Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG DUDA / 3. Pertemuan Pertama

Share

3. Pertemuan Pertama

Author: nophie
last update Last Updated: 2025-10-20 17:56:37

Satu jam sebelumnya..

Waktu memang masih menunjukan pukul 6 pagi. Dan di kantoran Adinata corp. yang mewah sekarang menjadi rumah kedua Erwin Hadinata, ia memang pekerja keras sehingga di kantor tersiar kabar berita kalau Erwin akan diangkat jadi CEO pengganti menggantikan pak Andreas Arya Hadinata, CEO sekaligus OWNER dari Adinata Corp.

Memang tidak banyak yang tahu kalau dirinya adalah anak sulung dari pak Andreas, karena ia masuk tanpa referensi dari bokapnya itu, melainkan dengan kerja keras sendiri.

Apalagi ia juga bukan memulai dari tingkatan tertinggi tapi merangkak dari bawah, sehingga ia benar-benar menguasai perusahaan milik bokapnya itu dari posisi rendah sampai sekarang ini.

Ia punya rumah pribadi dan sebuah apartemen mewah yang ada di bilangan Jakarta Pusat, tapi tidak terpakai lagi, karena ia tak pernah pulang dan selalu menginap di kantor.

Bahkan rumah pribadinya yang ada di daerah dekat kantor, juga nganggur dan hanya ditempati oleh para asisten rumah tangga dan tukang kebun serta satpam.

Sebenernya ia diminta tinggal bersama orang tuanya yang tinggal di kawasan yang sama dengan dirinya di PI, karena mereka hanya tinggal seorang diri sejak adik perempuannya yang sudah menikah memilih tinggal bersama suaminya di Amerika.

Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Erwin memilih tinggal di ruangan pribadi kantornya, dan terus menerus bekerja bagaikan kuda? Alasan terbesar adalah karena rumah di kawasan PI itu menjadi saksi terpuruknya kehidupannya, dimana ia harus kehilangan istri dan anaknya, 4 tahun yang lalu, akibat kecelakaan yang merengut nyawa istri dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya.

Semenjak kejadian itu, Erwin menjadi pribadi yang dingin, dan tak bergairah dalam menghadapi wanita manapun.

Bekerja, bekerja dan bekerja, tujuannya untuk menghilangkan rasa sakit akibat perginya dua orang yang ia kasihi.

***

Siang ini, Erwin harus ketemuan dengan gadis yang menggantikan posisinya menjadi kepala HRD dan juga mentrainingnya.

Tapi karena makan siang nanti ia harus menggantikan mamanya menjaga papanya di rumah sakit, ia berniat menemui gadis itu sekarang. Memang agak mendadak, mudah mudahan gadis itu sudah sampai di Jakarta.

Setelah melihat CV gadis itu dan menyalin no ponselnya di smartphone miliknya, Erwin langsung mendial no telpon gadis itu.

"Sumpah, Shan! Baru saja keluar apartemen, udah nelpon lagi!! Kenapa sih? Kang buburnya ga jualan?" jawaban judes serta ketus yang diterima Erwin, membuat dirinya mengernyitkan keningnya,menjauhkan ponselnya dan mencocokan no yang ia panggil, ternyata nomernya bener.

"Calista Mahendrata?"tanya Erwin memastikan panggilannya apakah bener dengan gadis itu atau bukan.

"M-Mas Erwin?!"

“Iya saya Erwin. Bukan tukang bubur! “ lanjut Erwin dingin, what the heck? bayangan dirinya dianggap tukang bubur oleh gadis yang akan menggantikan jabatannya membuat Erwin sedikit tersentil. Orang tampan kayak gini kok ya dianggap tukang bubur.

"Dokumennya bisa diserahkan sekarang. Saya sudah di kantor."

