LOGINjangan lupa follow, komen, dan vote cerita ini ya, agar aku terus semangat menulis cerita ini :). terimakasih.
"SHUT YOUR MOUTH JERK!" teriak Naura frustrasi.Arka memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit akibat tertawa. Setelah tawa itu mereda, ia berkata, "Kamu kenapa sih marah-marah terus? Lagi PMS?" tanya Arka enteng. "Eh, tapi tidak juga. Kemarin aku lihat langsung, tidak ada darahnya. Yang ada malah cairan kenikmatan tuh."Wajah Naura sudah semerah kepiting rebus. Demi Tuhan, ia sungguh ingin menangis. Kalau membunuh tidak dosa, ia ingin membunuh Arka sekarang juga."Bisa-bisanya kamu berlagak santai setelah membuatku menjadi seperti ini hah?!" semburnya marah. "Seluruh badanku sakit, brengsek! Aku bahkan tidak bisa berdiri! Milikku juga perih sekali! Kamu benar-benar menyiksaku, bahkan sampai membuat aku pingsan! Sumpah, kamu tidak punya otak! Dasar musang birahi!"Ia menerjang maju dan menghajar tubuh Arka seperti samsak. Emosinya sudah tak terkendali. Bahkan saking kesalnya, ia sempat menjambak rambut Arka kuat hingga beberapa helai terlepas. Namun Arka tetap diam, membiarkan semu
Sisa asap hitam masih membubung tipis dari jendela lantai dua sebuah bangunan studio di sudut Jakarta Selatan itu. Bau sangit benda yang menjadi arang bercampur dengan aroma plastik properti foto yang meleleh akibat amukan si jago merah. Di sekeliling area, garis polisi berwarna kuning terang telah terpasang membentang, membatasi kerumunan orang yang saling berbisik.Dion berdiri terpaku di seberang jalan. Kedua tangannya tertanam di saku jaket. Matanya yang memerah menatap nanar papan nama "Halcyon Studio" yang kini sebagian hurufnya sudah hangus tak berbentuk."Mas Dion..." sang asisten mendekat dengan wajah muram. "Petugas damkar bilang api cuma sempat membakar sebagian ruangan di lantai dua, tepat jam enam pagi tadi. Untung saja lantai satu benar-benar aman, Mas. Dan... studio sedang kosong saat itu, jadi sama sekali tidak ada korban jiwa."Dion tidak merespons. Telinganya mendadak berdenging hebat. Kalimat bariton dingin dari sambungan telepon subuh tadi kembali terngiang, mencabi
JLEBB..."AAAKHHH! ARKAA BRENGSEKK...!"Pekik Naura lirih saat milik Arka kembali memenuhi dirinya.Hantaman tanpa aba-aba itu terasa begitu telak hingga seluruh udara di paru-paru Naura seolah lenyap dalam sekejap. Posisi kedua kaki jenjangnya yang bertumpu di atas bahu kokoh Arka membuat kejantanan pria itu, melesak tanpa hambatan, menghujam hulu rahimnya."Ahhh-hngghh... A-Arka... s-sakit, bajingan... s-stop it." Jerit Naura putus asa. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang sudah kusut dan lembap demi menahan gelombang sensasi yang menyerbu tubuhnya.Arka tak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Naura yang memerah. Pria itu menggeram rendah, urat-urat di lehernya menonjol tegang karena jepitan luar biasa ketat yang diberikan oleh dinding Naura yang belum sepenuhnya pulih dari orgasme sebelumnya.“Ughh! Mulutmu bisa bilang berhenti tapi milikmu ini masih mau, Sayang.” Ejek Arka sambil memompa pinggulnya kasar. Perkataannya itu memang benar terbukti dari dinding milik Naura y
“You seem loving my fingers,” goda Arka menyeringai tipis, jarinya terus menggasak lebih cepat liang itu. Ia sangat menikmati bagaimana wanitanya tunduk di bawah kungkungannya.“Onghhh….” Naura sudah akan menyerah. Namun di detik-detik menjelang pelepasan, Arka mencabut keluar jari-jarinya. Itu membuat Naura mengumpat di dalam hati.“W-why?” kalimat itu terlontar begitu saja. Itu membuat Naura sedikit terkejut dan langsung mengutuk dirinya sendiri.Arka yang melihat raut kesal dan kebingungan wanita itu membuatnya menyeringai puas. Ia kembali menyeret bibirnya di atas kulit halus Naura. Tangannya bergerak menganggkat pinggul Naura hingga bibirnya dan pusar wanita itu bersentuhan.Naura berdesir, meremang merasakan gesekan intens antara kulit mereka. Ia meremas rambut Arka ketika pria itu mencumbu pusat tubuhnya di bawah sana dengan lidahnya naik turun.“Ahhhh…” Naura terengah-engah ketika Arka menggigit kecil klitorisnya lalu menyesap rakus semua cairannya. Ia mencengkeram sprei dengan
