/ Rumah Tangga / Terjerat Takdir Tuan Saka / Istri yang Tak Diinginkan

공유

Istri yang Tak Diinginkan

작가: Ruimoraa
last update 최신 업데이트: 2024-01-20 17:52:17

Hari berganti menjadi malam, pesta pernikahan yang melelahkan telah usai. Saka membawa perempuan yang kini baru saja menjadi istrinya pulang ke rumah baru mereka. Setelah membersihkan diri, Arum masuk ke kamar utama. Ia mengembuskan napas lega karena akan segera beristirahat. Langsung saja, ia merebahkan tubuhnya di kasur tanpa menunggu Saka yang masih berada di kamar mandi.

Pintu kamar mandi terbuka, sosok Saka yang sudah mengenakan piyama mengerutkan keningnya, lalu berjalan cepat menuju kasur. Saka menarik pergelangan tangan Arum membuat perempuan itu membuka matanya dan terduduk. "K-kenapa, tuan?" tanya Arum takut-takut.

"Kenapa? Kenapa, kamu bilang? Berani-beraninya kamu tidur di kasur! Siapa yang mengizinkan kamu tidur di kasur?!" bentak Saka membuat Arum tertegun, masih tak mengerti dengan perlakuan Saka yang jadi kasar seperti ini.

"Saya ga sudi tidur di bekas kamu! Ganti sprei sama bedcovernya, sekarang! Ambil yang baru di lemari." Saka mendorong Arum menuju lemari, membuat perempuan itu terhuyung dan hampir terjatuh. Mematuhi perkataan Saka, Arum segera mengambil sprei dan bedcover baru lalu mengganti yang lama dengan yang baru.

"Bagus. Sekarang kamu keluar, terserah mau tidur di mana. Ah, tapi... saya ga mau kamu tidur di kamar tamu atau di sofa, karena saya ga mau tamu saya gatel-gatel nanti. Kamu paham, kan?" Arum diam dengan kepalanya yang menunduk, membuat Saka geram dan menoyor kepalanya.

"Kamu punya kuping ga, sih? Ngerti, ga?!" tanya Saka sekali lagi. Arum mengangkat kepalanya lalu mengangguk.

"Bagus. Keluar sana!" Tanpa mengatakan apapun, Arum berbalik dan keluar dari kamar utama.

"Kalau ga boleh tidur di sofa, terus di mana?? Di lantai?" gerutu Arum dengan langkah kakinya yang berat. Karena sudah lelah dan malas memikirkan tempat untuk tidur, Arum merebahkan tubuhnya di karpet yang ada di ruang keluarga. Besok ia akan pikirkan lagi tempat yang lebih nyaman. Matanya perlahan terpejam lalu tertidur.

Waktu berlalu dengan cepat, matahari mulai naik menandakan hari berganti menjadi pagi. Mata Arum perlahan terbuka ketika merasakan sesuatu mengenai kakinya, rupanya itu adalah kaki Saka yang menendang-nendangnya. "Heh, bangun!"

"Bisa cepet, ga?!" bentak Saka membuat Arum segera berdiri dan berhadapan dengannya.

"Dasar pemalas! Udah jam setengah enam dan kamu masih tidur dengan nyenyak? Perempuan macam apa kamu?" omel Saka seraya berjalan menuju dapur. Arum dengan wajah cemberutnya mengekor di belakang Saka.

"Memangnya tuan sudah kerja? Ga ada cuti nikah?" tanya Arum.

"Kerja! Buat apa juga saya di rumah sama kamu?" balas Saka segera, membuat Arum semakin heran dan bertanya, apakah selama ini sifat suaminya memang kasar seperti ini.

"Yasudah aku buatin sarapan dulu, sebentar ya." Arum berjalan cepat mendului Saka, ingin segera melihat isi kulkas.

"Ga perlu! Saya ga mau makan masakan kamu," cegah Saka membuat Arum menatapnya dengan bingung.

Arum mengikuti langkah kaki Saka menuju meja dapur, memerhatikan tangan lelaki itu yang mengambil gelas dan bubuk susu dari dalam toples.

".. Tuan mau buat apa?" tanya Arum membuat tatapan dingin Saka kembali tertuju padanya.

"Punya mata ga? Kamu ga liat saya lagi bikin apa?" balas Saka ketus.