"Saya baru bangun tidur juga mas, jadi nyawa saya juga belum terkumpul sempurna. Jadi maafkan kalau saya mengira mas Erwin itu temen saya yang jahil. Maaf mas, tapi baru jam 6.30, sedangkan janji pertemuan itu baru jam 09.00, mas!" eh gadis itu malah minta perpanjangan waktu. No way, karena dia tadi sudah menganggap dirinya tukang bubur, maka gadis ini harus dikerjain, ia harus mau berangkat sekarang juga, jadi setelahnya Erwin punya waktu santai sebelum ke rumah sakit. Entah kenapa mengerjain gadis polos penggantinya itu terasa begitu mengasyikan. Kejadian yang ga pernah ia alami sebelumnya.

"Saya beri waktu tambahan 30 menit. Jangan terlambat!!!"

" Iya mas, saya segera meluncur, saya di apartemen Belleza, deket dengan lokasi kok, mas. Saya jamin, mas ga akan menunggu lama."

Klik, Erwin langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu argumen yang diberikan oleh Calista.

***

"Mbak, kita udah nyampe di kantornya mbak." kata abang ojol yang dipakai oleh Calista.

Abang ojol yang ceria yang dari tadi menghibur perasaan Calista yang tidak karuan gara-gara kejadian bersama kepala HRD-nya itu.

" Makasih ya Bang ini uang pembayaran perjalanan tadi. Sisanya Abang bawa aja dan Terima kasih sepanjang perjalanan tadi Abang sudah menghibur saya." rasanya perjalanan tadi membuat Calista tersuntik semangat Abang ojol yang dari tadi dengan ceria menceritakan hal-hal lucu kepadanya.

" Wah, Terima kasih ya Mbak! Ternyata selain Mbaknya ini cantik juga baik hati, wah pagi-pagi udah dapat pelanggan yang cantik seperti ini bisa membuat hari ojol saya jadi semakin ramai." kata abang ojol itu dengan semangat, bayangkan uang pembayaran yang ga sampai 20rebu tapi dikasi duit 50rebu. Kan untung ya.

" Ha ha ha si abang bisa saja. Makasih ya bang! Semoga hari ini laris manis!" seru Calista sambil berlari masuk ke dalam lobby perusahaan, sambil menebar senyum kepada satpam kantor yang nampak ramah, ia mendekati mereka dan memberikan name tag untuk kepentingan absen dan tanda pengenal yang sudah di kirim ke kantornya jauh hari sebelum ini.

" Oh namanya mbak Calista, pengganti pak Erwin ya menjadi kepala bagian HRD?" tanya Satpam yang bername tag Aswan.

" Iya pak Aswan. Salam kenal ya, pak!" sahut Calista ramah.

" Padahal hari ini kan libur ya? Kok udah masuk aja?"

" He he he, lha gimana lagi? Pak Erwin minta berkas berkas saya masuk hari ini. Sekaligus mungkin memberikan pelatihan super cepat. Agar hari senin saya bisa langsung bekerja, tanpa harus merepotkan dia lagi." sahut Calista masih setia memamerkan senyum ala iklan pasta gigi. Calista ingin menampilkan kesan baik dihadapan calon bosnya itu, jadi ia harus ramah dan supel sama orang kayak Aswan dan teman satpam nya itu.

" Oalah! Penggantinya pak Erwin ya? Kalau pak Erwin emang orang yang sangat cerdas, juga berdedikasi, rajinnya beuhhh. Bahkan sudah 4 tahun ini ia kadang tidur kantor loh. Karena saking berdedikasinya."

" Hush kamu jangan bikin gosip, Wan!" bantah temannya sesama Satpam, yang bername tag Arifin.

" Eh bener, tadi malam saja ia ga pulang, rumornya dia bakal naik jabatan makanya dia persiapan." sahut Aswan enteng.

" Ohhh luar biasa banget ya pak!" sahut Calista sambil bergidik ngeri. Bayangkan kalau aku disuruh nglembur kayak gitu, ihhh ga banget! pikir Calista lagi sambil melihat ke jam tangannya, ia harus segera masuk kalau tidak mau menerima banyak hujatan dari pak Erwin.

