Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG DUDA / 4. Hati Yang Berdetak

Share

4. Hati Yang Berdetak

Author: nophie
last update Last Updated: 2025-10-20 17:58:12

Ting..Pintu lift itu terbuka, Calista langsung mencari cari ruangan yang dimaksud oleh mas Erwin, di teleponnya tadi. Dan untung aja ketemu, ia langsung masuk setelah mengetuk pintu.

" Maaf mas, saya Calista HRD yang dari kantor cabang Bandung. Dengan mas Erwin kan?" tanya Calista dengan ramah dan penuh senyum.

Orang laki laki yang ada di dalam ruangan meeting hanya diam dan memandangi wajah gadis yang mengaku bernama Calista dari atas sampai bawah, kemudian terdiam cukup lama sampai Calista akhirnya mendekati dan melambaikan tangan ke arah mas Erwin yang tertegun melihat Calista, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Pertemuan pertama yang mendebarkan Erwin.

" Mass.. " Calista memanggilnya sekali lagi, sehingga Erwin terlonjak merasa terkejut dengan teriakan Calista yang terakhir.

Erwin merasa familiar dengan wajah Calista. Dan dengan jujur hatinya berkata kalau gadis cantik dihadapannya menarik perhatian dan membuat hatinya sedikit berdetak lebih kencang. Hal yang tidak pernah terjadi selama 4 tahun setelah kematian orang orang yang dikasihinya.

Bagi Erwin, sekilas bentuk tubuh dan keseksian Calista mirip dengan mendiang istrinya. Padahal ia tahu kalau Calista datang dengan apa adanya, hanya memakai celana kain 7/8 warna hitam, Blazer putih ketat lengan panjang yang menampilkan lekuk tubuhnya, dan rambutnya yang panjang tergerai indah. Walau tampak simple dan tidak memakai make up, Calista tampak mempesona dan menarik perhatian.

" Ehm, oya silahkan duduk." kata Erwin pura pura datar dan dingin, menyembunyikan getaran perasaan di dada.

" Baik mas, eh pak!"

" Kenapa panggilannya ganti pak? Apa saya kelihatan tua?" Erwin sedikit tersentil, walau ia sadar usianya pasti jauh lebih tua dibanding gadis dihadapannya itu.

" Ehm saya tadi dengar rumor kalau bapak bakal naik jabatan, cukup tinggi, jadi saya ga enak kalau panggilnya mas. Padahal kan junior, harus hormat dengan senior." kata Calista menghindar, padahal ia bisa memperkirakan usia Erwin itu mungkin sekitar 35 tahun, jadi beda 10 tahunan dengan dirinya, kalau dipanggil mas kok rasanya kurang sopan.

" Kalau belum tahu kebenarannya, ada lebih baik kalau pakai panggilan yang biasanya saja. Kesannya membedakan strata sosial." kata Erwin dengan dingin.

" Oh maaf, pak! Jadi pakai panggilan mas aja? Saya hanya ga mau terlihat kurang sopan aja. Ha ha ha soalnya saya kan anak baru." tawa renyah Calista mengalihkan dunia Erwin. Ingin Erwin terus menatap Gadis manis dihadapannya itu. Tapi ia sadar, kalau itu ga sopan.

" Sudahlah! Terserah kamu mau manggil apa. I prefer you call me ' Mas'. Mana berkas yang saya minta? Surat rekomendasi kantor cabang juga kamu bawa kan?" tanya Erwin mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya. Begitu pula dengan Calista yang mulai tenggelam dengan pekerjaannya dengan Erwin.

Karena Calista adalah easy going dan juga cerdas, maka ia bisa dengan tenang menyelesaikan apa yang diminta. Bahkan apa yang diajarkan oleh Erwin nyantol dengan cepat di otak cerdas Calista.

"Jadi kamu sudah mengerti apa saja yang menjadi tugas kamu kan?" tanya Erwin sambil menatap ke netra Caliista. Sejujurnya ia sangat mengagumi kecerdasannya.

" Siap dong mas! Rekrutmen dan seleksi. Melakukan training dan development. Compensation and benefit, Personnel Administration, Penilaian kinerja karyawan. Ah juga membuat Career planning. Serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Oh juga merancang program bermanfaat di dalam perusahaan. Gitu ya mas? " Calista bisa dengan mudah merangkum dan menjabarkan ulang apa saja yang sudah dipaparkan oleh Erwin. Suatu nilai tambah yang membuat Erwin tambah kagum dengan gadis di hadapannya itu.

