LOGINBab 3
Keesokan harinya, ketika rumah mulai sepi, aku masuk ke kamar Alya. Kunci kamarnya tergelincir dari saku Ibu saat kami duduk berdampingan pagi tadi—dan entah dorongan dari mana, aku merasa harus tahu sesuatu. Kamar itu tak berubah. Wangi, rapi, seperti tempat yang ditinggalkan dengan penuh rencana. Aku membuka laci meja rias. Tangan gemetar. Ada sebuah amplop kecil, warnanya krem pudar, dengan tulisan tangan yang sangat kukenal. “Untuk Alia – jika aku tak kembali.” Jantungku hampir berhenti. Tanganku gemetar saat membukanya. Isinya hanya satu kalimat. "Jangan percaya pada siapapun… bahkan pada Reyhan." Aku terduduk. Dunia terasa runtuh dalam hening. Dan di saat itulah aku sadar... Aku tidak mengenal siapapun dalam rumah ini. Bahkan suamiku. Dan mungkin… aku sedang menggantikan peran dalam cerita yang jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan. Aku tidak tidur semalaman. Amplop itu... tulisan tangan Alya... dan pesan terakhirnya sebelum menghilang—semuanya seperti arang panas yang terus membakar benakku. "Jangan percaya pada siapa pun... bahkan pada Reyhan." Aku membaca ulang kalimat itu berkali-kali dalam benakku, berharap maknanya berubah. Tapi tidak. Kata-kata itu tetap sama. Tegas. Mengancam. Menyesakkan. Kenapa Alya memperingatkanku? Apa yang dia tahu? Dan kenapa dia tak pernah memberikannya padaku, adiknya sendiri? Aku menatap ke arah Reyhan yang sedang tidur di sofa, tubuhnya tegap, nafasnya teratur, tapi ekspresinya tetap dingin bahkan dalam tidur. Pria ini… yang kini secara sah menjadi suamiku… terasa seperti teka-teki yang mustahil dipecahkan. Ada sesuatu yang disembunyikannya, dan entah kenapa, aku mulai percaya bahwa peringatan Alya bukan sekadar kekhawatiran biasa. ** Pagi itu, aku masih duduk di depan cermin saat pintu kamar terbuka begitu saja—tanpa ketukan. Seolah privasiku sudah bukan milikku lagi sejak hari pernikahan itu. Reyhan masuk dengan wajah tegas, membawa map kerja dan laptopnya. “Aku akan bekerja dari rumah hari ini,” ucapnya singkat. Aku hanya mengangguk. Kami tak seperti pasangan yang baru menikah. Tidak ada pelukan. Tidak ada sarapan bersama. Tidak ada ciuman di kening. Yang ada hanya… keheningan. Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Mata ini terlihat kosong. Aku bahkan nyaris tak mengenali diriku sendiri. Alia yang dulu suka tertawa, kini tak lebih dari bayangan suram dari dirinya sendiri. Dan mungkin, itulah alasan Alya selalu bilang, “Jangan terlalu percaya pada wajah. Karena luka paling dalam tak selalu terlihat.” Siang menjelang. Aku menyeduh teh dan membawanya ke ruang kerja. Tak ada orang lain di rumah. Rumah ini terlalu besar untuk dihuni berdua, apalagi jika dua orang itu saling menyembunyikan banyak hal. Saat aku masuk, Reyhan masih duduk di kursinya. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bahunya agak membungkuk, nafasnya terdengar berat. “Reyhan?” sapaku pelan. Dia buru-buru menutup laptop, lalu mengusap wajahnya. “Ya?” “Aku hanya… membawakan teh.” Tangannya gemetar sedikit saat menerima cangkir itu. Matanya… merah. Bukan karena marah. Tapi karena lelah. Atau... mungkin menahan sesuatu? “Kau sakit?” tanyaku, tanpa sadar. Reyhan terdiam sejenak. Lalu menggeleng. “Migraine. Sudah lama. Biasanya muncul kalau aku terlalu lama begadang.” Aku ragu sejenak. “Aku bisa buatkan kompres... kalau kau mau.” Dia tampak terkejut, tapi kemudian mengangguk. “Terima kasih.” Suaranya... tidak seperti biasanya. Lembut. Bukan nada datar dan ketus seperti saat kami pertama kali tinggal bersama. Saat aku kembali membawa kompres dingin, dia masih duduk diam. Aku menempelkannya pelan ke dahinya. Dia tidak menolak. Hanya menutup mata dan menghela nafas panjang. “Dulu,” katanya tiba-tiba, “Alya juga sering melakukannya.” Aku menegang. Jantungku berdetak tak karuan. “Tapi beberapa bulan terakhir, dia berubah. Lebih diam, lebih… tertutup. Seolah menyembunyikan sesuatu dariku.” “Apakah… kalian dekat?” tanyaku pelan. Reyhan membuka matanya, menatapku. “Kami tidak pacaran, kalau itu maksudmu. Tapi cukup dekat… hingga aku tahu Alya menyimpan luka yang dalam. Luka yang tak pernah dia biarkan sembuh.” Aku menunduk, hatiku ngilu mendengar kata-kata itu. “Dan kau juga,” lanjutnya. “Aku bisa melihatnya, Alia. Dari caramu memendam semuanya. Kau juga penuh luka.” Aku nyaris menangis saat itu. Tapi kutahan. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” bisikku. Dia berdiri, berjalan pelan ke jendela. “Mungkin. Tapi aku tahu rasanya dikhianati oleh orang yang paling kau percaya.” Kalimat itu... terasa seperti tusukan. suasana di antara kami mulai berubah. Sedikit. Reyhan mulai menyapaku lebih dulu di pagi hari, meski hanya sekadar “Pagi.” Dia juga tak lagi menghindar saat makan malam. Hingga suatu malam, aku melihat pintu ruang bacanya terbuka. Aku masuk pelan, karena cahaya lampunya menyala. Di dalamnya, Reyhan tertidur di sofa. Di meja kecil di sampingnya, ada kotak kayu terbuka. Rasa penasaran menarikku mendekat. Di dalam kotak itu, ada tumpukan foto. Reyhan kecil… bersama seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Tiba-tiba, Reyhan membuka mata. “Apa yang kau lakukan disini?” suaranya rendah, tapi tajam.“Aku butuh kamu jujur sekarang, Reyhan,” kataku sambil duduk di kursi dapur, menatapnya tajam. Dia menunduk. Lama. Lalu perlahan membuka map yang tadi ia sembunyikan di balik lemari buku. “Ini semua… tentang Nadira,” katanya pelan. Aku mengambil map itu dan membukanya satu per satu. Foto-foto, hasil tes kejiwaan, dan salinan laporan rumah sakit. Di sana tertulis nama lengkap Nadira, diagnosis gangguan identitas, dan beberapa catatan khusus dari psikiater. “Dia pernah kabur dari rumah sakit tiga tahun lalu… saat itu aku lagi di luar kota,” Reyhan menjelaskan. “Waktu kami temukan, dia udah… nggak stabil. Tapi dia minta satu hal: jangan ada yang tahu kalau dia masih hidup.” Aku menarik napas dalam. “Termasuk orangtuanya?” “Termasuk,” Reyhan menatapku penuh beban. “Keluarganya terlalu keras. Mereka selalu menyangkal kondisi Nadira, anggap itu cuma ‘drama’. Makanya Nadira cuma percaya satu orang: Alya.” Aku terdiam mendengar nama itu. “Alya bukan cuma sahabat Nadira. Dia satu-satu
Pagi itu aku bangun lebih awal. Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi tubuhku sudah terlalu gelisah untuk kembali tidur. Aku mengecek ponselku, masih tidak ada balasan dari Reyhan sejak semalam. Kutatap notifikasi terakhir yang masuk—nomor tak dikenal, mengirimkan pesan: “Jangan terlalu percaya. Dia lebih pandai menyembunyikan dari yang kamu kira.” Tanganku gemetar. Pesan itu datang tepat setelah aku dan Reyhan menemukan rekaman CCTV dari kamar atas yang ternyata tak hanya menunjukkan bayangan, tapi juga suara. Suara perempuan… menangis. Aku mencoba menelepon Reyhan. Gagal. Berkali-kali. Nada sambung, lalu terputus. “Kenapa dia malah ngilang?” gumamku sambil berdiri dari tempat tidur dan melangkah ke dapur. Tapi yang kutemukan di sana bukan secangkir kopi atau ketenangan pagi, melainkan map merah tua yang kemarin Reyhan sembunyikan. Aku tak ingat dia meninggalkannya di meja dapur. Tapi sekarang map itu terbuka, dan beberapa dokumen berserakan. Salah satunya menyebut nama yang
Pagi itu, aku masih belum bisa tidur nyenyak. Suara langkah semalam terus terngiang-ngiang di kepalaku. Bukan karena takut, tapi karena aku tahu… itu bukan langkah sembarangan. Ada yang sedang mencoba memberi tahu kami sesuatu. Reyhan tampak lebih pendiam dari biasanya saat duduk di meja makan. Telurnya tak disentuh. Kopinya pun dibiarkan dingin. "Aku tadi malam nggak bisa tidur," kataku sambil merapikan piring. "Kamu juga, ya?" Dia menatapku sebentar. "Iya. Aku masih mikirin soal suara di lantai atas." Aku menarik napas panjang. "Aku tahu itu aneh, tapi aku yakin… itu bukan cuma suara bangunan tua. Apalagi setelah semua yang kita lihat di kamar itu." Reyhan tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Iya. Aku juga mulai ngerasa ini bukan kebetulan." Kami sepakat untuk mengecek lagi kamar atas setelah pulang kerja. Tapi siangnya, aku mendapat pesan dari nomor tak dikenal. “Berhenti cari tahu. Sebelum semuanya terlambat.” Dadaku langsung sesak. Pesan itu terasa seperti ancaman. Ta
