Beranda / Rumah Tangga / Terjerat Takdir Tuan Saka / Balas Dendam yang Terlalu Manis

Share

Terjerat Takdir Tuan Saka
Terjerat Takdir Tuan Saka
Penulis: Ruimoraa

Balas Dendam yang Terlalu Manis

Penulis: Ruimoraa
last update Terakhir Diperbarui: 2024-01-20 15:21:14

Langit sore menyaput jingga tipis di atas atap rumah megah bergaya klasik modern itu. Sebuah mobil Mercedes Benz hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang utama. Dari dalamnya, turunlah seorang pria muda dengan jas hitam pas badan membalut tubuhnya, wajahnya datar, dingin dan penuh tekanan.

Saka Valenbrand, anak sulung keluarga Valenbrand yang baru kembali dari Eropa setelah bertahun-tahun mengurus cabang bisnis keluarga. Langkah sepatu kulit pria itu memantul nyaring di lantai marmer rumah yang mengilap. Setiap pelayan yang melihatnya langsung menunduk, menahan napas, seolah kehadirannya membawa badai. Tanpa banyak bicara, ia melangkah melewati pelayan yang membungkuk memberi salam.

"Selamat datang, tuan Saka—"

"Kopi di meja kerja saya dalam lima menit," ucapnya datar tanpa menoleh. Pelayan itu hanya mengangguk, menahan napas karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Saka melewati ruang tamu, matanya sempat menyapu hiasan dinding marmer, chandelier kristal yang menggantung elegan di langit-langit setinggi tujuh meter, dan sofa kulit yang disusun rapi. Ia menapaki tangga dengan sepatu kulit mengilap yang memantulkan cahaya. Saat itulah ia mendengar percakapan samar dari ruang kerja di samping lorong.

"Kala, papah yakin keluarga Hadibrata akan menerima kamu dengan baik. Anak gadisnya juga anak baik-baik," ucap Dharma terdengar meyakinkan.

"Aku ga peduli! Siapapun anak dari keluarga itu, aku ga akan menerima perjodohan ini! Lagipula aku kan pernah bilang, kalau aku punya perempuan yang aku cintai, nanti aku kenalkan, kok!" tolak Sekala, adik tiri Saka.

Saka berhenti. Rahangnya mengeras, lalu tanpa mengetuk, ia membuka pintu ruang kerja papahnya dan masuk begitu saja.

"Waw, lihat betapa beratnya pembicaraan ini, sampai-sampai wajah adik kesayanganku jadi merah padam seperti ini," ledek Saka, membuat Sekala menatapnya dengan tajam.

"Saka?!" Dharma perlahan berdiri, terkejut melihat kepulangan putranya yang tiba-tiba.

"Kenapa kaget begitu, pah? Papah ga suka aku pulang?" tanya Saka santai, yang dengan cepat mendapat gelengan kepala panik dari Dharma.

"Bukan begitu, Saka. Tapi seingat papah, seharusnya penerbangan kamu kan lusa, papah belum menyiapkan banyak hal untuk kamu di rumah," jelas Dharma. Lelaki paruh baya itu berjalan mendekati Saka dan memeluknya.

"Selamat datang kembali, putraku," ucap Dharma dengan lembut.

Saka tak menyahuti, ia melepaskan pelukan Dharma dan beralih menatap Sekala. "Yah, dan karena aku sudah di sini, sepertinya aku sudah siap untuk menikah," ucapnya dengan tegas.

Mendengar itu, nampak binar kekhawatiran dalam sorot mata Dharma. "Kamu yakin, Saka?"

"Kenapa papah begitu khawatir melepas aku untuk menikah? Aku tetap bisa bekerja dengan baik bahkan setelah menikah. Dan lagi, umurku lebih matang untuk menikah ketimbang bocah ingusan itu." Merasa muak dengan omongan kakak tirinya, Sekala menghentakkan kakinya dan melenggang keluar dari ruang kerja Dharma.

"Jangan begitu, kenapa sih kalian ribut terus... Kalian sudah dewasa, lho." Dharma menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.

"Aku kan cuma becanda, dia aja yang baperan," sahut Saka dengan santai.

"Papah tenang aja, perjodohan ini akan berjalan dengan mulus. Dan aku sendiri yang akan menghubungi keluarga Hadibrata untuk mengabari keputusan ini." Dharma menatap putranya dengan tatapan penuh rasa curiga, ia sangat tahu jika putranya itu sangat membenci keluarga Hadibrata. Lantas, mengapa ia dengan mudahnya menawarkan diri seperti itu.

