Home / Romansa / ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA / PROLOG dan CHAPTER 01

Share

ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA
ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA
Author: Nanasshi

PROLOG dan CHAPTER 01

Author: Nanasshi
last update publish date: 2025-07-30 15:42:24

PROLOG

***

"Mama ingin sekali melihat Kyra dan Ditto menikah."

Kalimat itu, meluncur bebas dari perempuan paruh baya yang kini memeluk tubuhnya. Mengalirkan angin dingin yang menerpa tengkuknya, membuat perasaannya meremang, sesungguhnya tak senang. Gagasan sekaligus seperti titah itu, sekalipun tidak ia sukai, anehnya ia balas dengan senyuman. Seolah itu adalah usulan paling brilian.

"Kyra sama Mas Ditto, Ma?" ulangnya dengan senyuman yang terpatri. Ia merenggangkan pelukannya, menatap sebentar pada laki-laki yang dimaksud. Hanya sebentar, ia tidak kuat menatap sorot mata datar itu. Lalu kembali menatap perempuan paruh baya yang masih suka memakai lipstik merah. "Mama nggak salah?"

Perempuan itu menggeleng. Ia menepuk pelan punggung tangan Kyra. Lembut dan berulang-ulang. "Mama yakin, Ditto pasti bisa jagain Kyra andai mama dan ayah sudah nggak ada di bumi ini."

Kyra masih terus tersenyum. Tapi tidak ada sepatah kata yang muncul sebagai jawaban. Jelas saja, kepalanya masih sibuk sekali mencerna. Hal yang tiba-tiba sekali ini membuat suara-suara di kepalanya riuh.

Ada yang mengumpat.

Ada yang keheranan.

Ada yang menangis sesenggukan.

Tapi memang tidak ada satupun yang berbahagia.

"Mungkin Mas Ditto sudah punya calon, Ma. Iya 'kan, Mas?" Kyra menoleh pada laki-laki itu yang sejak tadi diam seribu bahasa. Ia ingin meminta dukungan sekarang. Setidaknya dalam keadaan yang aneh ini, ia bisa mempergunakan sedikit isi kepalanya yang pandai itu. "Kayaknya waktu itu Mas Ditto bilang sudah punya pacar kok, Ma."

Perempuan yang dipanggil 'mama' itu menoleh pada seorang laki-laki yang sejak tadi memasang ekspresi dingin. Dilihatnya dengan seksama, sebelum ia kembali menatap pada Kyra. "Mama rasa nggak. Terakhir Ditto punya pacar itu waktu masih kuliah S1. Setelah itu, Ditto cuma fokus pendidikan dan karir. Iya 'kan, Ditt?"

Laki-laki itu menghela napas sebentar dan menjawab singkat. "Iya."

Kyra mengernyit, menatap pada Ditto, memasang beragam ekspresi sebagai kode. Perempuan itu ingin adanya penolakan atas usulan ini tapi jelas bukan berasal darinya. Kyra ingin Ditto yang menolaknya.

Sebab Kyra tidak bisa.

Menolak dan mengatakan tidak.

"Kyra mau, kan?"

Mata perempuan paruh baya itu memandang penuh binar harap pada Kyra. Menyudutkan Kyra sehingga ia tidak sempat -atau tidak bisa- untuk memilih tidak. Sebab pada perempuan paruh baya itu, Kyra bergantung selama ini.

Saat-saat terberatnya.

Saat-saat ia tidak memiliki siapa-siapa.

Saat-saat Tuhan bahkan seperti berpaling darinya dan memberikan cobaan tak terhingga.

Perempuan paruh baya itu -juga keluarganya- yang selalu ada di sisinya.

"Tentu, Ma. Selama Mas Ditto nggak keberatan, Kyra akan dengan senang hati menerima perjodohan ini."

Perempuan paruh baya itu melonjak girang, memeluk Kyra erat. Senangnya bukan kepalang. Berulang-ulang, ia mengucapkan terima kasih pada Kyra.

Lalu saat pandangan mata Kyra bertemu dengan Ditto, hatinya menjadi nelangsa diam-diam. Karena laki-laki itu, tidak pernah ada dalam doa-doanya. Laki-laki itu tidak pernah ada dalam kategori tipe suami yang diinginkannya.

