Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG DUDA / 2.Alarm Di Pagi Hari

Share

2.Alarm Di Pagi Hari

Author: nophie
last update Last Updated: 2025-10-20 17:55:36

Alarm di samping tempat tidur Shania berbunyi nyaring. Tangannya menggapai ponsel dan mematikan suara mengganggu itu dengan gerakan kasar.

"Uaaahhh..." Shania meregangkan badan, masih setengah tertidur. Baru kemudian ia menyadari ada sosok lain di sebelahnya Calista yang masih terlelap seperti bayi.

Kayaknya ia lupa, kalau tadi malam ia sudah sangat ngantuk jadi ia tidak ingat kapan sahabatnya nyusul tidur. Ia langsung lari ke kamar mandi menunaikan hajat di pagi hari di kamar mandinya yang nyaman. Setelah ia selesai, ia baru ingat bahwa ia belum membangunkan sahabatnya yang katanya akan pergi ke kantor menyerahkan berkas di waktu weekend seperti ini.

Shania juga menarik korden sehingga cahaya matahari yang masih malu2 pun masuk kedalam ruang tidur yang masih dingin dengan semburan AC itu.

"Lah kan katamu kamu mau masukin dokumen ke kantor pusat. Kamu sudah sadar kan? Emang bener janjian sama bos kamu itu hari sabtu? Emang kantor kamu buka? ” cecar Shania sambil mematut dirinya di kaca, setelah berusaha membangunkan sahabatnya itu.

"Bangun! Aku mau cari sarapan, kamu mau ikut atau nggak?" Tanya Shania sambil memoleskan krim perawatannya yang mahal, yang baru ia beli dari korea. Perawatan wajah itu penting karena itu assetnya yang paling ia jaga, selain ia juga menjaga bentuk badan dan asupan makanannya.

“Gak deh! Masih terlalu pagi, shayyy!”

Berbeda dengan Calista yang lebih tampil apa adanya tanpa memikirkan krim perawatan. Kecantikan alami Calista terpancar tanpa polesan apa apa.

Bahkan tubuh langsing dan berisi di tempat tempat tertentu menambah nilai poin buat Calista, karena ia tampak seksi tanpa usaha apapun.

Shania menarik selimut dengan frustrasi. "Kamu tahu nggak kalau rejeki dipatuk ayam kalau bangun kesiangan?"

Calista mengernyit, wajah masih tertanam di bantal. "Manusia era apa sih masih percaya tahayul begitu?"

"Lah katanya mau ke kantor? Janjian sama bos jam 9 kan?"

"Bener... tapi kantornya tutup. Aku cuma ketemu Mas Erwin buat serah terima dokumen," gumam Calista, suara serak. "Abis itu baru kita bisa makan siang bareng, pokoknya aku harus ketemu dulu sama mantan Head HRD itu dulu..."

Shania menghela napas. “ Tapi aku mau keluar sekarang loh, aku mau cari sarapan soalnya aku lapar berat, aku cuma takut ntar km kesiangan! Karena aku keluar cari makan, jadi pulangnya ga terprediksi gitu." Jelas Shania sambil meraih clutch berisi dompet dan ponselnya serta menyampirkan itu di bahunya.

“Ga pa pa! Aku juga sudah bikin alarm kok!! Dah, sana kamu keluar cari sarapan dulu. Jangan lupa kamu beliin aku beliin bubur ayam ya, jadi pas aku bangun dah ada makanan gitu, oke?” kata Calista berusaha mengusir sahabatnya, supaya ia bisa segera tidur lagi.

“Enak banget hidup luuu ya, udah numpang masih dapet sarapan gratis aja. Dah gitu main usir usir aja, kayak yang punya apartemen aja.”keluh Shania dengan nada bercanda.

“Masyaallllahhhh say, masa kamu perhitungan banget, ntar kuganti jangan kuatirr!” decak Calista kesal karena Shania cerewet kayak mak mak kurang duit blanja.

