Share

Bab 4

Author: Piemar
last update publish date: 2026-04-09 14:43:06

Alex berhenti, napasnya masih terasa hangat di kulit Isabela. Ia menatap Isabella dengan tatapan menuntut. Dia pria dewasa yang baru saja terpantik hasratnya.  

Namun tepat ketika Alex hendak menciumnya, Isabella memanfaatkan kebebasan tangannya. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong dada bidang itu agar berhenti. 

Sang pangeran masih berada di atasnya, memerangkap tubuhnya. “Yang Mulia, tunggu,” bisik Isabella berusaha terdengar setegas mungkin. 

Alex menatap dalam ke manik mata berwarna biru itu. “Kenapa?” katanya, suara husky-nya keluar.  

Isabella menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Wajahnya memerah seperti buah delima. Antara malu, kesal dan marah menyatu.

Gadis itu seketika berpikir cepat. “Maafkan hamba, Yang Mulia.” Isabella mengambil jeda. Suaranya segetas ranting kering. Ia menurunkan tatapannya dengan rona malu yang dibuat-buat. “Sepertinya semesta sedang tidak berpihak pada keinginan Anda Yang mulia,” 

“Apa maksudmu?” tanya Alex mulai merasa tidak nyaman mendengar ucapan Isabella. Perlahan, hasratnya mulai turun. Ia tidak suka penolakan. 

“Saya sedang dalam keadaan tidak suci.” Isabella beralasan.

Tangan Alex yang berada di pinggangnya langsung membeku. Ia mendengus pelan. Ia bangun dari posisinya. Tak lama kemudian ia memperbaiki jubahnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan gejolak yang baru saja dipadamkan secara paksa. 

Alex terdiam tetapi wajahnya mengeras. Sebaliknya, Isabella hanya memberikan tatapan polos padanya. Pria itu berdiri dengan wajah yang kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apapun di antara mereka. 

“Besok,” suara Alex terdengar lebih dingin dari sebelumnya. “Aku akan kembali.”

Isabella bangun, buru-buru menyambar jubah tidurnya, lalu berkata dengan nada rendah tetapi serius. “Maaf, Yang Mulia, saya baru datang bulan hari ini dan biasanya berlangsung beberapa hari,” nada suaranya mantap, tidak ada keraguan dalam ucapannya. 

Alex terdiam lalu berbalik dan keluar dari kamar itu dengan bantingan pintu yang teramat keras. Ia merasa kesal. Entah karena ia tiba-tiba saja memiliki hasrat untuk menidurinya atau gagalnya malam pertama. 

Tubuh Isabella merosot, duduk di pinggiran ranjang. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Ia menyeka bulir keringat dingin di dahinya. 

“Sial,” umpatnya lirih. “Hampir saja!”

Ia meremat rambutnya pelan. “Hari ini aku selamat. Tapi … besok?”

Helaan napas berat lolos dari bibirnya. Ia belum bisa membayangkan jika malam pertama itu segera terjadi. Ia tidak mau mati cepat seperti cerita asli dalam novel. Ia hamil, melahirkan lalu mati dalam keadaan tragis. 

Keesokan harinya, Isabella diundang untuk mengikuti jamuan pagi di istana utama Kerajaan Ashmond untuk ke dua kalinya. Namun kali ini jamuan itu dihadiri juga oleh Helena. 

Aula makan istana tersebut tampak seperti aula theater The Old Vic di London yang megah tetapi mencekam di saat yang sama. Betapa tidak, di kepala meja, sosok Raja Dominic duduk dengan aura otoritas yang berat, didampingi Ratu Cecilia yang memiliki tatapan sedingin es.

Di sisi kanan, Alex duduk tegap dan tatapan mata yang intimidatif. Di sampingnya, Helena duduk anggun bagaikan permaisuri yang sempurna tanpa sedikitpun cela. 

Di manakah Isabella? Dia duduk di seberang mereka, sendirian. Kendati demikian ia tetap mempertahankan punggungnya dengan tegak. Tidak seperti di dalam cerita novel, Isabella hanya menunduk dengan memilin jari jemarinya karena rasa takut dan gelisah. 

“Isabella,” suara Cecilia memecah keheningan. Sontak, suara denting sendok di tangan Isabella berhenti. “Wajahmu terlihat pucat. Apakah paviliun Honeysuckle tidak cukup nyaman untukmu?”

Isabella menaruh sendok di atas piring miliknya dengan gerakan halus dan lamban. Dari cangkir yang berada di sebelah piring, ia bisa melihat pantulan wajah Alex yang sedang memperhatikannya. 