Tapi ... hutang budi itu tidak memberinya pilihan.

Keluarga Ditto yang selama ini menjadi sandarannya, akan sangat tidak tahu diri rasanya andai ia menolak pernikahan ini. Walau jelas, hati Kyra sudah dimiliki oleh seseorang dan itu jelas bukan Ersya Dean Arditto.

Bukan.

Hati Kyra tidak diisi oleh laki-laki yang selalu berekspresi dingin dan tidak pedulian itu.

^^^^^

CHAPTER 01

Januari, 2021

Suasana mencekam itu, membuat matanya menangis deras. Tapi jari-jarinya mengerti bahwa itu situasi genting sehingga ia gunakan untuk membekap mulutnya sendiri. Tujuannya agar suara sedih dan ketakutan yang bercampur baur itu, tidak lolos dan terdengar.

Tidak.

Ia tidak boleh ketahuan.

Ibunya sudah mengatakan itu, lima menit lalu.

Orang-orang dalam jarak lima meter di depan sana terlalu menakutkan. Bukan hanya karena tubuh mereka yang tinggi dan tegap. Juga bukan hanya karena senjata tajam yang sejak tadi erat digenggam. Mereka menakutkan karena tetesan darah di lantai yang bergelumang. Menciptakan jejak sepatu karena terinjak. Memberi warna yang kontras pada lantai granit berwarna putih gading itu.

Darah itu, darah ayah dan ibunya.

Hatinya sangat sakit tatkala mata melihat bagaimana senjata tajam berkilat-kilat itu menebas dada ayahnya tanpa ampun. Juga tak lama setelahnya, masuk menembus perut ibunya hingga terburai. Ia ingin berlari mendekat, membawa keduanya ke rumah sakit. Dokter pasti akan menyelamatkan separah apapun luka mereka. Sebanyak apapun darah yang mengucur memenuhi rumahnya.

Tapi ....

"Jangan keluar, Kyra. Apapun yang terjadi, jangan keluar."

Ibunya mengatakan itu berulang kali, memaksa tubuh kurusnya bersembunyi dengan ketakutan di bawah ranjang yang penuh debu itu.

"Bangsat! Kamu bilang mereka orang kaya, mana coba harta-hartanya?"

Terdengar oleh Kyra, suara makian bersahut-sahutan. Mereka masih sibuk mengobrak-abrik setiap sudut rumah kecuali tempatnya sekarang berada. Atau mungkin belum. Karena sekarang, Kyra bisa melihat langkah-langkah kaki itu mendekat ke arahnya.

Kyra menangis lebih deras. Ia ketakutan. Sangat takut.

Tapi apa yang bisa dilakukan seorang remaja berusia 16 tahun dalam menghadapi tiga orang dewasa -mungkin lebih- dengan senjata tajam yang nyalang?

Kyra pasrah.

Ia hanya bisa melakukan itu.

Lalu ketika ia menangis karena harus mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia yang menyenangkan ini, suara ramai-ramai orang dan sirine polisi terdengar. Membuat orang-orang jahat itu belingsatan kabur ke berbagai arah.

"Kyra ... Kyra, kamu dimana?"

Lalu seseorang mencarinya.

"Kyra ... ayo keluar."

Ia mengulurkan tangan padanya, membantu tubuh kurus dan lunglai itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dan ketika tubuh gemetar Kyra berhasil diraih, ia mendekapnya. Mengusap kepalanya. Dan kata-kata bagai sihir itu, memenuhi kepala Kyra.

"Nggak apa-apa. Kamu aman. Kamu sekarang aman."

Dan setelahnya Ia tidak ingat apapun.

^^^

Ia gadis remaja berusia 16 tahun. Ia ada dikota asing yang baru 3 tahun ia tinggali. Lalu selama ia hidup dan mulai bisa mengingat, ayah dan ibunya tidak pernah menunjukkan keluarga lain selain kata 'ayah dan ibu'.

Tidak ada kerabat.

Tidak ada siapapun.

Kecuali dua kuburan tua tak jauh dari rumah lama mereka.

Oleh karena itu, ketika kemalangan itu menyambanginya, mengambil langsung seluruh keluarganya yang hanya terdiri dari ayah dan ibu itu, ia sendirian. Menjadi tuan rumah bagi para pelayat.