" Pak saya langsung naik ke ruang meeting ya. Soalnya ditunggu pak Erwin nih! Takut kena bola panas kalau ga segera diturutin." canda Calista sambil bergegas naik lift yang tersedia di lobby.

" Siap mbak! Sukses ya!"

Calista hanya melambaikan tangannya, meninggalkan acara nge Ghibah pagi itu karena pintu lift sudah terbuka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   26. Bertemu Camer

    Erwin tahu kalau kekasihnya itu sangat cantik. Bahkan tanpa make up sekalipun ia sudah tampak cantik dan menggairahkan.Tapi ia tidak menyangka setelah di make over dan mengenakan dress dari Vania, Caca tampak menarik dan lebih dewasa. Terkesan anggun dan eh .. seksi.Biasa disebut sebagai Polar Midi Dress dengan material premium cotton tami, yang berwarna biru muda sesuai dengan kemeja yang Erwin pakai, juga potongan dada yang sedikit rendah membuat dada Caca terlihat penuh dan membuat Erwin menelan saliva-nya dengan kasar. Karena sesuatu dibawah sana, mulai menggeliat naik. Sehingga Erwin harus menenangkan dirinya sendiri."Winnnn!!! Caca-nya sudah siap." teriak Vania dengan usil, ia tahu kalau Erwin terpana dengan apa yang tersaji di hadapannya itu. Caca yang biasanya tampil tanpa make up sekarang memakai make up natural yang membuatnya tampak cantik dan anggun."Oh e hmm cantik!" kata Erwin berlawanan dengan apa yang diomongkan oleh Vania. Dia terlanjur terpesona dengan calon istr

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   25. Sugar Baby vs Sugar Daddy

    Bisa dibilang kecantikan dari Calista itu membuat Erwin tidak pernah bosan untuk menatapnya. Walaupun terlihat sederhana namun sungguh enak dipandang mata.Tapi dilihatin begitu terus menerus membuat Caca menjadi risih sehingga dia menegur Erwin dan berkata, "Kenapa sih ngelihatinnya kayak gitu, ayo fokus nyetirnya!" kata Caca dengan wajah memerah. “Aku sedang menatap bidadari, masa tidak boleh sih?”Eh wanita itu kalau digombalin seneng kan? Begitu pula dengan Calista, ia bahagianya kayak terbang ke langit ke 7.“Yang fokus nyetirnya, jangan rayuannya saja yang difokusin.”Calista berusaha mengingatkan Erwin supaya lebih fokus melihat jalan daripada hanya sekedar melihat dirinya terus-menerus."Iya tuan putri. KIta mampir ke PI mall dulu ya, aku mau menemui teman." kata Erwin yang sekarang fokus dengan jalanan di depannya."Cowo apa cewe?" tanya Caca secara langsung tanpa berpikir."Cewe!" sahut Erwin singkat."Oh!!" Caca hanya menjawab singkat dan membuang wajahnya ke arah jendela

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   24. Bibir Candu

    Akhirnya tiba saat weekend. Dimana untuk pertama kalinya Erwin benar-benar menantikan saat ini tiba. Biasanya meskipun weekend Erwin tidak akan peduli karena yang dia pikirkan hanyalah bekerja dan bagaimana dia bekerja dengan penuh dedikasi. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya weekend merupakan hari yang ditunggu tunggu oleh Erwin, karena hari ini ia janji bertemu dengan maminya Caca. Lebih tepatnya Erwin akan bertemu dengan keluarga besar dari Caca, untuk meminang secara langsung Caca kepada orang tuanya.Karena ingin memberikan first impression yang terbaik maka persiapan untuk kesana bener bener dipikirkan oleh Erwin. Maklumlah ia ingin menggaet perhatian sang calon mertua, dan juga keluarga besar dari Caca. Tentu ia ingin memperlihatkan yag terbaik. All out lah, kata anak jaman sekarang. Jadi mulai dari penampilan, apa yang akan dibawa oleh Erwin juga merupakan hal yang sangat dipikirkan oleh laki-laki itu."Win, kamu sudah siapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   23.Mantan Duda ...

