LOGIN"Ehm, pak! Halooo.." kata Calista sambil melambaikan tangannya karena Erwin hanya bengong, karena sibuk menenangkan debar jantungnya. hal yang sudah lama tak pernah ia rasakan selama 4 tahun ia hidup bagaikan raga tanpa jiwa, karena ia kehilangan istri dan anaknya dalam waktu bersamaan.
" Eh sorry, aku gak maksud gitu sih. Melamun maksudku! Oh ternyata kamu juga pernah kerja di kantor pusat ? Kok aku ga tau ya?" Erwin sedikit bingung karena ia ga pernah melihat Calista di kantor pusat. Tapi ia juga sadar kalau setiap orang yang punya jabatan di kantor cabang harus berasal dari seleksi kantor pusat. Itu kebijaksanaan langsung dari papanya, Andreas Arya Hadinata. Yang sering dikenal oleh pegawainya sebagai A.A. Hadinata. " Ha ha ha mungkin karena mas Erwin jabatannya tinggi. Apalah saya ini mas? Cuman saya kemari karena direkomen oleh salah satu pimpinan di perusahaan ini." kata Calista sedikit bangga. Ia tersenyum mengingat masa lalunya saat pernah bekerja di kantor pusat. Erwin jadi merasa penasaran. Siapa pimpinan yang merekomen gadis ini? "Wah, kok bisa? Siapa orang itu? Wah berarti kamu masuk karena ada orang dalam ya?" tanya Erwin masih dalam mode penasaran. Mereka berjalan ke lift sambil berbincang santai. Maklumlah karena kantor off kerja jadi ya benar benar ga ada orang disini. Apalagi lantai atas ini emang hanya dihuni oleh kepala bagian dan level pimpinan sekelas CEO dan sekretaris direksi. " Pak Arya." jawab Calista dengan enteng, bahkan ia sudah memencet tombol lift menuju lobby, ia bahkan tidak melihat wajah Erwin yang menegang karena nama yang ia sebutkan. "CEO?" tanya Erwin meyakinkan, tapi untuk apa papanya merekomendasikan gadis ini? Dan bagaimana ia kok malah ga tau menahu? Erwin berencana mencecar dan menyeldiki info ini. siapa tahu ayahnya bermain api? "Ha ha ha iya." sahutnya dengan nada renyah, membuat Erwin tak bisa melepaskan pandangannya kepada gadis ini. "Wah koneksi kamu tinggi juga." kata Erwin sedikit sarkas. Tapi Calista yang positif thinking tidak menganggap itu dengan berlebihan. " Huum, makanya aku bisa masuk ke perusahaan segede ini. Padahal aku gak punya pengalaman apa apa." jawab Calista lagi dengan jujur dan penuh senyum, seakan hal yang ia lakukan itu bukanlah hal yang melanggar. " Bagaimana bisa?" tanya Erwin lagi. Ia yakin besok senin pas rapat direksi, gadis ini akan kaget karena dirinya yang jadi pengganti CEO yang baru. " Ya, dulu sekitar 8 tahun yang lalu, aku hendak melamar jadi pegawai disini, apa aja lah yang penting bisa kerja, karena aku baru lulus SMA, dan aku ingin melanjutkan ke jenjang S1. Semua harus dilakukan sendiri mas, sejak papi meninggal gak ada yang kasih aku duit buat sekolah jadi sarjana. Sedangkan, dulu papi, mami bersama adikku laki lakiku emang tinggal di daerah. Aku kos di sini karena sekolah. Hari itu aku menolong pak Arya yang hendak dirampok. Trus diajak kerja disini sebagai staf admin. Gitu mas!" singkat Calista sambil melangkah keluar menyembunyikan wajah sendu saat ia harus bercerita tentang keluarganya. Entah kenapa, ia merasa santai saja bercerita masa lalunya. Padahal Erwin adalah orang yang baru dikenalnya. Sedang yang tahu persis kehidupannya selama ini hanyalah Shania, tempat ia berbagi kamar kos sejak SMA. " Apa? Kamu menolong pa.. ehm pak Arya dari kerampokan?" Erwin terdiam sambil memandang tubuh mungil nan sexy dihadapannya itu dengan tatapan tak percaya. " Eh anda ga percaya?" tanya Calista sambil menaikan satu alisnya, ia merasa tatapan Erwin itu tatapan penuh kesangsian. Harga dirinya tersentil karena Erwin meremehkan dirinya. Mereka berjalan bersama menuju Cafe