LOGIN
Langit sore menyaput jingga tipis di atas atap rumah megah bergaya klasik modern itu. Sebuah mobil Mercedes Benz hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang utama. Dari dalamnya, turunlah seorang pria muda dengan jas hitam pas badan membalut tubuhnya, wajahnya datar, dingin dan penuh tekanan.
Saka Valenbrand, anak sulung keluarga Valenbrand yang baru kembali dari Eropa setelah bertahun-tahun mengurus cabang bisnis keluarga. Langkah sepatu kulit pria itu memantul nyaring di lantai marmer rumah yang mengilap. Setiap pelayan yang melihatnya langsung menunduk, menahan napas, seolah kehadirannya membawa badai. Tanpa banyak bicara, ia melangkah melewati pelayan yang membungkuk memberi salam. "Selamat datang, tuan Saka—" "Kopi di meja kerja saya dalam lima menit," ucapnya datar tanpa menoleh. Pelayan itu hanya mengangguk, menahan napas karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun. Saka melewati ruang tamu, matanya sempat menyapu hiasan dinding marmer, chandelier kristal yang menggantung elegan di langit-langit setinggi tujuh meter, dan sofa kulit yang disusun rapi. Ia menapaki tangga dengan sepatu kulit mengilap yang memantulkan cahaya. Saat itulah ia mendengar percakapan samar dari ruang kerja di samping lorong. "Kala, papah yakin keluarga Hadibrata akan menerima kamu dengan baik. Anak gadisnya juga anak baik-baik," ucap Dharma terdengar meyakinkan. "Aku ga peduli! Siapapun anak dari keluarga itu, aku ga akan menerima perjodohan ini! Lagipula aku kan pernah bilang, kalau aku punya perempuan yang aku cintai, nanti aku kenalkan, kok!" tolak Sekala, adik tiri Saka. Saka berhenti. Rahangnya mengeras, lalu tanpa mengetuk, ia membuka pintu ruang kerja papahnya dan masuk begitu saja. "Waw, lihat betapa beratnya pembicaraan ini, sampai-sampai wajah adik kesayanganku jadi merah padam seperti ini," ledek Saka, membuat Sekala menatapnya dengan tajam. "Saka?!" Dharma perlahan berdiri, terkejut melihat kepulangan putranya yang tiba-tiba. "Kenapa kaget begitu, pah? Papah ga suka aku pulang?" tanya Saka santai, yang dengan cepat mendapat gelengan kepala panik dari Dharma. "Bukan begitu, Saka. Tapi seingat papah, seharusnya penerbangan kamu kan lusa, papah belum menyiapkan banyak hal untuk kamu di rumah," jelas Dharma. Lelaki paruh baya itu berjalan mendekati Saka dan memeluknya. "Selamat datang kembali, putraku," ucap Dharma dengan lembut. Saka tak menyahuti, ia melepaskan pelukan Dharma dan beralih menatap Sekala. "Yah, dan karena aku sudah di sini, sepertinya aku sudah siap untuk menikah," ucapnya dengan tegas. Mendengar itu, nampak binar kekhawatiran dalam sorot mata Dharma. "Kamu yakin, Saka?" "Kenapa papah begitu khawatir melepas aku untuk menikah? Aku tetap bisa bekerja dengan baik bahkan setelah menikah. Dan lagi, umurku lebih matang untuk menikah ketimbang bocah ingusan itu." Merasa muak dengan omongan kakak tirinya, Sekala menghentakkan kakinya dan melenggang keluar dari ruang kerja Dharma. "Jangan begitu, kenapa sih kalian ribut terus... Kalian sudah dewasa, lho." Dharma menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Aku kan cuma becanda, dia aja yang baperan," sahut Saka dengan santai. "Papah tenang aja, perjodohan ini akan berjalan dengan mulus. Dan aku sendiri yang akan menghubungi keluarga Hadibrata untuk mengabari keputusan ini." Dharma menatap putranya dengan tatapan penuh rasa curiga, ia sangat tahu jika putranya itu sangat membenci keluarga Hadibrata. Lantas, mengapa ia dengan mudahnya menawarkan diri seperti itu. "Saka, kamu... tidak berniat untuk berbuat macam-macam pada keluarga itu, kan?" tanya Dharma hati-hati. Saka tersenyum lalu tertawa menimpali kecurigaan Dharma. "Jangan khawatir, pah. Aku tau apa yang harus aku lakukan," balasnya santai. Saka berbalik tanpa menunggu balasan berikutnya dari Dharma, ia membuka pintu ruang kerja Dharma yang sebelumnya tertutup dan keluar dari sana. Ia meraih ponsel yang berada dalam saku celananya, lalu dengan mantap menekan nomor seseorang dan menghubunginya. --- Setelah mengasah otak sejak pagi di kampus, ditambah rapat organisasi yang memuakkan, akhirnya Arum kembali menginjakkan kakinya di rumah. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang sudah seharian ia gunakan kemudian menatanya dengan rapi ke dalam rak sepatu. Langkahnya kini terhenti di ruang tamu, lebih tepatnya di hadapan orang tuanya yang sedang duduk di sofa untuk mencium punggung tangan keduanya. "Akhirnya kamu pulang juga, ayo cepet bantu ibu beresin rumah. Piring di dapur belum dicuci, makan malamnya juga habis, kamu bisa masak sendiri, kan? Ada telur tuh di lemari," ucap Dewi setelah Arum mencium punggung tangannya. Sembari berusaha tetap tersenyum, Arum mengiyakan perkataan ibu tirinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan dirinya. Setelah selesai, Arum pergi menuju dapur dan membuka lemari yang biasa digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti telur, mie instan dan lain-lain. Ia mengambil sebutir telur dan menggorengnya. Sambil menggoreng, sesekali matanya melirik pada Sarah, adik tirinya yang kini ada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Mereka sedang melihat pakaian-pakaian baru yang kemarin baru saja mereka beli di mall. "Oh ya, baju buat Arum mana?" tanya Satya, ayah Arum. Tangannya bergerak mencari sesuatu di tumpukan baju. Melihat itu, Dewi meliriknya dengan tatapan sinis. "Ga ada! Lagian bajunya Arum kan udah banyak!" sahut Dewi dengan ketus. "Bukan gitu, Arum kan mau ketemu calonnya, masa ga pakai baju baru," timpal Satya membuat Dewi mengembuskan napas kesal. "Duh! Udah deh, mas! Arum itu cuma ketemu sama calon suaminya, ga perlu lah pakai baju yang bagus! Lebay banget! Udah ah, ayo sayang kita lihat bajunya di kamar aja!" ajak Dewi pada putrinya, Sarah. Mereka mengambil pakaian yang berserakan lalu membawanya ke kamar. Arum yang dapat mendengar percakapan tersebut menghentikan aktivitasnya yang sedang menuangkan kecap ke atas nasi. Ia berjalan perlahan menghampiri ayahnya lalu duduk di samping pria paruh baya itu. "Ayah, aku salah denger, kan? Apa maksud ayah dengan calon suami?" tanya Arum dengan penuh penekanan, ia tidak ingin jika hal itu adalah benar. "Iya, Rum. Ayah belum sempat bilang sama kamu, ini rencananya ayah mau ngasih tau kamu. Begini... um…." Ucapan Satya terjeda, raut wajahnya nampak bingung hendak menjelaskan mulai dari mana. "Kenapa, yah?" Arum menyentuh lengan Satya, membuat pandangan lelaki paruh baya itu kini sepenuhnya menatap dirinya. "Kamu tahu, kan? Kalau dalam beberapa bulan terakhir perusahaan lagi dalam masalah dan kita hampir bangkrut?" Arum mengangguk dengan raut wajah serius, ingin tahu apa kalimat berikutnya yang akan Satya ucapkan. "Beberapa hari lalu lawan bisnis kita tiba-tiba menghubungi ayah, dia menawarkan bantuan berupa modal untuk memperbaiki masalah kita ini, dan dia juga mengatakan akan menganggap lunas semua hutang yang pernah ayah pinjam dari dia. Tapi…." Arum mengerutkan keningnya, mulai menebak alur cerita berikutnya. ".. Dia ingin ayah menyerahkan salah satu putri ayah untuk dijadikan sebagai istri keduanya." Arum melepas pegangan tangannya pada Satya, ia menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata tak percaya mendengar apa yang Satya katakan barusan. ".. Jadi maksudnya, ayah jual aku?" Arum diam sebentar memperhatikan wajah panik Satya, lalu beranjak hendak meninggalkan lelaki itu. Tak ingin Arum pergi tanpa persetujuan, Satya memegang tangan Arum dan menahan gadis itu untuk pergi. "Dengar ayah dulu, Rum. Ga ada yang salah dengan sebuah perjodohan, banyak kok yang berakhir bahagia, walau usia yang terpaut jauh sekalipun. Percaya sama ayah, kamu akan bahagia dengan calon kamu ini. Selain itu, masalah ayah juga jadi berkurang, kan? Lakukan