Se connecterHari demi hari berlalu dengan tenang. Di dalam rumah aman yang jauh dari hiruk-pikuk skandal masa lalu, Bintang tumbuh dengan sangat sehat dan menggemaskan. Gelak tawa serta celotehan mungil bayi berusia tiga bulan itu selalu menjadi pelipur lara, dikelilingi oleh orang-orang hangat yang begitu menyayanginya.Sejak pertemuan singkatnya dengan Alice di kafe rumah sakit beberapa minggu lalu, Arunika mulai merasa sedikit lebih lega. Mengikuti instruksi yang disampaikan Altair, Arunika berhasil menepis kecurigaan Alice dengan jawaban yang tenang dan masuk akal.Alice sepenuhnya percaya bahwa Arunika hanyalah korban musibah yang kebetulan ditolong oleh suaminya. Altair kembali mengizinkan Arunika untuk keluar rumah seperti biasa jika ada keperluan.Hari ini, sudah genap sebulan berlalu sejak persidangan resmi yang memutus ikrar talak perceraian Arunika dengan Gantara. Arunika resmi menyandang status sebagai janda di mata hukum dan agama, menjalani hari-hari masa iddah-nya dengan tenang.Ka
Pintu mobil mewah itu tertutup rapat, mengisolasi David sepenuhnya dari riuk suara tangis penyesalan dan jeritan keos yang membahana di dalam rumah mewah mertuanya. Pria itu menyandarkan tubuhnya yang lunglai pada sandaran jok kulit, memejamkan mata rapat-rapat seraya menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat.Perlahan, setetes air mata mengalir dari sudut matanya, melintasi pipi tegap yang selama ini selalu nampak tegar.Sesak. Dada David serasa dihantam bongkahan batu raksasa hingga tak tersisa udara untuk dihirup. Bohong besar jika ia berdalih tidak mencintai Steffi.Wanita itu pernah menjadi sosok yang mengisi hari-harinya, wanita yang ia harapkan menjadi pendamping hidup hingga usia senja. Namun, rasa kecewa atas pengkhianatan kotor, rencana penjebakan busuk, hingga kehamilan terlarang bersama Gantara, jauh lebih dalam meremukkan jiwanya ketimbang sisa rasa cinta itu sendiri.Mungkin memang benar kata Altair waktu itu.Jika sebuah hubungan tak lagi bisa dilanjutkan sec
Suasana di ruang tamu kediaman Lion dan Indah seketika berubah drastis. Foto-foto David berbaring bersama wanita asing di ranjang hotel yang tersebar di grup keluarga besar seolah menjadi amunisi paling mematikan bagi Steffi. Narasi playing victim yang ia rancang dengan sangat rapi sukses meracuni pikiran orang tua mereka."David! Apa-apaan ini?!" bentak Jon dengan nada bariton memuncak, matanya membelalak menatap putranya sendiri."Papamu mendidik kamu untuk menjadi pria yang bertanggung jawab, bukan pria berengsek yang sibuk menuduh istri sendiri padahal kelakuanmu di belakang tidak kalah menjijikkan!"Rose meremas dadanya yang terasa sesak. Pandangan kecewa yang semula ditujukan pada Steffi kini beralih sepenuhnya menghantam David."Mama tidak menyangka, David... Kamu membawa bukti kesalahan Steffi hanya untuk menutupi kebejatanmu sendiri di hotel?! Kamu menyudutkan wanita yang sedang mengandung, padahal kamu sendiri bermain gila di luar sana!"Indah merangkul Steffi yang sibuk men
Dua keluarga besar itu duduk saling berhadapan di ruang tamu mewah kediaman Lion dan Indah. Suasana yang semula hangat oleh sambutan ramah tuan rumah seketika membeku kaku saat kata ‘cerai’ terucap tegas dan dingin dari bibir David. "Kenapa harus bercerai? Apakah tidak ada solusi lain lagi, David?" ujar Rose, mama David, menatap putranya dengan pendar cemas dan rasa tidak percaya.Indah, mama Steffi, meremas lembut jemari putrinya yang berada di pangkuan seraya menatap David dengan tatapan memohon."Sayang... Pertengkaran kecil di antara suami istri itu hal yang sangat wajar dalam dinamika rumah tangga. Tapi bukankah kalian bisa mengobrolkannya baik-baik? Jangan langsung mengambil keputusan sebesar ini tanpa menimbang masa depan kalian.""David, kamu sebagai suami harusnya bisa bertindak lebih bijak dan dewasa dalam memimpin rumah tangga," tambah Jon, papa David.Dengan suara baritonnya yang berat dan menekan, Ia menghembuskan napas berat ke udara.David menghembuskan napas panjang,
"Dia adalah suami saya!" pukasnya tegas penuh penegasan hak milik.Arunika pura-pura tersentak kaget. Wajahnya seketika berubah kaku dan tidak enak hati."O-oh... iya Mbak! Maaf sekali!" ujar Arunika dengan vokal yang diatur penuh panik seraya menangkupkan kedua tangannya."Maaf sekali, Mbak... Foto ini mungkin terlihat tidak etis di mata Mbak sebagai istrinya. Tapi serius, Mbak... Kejadiannya sama sekali tidak seperti yang terlihat di foto ini!"Arunika menyusun penjelasannya persis seperti skenario yang diarahkan Altair."Waktu itu saya sedang berdebat sengit dengan seseorang di pinggir jalan... Lalu tiba-tiba orang itu mendorong saya dengan kasar ke belakang. Nah... Bapak ini tiba-tiba melompat dan menolong saya supaya saya tidak menghantam aspal."Penjelasan runtut dari Arunika benar-benar klop dan cocok seratus persen dengan cerita yang disampaikan Altair di dalam mobil waktu itu!Alice menopang dagunya."Jadi... kamu benar-benar baru pertama kali itu bertemu dengan suami s
Sinar matahari pagi menyiram hangat pelataran rumah sakit swasta terkemuka di pusat kota. Di ruang tunggu dokter spesialis anak, suasana begitu tenang. Imunisasi Bintang berjalan dengan sangat lancar. Bayi mungil itu hanya sempat menangis sebentar saat jarum suntik menembus paha gempalnya, lalu kembali tenang dan anteng begitu Arunika mendekapnya penuh kehangatan. Usai menyuarakan ucapan terima kasih pada dokter spesialis anak, Arunika melangkah keluar menyusuri koridor rumah sakit menuju area parkir VIP. Di sampingnya, Mira berjalan riang seraya menggendong Bintang yang tertidur lelap beralaskan selimut bayi bermotif lembut, sementara Boy melangkah siaga beberapa tapak di belakang mereka. Namun, tepat saat mereka keluar melintasi pintu kaca utama rumah sakit dan menuju ke arah Alphard hitam, langkah Arunika mendadak terhenti. Seorang wanita tampak berdiri tegap, bersedekap dada di dekat kendaraan mereka. Wanita itu memiliki postur tubuh yang tinggi, langsing, nan anggun bagaikan s