" Tepat sekali! Itu teory yang perlu kamu ketahui. Tapi ingat, ini bukan sekolahan, yang terpenting adalah kerja nyata, bukan sekedar teory. Kalau kamu ada pertanyaan bisa langsung menghubungi saya." jelas Erwin lagi. Kalau nantinya ia sah menjadi CEO, ia harap Calista bakal jadi orang yang bisa ia andalkan.

" Tentu mas! Saya mengerti, terimakasih buat short course nya. Kalau ada yang perlu di didiskusikan, saya masih boleh menghubungi mas Erwin dong?" tanya Calista basa basi, aslinya ia sangat segan dengan mas Erwin ini. Tatapan matanya yang dari tadi seakan memgintimidasi membuat Calista sedikit tidak nyaman.

" Saya berharap banyak dengan kamu. Silahkan bertanya apa saja yang kamu ga ngerti, perlahan aja belajarnya." kata Erwin masih dengn nada dingin. Tapi tatapan matanya membuat Calista salah tingkah.

" Baik mas. Kalau mas Erwin sudah selesai. Saya boleh pulang? Seingat saya, mas Erwin ada janji, makanya pertemuan kita dipercepat?" peringat Calista, karena seakan Erwin tidak selesai selesai membahas pekerjaan. Padahal tadi katanya ia mempercepat pertemuan karena ia ada janji lain.

Erwin terperangah, kesannya gadis ini ingin segera berlalu darinya. Tapi entah kenapa ia nyaman dengan gadis ini, sehingga ia ingin bersama dengan gadis ini lebih lama.Tidak biasanya ia memiliki chemistry dengan seorang gadis apalagi setelah kematian istri dan anaknya 4 tahun yang lalu. Ehm ada juga sedikit perasaan ga rela berpisah. Padahal ia juga sadar, kalau tadi awalnya ia ingin mempercepat pertemuannya dengan gadis ini.

" Saya tadi hanya ingin mengecek dedikasi kamu saja, apakah kamu berdedikasi atau tidak sih!." sahut Erwin sedikit menghindari tatapan Calista yang membuatnya berkesan sangat mendalam pada Temu Pertamanya itu. Membuat Calista cukup terkejut sehingga tersedak liurnya sendiri sehingga ia terbatuk batuk.

" Uhuk uhuk!"

" Nih minum! " Erwin menyodorkan botol minumnya yang segede gaban dan tanpa sadar Calista meminumnya karena tenggorokannya terasa panas.

" Makasih mas! Loh ini..." Calista langsung auto sadar kalau ia minum dari drink jar miliki mas Erwin. Pipinya merona, karena ia berpikir bahwa ia seperti berciuman secara tidak langsung dengan mas Erwin.

" Jangan berpikir yang tidak tidak. Ini masih baru kok, baru di siapkan oleh OB kantor."

" Saya hanya menolong kamu saja."

" Iya saya tahu mas!"

" Ayo sekalian kita makan siang di cafe kantor? Kamu pasti lapar kan karena tadi kesini kan baru bangun tidur, bahkan sampai ngigau tukang bubur." sindir Erwin lagi.

" Ha ha ha mas Erwin bisa saja. Iya soalnya saya baru nyampe tengah malam ke apartemen temen saya itu. Masih harus beberes dokumen dan barang barang saya juga. Jadi ingin bangun siang. Soalnya kan kita sebenarnya janjiannya siang hari, mana tahu kalau tiba tiba mas Erwin memajukan janji." jelas Calista sedikit menyindir kalau Erwinlah yang mengubah janji tapi tetap sambil tersenyum dan mengigit gigit bibirnya dengan latah kalau ia merasa cemas. Ya iyalah cemas, takut Erwin tersinggung juga.

" Saya tahu. Bahkan ini sudah hampir masuk jam makan siang. Pasti kamu kelaparan. "kata Erwin sambil membereskan berkas dan kertas kertas yang berserakan.

" Saya bantu mas!" kata Calista yang ga enak melihat Erwin sibuk sedangkan dirinya santai. Tapi emang dirinya tak membawa apa apa kecuali berkas di amplop coklat dan sling bag yang sudah ia siapkan malam tadi.

