suara Cecilia memecah keheningan. Sontak, suara denting sendok di tangan Isabella berhenti. “Wajahmu terlihat pucat. Apakah paviliun Honeysuckle tidak cukup nyaman untukmu?”
Isabella menaruh sendok di atas piring miliknya dengan gerakan halus dan lamban. Dari cangkir yang berada di sebelah piring, ia bisa melihat pantulan wajah Alex yang sedang memperhatikannya.
Ia mengangkat mata, menatap sang ratu lalu menjawab. “Paviliun Honeysuckle sangat indah dan nyaman, Yang Mulia,” suaranya dibuat serak demi mendukung sandiwaranya—yang tengah sakit karena datang bulan. Seolah ia tampak lemah dan tak berdaya. “Um, hanya saja, saya masih menyesuaikan dengan udara istana di sini, Yang Mulia. Dan … saya sedang dalam kondisi tidak suci,”
Alex nyaris tersedak anggur mendengar pengakuan Isabella yang berterus terang. Untung saja, anggur yang disesapnya tidak menyembur begitu saja. Gegas, ia menaruh gelasnya hingga menciptakan dentuman kecil di atas meja.
Isabella lupa bahwa membahas siklus bulanan wanita adalah hal yang tabu jaman itu. Menurut pandangan medis kuno, siklus hormonal wanita bukan hanya sekedar proses biologis wanita—membuang darah kotor setiap bulannya. Bagi masyarakat zaman itu, kondisi wanita yang sedang menstruasi dianggap dalam keadaan tidak suci atau kotor menurut dogma agama.
Berbeda dengan sang ratu, alih-alih terkejut mendengar jawaban Isabella tentang siklus hormonal wanita, fokusnya tertuju pada sang putra yang belum melakukan ritual malam pertama. “Begitukah?” sahut Cecilia terlihat kecewa. Lantas ia menoleh ke arah putranya. Pertanyaan spontan pun lolos begitu saja. “Jadi kalian belum melakukan malam pertama?”
Mendengar kalimat itu terlontar, Dominic berdehem pelan, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Rasanya tidak pantas topik malam pertama menjadi topik utama di meja makan.
“Sebaiknya kau istirahat, menantu. Apa tabib sudah memeriksamu?” tukas Dominic cepat.
Isabella menegang seketika. Jangan sampai tabib memeriksanya. Nanti sandiwaranya bisa ketahuan.
“Betul sekali apa kata Yang Mulia, Duchess Isabella sebaiknya istirahat. Nanti tabib akan memeriksanya.” Helena menimpali. Senyumannya hangat tertuju pada Isabella. “Jangan memaksakan diri untuk melayani Pangeran Alex,”
Sementara itu Alex tetap berwajah sedingin monumen batu. Mata tajamnya terkunci pada jemari Isabella yang sesekali bergetar saat memegang cangkir.
Sebagai seorang ksatria dan komandan perang, ia sudah terbiasa membedah strategi musuh di peta perang. Dan, begitu mudah baginya menilai kejujuran seseorang. Pupil mata Isabella tidak melebar seperti orang yang menahan rasa sakit. Cukup, menjelaskan bahwa dia memang baik-baik saja.
Kau sedang menghindariku, bukan? Batin Alex, suaranya menggema di dalam benaknya.
“Ayahanda benar,” suara Alex membuat Isabella terkesiap. Ia mendongak dengan jantung yang berdegup kencang.
“Aku akan membawa Tabib Agung dari Ordo Suci siang ini,” lanjut Alex, nada suaranya rendah tetapi tajam seperti tebasan pedang di telinga Isabella. “Aku hanya khawatir sakitnya Duchess Isabella bukan sekedar kelelahan atau masa bulanannya.”
Namun Isabella bisa merasakan jika kalimat yang disampaikan oleh Alex bukan kalimat perhatian tetapi bernada kecurigaan.
Seluruh ruangan mendadak senyap. Para pelayan menunduk, tak berani bersuara. Tabib Agung dari Ordo Suci bukanlah tabib medis biasa.
Alex memajukan tubuhnya, menatap wajah Isabella yang semakin memucat. “Persiapkan dirimu, Duchess,” bisiknya dengan seringai culas. “Sebab jika Tabib Agung tidak menemukan setetes pun noda darah di sana … aku sendiri yang akan memastikan darah itu keluar karena kebohonganmu.”
Di bawah meja, Isabella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Sebagai mahasiswa Kriminologi, dia tahu profil pria posesif seperti Alex Harrington. Pria itu jauh lebih berbahaya ketimbang semua studi kasus yang pernah ia pelajari!