"Ada mama. Ada ayah. Ada Mas Ditto dan Gio. Kyra nggak sendirian."

Atau mungkin ia juga punya keluarga.

Saat ia hanya bisa mematung menatap pada jasad ayah dan ibunya, ada perempuan paruh baya yang senantisa memeluknya dan berusaha menguatkan diri Kyra. Juga ada laki-laki paruh baya dibantu tetangga mengurusi soal tenda dan kursi-kursi untuk para pelayat. Atau ada laki-laki muda yang sibuk mengurus ini dan itu terkait dengan kepolisian dan pernyataan saksi dari mulut Kyra. Juga adik laki-laki yang meraung-raung di sisi jenazah orang tuanya.

Kyra tidak sendirian.

Tapi sebanyak apapun orang-orang berada di sisinya, duka kehilangan tidak pernah mudah. Dunianya hancur, sekaligus. Ayah dan ibunya direnggut secara bersamaan dengan cara yang paling menyakitkan.

Kyra saksinya. Matanya melihatnya. Telinganya mendengar jeritan terakhir mereka. Tangannya gemetar ingin merengkuh keduanya.

Kyra menangis lagi, tanpa suara.

Kehilangan memang benar-benar tidak mudah. Mengucapkan selamat jalan pun sama tak mudahnya. Lalu ketika orang-orang mulai pulang dan kembali ke kehidupan mereka, tersisa Kyra sendirian.

Yang sedih sendirian.

Yang sakit sendirian.

Yang akan selalu sendirian.

^^^^

Mungkin beruntung, walau tidak layak dikatakan demikian. Setidaknya, Kyra ingin mengucap syukur untuk satu hal saja. Pada prasangkanya yang akan selalu sendirian dan berakhir meleset.

Setelah acara pemakaman selesai dan ramai-ramai orang mulai hilang, Kyra pikir ia akan tenggelam dalam kegelapan yang sepi. Yang akan membuatnya terus menerus mengingat malam itu hingga tidak berdaya. Lalu mengakhiri hidupnya sendiri adalah yang ia banyak pikirkan saat itu.

Tapi yang remaja pikirkan itu tidak terjadi.

Perempuan paruh baya itu, tidak kembali ke rumah mereka. Tidur di sisinya, memeluknya semalaman. Ia tidak banyak mengucapkan kalimat penghiburan, tapi keberadaannya mengisi sepi itu menolong Kyra. Menghalau upayanya untuk beringsut ke dapur dan mengambil sebuah pisau. Mengiris nadinya dan akhirnya menyusul ayah dan ibunya.

Juga, pikiran Kyra benar-benar tidak terjadi.

Karena suara-suara laki-laki yang sibuk berbincang, memecah bisu malam itu hingga pagi. Menjadi penyemarak yang lagi dan lagi, menyelamatkannya. Setidaknya, mungkin akan ada yang memaksanya turun andai ia menggantung tali untuk ia jeratkan di lehernya sendiri.

Kyra bersyukur akan hal itu.

Tapi rasa syukurnya, menjadi tidak terhenti saat perlakuan keluarga itu semakin menyelamatkannya.

Hari-hari murung yang Kyra lalui dalam ketakutan dan bayang-bayang darah, menimbulkan gelisah dan resah yang melebihi batas normalnya. Lalu ia akan histeris dengan badan gemetar. Menangis hebat hingga sesenggukan. Atau kadang-kadang, akan berlari ke toilet dan mengeluarkan isi perutnya di sana.

Dan keluarga itu, menemaninya untuk bertemu mereka yang kredibel di bidangnya.

Seminggu dua kali, kadang perempuan paruh baya, kadang anak laki-laki tertua mereka, kadang juga beramai-ramai sekeluarga. Mereka mengantarkan Kyra ke psikolog untuk meredakan segala ingatan masa lalu yang mengurungnya. Membantu Kyra agar bisa terbebas dari rasa bersalahnya dan kembali hidup dengan dengan normal.