ini demi ayah, ya?" bujuk Satya dengan raut wajah memelas. "Ayah juga ga bisa membiarkan Sarah yang menikah dengan lelaki tua itu, Rum. Dia baru setahun lalu lulus SMA dan masih sangat muda, kasihan dia," lanjut Satya membuat Arum membulatkan matanya. Lalu apa bedanya dengan Arum yang hanya berbeda dua tahun dengan Sarah, begitu pikir Arum. Mau dipikir dan ditolak berapa kalipun, Arum tau, ia tak akan bisa menolak atau lari dari masalah ini. Mau tidak mau, ia harus mengiyakan apa yang Satya inginkan. Dengan terpaksa, Arum mengangguk mengiyakan permintaan Satya. Melihat itu lantas membuat senyuman terukir lebar di wajah Satya. Tanpa memastikan bagaimana perasaan putri sulungnya setelah pembicaraan itu, Satya berdiri dan meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu menelepon seseorang dengan girang, sepertinya itu adalah pihak yang akan segera memberinya uang dalam jumlah besar. Arum tersenyum pahit lalu berlalu meninggalkan Satya menuju kamar miliknya. Sesampainya di dalam kamar, Arum mengunci pintu dan merebahkan dirinya di atas kasur. Mood-nya hancur seketika memikirkan apa yang baru saja ia bicarakan dengan ayahnya, bahkan nasi yang sudah ia siapkan di dapur pun ia tinggal begitu saja. Matanya terpejam, lalu bulir air mata jatuh begitu saja. Pikirannya berkecamuk membayangkan harus menghabiskan sisa hidupnya bersama orang asing yang bahkan mungkin sebaya dengan ayahnya. Bayang-bayang Sekala kini muncul memenuhi kepala Arum. Ia menghela napas berat lalu tersenyum pahit ketika memikirkan bahwa lelaki yang sudah Arum kagumi sejak satu tahun lalu itu memanglah bukan jodohnya. Arum menenggelamkan kepalanya pada bantal kesayangan yang selalu menemani tidurnya, lalu menangis dengan isakan yang berusaha ia tahan.Setelah kejadian Saka refleks menolak sentuhan Arum, suasana sempat canggung untuk beberapa detik. Namun begitu Saka mengizinkan, Arum pun mulai memijat perlahan.Arum mulai dari menempelkan telapak tangannya ke kedua sisi bahu Saka, memastikan tekanan awalnya lembut, memberi waktu untuk tubuh Saka beradaptasi. Arum menyadari, Saka bukan seseorang yang biasa disentuh, terlebih dalam kondisi sedang rentan. Maka gerakannya ia lakukan perlahan tanpa paksaan.Jemari Arum terus bergerak lembut dari punggung atas sampai ke pangkal leher. Terkadang menggunakan jempol untuk melepaskan simpul otot, terkadang menggunakan telapak tangan untuk tekanan yang lebih besar. "Sakit?" tanya Arum hati-hati."Engga," jawab Saka singkat, matanya setengah terpejam.Semakin lama, tubuhnya mulai lemas. Saka mulai merasa... tenang. Bukan seperti saat disentuh Clara yang selalu punya maksud tersembunyi. Sentuhan Arum ringan, ritmis dan tak berlebihan. Benar-benar membuatnya tenang.Setelah beberapa menit, jemar
Pagi itu matahari baru naik separuh. Dari arah dapur tercium wangi nasi hangat dan aroma tumisan buatan Arum. Ia menyiapkan bekal dengan hati-hati, masukkan sayur dan ayam ke dalam kotak makan stainless yang kemudian dibungkus rapi. Kebetulan Saka muncul dari tangga ketika Arum sudah selesai menyiapkan bekal. Ia menyodorkan lunch box itu pada Saka dengan senyum kecil di bibirnya. "Ini bekalnya, tuan." Saka melirik kotak makan itu, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Maaf, tapi saya ga mau diri saya repot bawa-bawa kotak makan kayak gitu," ucapnya datar, namun ada nada sinis dalam caranya bicara. Arum mengerutkan kening mendengar itu. "Kan bisa ditaruh di mobil, tuan? Dan biasanya juga kan kak Nico yang bantu bawain." Saka menoleh dengan alis terangkat, mata tajamnya tertuju pada Arum. "Pokoknya kalau kamu emang mau saya makan bekal, antar langsung ke kantor di jam makan siang. Ga perlu pagi-pagi begini." Arum nampak kebingungan, karena sebelumnya Saka sudah mulai se