"Saka, kamu... tidak berniat untuk berbuat macam-macam pada keluarga itu, kan?" tanya Dharma hati-hati. Saka tersenyum lalu tertawa menimpali kecurigaan Dharma.

"Jangan khawatir, pah. Aku tau apa yang harus aku lakukan," balasnya santai. Saka berbalik tanpa menunggu balasan berikutnya dari Dharma, ia membuka pintu ruang kerja Dharma yang sebelumnya tertutup dan keluar dari sana.

Ia meraih ponsel yang berada dalam saku celananya, lalu dengan mantap menekan nomor seseorang dan menghubunginya.

---

Setelah mengasah otak sejak pagi di kampus, ditambah rapat organisasi yang memuakkan, akhirnya Arum kembali menginjakkan kakinya di rumah. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang sudah seharian ia gunakan kemudian menatanya dengan rapi ke dalam rak sepatu. Langkahnya kini terhenti di ruang tamu, lebih tepatnya di hadapan orang tuanya yang sedang duduk di sofa untuk mencium punggung tangan keduanya.

"Akhirnya kamu pulang juga, ayo cepet bantu ibu beresin rumah. Piring di dapur belum dicuci, makan malamnya juga habis, kamu bisa masak sendiri, kan? Ada telur tuh di lemari," ucap Dewi setelah Arum mencium punggung tangannya. Sembari berusaha tetap tersenyum, Arum mengiyakan perkataan ibu tirinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan dirinya.

Setelah selesai, Arum pergi menuju dapur dan membuka lemari yang biasa digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti telur, mie instan dan lain-lain. Ia mengambil sebutir telur dan menggorengnya. Sambil menggoreng, sesekali matanya melirik pada Sarah, adik tirinya yang kini ada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Mereka sedang melihat pakaian-pakaian baru yang kemarin baru saja mereka beli di mall.

"Oh ya, baju buat Arum mana?" tanya Satya, ayah Arum. Tangannya bergerak mencari sesuatu di tumpukan baju. Melihat itu, Dewi meliriknya dengan tatapan sinis.

"Ga ada! Lagian bajunya Arum kan udah banyak!" sahut Dewi dengan ketus.

"Bukan gitu, Arum kan mau ketemu calonnya, masa ga pakai baju baru," timpal Satya membuat Dewi mengembuskan napas kesal.

"Duh! Udah deh, mas! Arum itu cuma ketemu sama calon suaminya, ga perlu lah pakai baju yang bagus! Lebay banget! Udah ah, ayo sayang kita lihat bajunya di kamar aja!" ajak Dewi pada putrinya, Sarah. Mereka mengambil pakaian yang berserakan lalu membawanya ke kamar.

Arum yang dapat mendengar percakapan tersebut menghentikan aktivitasnya yang sedang menuangkan kecap ke atas nasi. Ia berjalan perlahan menghampiri ayahnya lalu duduk di samping pria paruh baya itu. "Ayah, aku salah denger, kan? Apa maksud ayah dengan calon suami?" tanya Arum dengan penuh penekanan, ia tidak ingin jika hal itu adalah benar.

"Iya, Rum. Ayah belum sempat bilang sama kamu, ini rencananya ayah mau ngasih tau kamu. Begini... um…." Ucapan Satya terjeda, raut wajahnya nampak bingung hendak menjelaskan mulai dari mana.

"Kenapa, yah?" Arum menyentuh lengan Satya, membuat pandangan lelaki paruh baya itu kini sepenuhnya menatap dirinya.

"Kamu tahu, kan? Kalau dalam beberapa bulan terakhir perusahaan lagi dalam masalah dan kita hampir bangkrut?" Arum mengangguk dengan raut wajah serius, ingin tahu apa kalimat berikutnya yang akan Satya ucapkan.

"Beberapa hari lalu lawan bisnis kita tiba-tiba menghubungi ayah, dia menawarkan bantuan berupa modal untuk memperbaiki masalah kita ini, dan dia juga mengatakan akan menganggap lunas semua hutang yang pernah ayah pinjam dari dia. Tapi…." Arum mengerutkan keningnya, mulai menebak alur cerita berikutnya.

".. Dia ingin ayah menyerahkan salah satu putri ayah untuk dijadikan sebagai istri keduanya." Arum melepas pegangan tangannya pada Satya, ia menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata tak percaya mendengar apa yang Satya katakan barusan.

".. Jadi maksudnya, ayah jual aku?" Arum diam sebentar memperhatikan wajah panik Satya, lalu beranjak hendak meninggalkan lelaki itu. Tak ingin Arum pergi tanpa persetujuan, Satya memegang tangan Arum dan menahan gadis itu untuk pergi.