“Ha ha ha aku becandaaa keleus, itu cuman becanda. Udah ah, aku dah laper to the max. Aku turun dulu ya, jangan lupa bangun kalau alarm kamu udah bunyi. Jangan molor mulu, ntar telat ke kantor.” nasihat Shania lagi.

“Hmm” jawaban Calista sukses membuat Shania kesal. Tapi ia tidak melakukan apa apa, karena ia tahu sahabatnya sudah masuk lagi ke alam mimpi. Entah mimpi apa ia semalam, Shania hanya bisa mengedikkan bahunya pasrah melihat kekeboan sang sahabat.

*

Drrttt... drttt...

Ponsel bergetar keras. Calista mengerang kesal. Tapi dia segera mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Sumpah, Shan! Baru saja keluar apartemen, udah nelpon lagi!! Kenapa sih? Kang buburnya ga jualan?" Cerocosnya kesal, sambil masih memejamkan mata. Perkataannya juga judes serta ketus ia layangkan saat ia mengangkat panggilan telepon itu.

"Calista Mahendrata?"

Suara di telepon bukan Shania. Melainkan suara laki-laki yang dalam dan sangat berat. Suaranya juga terdengar sangat berwibawa, membuat Calista membelalakkan mata karena saking terkejutnya.

Calista tersentak. "M-Mas Erwin?!"

“Iya saya Erwin. Bukan tukang bubur! “ Calista langsung menepuk jidatnya karena ia tadi lalai tidak melihat siapa yang menelepon terlebih dahulu.

"Dokumennya bisa diserahkan sekarang. Saya sudah di kantor." Lanjut pria itu dengan datar dan dingin. Kayak pria kurang asupan nutrisi aja.

"Saya baru bangun tidur juga mas, jadi nyawa saya juga belum terkumpul sempurna. Jadi maafkan kalau saya mengira mas Erwin itu temen saya yang jahil. Maaf mas, tapi baru jam 6.30, sedangkan janji pertemuan itu baru jam 09.00, pak!" Ia melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 6.30 pagi.

Lagian pagi amat yak udah nyampe ke kantor, ga ada kerjaan lainlah? Mau merangkap jadi satpam juga? Gila bener nih mantan kepala HRD, dedikasinya sungguh luar biasa, keluh Calista dalam hati.

"Saya beri waktu tambahan 30 menit. Jangan terlambat!!!" Jadi maksudnya jam 07.00 in the morning, Calista harus sampai di kantor. What the F*CK!!! Caca hanya berani misuh misuh dalam hati saja. Ya Tuhan ampunilah!!!

" Iya mas, saya segera meluncur, saya di apartemen Belleza, deket dengan lokasi kok, mas. Saya jamin, mas ga akan menunggu lama." sahut Calista dengan buru buru turun dari ranjangnya yang nyaman, dan tanpa basa basi.

Klik.

Tapi telepon di seberang sana sudah dimatikan, tanpa menunggu argumen yang diberikan oleh Calista, sehingga wanita itu hanya bisa marah marah dalam hati saja.

Calista melompat dari tempat tidur dan langsung tersandung selimut yang melingkupinya.

Gubrak!

"ADUH, sakitttt!" Keluhnya kesal. Ya Tuhan, pagi pagi udah sial aja! Pertanda apa ini ya Allah?

Dia terjatuh telungkup di karpet, tangan masih memegang ponsel. Tak sempat mengeluh, matanya menatap jam: 6.35, guyss!!

"Shan! SHAN! BANTU AKU—!" teriaknya panik, tapi apartemen sepi. Ia lupa kalau sahabatnya, Shania sudah keluar untuk membeli sarapan untuknya.

Dengan gemetar, Calista melihat dokumen yang seharusnya ia baca terlebih dahulu dan pelajari untuk bertemu dengan pak Erwin itu. Tapi sangking dia sampai di apartemen sudah terlalu malam, jadi ia belum sempat membaca.