yang letaknya hanya disebelah kantor itu. Mata gadis gadis dan pria pria lajang yang di dalam cafe, langsung tercuri dengan memandangi Erwin dan Calista yang berjalan berdua dengan tatapan terpesona, Erwin dengan pesona dinginnya, serta Calista yang terlihat cantik dan hangat. Tapi mereka berdua tak peduli, mereka masih asik dengan dunianya sendiri, bahkan mengacuhkan waiters yang sudah siap disamping mereka. Mereka masih asik dengan pembicaraannya, walau ada orang di samping mereka yang menunggu pesanan. " Yah.. gimana ya?" Erwin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat tubuh mungil itu membuat gelenyar aneh di tubuhnya. Perasaan yang sangat membuat dirinya nyaman bersama gadis itu. " Saya ban hitam karate mas, saya juga sering ikutan kompetisi karate tingkat nasional yang dikirim oleh sekolahan." ujar Calista bangga. Tubuhnya boleh mungil tapi kuat dan bertenaga. “ Hah? Masa?” Kalau lihat postur tubuh Calista, gak akan ada yang mengira kalau tubuh kecil dan membesar di area area yang memang semestinya itu adalah pemilik ban hitam karate. Secara penampilan, fisiknya tu terlihat feminim dan tak terlihat berotot. " Waktu itu saya hendak berangkat melamar kerja ke kantor ini, tiba-tiba saat saya turun dari angkot ada segerombolan orang yang yang mencurigakan. Tepatnya mereka bergerombol di samping lorong ke arah pintu lobby samping itu lho, Mas! Awalnya saya enggak terlalu memperhatikan sih, tapi tiba-tiba ada teriakan minta tolong, jadi saya menghampiri gerombolan orang dan seorang laki-laki paruh baya yang akhirnya saya tahu namanya adalah Pak Arya. Yeaah,, kemudian saya mencoba menolong Pak Arya dari gerombolan orang itu. Kata pak Arya, mereka memang disuruh oleh lawan bisnis Pak Arya untuk mengambil dokumen yang saat itu dibawa oleh Pak Arya. Nah, gitu deh ceritanya!" kata Calista dengan bersemangat. Sambil menuliskan pesanannya ke kertas yang disodorkan oleh waiters yang menunggu disamping. Begitu pula dengan Erwin yang sudah menuliskan pesanannya terlebih dahulu, rupanya Erwin sangat kelaparan, karena baik dia dan Calista memang melewatkan masa sarapannya. " Pasti orang laki-lakinya cemen cemen tuh masa bisa kalah dengan 1 orang gadis yang mungil seperti kamu ini. By the way, memangnya ada berapa sih laki-laki yang mengeroyok Pak Arya waktu itu?" Tanya Erwin dengan nada mencemooh. Dia kok sangat yakin ya kalau orang yang mengeroyok papanya waktu itu pasti tidak lebih dari 2 orang. si Calista pasti melebih-lebihkan dengan menggambarkan bahwa orang yang mengeroyok ada banyak karena ia memakai kata ‘segerombolan’. " Kalau nggak salah inget sih sekitar 5 atau 6 orang ya. Mereka itu kayaknya seperti bodyguard yang berpengalaman, karena memakai baju hitam yang kayak jas itu lho Mas." " Wah kamu hebat juga bisa mengalahkan 5 atau 6 orang sekaligus, apalagi kalau menurut penggambaran mu orang-orang yang mengeroyok itu pasti profesional ya." " Saya belajar karate emang dari kecil mas, dulu papi saya adalah guru karate, Ibu saya juga atlet nasional karate jadi kayaknya karate itu sudah mendarah daging." Jelaskan Calista sambil membolak-balik menu yang ada dihadapannya padahal Waiters yang menunggu pesanan sudah kembali ke dapur mungkin untuk menyiapkan pesanan mereka berdua. " Tapi mereka semua kalah sama kamu?" tanya Etwin memastikan. " Huum, pak Satpam baru datang kemudian." Calisa menganggukkan kepala dengan yakin sehingga Erwin tahu kalau Calista sedang menjelaskan situasi saat itu. " Kamu ga kena pukulan?" Erwin kembali menilik kondisi tubuh wanita yang mencuri perhatiannya itu dengan seksama. Ia masih agak sangsi dengan apa yang dikatakan