"Dengar ayah dulu, Rum. Ga ada yang salah dengan sebuah perjodohan, banyak kok yang berakhir bahagia, walau usia yang terpaut jauh sekalipun. Percaya sama ayah, kamu akan bahagia dengan calon kamu ini. Selain itu, masalah ayah juga jadi berkurang, kan? Lakukan ini demi ayah, ya?" bujuk Satya dengan raut wajah memelas.

"Ayah juga ga bisa membiarkan Sarah yang menikah dengan lelaki tua itu, Rum. Dia baru setahun lalu lulus SMA dan masih sangat muda, kasihan dia," lanjut Satya membuat Arum membulatkan matanya. Lalu apa bedanya dengan Arum yang hanya berbeda dua tahun dengan Sarah, begitu pikir Arum.

Mau dipikir dan ditolak berapa kalipun, Arum tau, ia tak akan bisa menolak atau lari dari masalah ini. Mau tidak mau, ia harus mengiyakan apa yang Satya inginkan. Dengan terpaksa, Arum mengangguk mengiyakan permintaan Satya. Melihat itu lantas membuat senyuman terukir lebar di wajah Satya.

Tanpa memastikan bagaimana perasaan putri sulungnya setelah pembicaraan itu, Satya berdiri dan meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu menelepon seseorang dengan girang, sepertinya itu adalah pihak yang akan segera memberinya uang dalam jumlah besar. Arum tersenyum pahit lalu berlalu meninggalkan Satya menuju kamar miliknya.

Sesampainya di dalam kamar, Arum mengunci pintu dan merebahkan dirinya di atas kasur. Mood-nya hancur seketika memikirkan apa yang baru saja ia bicarakan dengan ayahnya, bahkan nasi yang sudah ia siapkan di dapur pun ia tinggal begitu saja. Matanya terpejam, lalu bulir air mata jatuh begitu saja. Pikirannya berkecamuk membayangkan harus menghabiskan sisa hidupnya bersama orang asing yang bahkan mungkin sebaya dengan ayahnya.

Bayang-bayang Sekala kini muncul memenuhi kepala Arum. Ia menghela napas berat lalu tersenyum pahit ketika memikirkan bahwa lelaki yang sudah Arum kagumi sejak satu tahun lalu itu memanglah bukan jodohnya.

Arum menenggelamkan kepalanya pada bantal kesayangan yang selalu menemani tidurnya, lalu menangis dengan isakan yang berusaha ia tahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Kecurigaan yang Belum Bernama

    Koridor itu kembali sunyi setelah pintu ruang kerja Saka tertutup. Lampu-lampu putih memantul di lantai marmer, dingin dan rapi, kontras dengan kepala Raka yang sedang riuh.Langkahnya melambat ketika dua sosok keluar dari ruangan itu.Nico lebih dulu, wajahnya datar namun bahunya kaku, seperti seseorang yang menahan lelah terlalu lama. Di belakangnya, Arga menyusul, jasnya rapi, tetapi sorot matanya tidak. Bukan lelah biasa, itu adalah tatapan seseorang yang baru saja membicarakan sesuatu yang terlalu serius untuk dibawa keluar ruangan.Raka berhenti sepersekian detik, alisnya bertaut. Dalam sepersekian detik itu, cukup bagi Raka untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di samping Nico. "Ngapain Arga di sini?"Pertanyaan itu muncul cepat, tajam dan langsung melekat di kepalanya. Arga bukan tipe orang yang akan datang tanpa alasan. Apalagi dengan raut wajah seperti itu. Nico dan Arga sendiri berhenti berbicara saat seseorang muncul dari arah berlawanan. Seseorang dengan langkah

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Ketika Duka Datang Bersamaan

    Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka. Arga melangkah masuk lebih dulu, disusul Nico di belakangnya.Langkah Arga lebih lambat dari biasanya, bahunya turun, wajahnya sedikit pucat, seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya.Saka langsung mengangkat kepala. Tatapannya menajam mencari sosok yang tak kunjung masuk ke dalam ruangan. "Mana Maverick?"Pertanyaan itu keluar spontan, bahkan sebelum Arga duduk.Arga menelan ludah, wajahnya berubah sedikit sendu. Nico yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Arga, memberi sedikit tekanan pada bahu itu untuk duduk di kursi.Untuk sepersekian detik, ketiganya terdiam dalam hening yang aneh, berat dan tidak nyaman. Suara helaan napas Arga akhirnya memecah keheningan, sebelum akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Dia di rumah sakit, lagi nemenin Lia."Alis Saka berkerut, ada sesuatu yang langsung terasa salah. "Kenapa di rumah sakit? Emangnya udah waktunya lahiran?"Nico menoleh pada Arga dengan raut sedih, le