^^^

Januari, 2024

Ia terpekur sendirian, menatap dirinya lewat cermin yang berdiri tegap hampir setinggi laki-laki dewasa di sudut ruangan. Tidak ada senyuman semringah juga euforia selayaknya mereka yang akhirnya mendapatkan lamaran dari orang tua kekasihnya.

Tidak ada.

Kecuali, kebimbangan.

Lalu perlahan berubah menjadi rasa sedih yang egois.

Kyra menyerah. Ia menangis. Tergugu sendirian di ruangan yang ia biarkan temaram karena hanya cahaya lampu ruang tengah yang menyala. Memeluk lututnya, berusaha meredakan gemetar yang timbul susul-menyusul.

Malam ini, dari sekian banyak rasa syukurnya karena Tuhan kirim keluarga itu untuk merawatnya dari luka, untuk malam ini saja, Kyra ingin menyesalinya.

Menyesali rasa syukurnya.

Kyra tidak peduli andai ia dikata tidak tahu diri. Ia juga tak keberatan dibilang kacang yang lupa kulitnya. Orang tidak tahu terima kasih, tidak punya rasa syukur, malin kundang atau ... apapunlah. Kyra ingin tidak peduli.

"Ikri ...."

Kyra menggumam sebuah nama. Laki-laki yang ia gunakan fotonya pada layar pembuka ponsel. Laki-laki yang sudah hampir satu tahun membuat hatinya jadi lebih riang dan gembira. Kyra memukul-mukul lengannya pada lantai keras itu. Mencoba mengurangi sesak yang mengganjal dadanya. Menggantikan suaranya yang tertahan tak kuasa untuk lepas berteriak.

"Tuhan nggak adil! Tuhan nggak adil! Nggak adil!" bisik Kyra lirih. "Setelah orang tuaku direnggut, kini jodohpun harus ditentukan?"

Kyra memejamkan mata. Membayangkan hari-harinya ke depan tidak lagi dilaluinya bersama Ikri tapi bersama laki-laki lain. Yang jangankan bersenda gurau, berbicara sepuluh kata saja sama sulitnya seperti menghitung butiran garam di tambak garam.

Kyra tidak bisa.

Kyra tidak mau.

"Aku bawain kamu jajanan yang kamu suka."

Suara laki-laki itu, tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ia dan Kyra, kini saling bersandar pada pintu yang sama. Tidak bisa saling melihat, hanya suara masing-masing yang saling terdengar. Tapi sayangnya, Kyra enggan mengeluarkan suara dan berbicara bersama laki-laki yang tidak kooperatif berdusta untuknya.

"Aku tunggu di luar dan kita bicara."

Siapa bilang Kyra mau. Ia bergeming, tidak mendengarkan perintah dari si empunya suara. Masih bertahan dengan posisi memeluk lutut, Kyra membiarkan waktu berjalan lambat. Di antara sepi yang mengitari mereka itu, lalu lalang kendaraan atau derak-derak jarum jam yang bergeser, menjadi satu-satunya suara.

"Ice cream-nya sekarang sudah cair."

Lalu Kyra yang tak tahan itu, memilih bangkit dan membuka pintu. Membuat keduanya kini saling berhadapan dan bertatapan. Membuat Kyra leluasa melihat wajah dingin tanpa ekspresi yang tidak berarti dan sulit dibaca. Juga membuat Ditto dengan mudah melihat mata yang sembab dan basah di pipi perempuan itu.

Lalu belum sempat Kyra mengatakan apapun, laki-laki itu menyerahkan sekantong plastik camilan dari indomart. Dan perkataan yang meluncur dari mulutnya, membuat Kyra membeku sesaat.

"Kamu boleh membatalkan rencana pernikahan kita, kalau kamu mau."

