Share

Sosok Tak Terduga

Author: Ruimoraa
last update Last Updated: 2024-01-20 15:28:39

Arum berjalan menyusuri lorong fakultasnya dengan perasaan yang masih kacau. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang perjodohan yang dibicarakan dengan ayahnya kemarin. Di tengah rasa kalut itu, langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki yang selama ini telah mengisi hatinya sedang berdiri tak jauh darinya, lelaki itu terlihat sedang mengobrol bersama beberapa teman sekelasnya. Jantung Arum berdegup dengan kencang, sakit sekali jika memikirkan bahwa mustahil untuk bisa bersama dengan laki-laki yang ia cintai. Pasalnya, kali ini pun ia tak akan bisa menolak perintah dari ayahnya.

Arum mengusap air mata yang tanpa izin menuruni pipinya, lalu berbalik dan segera pergi dari sana, tak ingin jika harus menatap wajah Sekala dan bicara dengan lelaki itu.

Sesampainya di kelas, Arum duduk di kursinya dan menatap papan tulis dengan tatapan kosong. Kata-kata ayahnya terus berputar-putar di kepala, memantul tanpa henti. Jantungnya berdegup cepat, seolah dunia yang selama ini ia kenal mulai runtuh begitu saja. Ia menggenggam jemarinya erat, rasanya seperti ada yang menekan dadanya dengan keras.

Apakah ini lelucon? Kenapa mereka memutuskan untuk menjodohkannya dengan orang yang belum pernah Arum kenal? Bahkan dengan seseorang yang usianya terpaut jauh dengan Arum. Lagi dan lagi, Arum menghela napas berat, mencoba menenangkan diri.

Arum tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya, lamunannya buyar seketika saat Sekala kini sudah berdiri tepat di sampingnya. Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dengan manis membuat perasaan Arum kini kian kalut.

"Tumben ke kelas duluan, biasanya kan bareng? Tadi aku liat lho waktu kamu puter balik di koridor, tapi ga bisa langsung nyamperin karena masih bahas proker sama anak-anak," jelas Sekala. Lelaki itu memperhatikan raut wajah Arum yang nampak tak baik-baik saja.

"Kamu kenapa, sih? Lagi sakit?" tanya Sekala seraya menyentuh kening Arum dengan punggung tangannya. Segera, Arum menghindar agar Sekala tak menyentuhnya. Melihat itu, membuat Kala semakin yakin ada sesuatu yang terjadi pada gadis di hadapannya.

"Maaf, Kala... tapi aku lagi pengen sendiri. Boleh tinggalin aku dulu?" Mendengar permintaan itu, Kala diam selama beberapa saat lalu mengangguk mengiyakan perkataan Arum. Lelaki itu tersenyum tipis lalu berbalik menuju bangkunya.

Meski berat, namun Arum harus membuat jarak dengan Sekala mulai saat ini, agar hatinya tak semakin terluka ketika harus menerima kenyataan bahwa Sekala memang bukanlah takdirnya. Ia memasang earphone di telinganya lalu menunduk.

Sekala benar-benar mengikuti perkataan Arum, lelaki itu tak menghampiri Arum bahkan hingga jam istirahat telah tiba. Kini, perempuan itu berjalan keluar dari kelas dengan lemas, rasanya sudah tak ada semangat sama sekali. Di luar, udara terasa dingin entah mengapa, namun hati Arum jauh lebih dingin dari itu.

Arum duduk di bangku taman, matanya terpejam berusaha meredam semua pikiran yang sedari tadi mengganggunya. Ketenangan di siang hari itu berubah ketika suara seorang perempuan yang terasa tak asing memanggilnya. "Hai, Rum! Kamu ga papa? Aku perhatiin kayaknya lagi badmood?" tanya Maya, seseorang yang menyebut dirinya sebagai bestie Arum.

Arum hanya tersenyum pahit, lalu menggeleng pelan. "Ah, ayolah! Kamu ga mau cerita sama aku?? Kenapa, sih? Cemburu lagi karena Sekala dideketin cewek??" tebak Maya yang dengan cepat dibalas gelengan kepala oleh Arum.