Calista, walau ia tahu kalau Calista ga boong. "Ya kena lah mas, namanya juga bela diri ..." sahut Calista masih dengan aktivitasnya membolak balik menu. Erwin hanya bisa manggut manggut kagum dengan Calista. " Kamu ini membolak-balik buku menu. Emangnya kamu masih lapar dan mau pesan lagi? Yang tadi aja belum dimakan masa kamu ingin pesan lagi sebenarnya kapasitas perut kamu itu seberapa sih? Kayaknya badannya kecil tapi masa makannya banyak?" cibir Erwin karena si Calista hanya merhatiin gambar makanan di buku menu. " He he he, saya penyuka makanan soalnya mas! Tapi syukurlah saya belum pernah melar sedikitpun walau ritme makan saya banyak. " kata Calista sambil menatap Erwin. Drrtt drrtt Ponsel milik Erwin berbunyi, sontak Erwin melirik ke ID caller ponselnya, Erwin langsung mendengkus ketika ia melihat ID caller peneleponnya. " Kok ga diangkat mas? Ponselnya bunyi tuh." kata Calista sambil menunjuk-nunjuk ponsel Erwin. " Sebentar saya angkat telepon dulu ya!" Erwin meninggalkan Calista yang hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil menikmati minuman yang sudah diantar oleh waiters tadi. Erwin berjalan menjauhi meja tempat dia dan Calista duduk. Dia berjalan keluar ke arah beranda Cafe itu, baru kemudian dia mengangkat panggilan teleponnya.Erwin tahu kalau kekasihnya itu sangat cantik. Bahkan tanpa make up sekalipun ia sudah tampak cantik dan menggairahkan.Tapi ia tidak menyangka setelah di make over dan mengenakan dress dari Vania, Caca tampak menarik dan lebih dewasa. Terkesan anggun dan eh .. seksi.Biasa disebut sebagai Polar Midi Dress dengan material premium cotton tami, yang berwarna biru muda sesuai dengan kemeja yang Erwin pakai, juga potongan dada yang sedikit rendah membuat dada Caca terlihat penuh dan membuat Erwin menelan saliva-nya dengan kasar. Karena sesuatu dibawah sana, mulai menggeliat naik. Sehingga Erwin harus menenangkan dirinya sendiri."Winnnn!!! Caca-nya sudah siap." teriak Vania dengan usil, ia tahu kalau Erwin terpana dengan apa yang tersaji di hadapannya itu. Caca yang biasanya tampil tanpa make up sekarang memakai make up natural yang membuatnya tampak cantik dan anggun."Oh e hmm cantik!" kata Erwin berlawanan dengan apa yang diomongkan oleh Vania. Dia terlanjur terpesona dengan calon istr
Bisa dibilang kecantikan dari Calista itu membuat Erwin tidak pernah bosan untuk menatapnya. Walaupun terlihat sederhana namun sungguh enak dipandang mata.Tapi dilihatin begitu terus menerus membuat Caca menjadi risih sehingga dia menegur Erwin dan berkata, "Kenapa sih ngelihatinnya kayak gitu, ayo fokus nyetirnya!" kata Caca dengan wajah memerah. “Aku sedang menatap bidadari, masa tidak boleh sih?”Eh wanita itu kalau digombalin seneng kan? Begitu pula dengan Calista, ia bahagianya kayak terbang ke langit ke 7.“Yang fokus nyetirnya, jangan rayuannya saja yang difokusin.”Calista berusaha mengingatkan Erwin supaya lebih fokus melihat jalan daripada hanya sekedar melihat dirinya terus-menerus."Iya tuan putri. KIta mampir ke PI mall dulu ya, aku mau menemui teman." kata Erwin yang sekarang fokus dengan jalanan di depannya."Cowo apa cewe?" tanya Caca secara langsung tanpa berpikir."Cewe!" sahut Erwin singkat."Oh!!" Caca hanya menjawab singkat dan membuang wajahnya ke arah jendela