Hanya sudah mempersiapkan amplop coklat yang bertuliskan "Untuk Erwin H. CONFIDENTIAL."untuk ia pelajari pagi ini.

Karena melihat waktunya berdetak begitu cepat sehingga Calista tidak sempat mandi hanya mengusap mukanya dengan air, lalu berpakaian, Untung dia sudah siap dengan blazer milik Shania dan langsung berangkat dengan tas serta dokumen itu.

Ya Allah, mudah mudahan tidak terlambat!! Gumamnya dalam hati ..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   26. Bertemu Camer

    Erwin tahu kalau kekasihnya itu sangat cantik. Bahkan tanpa make up sekalipun ia sudah tampak cantik dan menggairahkan.Tapi ia tidak menyangka setelah di make over dan mengenakan dress dari Vania, Caca tampak menarik dan lebih dewasa. Terkesan anggun dan eh .. seksi.Biasa disebut sebagai Polar Midi Dress dengan material premium cotton tami, yang berwarna biru muda sesuai dengan kemeja yang Erwin pakai, juga potongan dada yang sedikit rendah membuat dada Caca terlihat penuh dan membuat Erwin menelan saliva-nya dengan kasar. Karena sesuatu dibawah sana, mulai menggeliat naik. Sehingga Erwin harus menenangkan dirinya sendiri."Winnnn!!! Caca-nya sudah siap." teriak Vania dengan usil, ia tahu kalau Erwin terpana dengan apa yang tersaji di hadapannya itu. Caca yang biasanya tampil tanpa make up sekarang memakai make up natural yang membuatnya tampak cantik dan anggun."Oh e hmm cantik!" kata Erwin berlawanan dengan apa yang diomongkan oleh Vania. Dia terlanjur terpesona dengan calon istr

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   25. Sugar Baby vs Sugar Daddy

    Bisa dibilang kecantikan dari Calista itu membuat Erwin tidak pernah bosan untuk menatapnya. Walaupun terlihat sederhana namun sungguh enak dipandang mata.Tapi dilihatin begitu terus menerus membuat Caca menjadi risih sehingga dia menegur Erwin dan berkata, "Kenapa sih ngelihatinnya kayak gitu, ayo fokus nyetirnya!" kata Caca dengan wajah memerah. “Aku sedang menatap bidadari, masa tidak boleh sih?”Eh wanita itu kalau digombalin seneng kan? Begitu pula dengan Calista, ia bahagianya kayak terbang ke langit ke 7.“Yang fokus nyetirnya, jangan rayuannya saja yang difokusin.”Calista berusaha mengingatkan Erwin supaya lebih fokus melihat jalan daripada hanya sekedar melihat dirinya terus-menerus."Iya tuan putri. KIta mampir ke PI mall dulu ya, aku mau menemui teman." kata Erwin yang sekarang fokus dengan jalanan di depannya."Cowo apa cewe?" tanya Caca secara langsung tanpa berpikir."Cewe!" sahut Erwin singkat."Oh!!" Caca hanya menjawab singkat dan membuang wajahnya ke arah jendela

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   24. Bibir Candu

    Akhirnya tiba saat weekend. Dimana untuk pertama kalinya Erwin benar-benar menantikan saat ini tiba. Biasanya meskipun weekend Erwin tidak akan peduli karena yang dia pikirkan hanyalah bekerja dan bagaimana dia bekerja dengan penuh dedikasi. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya weekend merupakan hari yang ditunggu tunggu oleh Erwin, karena hari ini ia janji bertemu dengan maminya Caca. Lebih tepatnya Erwin akan bertemu dengan keluarga besar dari Caca, untuk meminang secara langsung Caca kepada orang tuanya.Karena ingin memberikan first impression yang terbaik maka persiapan untuk kesana bener bener dipikirkan oleh Erwin. Maklumlah ia ingin menggaet perhatian sang calon mertua, dan juga keluarga besar dari Caca. Tentu ia ingin memperlihatkan yag terbaik. All out lah, kata anak jaman sekarang. Jadi mulai dari penampilan, apa yang akan dibawa oleh Erwin juga merupakan hal yang sangat dipikirkan oleh laki-laki itu."Win, kamu sudah siapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   23.Mantan Duda ...