"Ya terus apaa?" tanya Maya lagi. Setelah berpikir sebentar, Arum memutuskan untuk menceritakan semua yang menggangu pikirannya pada Maya, berharap setelah ini bisa merasa sedikit lega.

Setelah mendengar apa yang Arum ceritakan, sontak membuat Maya memasang raut wajah tak percaya lalu tertawa kecil. Namun, ada nada yang sedikit asing dari tawa itu. "Wah! Seru juga ya, Rum. Tapi, kamu tau kan, hidup memang penuh kejutan."

Mendengar tanggapan itu, entah mengapa Arum merasa ada yang aneh, namun ia hanya bisa tersenyum lelah. Bukan itu reaksi yang ia inginkan.

"Oh yaa, kalau gitu sekarang Sekala free dong?" Arum tertegun ketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Maya. Apa maksud sahabatnya itu?

"Berarti sekarang ga papa kan kalau aku mau deket sama dia? Secara kamu bakal segera nikah sama om-om itu," sambung Maya membuat air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Arum. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan menghapus sisa air mata yang tersisa. Ia mengangguk pada Maya. Seketika itu pula, Maya bersorak senang. Dan Arum, ia hanya bisa tersenyum pahit memikirkan bahwa keputusan ini ternyata dapat membawa kebahagiaan bagi beberapa orang.

Arum menarik napas panjang lalu bangkit dari duduknya. "Aku ke toilet dulu," pamit Arum sebelum akhirnya melenggang menjauh dari Maya.

Air mata tak dapat ia bendung lagi, ia berjalan dengan cepat sembari terus menerus menghapus air matanya yang terus saja mengalir dengan deras. Hingga tanpa sengaja, ia menabrak seseorang membuat langkahnya sedikit terhuyung saat itu. "Maaf, saya ga sengaja!" ucap Arum dengan panik.

Arum mengangkat kepalanya, menatap sosok yang baru saja ia tabrak. Arum diam memperhatikan sosok laki-laki yang terasa asing baginya, laki-laki dewasa yang jika dilihat mungkin berumur sekitar 28 tahun itu terkesan tenang dan penuh wibawa. Membuat nyali Arum rasanya ciut seketika.

Lelaki itu tersenyum tipis ketika matanya bertemu dengan Arum. Dengan nada yang sedikit dingin namun penuh wibawa, ia memulai pembicaraan. "Jadi kamu yang namanya Arum? Saya Saka." Terkejut dan bingung mendengar perkenalan lelaki itu, Arum hanya bisa terdiam dan membeku. Bagaimana bisa lelaki itu mengetahui namanya?

Arum mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat lalu kembali menatap wajah tampan Saka. Dengan kaku ia menjawab, "Oh... iya, saya Arum."

Saka sedikit mendelik, ia menyadari gadis yang ada di hadapannya saat ini tengah merasa bingung dan sedikit tegang. Saka tersenyum lagi, meskipun masih ada sedikit ketegangan di udara.

Kini dengan nada yang sedikit santai, Saka tersenyum lebar pada Arum. "Senang bertemu dengan kamu, Arum. Ngomong-ngomong, kamu ga usah merasa takut sama saya. Saya donatur yang biasanya emang rutin datang ke sini," jelas Saka mendapat balasan anggukan kepala dari Arum. Tapi tetap saja, bagaimana laki-laki ini bisa mengetahui namanya??

Saka menyeringai lalu melanjutkan perkataannya, "Kalau kamu perlu bantuan, kamu bisa hubungi saya di nomor ini," ucap Saka seraya memberikan kartu namanya pada Arum.

Masih merasa aneh dengan situasi saat itu, perlahan Arum meraih kartu nama yang Saka berikan lalu tersenyum kecil pada lelaki itu. "Terima kasih."

Tak menanggapi lagi, lelaki itu melenggang meninggalkan Arum sendiri. Pikiran Arum kembali terbang, memikirkan bagaimana lelaki itu bisa tahu akan dirinya dan dengan sukarela memberikan nomor ponselnya.

Lamunan itu seketika berakhir ketika Maya menghampirinya sembari menepuk bahunya. "Hey, aku liat kamu abis ngobrol sama tuan Saka. Ngomongin apaan? Iss kok bisa sih," tanya Maya. Terdengar sedikit kekesalan pada nada bicaranya.

