로그인"ARKA!!!"Suara protesnya kembali memenuhi kabin tengah. "Aku tadi bicara panjang lebar dan yang otak monstermu tangkap cuma bagian itu? Seriously?"Arka terkekeh rendah, membuat wajah tampannya yang biasa kaku berubah jauh lebih hidup. "Bukannya itu bagian yang paling penting bagi kita berdua, hm?""MATAMU!!!"Arka menggelengkan kepalanya melihat respons menggemaskan itu. Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ketukan langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat dari lorong kabin.Crystal muncul kembali dengan senyum profesional yang merekah sempurna di bibirnya. Ia membawa baki perak dengan dua cangkir di atasnya, lalu berhenti tepat di samping kursi mereka dengan gerakan yang anggun."Tuan Arka, saya membawakan americano hangat tanpa gula untuk Tuan," ucap Crystal lembut, meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di sisi meja Arka.Kemudian, ia menoleh kepada Naura, senyumnya semakin manis. "Dan untuk Nona... saya sempat membaca manifest penerbangan dan preferensi
Deru mesin Gulfstream G700 memecah keheningan apron privat Mahardika Aviation ketika konvoi kendaraan hitam berhenti satu per satu di depan tangga pesawat. Panas terik siang hari memantul di badan pesawat yang mengkilap bak cermin raksasa. Logo Mahardika Aviation yang terlukis gagah di ekor pesawat tampak mencolok, menjadi simbol kemewahan yang sudah begitu akrab di kalangan pebisnis papan atas Asia.Pintu Rolls-Royce terbuka lebih dahulu. Naura turun tanpa menunggu siapa pun membukakan pintu untuknya. Topi yang menutupi sebagian rambut panjangnya sedikit ia rapikan sebelum melangkah cepat menuju tangga pesawat."Pelan-pelan, Sayang." Suara berat Arka terdengar tenang dari belakang.Naura tidak menoleh sama sekali. Langkahnya justru semakin dihentakkan sengaja. "Tidak usah pura-pura peduli. Itu menjijikkan sekali."Arka berjalan menyusul dengan langkah lebar yang santai. "Kamu masih marah?"Naura mendengkus kesal. Menyadari langkah Arka sudah terlalu dekat, ia akhirnya berhenti di anak
"Eh—Arka, apa—mmph!"Bibir pria itu langsung membungkamnya. Melumatnya bergantian hingga menggigit pelan bibir Naura dengan sensual.Kedua mata Naura seketika membelalak membesar karena terkejut yang luar biasa. Sialan! Monster ini benar-benar nekat menciumnya di tempat umum! Tangannya secara refleks bergerak naik, mencengkeram bagian depan kemeja hitam Arka dengan kuat. Ia sudah berniat penuh untuk mendorong tubuh tegap pria itu menjauh dari dirinya,Namun tepat di detik yang sama, memorinya mendadak memutar bayangan perban putih yang melilit bahu kanan Arka yang baru saja ia bersihkan dengan susah payah beberapa menit lalu di kamar. Gerakannya terhenti. Jemarinya menegang di atas kain kemeja itu, diliputi keraguan yang datang begitu saja.Keraguan singkat bercampur rasa khawatir yang tersembunyi dari Naura itu langsung dimanfaatkan oleh Arka dengan sangat cerdas. Pria itu memperdalam tautan bibir mereka, menarik pinggang Naura semakin erat, dan memiringkan posisi kepala mereka untuk
Rahang Arka mengeras samar. "Belum mengatakan kepada siapa?" tanyanya dingin.Naura tersentak dari lamunannya, buru-buru menata detak jantungnya agar tidak ketahuan. "Vanessa!" kelitnya sedatar mungkin, mencoba bersikap natural."Kamu yakin?""Iya, yakinlah! Memangnya kenapa sih? Vanessa itu manajerku, wajar kan kalau aku harus memberi tahu dia kalau aku mau pergi ke luar negeri!"Arka menatap mata Naura lekat-lekat, seolah sedang menelanjangi seluruh kebohongan yang tersimpan di sana. Ada dorongan ego yang sangat besar dalam diri Arka untuk mencengkeram bahu Naura dan memaksa wanita itu melafalkan nama Dion secara langsung di depan wajahnya. Tetapi, Arka memilih untuk menahannya.‘Belum saatnya.’ Batin Arka."Kopermu sudah disiapkan di bawah," kata Arka, sengaja mengalihkan pembicaraan untuk meredam ketegangan.Naura mengerutkan keningnya bingung. "Koper siapa?""Kopermu, Naura.""HAH?!""Semua pakaian, paspor, kosmetik, dan kebutuhan pribadimu sudah dikemas rapi tadi pagi-pagi sekal
Pelukan itu bertahan lebih lama daripada yang seharusnya. Naura sendiri tidak tahu sejak kapan tubuhnya berhenti memberikan perlawanan. Kedua tangan yang semula bertumpu kaku di dada bidang Arka perlahan mengendur, membiarkan dirinya terkurung dalam dekapan hangat pria yang selama beberapa minggu terakhir berhasil mengacaukan hampir seluruh hidupnya.Aroma sandalwood Arka bercampur samar dengan aroma antiseptik yang masih melekat di tubuhnya. Naura memejamkan mata tanpa sadar. Untuk beberapa saat yang terasa begitu singkat, pikirannya benar-benar terasa kosong. Tak ada kontrak pernikahan. Tak ada Dion. Tak ada skandal yang menghancurkan kariernya.Yang tersisa hanyalah kehangatan aneh yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.Nyaman.Begitu kata itu melintas di benaknya, mata Naura langsung terbuka lebar.‘Apasih? Tidak... tidak.’Ia buru-buru menjauh, bergerak gelisah di atas paha Arka sambil berusaha melepaskan diri dari lingkaran tangan pria itu. "Sudah, ah! Lepaskan aku. Panas
Berbanding terbalik dengan mulutnya yang selalu ketus dan galak setiap kali berbicara, gerakan tangan Naura saat menyentuh luka Arka justru begitu lembut, seolah tengah menangani porselen paling rapuh di dunia.Arka mengamatinya tanpa suara. Sorot matanya melembut saat memandangi puncak kepala Naura yang tampak begitu fokus. Kening wanita itu berkerut serius. Bibir bawahnya tergigit tanpa sadar ketika lapisan demi lapisan perban mulai terurai, perlahan memperlihatkan luka yang tersembunyi di balik kain kasa.Begitu luka pada bahu Arka sepenuhnya tersingkap, gerakan Naura mendadak terhenti di udara."Astaga..." desis Naura pelan.Raut wajah cantiknya berubah cemas sekaligus ngeri. Bekas operasi itu masih terlihat baru dan basah. Benang jahitan membentang di sepanjang bahu, sementara beberapa memar keunguan di sekitarnya belum sepenuhnya memudar.Naura mengangkat wajah, menatap Arka dengan pandangan bergetar. "Ini... luka apa sebenarnya? Kenapa bisa mengerikan seperti ini?"Arka bersanda
Sayangnya, yang membuat jantungnya seolah diremas adalah apa yang terhampar di atas tempat tidur dan apa yang terlihat di dalam walk in closet yang pintunya terbuka setengah.Matanya membelalak sempurna saat menatap deretan gaun malam rancangan desainer ternama yang tergantung rapi berdasarkan grada
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