Selama perjalanan kembali, tak ada percakapan yang terjalin di antara mereka. Suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Naura terus menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke luar jendela, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah. Ia bingung dengan respons tubuhnya sendiri, dan lebih bingung lagi melihat perubahan sikap Arka yang mendadak menjaga jarak setelah apa yang terjadiPadahal di balik kemudi, pria itu justru sedang bertarung dengan kewarasannya sendiri. Ia terus mengumpat dalam hati, memaki kejantanannya yang sedari tadi sudah menegang keras, berdenyut-denyut butuh pelepasan yang sesungguhnya. Bukan karena tak menginginkan Naura, melainkan karena ia menolak menjadikan mobil sport yang sempit sebagai tempat untuk malam yang telah lama ia nantikan. Naura berhak mendapatkan sesuatu yang lebih layak dan nyaman.Begitu mobil memasuki halaman resort mewah tempat mereka menginap, Arka langsung turun tanpa menunggu. Langkahnya lebar dan cepat, sementara tangannya bergerak memb
Tak memberi kesempatan bagi Naura untuk mengumpulkan kesadarannya, ciuman Arka langsung turun, menyusuri rahangnya sebelum beralih ke leher jenjang yang mulus. Pria itu menyesap kulit leher Naura dalam-dalam, meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang samar tapi jelas."Ahhh... Arka..." Naura mendesah lirih. Kepalanya terdongak pasrah ketika sensasi hangat dan menggelitik menjalar ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya mencengkeram rambut Arka di tengkuknya, seolah ingin menarik pria itu lebih dekat tenggelam di lehernya.Sementara itu, tangan besar Arka yang semula bertumpu di pinggang rampingnya perlahan bergerak turun, membelai paha jenjang yang tersingkap. Jemarinya merayap sedikit demi sedikit, melewati batas kain tipis hingga menyentuh bagian paling peka dari tubuh Naura dari balik pakaian dalamnya."Akh, Arka... stop..." Naura mengerang pelan. Tubuhnya melengkung tipis saat sensasi itu menghantamnya tanpa ampun.Namun Arka sudah terlalu tenggelam dalam hasratnya. Ciumannya merambat
Naura menarik kursi putih itu dengan sentakan kecil, berusaha keras mengabaikan gemuruh di dadanya yang belum juga mereda. Lilin-lilin mungil di dalam wadah kaca bergoyang lembut diterpa angin malam, memantulkan cahaya keemasan di atas meja yang telah ditata begitu elegan.Tak lama kemudian, beberap
Sayangnya, yang membuat jantungnya seolah diremas adalah apa yang terhampar di atas tempat tidur dan apa yang terlihat di dalam walk in closet yang pintunya terbuka setengah.Matanya membelalak sempurna saat menatap deretan gaun malam rancangan desainer ternama yang tergantung rapi berdasarkan grada
"Sekarang... tidak ada lagi Vanessa, tidak ada lagi pria miskin itu, dan tidak ada lagi alasan medis lainnya," bisik Arka dengan senyum tipis. Tatapannya menggelap oleh gairah yang tertahan sejak pagi. "Malam ini... kamu harus membayar seluruh hakku di atas ranjangku, Naura Callista Wijaya."Kalima
Tatapan Arka mengunci Naura tanpa ampun. Jarak yang tersisa di antara mereka begitu tipis hingga Naura bisa menangkap kilatan kemarahan sekaligus rasa memiliki yang begitu pekat di manik mata pria itu. Keheningan di dalam ruangan terasa semakin mencekik, hanya menyisakan deru napas yang saling berke