"Kenapa ga minta dibikin aja, tuan? Maaf kalau saya telat bangun," ucap Arum, suaranya merendah takut akan dimarahi lagi.

"Biar saya aja tuan, ah-" Arum meringis ketika Saka menumpahkan air panas pada tangannya yang hendak meraih gelas susu milik lelaki itu.

"Saya ga minta kamu buat bikinin susu, kan?" ucap Saka acuh, tak peduli dengan Arum yang sedang meniup-niupi tangannya. Saka kembali membuat susu.

"Ngapain masih di sini? Sana!" usir Saka membuat Arum segera berbalik dan kembali ke ruang keluarga.

"Oh ya, tunggu," panggil Saka membuat Arum menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Saka.

"Jangan kamu pikir kamu bisa males-malesan di rumah ini. Karena di sini ga ada pembantu, maka semua urusan kebersihan di rumah ini jadi tanggung jawab kamu. Paham?" Arum tertegun sesaat, memikirkan harus membersihkan ruang sebesar ini seorang diri, apakah ia sanggup?

"Bisa?!" bentak Saka penuh penekanan. Arum kembali menatap Saka dan mengangguk dengan cepat.

"Yaudah sana!" Menurut, Arum segera berbalik dan menjauh dari Saka.

Setelah selesai membuat susu, Saka kembali masuk ke kamarnya dan keluar saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh untuk berangkat ke kantor. Suasana ini benar-benar membuat Arum bingung, ada apa sebenarnya, kenapa Saka terlihat begitu membencinya. Membuang semua pikiran itu, Arum menutup pintu depan dan bersiap untuk berangkat kuliah.

Setibanya di kelas dan memulai pelajaran, Arum kehilangan fokusnya karena bayang-bayang Saka yang terus terlintas di pikirannya, berulang kali ia mencoba untuk tidak memikirkannya, namun sia-sia. Saka selalu saja mengganggu pikirannya, dan itu sangat mengganggu dirinya. Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan jam pulang, dan semua kegiatan panjang di kampus hari ini selesai. Arum mengeluarkan ponselnya dan segera memesan ojek online, untuk mengantarnya pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, Arum berjalan lesu menuju pintu masuk, tenaganya terkuras cukup banyak hari ini. Ketika hendak pergi ke dapur, langkah Arum terhenti ketika menyadari ada seseorang di ruang keluarga. Ia menoleh dan mendapati sosok Saka yang sedang duduk santai di sofa, bersama seorang wanita yang tengah merangkul lengan lelaki tampan itu.

"Akhirnya datang juga, sini!" panggil Saka membuat Arum yang masih tertegun berjalan perlahan mendekatinya.

"Beliin saya makanan, saya mau ayam sama burger. Kamu mau apa, sayang?" tanya Saka pada perempuan di pelukannya, membuat Arum membelalakkan matanya, merasa ada yang janggal.

"Pizza!" sahut perempuan di samping Saka dengan ceria.

"Kamu dengar, kan? Jangan lupa beli pizza. Ayo cepet beli, kasihan pacar saya udah lapar," titah Saka. Kali ini entah mengapa air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Arum.

"Malah nangis... ayo cepet berangkat!" bentak Saka membuat Arum segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Arum mengeluarkan ponselnya dan memesan apa yang Saka perintahkan tadi, supaya ia tidak perlu jauh-jauh pergi ke restoran. Ia akan menunggu di depan rumah. Belum sempat meraih pegangan pintu, Arum tersentak ketika seseorang mengetuk pintu. Setelah menghapus air mata di pipinya, Arum segera membuka pintu dan mendapati sosok Dharma dan Sera berdiri di depan pintu.

"Malam Arum, maaf ya papah sama mamah datang malam-malam. Boleh papah masuk?" Satya melenggang masuk ketika Arum menganggukkan kepalanya.

"Arum, kamu nangis? Kenapa? Kamu diapain sama Saka?" Arum menoleh dengan cepat ketika Sera menyentuh lengannya, ia menggeleng tak ingin mertuanya tahu apa yang terjadi.

Seketika Arum teringat pada Saka yang ada di ruang keluarga, bagaimana jika papah melihatnya sedang bersama dengan seorang perempuan. Arum menggandeng lengan Sera dan berjalan menuju ruang keluarga dengan perasaan gelisah.