Ketika Sophia Bourbon melangkah mendekati ruang sidang, semua kepala menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran. Apa yang sedang wanita itu lakukan di sana? Apakah ia akan bersaksi atas kejahatan Klan Moreau ataukah Valentin Moreau?“Saya ingin bersaksi, Yang Mulia Raja Dominic.” Suara Sophia Borbone terdengar lantang, tidak ada rasa ketakutan di wajahnya.Suasana Ruang Sidang Kerajaan seketika berubah hening bagaikan pemakaman. Isabella menajamkan pandangannya, sementara Alex yang berdiri di sisi meja takhta memiringkan kepala, menatap Sophia dengan sorot mata penuh selidik. Perasaan hatinya tidak enak. Entah apa yang akan disampaikan oleh wanita itu. Belakangan, Sophia Bourbon sudah pulih dari rasa sakit akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Valentin Moreau terhadapnya. Ingatannya juga sudah kembali pulih. “Bicaralah, Lady Sophia,” titah Raja Dominic dingin dari atas takhta. “Kesaksian apa yang ingin kau sampaikan di hadapan pengadilan Ashmond?”Sophia mengulas senyum tipis yang
Ruang sidang utama Istana Ashmond terasa hening. Bahkan siapa pun akan mendengar deru napas sendiri. Atau .. mungkin beberapa menahan napas. Para bangsawan memadati sisi kanan dan kiri aula. Para kesatria Silver Eagle berdiri tegak berjajar di sepanjang dinding, sementara bendera megah bertakik lambang Kerajaan Ashmond tergantung anggun di belakang singgasana Raja Dominic.Di atas takhta, Dominic duduk dengan raut wajah mengeras. Di sampingnya, Ratu Cecilia menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sorot mata yang diselimuti murka.Alex berdiri beberapa langkah di depan singgasana. Sementara di sisi kanan sang pangeran, Isabella duduk di kursi khusus, tubuhnya masih tampak rapuh dalam masa pemulihan usai melahirkan.Brak!Pintu aula terdorong lebar. Dua belas kesatria mengapit seorang wanita yang melangkah pelan di antara mereka.Helena Moreau masuk, berjalan tertatih. Wajahnya pucat pasi. Luka di balik gaunnya, tubuhnya masih dibalut perban tebal yang sedikit ternoda darah, sementara
Simon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M
Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida
Isabella tersentak mendengar ucapan Alex. Alex menyebut satu nama yang berhasil membuat bulu romanya berdiri laksana ujung candrasa. Wanita yang baru saja melahirkan itu tampak pucat pasi. Matanya berkedip dua kali. Napasnya mendadak terengah, sesak, seperti ada sesuatu yang mengendap di balik dadanya. Apakah ia tidak salah mendengar kalau seseorang yang menyelamatkan putra mereka adalah wanita yang justru sebelumnya berusaha menghabisi nyawanya?Semesta sedang bermain-main kah?Tanpa sadar, Isabella menggelengkan kepalanya ribut. “Kau pasti salah, Alex,”Alex menyentuh punggung tangan istrinya dengan lembut. “Itu memang kenyataannya. Aku juga tidak percaya dengan apa yang ku lihat.” Nada suaranya rendah tetapi berat. Ingatan beberapa saat yang lalu langsung melintas di benaknya. Helena terkapar dalam kondisi tubuh lemah dan bersimbah darah. Prajurit Damon menusukkan pedang ke arah dadanya. “Itu benar, Nyonya,” sahut Chloe menundukkan kepalanya, ikut berkomentar. “Hamba juga melih
“Helena—” bisik Alex parau.Sesaat, tubuhnya membeku. Wanita yang selama ini ia buru atas kejahatannya terkulai pasrah bersimbah darah di samping keranjang bayinya. Bahkan di saat kesadarannya menipis, jemari Helena masih mencengkeram erat tepi keranjang. Seolah-olah dengan sisa nyawanya, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi itu. Tidak boleh ada yang melukai bayi itu!Wanita itu diam, tidak merespon apapun. “Yang Mulia Pangeran Alex,”Beberapa ksatria Silver Eagle menyeruak masuk ke kebun belakang paviliun, menyusul sang pangeran. Melihat Alex yang hanya termangu, salah seorang di antara ksatria itu mendekati Helena lalu mengangkat bayi Alex dengan sangat hati-hati, lalu menyerahkannya ke dalam dekapannya.“Yang Mulia, bayi Anda selamat,”Tangisan mungil itu akhirnya pecah.Alex segera mendekap putranya erat-erat dengan perasaan berkecamuk. Perlahan bayi lelaki tampan—yang bahkan belum memiliki nama itu berhenti menangis. Matanya yang masih belum fokus membuat hati Alex
Lorong istana sayap timur terasa lebih menegangkan malam ini. Namun bagi Yolanda Dubois tidak ada yang lebih menakutkan selain amarah kakaknya, Johan Dubois. “Apa yang diadukan pada Ayah?” suara Johan Dubois terdengar rendah tetapi dingin. Namun, satu hal yang tak bisa Yolanda hindari adalah, cara
Alex terkesiap ketika ia membuka mata dari tidurnya. Beberapa detik otaknya ‘ngelag’. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukan langit–langit kamar mewah miliknya. Namun, beberapa helaian rambut coklat madu yang menjuntai di bawah dagunya. Ia mendapati istrinya membelit tubuhnya seperti akar. Apa
Isabella duduk di atas kursi dengan perasaan kalang kabut. Hampir saja … malam yang tak diharapkan itu terjadi. Malam ‘transaksi rahim’.Ia menegak teh panas herbal miliknya dengan rakus, beberapa kali sembari tatapannya terpacak pada suaminya yang terbaring di atas ranjangnya. Pria itu mabuk. Ia m
Prang!Tanpa berpikir panjang, Alex membanting piala anggur ke lantai hingga pecah menjadi berkeping-keping. Ia juga menyapu berkas-berkas yang menumpuk di atas meja dengan sikunya hingga berhamburan ke segala arah. Wajahnya sudah terbakar oleh amarah yang tak bisa ia kendalikan. Para pengawal yan