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Rumah Bukan Lagi Tempat Aman

    Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara di dalamnya berat, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menekan dada.Nico berlari panik memasuki ruangan, langkahnya melambat saat melihat ekspresi Saka, tangan lelaki itu mengepal erat, rahangnya jelas terlihat mengeras. Nico sempat melirik pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di atas lalu menatap Saka. "Ada apa? Ada kiriman lagi?"Saka langsung memberikan kertas kosong itu pada Nico, wajahnya memucat. "Orang ini udah masuk rumah, Nico," suaranya rendah, nyaris datar. Namun Nico tahu, itu bukan suatu ketenangan, melainkan amarah yang ditahan mati-matian.Nico menatap kertas itu dengan kening mengernyit, ia merasa sudah tahu kertas apa ini sebelum Saka menjelaskan. Ia memiringkan kepala, tangannya refleks mengangkat kertas itu ke arah cahaya jendela. Saat itu juga, ia melihat garis-garis bayangan mulai jelas menampilkan foto Arum. "Sa, ini..."Saka yang masih berdiri di depan jendela, menatap keluar dengan mata gelap,

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Ancaman Tanpa Suara

    Pagi itu, cuaca sedikit mendung saat Saka dan Arum baru turun dari kamar. Belum sempat mereka duduk di meja makan, terdengar suara ketukan pintu disertai suara pak Dadang yang memanggil dengan sopan.Segera, Saka dan Arum menghampiri. Begitu bertatapan dengan pak Dadang, lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah paket besar yang baru saja dikirim oleh kurir. Kotaknya elegan, dibungkus rapi tanpa label pengirim. Hanya nama Saka yang tertulis di bagian atasnya. Saka mengernyit, lalu menatap Arum. "Kamu pesan sesuatu?"Arum menggelengkan kepala. "Engga, kok. Ini tertulis untuk tuan, bukan tuan yang pesan?"Saka menggelengkan kepala, ia juga tak merasa memesan apapun. Ingatannya berputar pada paket sebelumnya yang datang, apakah ini berasal dari orang yang sama?Rasa penasaran itu mengalahkan rasa curiganya. Ia membawa kotak itu masuk dan membukanya perlahan di ruang tamu.Begitu tutup terbuka, aroma bunga segar langsung menyergap. Namun itu bukanlah bunga biasa. Mata Arum membesar saat m

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Efek Domino

    Awalnya hanya hal kecil, terlalu kecil untuk disebut masalah. Namun cukup aneh untuk membuat Saka mengernyitkan keningnya.Email klien penting tiba-tiba menghilang dari server internal. Laporan keuangan yang sudah disetujui tiba-tiba berubah angka. Meeting yang seharusnya tertutup bocor ke pihak luar, lengkap dengan detail yang seharusnya hanya diketahui jajaran tertentu. Bahkan Clara sebagai sekretaris pun mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini. Meski dia sering menghilang di saat kerja, namun dia bersumpah tidak pernah membocorkan apapun pada pihak luar."Ini bukan human error,” gumam Saka, berdiri di depan layar ruang rapat dengan rahang mengeras. Naluri manajemennya langsung berisik, pola ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan.Kantor mulai terasa panas. Karyawan saling bisik, kepala divisi panik. Semua orang menunggu keputusan, namun sebuah keputusan tidak bisa dibuat begitu saja.Tak hanya itu, masalah terus datang beruntun. Investor meminta klarifikasi, partner huk

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Saat Tenang Mulai Terusik

    Begitu Raka Pradipta melangkah masuk ke gedung tinggi Savera Holdings, udara dingin dari AC tak sanggup meredam panas di dadanya, jantungnya berdegup keras. Ini... adalah wilayah kekuasaan dari seorang Saka Valenbrand. Bangunan itu megah, logo perusahaan terukir angkuh di dinding resepsionis. Meski begitu, tak ada sedikit pun kebencian tergambar di wajahnya ketika Nico menyapanya. "Selamat siang. Pak Raka, ya? Saya Nico, orang kepercayaan tuan Saka. Mari saya antar ke atas." Raka tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, pak Nico. Saya sudah merepotkan." Mereka masuk ke dalam lift dan naik bersama menuju ruangan presiden direktur. Raka diam-diam mencuri pandang ke arah lantai lift yang terus naik, dan sesekali melihat pantulan dirinya dan Nico di dinding lift stainless itu. Lift berdenting, mereka tiba di lantai paling atas. Nico mempersilakan Raka masuk ke dalam ruangan presiden direktur, tempat di mana Saka sudah menunggu. Ruangan kerja Saka sian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status