Dan benar saja, Saka dan kekasihnya yang masih sibuk bermesraan terkejut bukan main ketika Dharma tiba-tiba memasuki ruangan. Keduanya dengan cepat duduk dengan tegak dan berjauhan. Tak lama, keduanya berdiri dan berjalan menghampiri Dharma.

"Ada apa, pah? Tumben malam-malam ke rumah," tanya Saka lalu menyengir. Jujur saja saat ini jantungnya berdegup dengan kencang, takut dengan ekspresi Dharma yang sedang menatapnya dengan curiga.

"Kalian abis ngapain? Kenapa panik gitu saya ke sini?" tanya Dharma curiga.

"Panik? Hahaha, siapa yang panik, pah? Aku cuma kaget aja papah tiba-tiba masuk. Biasalah, aku lagi bahas kerjaan sama sekretaris aku. Ya kan, Clar?" Saka berbalik dan menatap Clara. Setelah saling bertukar pandang, Clara menatap Dharma lalu mengangguk setuju.

"Ngapain sampai datang ke rumah? Ga bisa dibahas besok saja di kantor? Ini juga sudah malam," cecar Dharma.

"Ga bisa pah, ini penting buat meeting besok," sahut Saka. Mata laki-laki itu naik menatap Arum yang baru saja memasuki ruangan dengan kesal tanpa sadar.

"Saka, siapa yang kamu lihat dengan tatapan seperti itu? Kamu ga boleh seperti itu," tegur Dharma membuat Saka memutar mata malas dan menatap lantai.

"Clara, saya rasa kamu bisa pulang. Hari sudah semakin malam, berbahaya kalau terlalu larut." Mendengar ucapan Dharma, Clara mengangguk lalu berpamitan pada yang ada di ruangan, perempuan itu melenggang keluar dari rumah.

Arum yang sedang membuatkan minuman merintih kesakitan ketika Saka tiba-tiba datang dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. "Kenapa kamu ga cepet-cepet nyamperin saya waktu papah datang? Sengaja biar saya ketahuan sama papah? Iya?" bisik Saka. Cengkeramannya pada kedua tangan Arum menguat, membuat perempuan itu kembali merintih kesakitan.

Fokus Arum kini bukan pada Saka, melainkan pada orang tua Saka yang sedang berjalan menuju dapur. Tak ingin mertuanya berpikir macam-macam, Arum memutar otak dan berpikir, bagaimana caranya agar mertuanya berpikir ini adalah pernikahan yang harmonis.

Arum berjinjit dan mengecup bibir Saka, membuat laki-laki itu membelalak dan menatapnya tak santai. "Maaf... ada papah sama mamah," bisik Arum membuat Saka segera menoleh, menatap orang tuanya yang tersipu malu melihat keduanya.

Keheningan yang ada di ruangan itu berakhir ketika seseorang tiba-tiba menekan bel, membuat semua menoleh ke arah pintu depan. "Biar papah yang buka," ucap Dharma seraya melangkah untuk membukakan pintu.

Tak lama, papah kembali dengan makanan yang Arum pesan tadi. "Kalian pesan makanan?" tanya Dharma seraya meletakkan makanan di atas meja makan.

"Ah, iya... Arum ga sempet masak, dan daripada ribet, yaudah pesen aja," sahut Saka santai. Ia tak menyadari bahwa tatapan orang tuanya kini bergantian menatap dirinya dan Arum dengan senyum malu.

"Wajar yaa kan masih pengantin baru, mana sempet sih mau ngelakuin hal lain selain bubuk di kamar, hihi," celetuk Sera membuat Saka menaikkan satu alisnya.

"Jangan mentang-mentang lagi cuti juga, Sa. Kasih waktu istirahat buat Arum. Kan kasihan," tambah Dharma sebelum meneguk air di gelasnya.

"Engga, engga... bukan begitu." Saka mengangkat kedua tangannya di depan dada, tak ingin orang tuanya salah paham.

"Halah ga usah malu, mamah papah juga kan pernah muda." Sera menyenggol lengan Dharma, lalu menutup mulutnya dan tertawa kecil.

Berbeda dengan Saka yang nampak begitu tak nyaman dengan pembahasan yang sedang berlangsung, wajah Arum kini nampak serius memandangi Saka dengan curiga. Bukankah pagi tadi laki-laki itu berangkat ke kantor? Tapi mengapa Dharma tetap mengatakan jika lelaki itu sedang cuti.