    "Mas, sumpek nih! Geseran dikit duduknya ngapa? Kan masih banyak tempat!" seru Caca yang sewot karena tubuhnya yang mungil dipeluk erat oleh mas Erwin-nya itu.“Biarin gini dulu ya sayang! Gak tahu kenapa tadi aku takut banget, ”kata Erwin tanpa mau melepaskan pelukannya sama sang pujaan hati."Emang takut apa?" tanya Caca heran."Takut kamu meninggalkan aku,"kata Erwin sambil masih terus memejamkan mata menghidu aroma manis dari tubuh Calista nya itu."Aku??""Iyalah, siapa lagi calon istri aku kalau bukan kamu,"sahut Erwin dengan sedikit sewot."He he he ya maaf, aku tadi bener bener kepikiran sama kinerja aku yang jauh banget sama kamu jadinya bete,"kata Calista dengan malu-malu. Sejujurnya wanita itu tidak nyangka kalau Erwin sampai segitu bucinnya."Lain kali kamu bisa diskusikan itu sama aku jadi kamu gak kepikiran berlebihan kayak tadi. Bikin aku senewen aja!"gerutu Erwin dengan nada kesal. Tapi dia sangat bersyukur karena ternyata Calista bukan ingin meninggalkannya."Aku??""

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   22. Mupeng!!!

    Sementara di apartemen Belleza, Caca baru saja makan malam. semua makanan yang di belikan oleh Rein disikat habis oleh Caca seorang diri."Hah! Kenyangnya.Pasti nanti Shania sewot dengan makanan yang sudah habis ini." monolognya sambil terkekeh geli. Ia mengusap perutnya yang membuncit. Bak ular yang habis memakan mangsanya.Ia langsung membereskan bekas bekas makanannya dan ingin segera bersantai di kasur yang nyaman dan mungkin langsung molor setelah makanannya tercerna dengan rapi di perutnya.Saat ia sedang bersandar di headboard kasurnya yang nyaman, tiba tiba ponselnya berdering dan tampillah nama pak Arya CEO di sana.Caca heran dengan hal itu, perasaan tadi gak ada pekerjaan tertunda yang belum ia kerjakan di kantor, ia berusaha membereskannya karena ia tidak mau dianggap tidak bisa menyaingin pak Erwin yang selalu sempurna sebagai seorang kepala HRD."Iya halo Pa!" kata Caca setelah mengangkat sambungan ponselnya."Halo, Ca! Ini papa, papa bukannya bermaksud ikut campur. Tapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   21. Galau

    Kringg… kringg …Bel apartemen berbunyi.Shania sudah turun ke bawah setelah dijemput oleh Reino, jadi praktis hanya dia sendiri yang ada di apartemen.Akhirnya dengan kesal Calista membuka pintu apartemen Shania. Ternyata yang datang adalah makan malam yang dijanjikan oleh Shania kepadanya. Matanya membulat tak percaya melihat banyaknya makanan yang di belikan Shania kepadanya. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shania.Tiba tiba ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. "Itu makanan kita buat seminggu, jangan dihabisin semua." hilanglah rasa beruntung yang tadi dipikirkan oleh Calista mengenai Shania. Dia langsung auto membalas."Kalau gak ikhlas beliin makan, ga usah saja!" katanya sewot dalam pesan singkat itu.Tiba tiba ponselnya bergetar tanda ada telepon atau pesan singkat lagi.Ternyata panggilan video dari Shania masuk. Ketika ia swipe terima panggilan tiba tiba suara tertawa ngakak tak berakhlak terdengar di telinganya."Kamu sensi amat sih, bebb!!" kata Shania

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status