LOGINHayoo loh, Kalian di tim Naura-Arka atau Naura- Dion?? Jangan lupa terus ikutin cerita mereka ya, dijamin seru setiap babnya :D
Roda mobil mencicit tajam ketika Kevin membanting kemudi, menerobos gerbang utama resort dengan kecepatan penuh. Lampu darurat kendaraan berkedip cepat, membelah kegelapan malam Jeju yang mulai merayap di antara pepohonan dan bukit-bukit."Buka pintunya sekarang!" bentak Arka begitu mobil berhenti sempurna di depan pavilion resort.Kevin segera melompat turun dan menggeser pintu mobil. Arka keluar tanpa menunggu bantuan siapa pun. Tubuh Naura masih berada dalam gendongannya, terkulai lemas di dada. Rambut yang tadi ditata sempurna kini berantakan. Beberapa helainya menempel di wajah pucat wanita itu, sementara bagian bawah black slip dressnya masih basah dan dipenuhi sisa pasir pantai."Dokter Han sudah menunggu di dalam, Tuan!" seru Kevin sambil berlari membuka jalan.Langkahnya panjang dan tergesa-gesa. Rahangnya mengeras setiap kali pandangannya jatuh pada wajah Naura yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran."Sedikit lagi, Sayang... tahan ya." Bisikannya nyaris tid
Naura masih berdiri terpaku di dekat garis pantai. Satu tangannya mencengkeram pelipis, sementara tangan lainnya meremas kain black slip dress yang telah basah di bagian bawah. Angin laut terus menerpa tubuhnya, tetapi kali ini kesejukan itu sama sekali tidak mampu meredakan panas yang menjalar dari kepalanya.Napasnya semakin sesak. "Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"Naura mencoba menarik napas dalam-dalam. Namun, bukannya membaik, rasa mual justru semakin kuat. Laut di hadapannya tiba-tiba terlihat bergerak. Garis cakrawala yang sebelumnya lurus seolah bergoyang perlahan. Sisa cahaya matahari menyilaukan pandangannya hingga ia harus menyipitkan mata.Ia berkedip beberapa kali. Tidak membantu sama sekali. Tangannya meraba udara, mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan."Arka..."Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya. Tatapannya bergerak ke arah tempat Arka berdiri beberapa puluh meter dari sana. Pria itu masih membelakanginya, tampak serius berbicara melalui telepon.Naura ing
Sinar matahari pagi menyiram padang rumput hijau di sekitar greenhouse resort. Angin sejuk Jeju berhembus membawa aroma bunga-bunga liar yang tumbuh di sekeliling area serta semilir asin laut yang membentang tak jauh dari sana.Naura melangkah keluar dari villa dengan gaun tulle berwarna merah muda tanpa lengan. Bunga-bunga kecil terselip anggun di antara rambut blondenya yang ditata bergelombang. Di belakangnya, Kim Ji Eun dan asistennya mengikuti sambil membawa beberapa kotak kosmetik serta hand fan kecil."Nona, senyum sedikit dong. Mukanya tegang sekali," goda Ji Eun sambil merapikan bagian belakang gaun Naura yang menjuntai di atas rumput."Bagaimana tidak tegang, Ji Eun? Leherku rasa-rasanya masih diperhatikan banyak orang," bisik Naura, matanya melirik beberapa staf Indonesia yang tampak bersiap di depan pintu greenhouse."Sudah tertutup sempurna, tenang saja," balas Ji Eun terkekeh.Di area tangga greenhouse, Arka sudah berdiri menunggu. Pria itu tampil menawan dalam kemeja put
Suasana di dalam presidential villa jauh lebih sibuk daripada biasanya. Beberapa anggota tim photoshoot telah berdatangan membawa garment bag, koper makeup, perlengkapan kamera, serta berbagai properti untuk sesi pemotretan lanjutan. Dari ruang utama hingga kamar yang disulap menjadi temporary dressing room, orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.Naura duduk tegak di depan meja rias. Selama lima menit terakhir, wajahnya terus memerah. Bukan karena udara pendingin ruangan ataupun makeup yang sedang diaplikasikan ke wajahnya, melainkan karena sepasang mata di belakang tubuhnya yang sejak tadi terus memperhatikan lehernya."Jangan dilihat begitu, Ji Eun."Ji Eun menahan tawa. Ia mengangkat kuas makeup yang berada di tangannya, lalu mengarahkannya ke leher Naura. "Aigoo, aku tidak melihat apa pun. Aku hanya sedang bekerja, Nona."Naura menatap pantulan wanita itu melalui cermin. Ia spontan menarik robenya sedikit lebih tinggi. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus. "Eh
Naura meremas pinggiran meja rias itu hingga buku-buku jarinya memutih. Mata indahnya menatap pantulan leher serta dada bagian atasnya di cermin rias. Di sana, di atas kulitnya yang putih mulus, beberapa bercak kemerahan membekas amat jelas seolah sengaja dipamerkan."Arka!" Naura berbalik mendadak, membuat kursi yang didudukinya sedikit terdorong ke belakang. Ia menunjuk lehernya sendiri dengan jengkel. Wajahnya merona merah padam, campuran antara malu yang membakar dan amarah yang meletup-letup. "Aku benar-benar ingin membunuhmu, bajingan."Arka, yang berdiri tak jauh dari lemari pakaian tengah mengancingkan kemeja berwarna putih, ia menghentikan gerakannya sejenak. Pria itu menyugar rambutnya yang masih setengah basah ke belakang, lalu menatap Naura dengan tenang. Tatapan matanya teduh, seolah tidak merasa berdosa sedikit pun."Masih kelihatan, ya?” tanya Arka santai.Naura menoleh tajam sambil berdiri. "Masih kelihatan?" ulangnya dengan nada tinggi. "Coba lihat sendiri! Jangan pura
"Sudah, Arka... aahhh..." cletuk Naura pasrah. Sial sekali, mulutnya selalu saja berkhianat dari keinginan akal sehatnya setiap kali Arka memberikan sentuhan-sentuhan magis tersebut."Sudah atau lanjut, Sayang?" goda Arka. Jemari tangannya membuka perlahan area intim Naura, memperhatikan dengan jelas bagaimana area sensitif wanita itu yang sedikit membengkak dan basah akibat ulahnya. "Kamu sebecek ini loh?""Shut up. Itu semua gara-gara kamu, sialan!" balas Naura dengan napas masih memburu. Ia berusaha menoleh ke bawah, hanya untuk menyadari posisinya yang begitu terekspos di hadapan wajah Arka. Sebenarnya posisi ini sangat memalukan bagi Naura. Hanya saja, entah mengapa ketika merasakan usapan lidah dan hembusan napas pria itu di sana, rasa malu itu melayang terbang entah ke mana. "Arka... berhenti menjilatnya.""Enak, kan? Kamu mau juga?" tawar Arka dengan seringai tipis."Tidak," sahut Naura cepat tanpa berpikir. Yang benar saja, ia sama sekali tidak tertarik untuk mencicipi cairan
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