"Apa mungkin... Tuan bukan pergi ke kantor, tapi pergi ke tempat lain bersama perempuan tadi?" batin Arum.

"Pah, mah…" Saka menghela napas panjang, berusaha meredam amarahnya. "Kalian tau kan kalau aku—" Ucapannya terhenti di tengah jalan. Hening menggantung di udara.

Wajah Dharma dan Sera berubah menjadi kaku, tawa mereka padam seketika. Mereka saling menatap penuh kecanggungan. Arum dengan ekspresi bingungnya menoleh heran, belum sepenuhnya memahami maksud perkataan suaminya barusan.

Saka mengatupkan rahangnya, lalu tanpa menoleh pada siapa pun, ia langsung melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga dalam diam.

Sera menyentuh tangan Arum, menatap menantunya dengan raut sedikit cemas. "Ga papa, ga usah dipikirin, ya. Saka cuma lagi capek aja," ucap Sera berusaha menenangkan Arum yang masih tak lepas memandangi arah pergi Saka dengan cemas.

Arum mengangguk pelan, meski masih bingung dengan maksud Saka barusan.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Arum Mencintai Lelaki Lain?

    Langit sore masih menyisakan rona jingga saat mobil Saka melaju pelan memasuki rumah. Sepanjang jalan, pikirannya bukan penuh soal pekerjaan. Bukan juga soal meeting atau deadline. Melainkan tentang satu kalimat yang ia dengar beberapa hari lalu."Kalau saya punya pacar, itu namanya selingkuh. Dan saya benci perselingkuhan."Saka mendecih pelan, satu tangan menggenggam erat ponselnya, satu lagi menekan pelipisnya. "Ngapain juga dipikirin," gumamnya kesal pada diri sendiri. Namun kalimat itu kembali mengambang di kepalanya, mengusik lebih keras dari biasanya.Saat tiba di rumah, Arum sudah berdiri di depan pintu, menyambutnya seperti biasa dengan wajah tenang dan senyum tipis. Tangan perempuan itu meraih tas kerja Saka tanpa banyak bicara. "Selamat datang, tuan."Saka sempat memperhatikan sebentar, lalu mengangguk singkat. Ia memberikan isyarat pada Arum untuk membantu melepas jasnya, lalu langsung naik ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Namun setelah air membasahi tubuhnya pun

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Perasaan yang Semakin Jelas

    Saka meletakkan nampan berisi piring kosong di atas meja di dekat sofa, lalu duduk di kursi samping ranjang Arum. Tangannya terlipat di depan dada, matanya kosong menatap lantai. Sesekali, ia melirik Arum yang sedang mencoba ponsel baru pemberiannya."Terlalu tenang... Bagaimana bisa dia menyentuh bibir saya dan menjilat jarinya seperti itu?? Jangan-jangan...." batin Saka tak tenang, ia mulai menerka-nerka.Pandangan Saka naik menatap Arum, keningnya berkerut. ".. Kamu punya pacar, ya?" tanyanya tiba-tiba, nada curiga menyusup tanpa ia sadari.Arum berhenti menggulir layar, menoleh perlahan dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?""Ya tanya aja," jawab Saka ketus. Ia berpura-pura cuek, namun matanya menelisik.Belum sempat Arum menjawab, Saka lebih dulu membuka mulutnya tanpa sadar, mengeluarkan kecurigaannya selama ini. "Kamu kan setiap hari dikawal Nico, menurut kamu dia gimana? Ganteng ga? Saya lihat kalian sering ngobrol."Arum tersenyum kecil, lalu menghela napas. "Kenapa ja

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Gesture yang Tak Biasa

    Saka tiba di rumah sakit hampir tengah malam, ia masuk ke ruang rawat Arum dengan langkah berat tapi mantap. Pintu dibuka perlahan, dan cahaya lampu remang menyambut sosok Arum yang masih terbaring lemah. Wajahnya tenang, matanya terpejam, entah sedang tidur atau belum tersadar. Saka menarik kursi jaga, lalu duduk di samping ranjang Arum. Nico yang sedari tadi setia menemani turut serta duduk dengan tenang di sofa. Tanpa menoleh menatap Nico, suara Saka yang lelah terdengar memanggil nama Nico."Udah malam, kamu bisa pulang dan istirahat. Ga usah nungguin di sini, lagian kamu udah nemenin saya seharian," kata Saka kemudian. Nico menggeleng cepat. "Ga papa, saya di sini aja ikut jagain. Siapa tau nanti tuan perlu—""Pulang, Nico," potong Saka dengan nada tegas, namun ada lelah yang terasa dari suara itu. "Kalau ada apa-apa nanti saya hubungi. Lagipula... Arum juga pasti ga akan senang kalau kamu sampai kecapekan."Nico sempat menoleh pada Arum, ada keraguan di matanya. Namun akhirnya

