เข้าสู่ระบบGimana, udh panas dingin belom baca bab ini? stay tuned terus ya, karena bab berikutnya adegannya bakalan bikin merinding sebadan-badan wkwk :P
Udara dingin malam kota Seoul merayap masuk melalui celah pintu penthouse Hannam-dong. Di dalam kamar utama, suasana terasa sangat sepi dan menekan setelah pertengkaran hebat yang menguras emosi. Lampu utama sudah dipadamkan, hanya menyisakan pendar lampu jalanan yang menembus jendela kaca besar.Naura terbaring kaku di tepi ranjang, membelakangi Arka. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir rasa panas di dada dan amarah yang terus bergulung di pikirannya. Bibirnya masih terasa perih. Sisa perlakuan brutal Arka yang membungkam penolakannya tanpa ampun.Di sampingnya, deru napas Arka terdengar teratur. Pria itu sudah tertidur lelap. Namun, satu lengan Arka melingkar erat di pinggang Naura, mengunci tubuh wanita itu rapat-rapat. pelukan itu seperti menegaskan bahwa Naura adalah miliknya dan tidak boleh pergi ke mana pun."Dasar pria menyebalkan!” gerutu Naura sangat pelan.Ia menatap kegelapan dinding dengan mata nanar. Rasa terkekang dan benci atas sikap
Mobil hitam itu berhenti merapat di basement penthouse Hannam-dong. Keheningan di dalamnya begitu pekat, jenis keheningan yang menyiksa hingga helaan napas pun terasa bagai percikan api di atas tumpukan jerami.Begitu pintu terbuka, Naura tidak menunggu Arka. Ia menyambar tasnya dan setengah berlari menuju lift privat. Pikirannya hanya satu: mengunci diri di kamar dan menghindari iblis tampan itu.Namun, Arka bergerak lebih cepat dari bayangannya.SRET!Sebelum pintu lift menutup, lengan Arka menahan sensor pintu. Pria itu masuk ke dalam lift, membawa aura intimidasi yang membuat ruangan itu mendadak kehilangan oksigen.Naura mundur hingga punggungnya membentur dinding kaca lift, dadanya naik turun. "Jangan dekat-dekat!"Arka tidak bersuara. Pria itu menekan tombol lantai teratas dengan tenang. Ketenangan itu justru seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan kasar.TING.Pintu lift terbuka langsung menyajikan pemandangan penthouse megah berlantai marmer hitam. Begitu kakinya meny
Udara dingin pertengahan musim gugur di puncak Namsan menusuk hingga ke tulang. Kereta gantung (Namsan Cable Car) baru saja bergerak turun, menyisakan Arka dan Naura yang berdiri di tengah riuhnya pelataran terbuka Namsan Seoul Tower. Di bawah sana, pemandangan kota Seoul terhampar luas bagaikan lautan cahaya keemasan. Namun, ketenangan malam itu buyar oleh langkah kaki Naura yang setengah berlari menuju deretan pagar besi yang sarat akan beban ratusan ribu gembok cinta.Naura merapatkan jaketnya, jemarinya mengelus dinginnya pagar besi di depannya. Matanya berbinar menatap tumpukan gembok berwarna-warni yang berkarat dimakan waktu."Arka, lihat deh! Lucu banget, banyak sekali orang yang pasang gembok di sini!" seru Naura antusias. Ia berbalik, menatap Arka yang melangkah kaku di belakangnya.Arka berdiri bersedekap dada. Trench coat hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam. Sorot matanya menatap pagar itu dengan tatapan datar tanpa minat."Hanya bongkahan besi bekas yang mengotori
Roda pesawat Gulfstream akhirnya menyentuh landasan Incheon International Airport dengan hentakan halus. Lampu indikator sabuk pengaman padam, disusul melodi denting khas pesawat.Naura yang sejak tadi gelisah di kursinya langsung melompat berdiri. Matanya berbinar menatap keluar jendela, memandangi kerlip lampu Kota Seoul yang menyambut mereka di kejauhan.“Arka, ayo cepat! Kita sudah sampai di Seoul!” panggil Naura antusias. Jemarinya menarik-narik lengan Arka dengan tidak sabar.Arka hanya mampu menghela napas panjang melihat tingkah calon istrinya. Sudut bibirnya terangkat tipis, berusaha menahan kekehan gemas. Pria itu segera meraih jemari Naura, menahannya agar wanita itu tidak melangkah terlalu tergesa-gesa.“Pelan-pelan, Sayang. Pesawatnya baru saja berhenti. Nanti kamu bisa jatuh.” Tegur Arka lembut.“Aku sudah tidak sabar, Arka!” Naura mengerucutkan bibirnya. “Langkahmu lambat sekali, seperti kakek-kakek saja deh.”“Aku hanya memastikan kamu tidak tersandung,” balas Arka ten
Leon tersenyum miring. Ia mengecup pipi Crystal lantas berbisik gemas, "Aku tidak akan membiarkan kamu klimaks sendirian tanpa aku masuki, Sayang."Sensasi dingin dari pendingin udara jet pribadi yang menerpa kulit telanjangnya beradu tajam dengan kehangatan membakar dari telapak tangan Leon. Crystal merinding hebat. Setiap inci saraf di tubuhnya seperti berteriak menuntut pelepasan dari siksaan racun pemicu gairah yang mengamuk di dalam darahnya.Leon mengangkat tubuh ramping Crystal dengan satu gerakan mantap, memposisikan wanita itu tepat di atas pangkuannya. Alis tebal sang sekretaris berkerut dalam, menahan gejolak liar yang nyaris meruntuhkan seluruh kontrol rasionalnya. Saat bagian inti mereka saling bersentuhan tanpa pembatas, erangan pelan terlepas serentak dari tenggorokan keduanya.Namun, bukannya langsung menerobos masuk, Leon justru menahan diri. Ada sisa ragu dan kepanikan yang terpancar samar dari iris mata Crystal yang sayu. Leon menyunggingkan senyum miring yang sarat
Pria dingin itu menegakkan tubuh Crystal. Tangannya masih menahan pinggang wanita itu agar tidak jatuh. Wajah sekretaris kepercayaan Arka itu tetap datar seperti manekin."Kamu tidak apa-apa?" tanya Leon dengan bariton yang dingin."S-saya cuma sedikit pusing, Tuan," bisik Crystal dengan suara serak.Jarak mereka cukup dekat. Leon mengangkat sebelah alisnya, mengamati wajah Crystal yang kemerahan, peluh yang membanjiri pelipis dan leher wanita itu, serta ritme dadanya yang naik turun begitu cepat. Insting Leon menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita ini.BUKKK!Tiba-tiba, pesawat dihantam turbulensi. Lampu indikator menyala merah. Cengkeraman Leon di pinggang Crystal dipererat untuk menyeimbangkan posisi mereka. Namun, dorongan turbulensi kedua yang lebih kuat melempar tubuh mereka berdua ke dinding lorong yang sempit.BRUKK!Dada bidang Leon menekan tubuh ramping Crystal ke dinding. Sentuhan dari tangan Leon di pinggangnya memicu ledakan gairah yang tak sanggup lagi ia be
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