    "Mas, sumpek nih! Geseran dikit duduknya ngapa? Kan masih banyak tempat!" seru Caca yang sewot karena tubuhnya yang mungil dipeluk erat oleh mas Erwin-nya itu.“Biarin gini dulu ya sayang! Gak tahu kenapa tadi aku takut banget, ”kata Erwin tanpa mau melepaskan pelukannya sama sang pujaan hati."Emang takut apa?" tanya Caca heran."Takut kamu meninggalkan aku,"kata Erwin sambil masih terus memejamkan mata menghidu aroma manis dari tubuh Calista nya itu."Aku??""Iyalah, siapa lagi calon istri aku kalau bukan kamu,"sahut Erwin dengan sedikit sewot."He he he ya maaf, aku tadi bener bener kepikiran sama kinerja aku yang jauh banget sama kamu jadinya bete,"kata Calista dengan malu-malu. Sejujurnya wanita itu tidak nyangka kalau Erwin sampai segitu bucinnya."Lain kali kamu bisa diskusikan itu sama aku jadi kamu gak kepikiran berlebihan kayak tadi. Bikin aku senewen aja!"gerutu Erwin dengan nada kesal. Tapi dia sangat bersyukur karena ternyata Calista bukan ingin meninggalkannya."Aku??""

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   22. Mupeng!!!

    Sementara di apartemen Belleza, Caca baru saja makan malam. semua makanan yang di belikan oleh Rein disikat habis oleh Caca seorang diri."Hah! Kenyangnya.Pasti nanti Shania sewot dengan makanan yang sudah habis ini." monolognya sambil terkekeh geli. Ia mengusap perutnya yang membuncit. Bak ular yang habis memakan mangsanya.Ia langsung membereskan bekas bekas makanannya dan ingin segera bersantai di kasur yang nyaman dan mungkin langsung molor setelah makanannya tercerna dengan rapi di perutnya.Saat ia sedang bersandar di headboard kasurnya yang nyaman, tiba tiba ponselnya berdering dan tampillah nama pak Arya CEO di sana.Caca heran dengan hal itu, perasaan tadi gak ada pekerjaan tertunda yang belum ia kerjakan di kantor, ia berusaha membereskannya karena ia tidak mau dianggap tidak bisa menyaingin pak Erwin yang selalu sempurna sebagai seorang kepala HRD."Iya halo Pa!" kata Caca setelah mengangkat sambungan ponselnya."Halo, Ca! Ini papa, papa bukannya bermaksud ikut campur. Tapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   21. Galau

    Kringg… kringg …Bel apartemen berbunyi.Shania sudah turun ke bawah setelah dijemput oleh Reino, jadi praktis hanya dia sendiri yang ada di apartemen.Akhirnya dengan kesal Calista membuka pintu apartemen Shania. Ternyata yang datang adalah makan malam yang dijanjikan oleh Shania kepadanya. Matanya membulat tak percaya melihat banyaknya makanan yang di belikan Shania kepadanya. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shania.Tiba tiba ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. "Itu makanan kita buat seminggu, jangan dihabisin semua." hilanglah rasa beruntung yang tadi dipikirkan oleh Calista mengenai Shania. Dia langsung auto membalas."Kalau gak ikhlas beliin makan, ga usah saja!" katanya sewot dalam pesan singkat itu.Tiba tiba ponselnya bergetar tanda ada telepon atau pesan singkat lagi.Ternyata panggilan video dari Shania masuk. Ketika ia swipe terima panggilan tiba tiba suara tertawa ngakak tak berakhlak terdengar di telinganya."Kamu sensi amat sih, bebb!!" kata Shania

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status