LOGIN
“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”
Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat.
“Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti sedang menyampaikan kabar dukacita.
Seketika keheningan turun. Matteo sudah bersiap-siap jika istri kedua sang pangeran ini akan mengamuk atau minimal vas bunga Murano di atas meja akan mendarat di wajahnya. Namun, detik berikutnya, pundak Isabella justru berguncang.
Isabella menoleh dengan mata yang berbinar terang. “Serius? Dia benar-benar ke tempat Helena dan tidak akan kembali ke sini sampai pagi?” Jawabnya dengan tawa kecil.
Dahi matteo berkerut dalam, bingung. “Benar, Nyonya, Pangeran Alex minta maaf karena—”
“Oh, tidak perlu meminta maaf! Sungguh ini berita luar biasa,” potong Isabella nyaris melompat kegirangan. Kemudian ia merogoh kantong uangnya. Ada puluhan koin perak dan satu koin emas di dalamnya. Namun ia mengambil satu koin emas kemudian melemparkannya pada Matteo yang menangkapnya dengan gerakan reflek. “Untukmu karena sudah membawa kabar baik,”
“Nyonya?” seru Matteo, matanya membulat.
“Cepat, panggilkan Mona! Katakan padanya aku ingin anggur terbaik sekarang juga!?” titah Isabella tak memberi kesempatan pada pengawal itu untuk protes.
Matteo langsung mengangguk patuh kendati isi kepalanya gaduh. Di matanya, Isabella anomali. Di saat para wanita lain berlomba ingin menarik perhatian sang pangeran, ia justru memilih menjauh seolah pangeran itu kuman.
…
Matteo keluar dari paviliun dengan otak yang kosong. Ia menunggangi kuda miliknya menuju istana Rose, di mana Alex Harrington sedang berdiri mematung sembari menyesap anggur mahal dengan rahang yang mengeras.
Alex sebetulnya merasa bersalah karena tidak menemui istri barunya di malam pertama mereka. Bagaimanapun, tanggung jawab politik memaksanya untuk bermalam di istri pertama.
Ketika Matteo menghampirinya, Alex bertanya penasaran. “Bagaimana reaksinya?”
Matteo terdiam beberapa saat.
“Dia menangis? Dia pasti marah,” ucap Alex menyimpulkan. Helaan napas berat lolos dari bibirnya.
Matteo berdehem canggung, tangannya meremas koin emas di sakunya. “Maaf, Yang Mulia. Nyonya Isabella tidak menangis atau marah. Beliau justru memberikan hamba koin emas sebagai hadiah karena membawa berita itu.”
Alex menurunkan gelas bertangkai di tangannya. Matanya memicing. “Hadiah?”
“Nyonya terlihat sangat bahagia, Yang Mulia. Bahkan hamba mendengar tadi ia mengucapkan syukur lalu menyuruh pelayan Mona untuk membawakannya anggur terbaik istana,”
Brakkk!
Alex menaruh gelas Venesia itu ke atas meja dengan keras hingga isi di dalamnya memercik. “Dia bilang apa? Syukur?”
Seketika udara terasa menipis. Yang terdengar hanya deru napasnya sendiri.
“Menarik,” desisnya lirih, tatapannya lurus ke depan. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis.
Bahagia? Syukur?
Seharusnya gadis itu kecewa dan sedih mendengar kabar suaminya tidak datang saat malam pengantin mereka, pikirnya.
Alex berubah pikiran. Ia memutuskan untuk pergi ke paviliun Honeysuckle.
Pria berwajah tampan tapi dingin itu menoleh ke arah pengawalnya. “Siapkan kuda sekarang!”
Dengan langkah cepat, sang pengawal menyeret kakinya untuk menyiapkan kuda untuknya.
Kini Alex sudah berada di depan pintu Paviliun Honeysuckle. Ia mengetuk pintu dengan ritme pelan.
Seorang pelayan terhenyak saat melihat kedatangannya. Sang putra mahkota berdiri dengan aura yang kharismatik dan intimidatif.
Gegas, ia membungkuk hormat. “Yang Mulia—” kata-katanya terputus. Bahkan sebelum selesai berbicara.
Hanya dengan melihat tatapan Alex, pelayan itu langsung menguak daun pintu dengan lebar, memberi ruang sang pangeran untuk masuk.
Tanpa sepatah kata pun Alex melesak masuk ke dalam paviliun lalu berjalan menuju kamar tidur Isabella. Pangeran itu berhenti sejenak di depan pintu, jemarinya menyentuh cincin perunggu yang dingin. Perlahan ia mendorongnya. Dan, engselnya berdecit lirih. Rupanya, istri ke duanya tidak mengunci kamarnya.
Ketika pintu terbuka, Isabella terkesiap melihat siapa yang datang. Cangkir porselen import yang dipegangnya nyaris jatuh. Untunglah, ia buru-buru menaruhnya di atas meja kendati dalam perasaan yang ketar-ketir akibat tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat kedatangan pangeran yang tiba-tiba.
“Yang Mulia,” seru Isabella menegakkan tubuhnya, terpaksa. Ia melakukan hormat sebagai formalitas. “Hamba mengira … Anda sedang berada di istana Rose bersama Putri Helena.”
Alex tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, setiap hentakan sepatu duckbill miliknya di lantai terasa menyesakkan dada Isabella.
Langkahnya berhenti tepat di depan istrinya. Sangat dekat. Isabella bahkan bisa menghidu aroma maskulin yang menguar dari tubuh liatnya.
Alex menatap Isabella lekat. Matanya bergulir, memindai penampilannya dari pucuk kepala hingga ujung kaki.
Isabella mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih yang hanya dilapisi jubah tidur yang longgar. Tentu saja, gaun itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut madunya terurai berantakan. Sekilat, ia seperti seorang wanita yang memang sedang menantikan kehadiran suaminya.
Namun, bagi gadis itu, tentu saja ini bukan tentang malam pertama yang senantiasa didambakan oleh kaum hawa, melainkan kekecewaan besar karena merasa waktu pestanya terusik.
“Kau memberikan koin emas pada ajudanku hanya karena aku tidak datang, Isabella?” bisik Alex, suaranya parau di daun telinga Isabella.
Isabella tercekat. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan.
Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: P
Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang
“Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.
“Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu
Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran
Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat.
Roberto terjatuh dengan keras di atas kursi kayu. Ia tersentak mendengar kabar yang mengejutkan baru saja dari utusan istana Ashmond.Dengan tangan gemetar dan wajah yang menegang, pria paruh baya itu membaca perkamen bersegel hitam. Jantungnya terasa berpindah tempat membaca baris demi baris huruf
“Kenapa kau terkejut, Isabella Laurent?” bisik Alex dengan nada rendah yang meresahkan. Ia mencapit dagu gadis itu hingga ke dua netra mereka bertemu. Tatapannya berpindah dari wajah pucat Isabella tertuju pada cangkir berisi anggur di meja, lalu berpindah lagi wajah gadis itu. Rambut Isabella bera