Langkah kaki itu berhenti. Di atas sana, entah siapa yang sedang berdiri di ujung tangga. Aku tak bisa melihatnya jelas dari bawah. Tapi suara langkahnya… pelan, berat, seperti ragu. Tapi cukup keras untuk terdengar di malam yang nyaris senyap ini. Aku dan Reyhan saling pandang. “Siapa di atas?” tanyaku pelan. Reyhan langsung melangkah ke arah tangga, tapi aku menahan lengannya. “Jangan. Kalau itu… sesuatu yang kita belum siap hadapi…” “Kalau kita terus diam, justru bahayanya makin besar,” katanya tenang, tapi aku tahu dia juga tegang. Matanya menatap tajam ke atas, lalu dengan pelan, ia mulai menaiki anak tangga satu per satu. Aku mengikuti di belakangnya. Setiap kayu di bawah kaki kami berderit. Rumah ini sudah lama, dan setiap sudutnya seperti menyimpan rahasia yang sengaja dikunci rapat. Sampai akhirnya kami tiba di lantai atas. Tidak ada siapa-siapa. Lorong itu gelap. Hanya ada satu cahaya redup dari lampu kamar tamu yang dibiarkan menyala. Pintu-pintunya tertutup semu
Pagi itu, aku dan Reyhan berjalan menyusuri sisi belakang rumah tua yang sudah lama tak dihuni. Tanahnya becek, dipenuhi ranting dan daun gugur. Tapi yang membuatku berhenti melangkah adalah jejak sepatu yang belum lama tercetak di tanah. “Ini bukan jejak kita,” gumamku pelan, sambil jongkok dan menyentuh bekas tapaknya. “Masih baru.” Reyhan ikut menunduk, wajahnya berubah serius. “Ada yang datang sebelum kita…” Kami saling pandang. Tidak ada yang bicara, tapi pikiran kami sama: kami diawasi. Tak jauh dari situ, di balik pagar kayu yang hampir roboh, aku menemukan sisa bungkus permen dan puntung rokok. Masih hangat saat disentuh. “Reyhan… kayaknya kita gak sendirian dari tadi,” kataku sambil melirik ke arah jendela dapur rumah tua itu. “Apa mungkin… ada yang ngikutin kita?” Reyhan mengangguk, rahangnya mengeras. “Aku curiga udah dari kemarin. Tapi ini bukti pertama.” Aku menggenggam lengannya. “Kalau gitu… sekarang kita harus cari tahu siapa.” Kami masuk kembali ke rumah, men
Pagi itu aku duduk di meja makan sendirian. Teh di cangkirku sudah dingin, tapi belum juga kusentuh. Pikiran masih berputar pada kalimat Reyhan semalam. “Orang yang nggak boleh tahu kalau kalian berdua masih hidup…” Siapa yang dia maksud? Dan kenapa harus disembunyikan? Langkah kaki Reyhan terdengar dari arah dapur. Dia datang dengan wajah lelah, matanya sembab seperti baru begadang semalaman. “Alia,” ucapnya sambil duduk di seberangku. “Hari ini kita harus ke rumah lama Nadira.” Aku mengerutkan dahi. “Kenapa?” “Aku nemu sesuatu tadi malam. Dari Alya. Aku rasa… udah saatnya kamu tahu semua.” Aku terdiam. Banyak hal yang ingin kutanya, tapi aku tahan. Aku tahu, kalau aku desak, Reyhan bisa saja kembali menutup diri. “Rumahnya di mana?” tanyaku akhirnya. “Di pinggiran kota. Dulu mereka tinggal bareng di sana sebelum… semua ini mulai kacau.” *** Rumah itu sepi dan tua. Lokasinya agak tersembunyi, dikelilingi semak dan pohon yang sudah tak terurus. Reyhan berhenti di depan pag
Dia menoleh sedikit. Senyum tipis tergurat di sudut bibirnya, tapi bukan senyum yang menenangkan. “Ke tempat semuanya dimulai. Dan berakhir.” Aku menelan ludah. Tanpa sadar, ponselku di saku bergetar pelan. Satu pesan masuk. Aku mengintip sekilas. Dari: Nomor Tidak Dikenal. "Jangan perc
Aku membuka lemari itu perlahan. Bukan karena takut, tapi karena tanganku gemetar. Di dalamnya tak ada yang aneh—hanya tumpukan pakaian, beberapa kotak kecil, dan sebuah album foto tua yang ditutupi debu. Album itu seperti memanggilku. Aku mengangkatnya, lalu duduk di lantai, menyandarkan tubuhk
Pesta usai dengan cara yang tak terduga. Semua orang pulang dalam bisik-bisik. Skandal video itu menyisakan tatapan tajam dan ribuan pertanyaan. Dan di tengah semuanya, aku hanya bisa diam. Aku tahu Reyhan sedang mencoba mengendalikan situasi, tapi keheningannya justru membuat pikiranku semakin g
"Alya menghubungimu?" tanyaku lirih, mataku terpaku pada layar ponsel Reyhan yang masih menampilkan nama itu—nama yang terus menghantuiku sejak hari pertama aku menginjak rumah ini. Reyhan tidak langsung menjawab. Ia menatapku sejenak, seolah menimbang apakah sudah waktunya aku tahu. Lalu ia me