Saka masih diam menatap piring kosong di hadapannya, pikirannya penuh kekacauan yang tak bisa ia atur. Namun suara lembut Arum tiba-tiba menyela lamunannya."Tuan..." Saka kaget, nyaris gelagapan saat menoleh.Arum tersenyum kecil, lalu menggeser sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang ke arahnya. "Ini kado ulang tahun dari saya. Semoga tuan suka," katanya pelan. Begitu kotak hitam itu disodorkan ke meja, Saka otomatis menegang. Ia tak langsung menyentuhnya, hanya menatap penuh tekanan seolah kotak itu bisa meledak kapan saja. Matanya beralih menatap Arum dengan tatapan curiga. Hening menyelimuti beberapa detik yang terasa sangat panjang.Gejolak dalam pikirannya langsung melompat liar. "Apa ini... surat cerai? Apa ini akhirnya...?"Karena dari awal, malam itu memang terasa terlalu tenang, terlalu lembut dan itu yang justru menakutkan. Terlalu banyak yang terasa 'terakhir'.Tatapan Arum yang hangat meski redup, perhatian Arum yang terasa serba ekstra, masakan kesukaannya, hingga
Malam itu udara terasa berat bagi Saka. Ia duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, tubuhnya bersandar, satu tangan memegangi setir sementara yang lain menggenggam ponsel dengan erat. Ban mobilnya pecah, jasnya kusut dan wajahnya kusam oleh lelah dan kecemasan yang campur aduk.Layar ponselnya menampilkan satu nama, Arum.Saka mendesah pelan. Jempolnya sempat ragu, namun akhirnya ia menekan ikon hijau itu. Dering pertama, kedua, ketiga. Saka menggigit bibir bawahnya, tangan yang memegang ponsel mulai berkeringat entah mengapa. "Angkat dong…" gumamnya pelan, gelisah. Dan di dering keempat…"Halo, tuan?"Saka langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara Arum yang sedikit serak di ujung sana. ".. Kamu udah tidur?" tanya Saka, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Belum, tuan. Tadi saya dari kamar mandi. Ada apa, tuan?"Saka terdiam sebentar, menatap gelap di luar jendela sebelum menjawab. "Ban mobil saya pecah," katanya datar."APA?!" Suara Arum terdengar pani
Pagi itu, udara terasa lebih ringan dari biasanya. Langit cerah dan angin pagi di teras rumah tak sedingin biasanya. Saka yang sudah siap berangkat ke kantor melangkah ke mobil dengan langkah santai dengan senyum merekah, dan itu cukup aneh bagi Nico yang sudah menunggunya sejak tadi, seperti biasa.Begitu membukakan pintu belakang mobil, Nico tak melewatkan kesempatan untuk menyapa dan memberikan ucapan selamat. "Selamat ulang tahun, tuan."Saka sempat diam sepersekian detik, baru akhirnya melirik ke arah Nico dengan tatapan dingin yang gagal menutupi senyuman kecil yang nyaris muncul. "Siapa yang ulang tahun?" jawabnya sengaja.Nico tertawa pelan. "Ah, ngeles. Padahal tadi keluar rumah mukanya cerah banget. Pasti habis dapat kejutan, ya?"Saka masuk ke mobil tanpa menanggapi, namun mulutnya melengkung tipis ke arah jendela. "Kejutan, ya…"***Sesampainya di kantor, seperti biasa Saka langsung masuk ke ruangannya. Ia duduk di balik meja kerjanya dan membuka laptop, siap untuk bekerja
Begitu pintu utama terbuka, Arum sudah berdiri di ambang, seperti biasa. Ia menyambut Saka dengan senyum kecil, lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan suaminya. "Selamat datang, tuan," ucapnya pelan.Saka membalas uluran tangan itu lalu mengangguk singkat, setelahnya ia melangkah masuk tanpa menatap langsung ke mata Arum. Wajahnya datar, dingin, ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya. Saka yang terasa sedikit lebih lunak akhir-akhir ini, entah kenapa kembali mengeras di mata Arum.Belum sempat Arum membuka mulut untuk menawarkan makan malam atau sekadar bertanya kabar, Saka lebih dulu bicara. "Habis ini, kamu ke ruangan saya," titah Saka singkat dan tajam.Arum mengerjap, lalu menganggukkan kepala. "Iya, tuan."Saka tak berkata lebih lanjut, ia langsung naik ke lantai atas, meninggalkan Arum yang berdiri bingung di ruang tamu.---Di ruang kerjanya, Saka kembali membuka lembar tagihan yang sebelumnya ia baca di kantor. Matanya menyapu deretan transaksi yang terce