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Hukuman untuk Pelaku

    "Arum!" Suara Nico gemetar. Ia turun dengan hati-hati namun cepat, menghindari minyak dan pecahan kaca agar tidak terpeleset. Setelah sampai di samping Arum, ia memeriksa wajah Arum yang pucat dan tak sadarkan diri. Dengan penuh kelembutan, Nico mengangkat kepala Arum, jari-jarinya merapikan helai rambut yang berantakan di wajah. "Arum, hei... kamu dengar saya??"Nico mengusap punggung Arum dengan lembut, memeluknya erat agar rasa dingin dan kesakitan sedikit terobati. "Harusnya saya memang ga ninggalin kamu sendiri, Rum..." gumamnya menyesal.Nico membuka kenop pintu lantai 11, lalu bersiap mengangkat Arum dengan hati-hati. Namun belum sempat melangkah keluar, suara Saka terdengar memanggil namanya dari puncak tangga lantai 12. "Tuan, segera ke lantai 11 lewat lift atau tangga biasa! Jangan turun ke sini!" ucap Nico sedikit berteriak, lalu melangkah keluar melalui tangga darurat lantai 11.Mata Saka membulat karena terkejut ketika sempat melihat Arum yang lemas dalam gendongan Nico

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Jatuh Tanpa Suara

    Setelah kejadian Saka refleks menolak sentuhan Arum, suasana sempat canggung untuk beberapa detik. Namun begitu Saka mengizinkan, Arum pun mulai memijat perlahan.Arum mulai dari menempelkan telapak tangannya ke kedua sisi bahu Saka, memastikan tekanan awalnya lembut, memberi waktu untuk tubuh Saka beradaptasi. Arum menyadari, Saka bukan seseorang yang biasa disentuh, terlebih dalam kondisi sedang rentan. Maka gerakannya ia lakukan perlahan tanpa paksaan.Jemari Arum terus bergerak lembut dari punggung atas sampai ke pangkal leher. Terkadang menggunakan jempol untuk melepaskan simpul otot, terkadang menggunakan telapak tangan untuk tekanan yang lebih besar. "Sakit?" tanya Arum hati-hati."Engga," jawab Saka singkat, matanya setengah terpejam.Semakin lama, tubuhnya mulai lemas. Saka mulai merasa... tenang. Bukan seperti saat disentuh Clara yang selalu punya maksud tersembunyi. Sentuhan Arum ringan, ritmis dan tak berlebihan. Benar-benar membuatnya tenang.Setelah beberapa menit, jemar

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Sentuhan yang Tak Menyakiti

    Pagi itu matahari baru naik separuh. Dari arah dapur tercium wangi nasi hangat dan aroma tumisan buatan Arum. Ia menyiapkan bekal dengan hati-hati, masukkan sayur dan ayam ke dalam kotak makan stainless yang kemudian dibungkus rapi. Kebetulan Saka muncul dari tangga ketika Arum sudah selesai menyiapkan bekal. Ia menyodorkan lunch box itu pada Saka dengan senyum kecil di bibirnya. "Ini bekalnya, tuan." Saka melirik kotak makan itu, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Maaf, tapi saya ga mau diri saya repot bawa-bawa kotak makan kayak gitu," ucapnya datar, namun ada nada sinis dalam caranya bicara. Arum mengerutkan kening mendengar itu. "Kan bisa ditaruh di mobil, tuan? Dan biasanya juga kan kak Nico yang bantu bawain." Saka menoleh dengan alis terangkat, mata tajamnya tertuju pada Arum. "Pokoknya kalau kamu emang mau saya makan bekal, antar langsung ke kantor di jam makan siang. Ga perlu pagi-pagi begini." Arum nampak kebingungan, karena sebelumnya Saka sudah mulai se

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status