Ia mengangkat mata, menatap sang ratu lalu menjawab. “Paviliun Honeysuckle sangat indah dan nyaman, Yang Mulia,” suaranya dibuat serak demi mendukung sandiwaranya—yang tengah sakit karena datang bulan. Seolah ia tampak lemah dan tak berdaya. “Um, hanya saja, saya masih menyesuaikan dengan udara istana di sini, Yang Mulia. Dan … saya sedang dalam kondisi tidak suci,”

Alex nyaris tersedak anggur mendengar pengakuan Isabella yang berterus terang. Untung saja, anggur yang disesapnya tidak menyembur begitu saja. Gegas, ia menaruh gelasnya hingga menciptakan dentuman kecil di atas meja. 

Isabella lupa bahwa membahas siklus bulanan wanita adalah hal yang tabu jaman itu.  Menurut pandangan medis kuno, siklus hormonal wanita bukan hanya sekedar proses biologis wanita—membuang darah kotor setiap bulannya. Bagi masyarakat zaman itu, kondisi wanita yang sedang menstruasi dianggap dalam keadaan tidak suci atau kotor menurut dogma agama.

Berbeda dengan sang ratu, alih-alih terkejut mendengar jawaban Isabella tentang siklus hormonal wanita, fokusnya tertuju pada sang putra yang belum melakukan ritual malam pertama. “Begitukah?” sahut Cecilia terlihat kecewa. Lantas ia menoleh ke arah putranya. Pertanyaan spontan pun lolos begitu saja. “Jadi kalian belum melakukan malam pertama?”

Mendengar kalimat itu terlontar, Dominic berdehem pelan, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Rasanya tidak pantas topik malam pertama menjadi topik utama di meja makan.

“Sebaiknya kau istirahat, menantu. Apa tabib sudah memeriksamu?” tukas Dominic cepat. 

Isabella menegang seketika. Jangan sampai tabib memeriksanya. Nanti sandiwaranya bisa ketahuan. 

“Betul sekali apa kata Yang Mulia, Duchess Isabella sebaiknya istirahat. Nanti tabib akan memeriksanya.” Helena menimpali. Senyumannya hangat tertuju pada Isabella. “Jangan memaksakan diri untuk melayani Pangeran Alex,”

Sementara itu Alex tetap berwajah sedingin monumen batu. Mata tajamnya terkunci pada jemari Isabella yang sesekali bergetar saat memegang cangkir.

Sebagai seorang ksatria dan komandan perang, ia sudah terbiasa membedah strategi musuh di peta perang. Dan, begitu mudah baginya menilai kejujuran seseorang. Pupil mata Isabella tidak melebar seperti orang yang menahan rasa sakit. Cukup, menjelaskan bahwa dia memang baik-baik saja. 

Kau sedang menghindariku, bukan? Batin Alex, suaranya menggema di dalam benaknya.

“Ayahanda benar,” suara Alex membuat Isabella terkesiap. Ia mendongak dengan jantung yang berdegup kencang.  

“Aku akan membawa Tabib Agung dari Ordo Suci siang ini,” lanjut Alex, nada suaranya rendah tetapi tajam seperti tebasan pedang di telinga Isabella. “Aku hanya khawatir sakitnya Duchess Isabella bukan sekedar kelelahan atau masa bulanannya.”

Namun Isabella bisa merasakan jika kalimat yang disampaikan oleh Alex bukan kalimat perhatian tetapi bernada kecurigaan.  

Seluruh ruangan mendadak senyap. Para pelayan menunduk, tak berani bersuara. Tabib Agung dari Ordo Suci bukanlah tabib medis biasa. 

Alex memajukan tubuhnya, menatap wajah Isabella yang semakin memucat. “Persiapkan dirimu, Duchess,” bisiknya dengan seringai culas. “Sebab jika Tabib Agung tidak menemukan setetes pun noda darah di sana … aku sendiri yang akan memastikan darah itu keluar karena kebohonganmu.”

Di bawah meja, Isabella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Sebagai mahasiswa Kriminologi, dia tahu profil pria posesif seperti Alex Harrington. Pria itu jauh lebih berbahaya ketimbang semua studi kasus yang pernah ia pelajari!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Author's note

    Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: Pe

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 345

    Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 344

    “Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 343

    “Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 342

    Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 341

    Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 29

    “Apa yang kaulakukan?” tanya Noah bernada penuh curiga. Isabella tersentak mendengar suara yang familiar. Namun segera ia mencoba menormalkan perasaannya. Beruntung ia sempat mengolesi sari arang yang dicampur minyak kacang ke wajahnya hingga menciptakan noda kusam dan bintik-bintik yang menyamark

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 20

    Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 17

    Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar

  • ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM   Bab 10

    “Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status