Akhirnya tiba saat weekend. Dimana untuk pertama kalinya Erwin benar-benar menantikan saat ini tiba. Biasanya meskipun weekend Erwin tidak akan peduli karena yang dia pikirkan hanyalah bekerja dan bagaimana dia bekerja dengan penuh dedikasi. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya weekend merupakan hari yang ditunggu tunggu oleh Erwin, karena hari ini ia janji bertemu dengan maminya Caca. Lebih tepatnya Erwin akan bertemu dengan keluarga besar dari Caca, untuk meminang secara langsung Caca kepada orang tuanya.Karena ingin memberikan first impression yang terbaik maka persiapan untuk kesana bener bener dipikirkan oleh Erwin. Maklumlah ia ingin menggaet perhatian sang calon mertua, dan juga keluarga besar dari Caca. Tentu ia ingin memperlihatkan yag terbaik. All out lah, kata anak jaman sekarang. Jadi mulai dari penampilan, apa yang akan dibawa oleh Erwin juga merupakan hal yang sangat dipikirkan oleh laki-laki itu."Win, kamu sudah siapi
"Mas, sumpek nih! Geseran dikit duduknya ngapa? Kan masih banyak tempat!" seru Caca yang sewot karena tubuhnya yang mungil dipeluk erat oleh mas Erwin-nya itu.“Biarin gini dulu ya sayang! Gak tahu kenapa tadi aku takut banget, ”kata Erwin tanpa mau melepaskan pelukannya sama sang pujaan hati."Emang takut apa?" tanya Caca heran."Takut kamu meninggalkan aku,"kata Erwin sambil masih terus memejamkan mata menghidu aroma manis dari tubuh Calista nya itu."Aku??""Iyalah, siapa lagi calon istri aku kalau bukan kamu,"sahut Erwin dengan sedikit sewot."He he he ya maaf, aku tadi bener bener kepikiran sama kinerja aku yang jauh banget sama kamu jadinya bete,"kata Calista dengan malu-malu. Sejujurnya wanita itu tidak nyangka kalau Erwin sampai segitu bucinnya."Lain kali kamu bisa diskusikan itu sama aku jadi kamu gak kepikiran berlebihan kayak tadi. Bikin aku senewen aja!"gerutu Erwin dengan nada kesal. Tapi dia sangat bersyukur karena ternyata Calista bukan ingin meninggalkannya."Aku??""
Sementara di apartemen Belleza, Caca baru saja makan malam. semua makanan yang di belikan oleh Rein disikat habis oleh Caca seorang diri."Hah! Kenyangnya.Pasti nanti Shania sewot dengan makanan yang sudah habis ini." monolognya sambil terkekeh geli. Ia mengusap perutnya yang membuncit. Bak ular yang habis memakan mangsanya.Ia langsung membereskan bekas bekas makanannya dan ingin segera bersantai di kasur yang nyaman dan mungkin langsung molor setelah makanannya tercerna dengan rapi di perutnya.Saat ia sedang bersandar di headboard kasurnya yang nyaman, tiba tiba ponselnya berdering dan tampillah nama pak Arya CEO di sana.Caca heran dengan hal itu, perasaan tadi gak ada pekerjaan tertunda yang belum ia kerjakan di kantor, ia berusaha membereskannya karena ia tidak mau dianggap tidak bisa menyaingin pak Erwin yang selalu sempurna sebagai seorang kepala HRD."Iya halo Pa!" kata Caca setelah mengangkat sambungan ponselnya."Halo, Ca! Ini papa, papa bukannya bermaksud ikut campur. Tapi
Kringg… kringg …Bel apartemen berbunyi.Shania sudah turun ke bawah setelah dijemput oleh Reino, jadi praktis hanya dia sendiri yang ada di apartemen.Akhirnya dengan kesal Calista membuka pintu apartemen Shania. Ternyata yang datang adalah makan malam yang dijanjikan oleh Shania kepadanya. Matanya membulat tak percaya melihat banyaknya makanan yang di belikan Shania kepadanya. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shania.Tiba tiba ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. "Itu makanan kita buat seminggu, jangan dihabisin semua." hilanglah rasa beruntung yang tadi dipikirkan oleh Calista mengenai Shania. Dia langsung auto membalas."Kalau gak ikhlas beliin makan, ga usah saja!" katanya sewot dalam pesan singkat itu.Tiba tiba ponselnya bergetar tanda ada telepon atau pesan singkat lagi.Ternyata panggilan video dari Shania masuk. Ketika ia swipe terima panggilan tiba tiba suara tertawa ngakak tak berakhlak terdengar di telinganya."Kamu sensi amat sih, bebb!!" kata Shania







