LOGINkilas balik Malam itu hujan turun sangat deras, namun teriakan di dalam ruang kerja Tuan Besar Wijaya jauh lebih menderu. Sari Adiwangsa, seorang wanita muda yang saat itu menjabat sebagai sekretaris pribadi kepercayaan keluarga, berdiri gemetar di hadapan Tuan Besar. Wajahnya pucat, tangannya mendekap perutnya yang mulai membuncit. "Aku mencintainya, Tuan Besar. Dan dia juga mencintaiku," bisik Sari dengan suara pecah. Tuan Besar Wijaya tidak bergeming. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kegelapan. "Cinta adalah racun bagi ahli waris Wijaya, Sari. Putraku sudah menikah dengan Rina. Pernikahan itu adalah pilar bisnis kita. Apa yang kau kandung saat ini... adalah aib yang bisa meruntuhkan segalanya." Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Bramasta, putra tunggal Tuan Besar sekaligus suami Rina, masuk dengan napas memburu. Pakaiannya basah kuyup karena hujan. Ia langsung berdiri di depan Sari, melindunginya dari tatapan tajam ayahnya. "Hentikan, Ayah!" teriak Br
Suara langkah kaki Ibu Rina bergema di koridor yang sunyi saat ia menuruni tangga, mengabaikan tatapan bingung para pelayan yang melihatnya pergi dengan wajah sedingin es. Di taman, Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok mertuanya muncul di ambang pintu kaca, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dia sudah pergi," bisik Luna, jemarinya masih kotor oleh tanah dari pot melati. "Tapi sorot matanya tadi... dia benar-benar tidak akan membiarkanku tenang, Arkan." Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sapu tangan dari saku jasnya, meraih tangan Luna, dan mulai mengusap noda tanah di jemari istrinya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Ibu bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan," ujar Arkan, matanya fokus pada tangan Luna. "Baginya, kegagalan hanyalah penundaan kecil. Dia akan mencari cara lain untuk menyerangmu." Luna menarik tangannya dengan gusar, merasa tidak nyaman dengan perhatian Arkan.
Ibu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak
Tuan Besar Wijaya tersenyum puas melihat cincin itu melingkar di jari manis Luna. Baginya, permata itu telah menemukan pemilik yang tepat, namun bagi Ibu Rina, kilauan berlian itu terasa seperti bara api yang membakar harga dirinya. "Terima kasih... Kakek," bisik Luna. Berat cincin itu seolah melambangkan beban baru yang harus ia pikul di rumah ini. "Sudah, jangan sungkan. Arkan, bawa istrimu istirahat setelah makan . Wajahnya masih pucat," perintah Tuan Besar sambil menyeka bibirnya dengan serbet sutra. " Rina, ikut aku ke ruang kerja. Ada beberapa dokumen yayasan yang ingin aku bahas bersamamu." Ibu Rina tersentak. Ia sempat melirik tajam ke arah tangga, teringat bahwa Dokter Hendra mungkin masih bersembunyi di atas. Namun, perintah mertuanya adalah titah yang tak terbantahkan. Dengan langkah kaku, ia mengekor di belakang Tuan Besar, meninggalkan Arkan dan Luna di ruang makan yang mendadak terasa hampa. Begitu mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Arkan langsung mele
Langkah kaki Tuan Besar Wijaya yang berat dan detak tongkatnya terhenti tepat saat pintu di lantai atas terbuka. Arkan muncul sambil merangkul bahu Luna dengan sangat protektif. Meski wajah Luna masih terlihat pucat di balik bedak tipisnya, ia berusaha memberikan senyum kecil yang dipaksakan. "Kakek!" seru Arkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap berwibawa. Tuan Besar Wijaya mendongak. Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh selidik, perlahan-lahan berubah menjadi cerah saat melihat sosok wanita yang berdiri di samping cucu kesayangannya. "Arkan... jadi ini istrimu?" gumam Tuan Besar. Senyum tipis mulai muncul di wajah tuanya yang keras. Saat Arkan memandu Luna turun dan sampai di hadapan Tuan Besar, Arkan segera memperkenalkan istrinya. "Kek, perkenalkan. Ini Luna, istri Ku. Maaf kami belum sempat sowan ke kediaman Kakek." Luna membungkuk dengan sangat hormat, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik gaunnya. "Selamat siang, Tuan
"Tidak! Jangan sentuh aku!" jerit Luna, tubuhnya meronta saat tangan-tangan dingin para pelayan mencengkeram bahunya. Namun, kekuatan mereka jauh melampaui tubuhnya yang sudah lemas karena tekanan batin. Dokter Hendra mendekat, wajahnya tanpa ekspresi saat ia menyiapkan alat suntik dan tabung baru. Cahaya lampu kamar yang mewah kini terasa seperti lampu ruang interogasi yang menyilaukan. "Ibu, hentikan! Ini penghinaan bagi istriku!" Arkan berteriak dari ambang pintu, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua pengawal bertubuh kekar. "Apakah Ibu sudah tidak mempercayai putra Ibu sendiri?" Ibu Rina berbalik perlahan, menatap Arkan dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku lebih percaya pada fakta medis daripada pada putra yang matanya telah dibutakan oleh wanita rendahan. Jika dia memang bersih, kenapa kamu harus gemetar, Arkan? Lakukan, Hendra!" Tepat saat jarum itu nyaris menyentuh kulit Luna, pintu kamar terbuka . Alex masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya menu