" Wah kalau begini, ntar kalau saya butuh asisten,bisa minta kamu untuk jadi asisten saya." mungkin Erwin ingin mencairkan suasana yang agak kaku. Maklum sudah lama Erwin tidak menjadi pribadi yang hangat apabila berhubungan dengan wanita. Tapi entah kenapa ia ga ingin dikenal sebagai pribadi yang dingin khusus untuk gadis di hadapannya ini.

" Ha ha ha kalau naik gaji bolehlah mas." Calista pada dasarnya adalah anak yang easy going. Mudah menyesuaikan diri pada situasi awkward sekalipun. Pribadinya riang, mandiri dan dewasa.

" Ayo, segera ke cafe kantor. Lokasinya sebelah kantor saja. Sebenernya cafe ini dibuka untuk masyarakat umum, jadi sekalipun kantor libur, cafe itu tetap buka." ajak Erwin sambil membawa berkas berkasnya dan memasukannya ke dalam tas kantor miliknya.

" Mas, kayak sedang orientasi deh. Mengenalkan spot spot di perusahaan kepada anak baru. Saya juga magangnya dulu di sini juga loh mas. Jadi sedikit banyak saya sudah tahu lingkungan kantor pusat." sanggah Calista sambil tersenyum ala iklan pasta gigi. Manis dan menarik perhatian Erwin!

Entah kenapa jantungnya berdebar kencang, kayak mau lepas dari tempatnya!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   26. Bertemu Camer

    Erwin tahu kalau kekasihnya itu sangat cantik. Bahkan tanpa make up sekalipun ia sudah tampak cantik dan menggairahkan.Tapi ia tidak menyangka setelah di make over dan mengenakan dress dari Vania, Caca tampak menarik dan lebih dewasa. Terkesan anggun dan eh .. seksi.Biasa disebut sebagai Polar Midi Dress dengan material premium cotton tami, yang berwarna biru muda sesuai dengan kemeja yang Erwin pakai, juga potongan dada yang sedikit rendah membuat dada Caca terlihat penuh dan membuat Erwin menelan saliva-nya dengan kasar. Karena sesuatu dibawah sana, mulai menggeliat naik. Sehingga Erwin harus menenangkan dirinya sendiri."Winnnn!!! Caca-nya sudah siap." teriak Vania dengan usil, ia tahu kalau Erwin terpana dengan apa yang tersaji di hadapannya itu. Caca yang biasanya tampil tanpa make up sekarang memakai make up natural yang membuatnya tampak cantik dan anggun."Oh e hmm cantik!" kata Erwin berlawanan dengan apa yang diomongkan oleh Vania. Dia terlanjur terpesona dengan calon istr

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   25. Sugar Baby vs Sugar Daddy

    Bisa dibilang kecantikan dari Calista itu membuat Erwin tidak pernah bosan untuk menatapnya. Walaupun terlihat sederhana namun sungguh enak dipandang mata.Tapi dilihatin begitu terus menerus membuat Caca menjadi risih sehingga dia menegur Erwin dan berkata, "Kenapa sih ngelihatinnya kayak gitu, ayo fokus nyetirnya!" kata Caca dengan wajah memerah. “Aku sedang menatap bidadari, masa tidak boleh sih?”Eh wanita itu kalau digombalin seneng kan? Begitu pula dengan Calista, ia bahagianya kayak terbang ke langit ke 7.“Yang fokus nyetirnya, jangan rayuannya saja yang difokusin.”Calista berusaha mengingatkan Erwin supaya lebih fokus melihat jalan daripada hanya sekedar melihat dirinya terus-menerus."Iya tuan putri. KIta mampir ke PI mall dulu ya, aku mau menemui teman." kata Erwin yang sekarang fokus dengan jalanan di depannya."Cowo apa cewe?" tanya Caca secara langsung tanpa berpikir."Cewe!" sahut Erwin singkat."Oh!!" Caca hanya menjawab singkat dan membuang wajahnya ke arah jendela