^^^^

TO BE CONTINUED

AYOOO FOLLOW I* : @nana.sshi_

untuk bisa lihat visualisasi mereka dan chat random mereka juga

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 44 - END

    CHAPTER 44 . . . "Ini sudah menyala ya, Mas?" "Sudah, ma. Mama bisa langsung ngomong." "Oh ... oke-oke. Tapi mama kelihatan cantik 'kan di video? Nggak pucat atau jelek, kan?" "Nggak, mama sayang." "Soalnya video ini buat Kyra. Mama harus tampil cantik." "Mama cantik kok." "Ya sudah, mama mulai, ya." (Hening sesaat. Mama Mona menunduk, menatap selimut putih yang menutup separuh tubuhnya. Sebentar kemudian, ia mengusap rintik air mata yang tumpah. Meski menunduk, jelas sekali ia sedang menangis). "Mama ... oke?" (Suara khawatir Ditto dari balik kamera). "Oke, oke. Mama oke kok. Mama mulai, ya." (Mama Mona berdehem pelan. Ia tersenyum). "Hai, Kyra. Anakku Kyra sayang. Apa kabarnya? Mama harap, Kyra dalam keadaan baik, sehat, dan bahagia." "Nak, Kyra sayang, waktu terasa lama sekali ya. Lama sekali. Kapan ya terakhir kali mama melihat wajah kamu? Pagi itu, membawakan Kyra garang asem ayam, ya?" (Mama Mona kembali menyeka air matanya sebelum akhirnya

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 43

    Bagi manusia yang tengah merindu, satu detik itu menjadi lama sekali. Seolah dengan satu detik, kita bahkan bisa membuat kue, membuat nasi uduk, hingga membuat candi. Satu detik yang terasa lama itu, saat ini, tengah mencekik Ditto. Tapi Ditto tidak bisa gegabah. Ia tidak ingin membuat Kyra berlari semakin jauh dan sulit ditemukan lagi. Ia sudah kapok harus mencarinya berbulan-bulan dengan hasil nihil. Oleh karena itu, sekalipun ia sudah mengantongi alamat beserta nomor teleponnya –dengan bantuan Bu Nina– Ditto tidak buru-buru pergi ke sana. Ia masih menimbang, perihal perkataan apa yang akan ia sampaikan pada Kyra agar perempuan itu bisa paham. Bisa mengerti. Bahwa … What happened to Mama Mona was not her fault. Juga yang terjadi malam itu antara dirinya dan Ikri, Ditto tidak menganggap itu sebagai sebuah pengkhianatan. Mereka belum bersepakat saling mencintai saat itu. Dan Kyra jelas menangis malam itu, sampai-sampai meminta dijemput saat itu juga. It already showed that Kyra did

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 42

    Bus melaju dengan pelan saat sampai di area yang sudah dipenuhi hijau-hijau sepanjang jalan. Hijau-hijau dari daun teh. Lalu sekitar sepuluh menit kemudian, bus memasuki pekarangan villa dan berhenti. Penumpang di dalam bus bersorak riang sekali saat menyadari bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan. Satu persatu turun. Anak-anak yang memakai kaos hitam bertuliskan Gathering Rumah Bahagia itu lantas berbaris di samping bus, mengikuti instruksi dari para kakak yang memakai pakaian serba putih. Mereka berbaris dengan rapi, di mulai yang paling kecil-kecil di depan, dan yang lebih tinggi berdiri di baris paling belakang. Wajah semringah mereka semua sama. Tidak ada yang tidak bahagia. Baik yang balita, sampai yang remaja. Mereka menikmati perjalanan liburan itu dengan perasaan syukur. Sebab bagaimanapun, manusia-manusia malang seperti mereka, yang tumbuh di dalam sebuah panti asuhan, menikmati liburan sampai keluar kota adalah sesuatu yang langka sekali. Ditto dan Gio turun paling te

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 41

    (Banyakin komennya donggg, udh mau akhir ini gengssss) . . . Awalnya ia berjalan dengan cepat, lalu kemudian berubah menjadi berlari. Ia tergesa-gesa, mengabaikan sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya, juga mengabaikan keheranan sang ayah maupun mata Gio yang sembap dan memicing padanya. Ia sungguh tidak peduli apapun sekarang selain segera mencapai rumah itu. Sebab beberapa saat lalu, tepat setelah doa selesai dan satu persatu pelayat pulang, seseorang menepuk pundak Ditto dan membisikkan sesuatu. “Pakde lihat Kyra, tadi dia berdiri di bawah pohon kamboja. Coba kamu susul ke rumahnya, siapa tahu dia masih ada di sana.” Karena alasan itu, ia sudah berdiri di depan pintu rumah dengan napas terengah-engah. “Ra ….” Entah sudah berapa ribu kali, dalam tiga bulan terakhir ini, ia memanggil nama itu. “Ra ….” Baik saat ia pulang dari mengajar di kampus. Atau saat ia sedang terlelap tidur dan tiba-tiba terbangun. Sesekali bahkan saat ia hanya sekedar duduk di sofa ruang tenga