"Tuan... Saka?" tanya Arum, merasa heran dengan panggilan itu.

"Kamu ga tau? Sumpah ga tau? Dia itu tuan Saka, donatur utama kampus kita ini! Harusnya dia itu galak banget, bahkan dia juga bakal marah kalau dia dipanggil dengan panggilan selain 'tuan'. Pernah tuh ada yang manggil dia pake pak, ngamuk loh! Kok kamu bisa sih ngobrol sama dia? Ih iri deh~" ledek Maya seraya menyenggol lengan Arum.

"Yah, tapi mau gimanapun, kamu sih ga mungkin ya kan dapet yang modelan tuan Saka? Kamu kan nikahnya sama om-om, ups!" Tak menanggapi ocehan Maya, Arum hanya tersenyum tipis lalu menatap arah lain, sambil memikirkan apakah benar lelaki itu tak ada maksud terselubung padanya.

Arum membiarkan kehidupannya berjalan layaknya air yang mengalir. Ia tak ingin memikirkan hal tak penting dan hanya fokus pada apa yang bisa ia perbaiki, tentunya bukan nasib perjodohannya yang mengerikan. Bahkan hingga saat ini pun, ketika ia sudah duduk di ruang tamu bersama keluarga calon suaminya, ia hanya bisa pasrah dan menerima takdirnya.

Matanya naik menatap sosok lelaki paruh baya yang terasa sangat asing baginya, ditemani oleh seorang perempuan paruh baya yang sepertinya adalah istri pertama dari lelaki tersebut. Ingin sekali rasanya menangis, namun apalah daya, Arum hanya bisa meremas roknya dan menahan agar air mata itu tak sampai jatuh.

"Ah, maaf sebelumnya..." Dengan cepat pandangan Arum naik menatap lelaki bernama Dharma itu. Sesekali ia melirik pada Sera, wanita paruh baya yang duduk di samping Dharma.

"Tiba-tiba saja Saka mengabari kalau dia tidak bisa ikut hadir hari ini karena ada meeting mendadak dan urgent. Jadi bagaimana kalau kita bicarakan saja semuanya tanpa Saka hari ini?" jelas Dharma, membuat kening Arum mengerut penuh tanya.

".. Saka?" tanya Satya, raut wajahnya nampak bingung, seolah ingin menuntut penjelasan.

"Kenapa bingung seperti itu, Sat?" tanya Dharma.

"Um, apa kita harus menyertakan Saka juga dalam persiapan pernikahan ini?" tanya Satya memastikan, nada bicaranya terdengar ragu.

"Seharusnya sih begitu, baiknya kan kedua mempelai memang mempersiapkan." Mendengar jawaban itu sontak membuat Arum dan keluarganya terkejut. Bukankah mempelainya ada di hadapan mereka saat ini?

"Ah oke, jadi... Saka adalah calon suami Arum, benar begitu, ya?" tanya Satya kembali memastikan.

"Iya, dari awal kan memang begitu. Kamu ini bagaimana sih, haha! Sudahlah ayo kita tentukan tanggal dan lain-lainnya." Satya mengangguk seraya tertawa canggung kemudian melihat daftar persiapan pernikahan yang sudah Dharma siapkan.

Arum diam, mengucap syukur karena ternyata Dharma bukanlah orang yang harus menikah dengannya. Namun Saka, siapa lelaki itu? Bukan lelaki yang dulu pernah bertemu dengannya, kan? Pasti bukan, batin Arum.

Selama persiapan pernikahan, lelaki bernama Saka itu sekalipun tak pernah menunjukkan batang hidungnya pada Arum. Setiap kali ada pertemuan, lelaki itu selalu beralasan dan tak bisa hadir menemani. Dari yang awalnya penasaran, kini Arum sudah biasa saja dan terkesan tak peduli pada sosok calon suaminya itu. Mengetahui bukan lelaki dengan umur yang terpaut jauh darinya saja, itu sudah cukup baginya.

Malam ini pun, Arum yakin lelaki itu tak akan hadir menemaninya untuk mencoba gaun pengantin. Ia mendengus kesal dan mulai mengganti pakaiannya.