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   24. Bibir Candu

    Akhirnya tiba saat weekend. Dimana untuk pertama kalinya Erwin benar-benar menantikan saat ini tiba. Biasanya meskipun weekend Erwin tidak akan peduli karena yang dia pikirkan hanyalah bekerja dan bagaimana dia bekerja dengan penuh dedikasi. Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya weekend merupakan hari yang ditunggu tunggu oleh Erwin, karena hari ini ia janji bertemu dengan maminya Caca. Lebih tepatnya Erwin akan bertemu dengan keluarga besar dari Caca, untuk meminang secara langsung Caca kepada orang tuanya.Karena ingin memberikan first impression yang terbaik maka persiapan untuk kesana bener bener dipikirkan oleh Erwin. Maklumlah ia ingin menggaet perhatian sang calon mertua, dan juga keluarga besar dari Caca. Tentu ia ingin memperlihatkan yag terbaik. All out lah, kata anak jaman sekarang. Jadi mulai dari penampilan, apa yang akan dibawa oleh Erwin juga merupakan hal yang sangat dipikirkan oleh laki-laki itu."Win, kamu sudah siapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   23.Mantan Duda ...

    "Mas, sumpek nih! Geseran dikit duduknya ngapa? Kan masih banyak tempat!" seru Caca yang sewot karena tubuhnya yang mungil dipeluk erat oleh mas Erwin-nya itu.“Biarin gini dulu ya sayang! Gak tahu kenapa tadi aku takut banget, ”kata Erwin tanpa mau melepaskan pelukannya sama sang pujaan hati."Emang takut apa?" tanya Caca heran."Takut kamu meninggalkan aku,"kata Erwin sambil masih terus memejamkan mata menghidu aroma manis dari tubuh Calista nya itu."Aku??""Iyalah, siapa lagi calon istri aku kalau bukan kamu,"sahut Erwin dengan sedikit sewot."He he he ya maaf, aku tadi bener bener kepikiran sama kinerja aku yang jauh banget sama kamu jadinya bete,"kata Calista dengan malu-malu. Sejujurnya wanita itu tidak nyangka kalau Erwin sampai segitu bucinnya."Lain kali kamu bisa diskusikan itu sama aku jadi kamu gak kepikiran berlebihan kayak tadi. Bikin aku senewen aja!"gerutu Erwin dengan nada kesal. Tapi dia sangat bersyukur karena ternyata Calista bukan ingin meninggalkannya."Aku??""

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   22. Mupeng!!!

    Sementara di apartemen Belleza, Caca baru saja makan malam. semua makanan yang di belikan oleh Rein disikat habis oleh Caca seorang diri."Hah! Kenyangnya.Pasti nanti Shania sewot dengan makanan yang sudah habis ini." monolognya sambil terkekeh geli. Ia mengusap perutnya yang membuncit. Bak ular yang habis memakan mangsanya.Ia langsung membereskan bekas bekas makanannya dan ingin segera bersantai di kasur yang nyaman dan mungkin langsung molor setelah makanannya tercerna dengan rapi di perutnya.Saat ia sedang bersandar di headboard kasurnya yang nyaman, tiba tiba ponselnya berdering dan tampillah nama pak Arya CEO di sana.Caca heran dengan hal itu, perasaan tadi gak ada pekerjaan tertunda yang belum ia kerjakan di kantor, ia berusaha membereskannya karena ia tidak mau dianggap tidak bisa menyaingin pak Erwin yang selalu sempurna sebagai seorang kepala HRD."Iya halo Pa!" kata Caca setelah mengangkat sambungan ponselnya."Halo, Ca! Ini papa, papa bukannya bermaksud ikut campur. Tapi

  • ISTRI KONTRAK SANG DUDA   21. Galau

    Kringg… kringg …Bel apartemen berbunyi.Shania sudah turun ke bawah setelah dijemput oleh Reino, jadi praktis hanya dia sendiri yang ada di apartemen.Akhirnya dengan kesal Calista membuka pintu apartemen Shania. Ternyata yang datang adalah makan malam yang dijanjikan oleh Shania kepadanya. Matanya membulat tak percaya melihat banyaknya makanan yang di belikan Shania kepadanya. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Shania.Tiba tiba ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. "Itu makanan kita buat seminggu, jangan dihabisin semua." hilanglah rasa beruntung yang tadi dipikirkan oleh Calista mengenai Shania. Dia langsung auto membalas."Kalau gak ikhlas beliin makan, ga usah saja!" katanya sewot dalam pesan singkat itu.Tiba tiba ponselnya bergetar tanda ada telepon atau pesan singkat lagi.Ternyata panggilan video dari Shania masuk. Ketika ia swipe terima panggilan tiba tiba suara tertawa ngakak tak berakhlak terdengar di telinganya."Kamu sensi amat sih, bebb!!" kata Shania

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status