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 40

    Tiga Bulan Setelahnya . . . Ada banyak hari, dalam tiga bulan itu. Lalu dari seratus hari lebih itu, tidak pernah sekalipun Ditto mampu tidur dengan nyenyak. Atau sekedar bersenda gurau dan menelan makanan bukan hanya karena ia harus makan. Atau merasa riang setiap kali melihat jejak-jejak yang tersisa dari perempuan itu. Tidak sekalipun. Hidupnya berubah menjadi begitu tidak asik. Karena perempuan itu hilang, hingga kini, setelah tiga bulan berlalu. "Kamu sudah lapor polisi, kamu juga sudah mencari sendiri. Kamu sudah mengusahakan segalanya. Kalau kenyataannya hingga kini kamu masih belum bertemu dia ... itu karena memang sudah takdirnya demikian." Malam itu, di ruang depan rumah keluarga Ditto, Papa Shandi berbicara sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Ditto. Anak sulungnya itu nampak frustrasi sekali. Papa Shandi lalu menepuk pelan pundaknya. "Aku khawatir sekali." Ditto memijit dahinya yang berdenyut-denyut. Sejak kehilangan Kyra, ia jadi lebih sering sakit kepala

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 39

    (Sudah mendekati ending, tolong dong diramaikan, bantu dshare-share di menfess dan lain-lain wkwkwkw. Oh iya, vote dan komen yang panjang kalau mau besok update lagi!) . . . . . Malam Insiden, Sebelum Kecelakaan Ditto Bandung yang dingin. Bandung yang terlalu jauh. Bandung yang hanya diisi oleh manusia-manusia jatuh cinta. Bandung yang sedemikian itu, membawa pagut dari truth or dare berlanjut ke sebuah ruang yang hanya ditempati oleh berdua. Karena selain mereka berdua, sisanya asik terlelap karena sekaleng bir atau memang tidak terbiasa dengan suhu Bandung yang dingin. Napas-napas yang terengah, aksi saling pandang dan kemudian kembali bersatu bibir dengan bibir. Kyra --beberapa waktu lalu-- menyadari bahwa dare yang diberikan teman-temannya pada Ikri, jelas mengganggu perasaannya. Dare yang meminta Ikri untuk menciumnya, dan langsung spontan dipenuhi, membuat ia disusupi segunung rasa bersalah. Pada status 'istri' yang dia emban, pada pernikahan yang diam-diam ia sembunyik

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 33

    CHAPTER 33Kata orang, regret, like a tail, comes at the end. Dia tidak memberi aba-aba di depan apalagi muncul. Selalu, setelah semunya terjadi, ia baru muncul untuk membuat manusia ingin berteriak kencang, mengutuk pada takdir lalu memohon agar waktu bisa diputar. Penyesalan selalu begitu.Kyra m

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 32

    CHAPTER 32"Mas tunggu sebentar. Aku mau ngomong."Langkahnya kecil, jelas timpang bila mengejar langkah lebar milik Ditto. Ia tersaruk-saruk, mencoba menyamai laki-laki itu. Karena banyak sekali yang ingin ia ucapkan dan jelaskan, tentu saja. Sayangnya, Ditto memilih diam saja sampai akhirnya kedu

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 31

    Menanti seseorang itu sama seperti sedang berjalan di atas batu-batu kecil jalanan dengan bertelanjang kaki. Kulit bertemu permukaan kasar itu secara langsung. Rasanya tidak nyaman sekali.Ditto sedang berada dikeadaan itu detik ini. Dalam keadaan yang bercampur antara gelisah dan rasa was-was, sud

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 30

    Hari yang mendebarkan itu datang lebih cepat dari dugaannya. Tahu-tahu, ia sudah berada di panggung sambil memegang gitar bersama dengan Nindy --yang menyanyi-- dan menampilkan perpaduan yang menarik antara musik dan rupawan yang enak dipandang. Keduanya berhasil membawakan dua lagu dan menyeret pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status