Gaun pengantin yang dikenakan Arum tampak seperti ciptaan dari mimpi, memeluk tubuhnya dengan sempurna. Bahan sutra halus dan lembut berkilau di bawah cahaya lampu, memberi kesan elegan yang tak berlebihan. Bagian atas gaun itu berbentuk strapless, menonjolkan bahunya yang ramping dan lehernya yang jenjang, dengan detail bordir halus di sepanjang pinggiran.

Di bagian pinggang, gaun itu terikat dengan sabuk tipis yang mempertegas lekuk tubuhnya, sementara rok gaun tersebut mengembang perlahan ke bawah, seolah menyatu dengan angin yang berhembus lembut. Di bawahnya, lapisan tulle memberikan volume yang dramatis tanpa terlihat berat, menciptakan gerakan yang mengalir seperti air setiap kali Arum bergerak.

Gaun itu tidak hanya memperlihatkan kecantikan fisik Arum, tetapi juga aura misterius dan kemewahan yang memancar dari dalam dirinya. Ia tak bisa menampik betapa sempurnanya gaun ini membalut tubuhnya.

Suara sepatu pantofel yang memasuki ruangan sontak membuat semua perhatian segera tertuju pada seseorang yang sedang berjalan hendak memasuki ruangan. Tak lama muncul sosok lelaki tinggi dengan perawakan gagah menatap ke dalam ruangan dengan wajah datar dan dinginnya. Arum membeku melihat sosok itu, sosok yang saat ini tengah berjalan mendekatinya.

".. Kamu..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Kecurigaan yang Belum Bernama

    Koridor itu kembali sunyi setelah pintu ruang kerja Saka tertutup. Lampu-lampu putih memantul di lantai marmer, dingin dan rapi, kontras dengan kepala Raka yang sedang riuh.Langkahnya melambat ketika dua sosok keluar dari ruangan itu.Nico lebih dulu, wajahnya datar namun bahunya kaku, seperti seseorang yang menahan lelah terlalu lama. Di belakangnya, Arga menyusul, jasnya rapi, tetapi sorot matanya tidak. Bukan lelah biasa, itu adalah tatapan seseorang yang baru saja membicarakan sesuatu yang terlalu serius untuk dibawa keluar ruangan.Raka berhenti sepersekian detik, alisnya bertaut. Dalam sepersekian detik itu, cukup bagi Raka untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di samping Nico. "Ngapain Arga di sini?"Pertanyaan itu muncul cepat, tajam dan langsung melekat di kepalanya. Arga bukan tipe orang yang akan datang tanpa alasan. Apalagi dengan raut wajah seperti itu. Nico dan Arga sendiri berhenti berbicara saat seseorang muncul dari arah berlawanan. Seseorang dengan langkah

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Ketika Duka Datang Bersamaan

    Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka. Arga melangkah masuk lebih dulu, disusul Nico di belakangnya.Langkah Arga lebih lambat dari biasanya, bahunya turun, wajahnya sedikit pucat, seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya.Saka langsung mengangkat kepala. Tatapannya menajam mencari sosok yang tak kunjung masuk ke dalam ruangan. "Mana Maverick?"Pertanyaan itu keluar spontan, bahkan sebelum Arga duduk.Arga menelan ludah, wajahnya berubah sedikit sendu. Nico yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Arga, memberi sedikit tekanan pada bahu itu untuk duduk di kursi.Untuk sepersekian detik, ketiganya terdiam dalam hening yang aneh, berat dan tidak nyaman. Suara helaan napas Arga akhirnya memecah keheningan, sebelum akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Dia di rumah sakit, lagi nemenin Lia."Alis Saka berkerut, ada sesuatu yang langsung terasa salah. "Kenapa di rumah sakit? Emangnya udah waktunya lahiran?"Nico menoleh pada Arga dengan raut sedih, le

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Rumah Bukan Lagi Tempat Aman

    Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara di dalamnya berat, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menekan dada.Nico berlari panik memasuki ruangan, langkahnya melambat saat melihat ekspresi Saka, tangan lelaki itu mengepal erat, rahangnya jelas terlihat mengeras. Nico sempat melirik pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di atas lalu menatap Saka. "Ada apa? Ada kiriman lagi?"Saka langsung memberikan kertas kosong itu pada Nico, wajahnya memucat. "Orang ini udah masuk rumah, Nico," suaranya rendah, nyaris datar. Namun Nico tahu, itu bukan suatu ketenangan, melainkan amarah yang ditahan mati-matian.Nico menatap kertas itu dengan kening mengernyit, ia merasa sudah tahu kertas apa ini sebelum Saka menjelaskan. Ia memiringkan kepala, tangannya refleks mengangkat kertas itu ke arah cahaya jendela. Saat itu juga, ia melihat garis-garis bayangan mulai jelas menampilkan foto Arum. "Sa, ini..."Saka yang masih berdiri di depan jendela, menatap keluar dengan mata gelap,

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Ancaman Tanpa Suara

    Pagi itu, cuaca sedikit mendung saat Saka dan Arum baru turun dari kamar. Belum sempat mereka duduk di meja makan, terdengar suara ketukan pintu disertai suara pak Dadang yang memanggil dengan sopan.Segera, Saka dan Arum menghampiri. Begitu bertatapan dengan pak Dadang, lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah paket besar yang baru saja dikirim oleh kurir. Kotaknya elegan, dibungkus rapi tanpa label pengirim. Hanya nama Saka yang tertulis di bagian atasnya. Saka mengernyit, lalu menatap Arum. "Kamu pesan sesuatu?"Arum menggelengkan kepala. "Engga, kok. Ini tertulis untuk tuan, bukan tuan yang pesan?"Saka menggelengkan kepala, ia juga tak merasa memesan apapun. Ingatannya berputar pada paket sebelumnya yang datang, apakah ini berasal dari orang yang sama?Rasa penasaran itu mengalahkan rasa curiganya. Ia membawa kotak itu masuk dan membukanya perlahan di ruang tamu.Begitu tutup terbuka, aroma bunga segar langsung menyergap. Namun itu bukanlah bunga biasa. Mata Arum membesar saat m

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Efek Domino

    Awalnya hanya hal kecil, terlalu kecil untuk disebut masalah. Namun cukup aneh untuk membuat Saka mengernyitkan keningnya.Email klien penting tiba-tiba menghilang dari server internal. Laporan keuangan yang sudah disetujui tiba-tiba berubah angka. Meeting yang seharusnya tertutup bocor ke pihak luar, lengkap dengan detail yang seharusnya hanya diketahui jajaran tertentu. Bahkan Clara sebagai sekretaris pun mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini. Meski dia sering menghilang di saat kerja, namun dia bersumpah tidak pernah membocorkan apapun pada pihak luar."Ini bukan human error,” gumam Saka, berdiri di depan layar ruang rapat dengan rahang mengeras. Naluri manajemennya langsung berisik, pola ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan.Kantor mulai terasa panas. Karyawan saling bisik, kepala divisi panik. Semua orang menunggu keputusan, namun sebuah keputusan tidak bisa dibuat begitu saja.Tak hanya itu, masalah terus datang beruntun. Investor meminta klarifikasi, partner huk

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Saat Tenang Mulai Terusik

    Begitu Raka Pradipta melangkah masuk ke gedung tinggi Savera Holdings, udara dingin dari AC tak sanggup meredam panas di dadanya, jantungnya berdegup keras. Ini... adalah wilayah kekuasaan dari seorang Saka Valenbrand. Bangunan itu megah, logo perusahaan terukir angkuh di dinding resepsionis. Meski begitu, tak ada sedikit pun kebencian tergambar di wajahnya ketika Nico menyapanya. "Selamat siang. Pak Raka, ya? Saya Nico, orang kepercayaan tuan Saka. Mari saya antar ke atas." Raka tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, pak Nico. Saya sudah merepotkan." Mereka masuk ke dalam lift dan naik bersama menuju ruangan presiden direktur. Raka diam-diam mencuri pandang ke arah lantai lift yang terus naik, dan sesekali melihat pantulan dirinya dan Nico di dinding lift stainless itu. Lift berdenting, mereka tiba di lantai paling atas. Nico mempersilakan Raka masuk ke dalam ruangan presiden direktur, tempat di mana Saka sudah menunggu. Ruangan kerja Saka sian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status