Home / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 68: Markas Gerilya dan Sinyal Balasan

Share

BAB 68: Markas Gerilya dan Sinyal Balasan

Author: Siapaja
last update publish date: 2026-03-02 21:33:25

Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 73: Sandera Bernama Bambang dan Misi Menuju Swiss

    Berikut adalah Bab 73. Sesuai dengan panduan penulisan cerita panjang, kita akan memperluas latar belakang masa lalu karakter dan menempatkan protagonis dalam dilema baru yang lebih berat untuk menjaga ketegangan cerita. Tanda hubung panjang juga telah dihilangkan sepenuhnya agar alur bacaan tetap rapat dan cepat.BAB 73: Sandera Bernama Bambang dan Misi Menuju SwissLokasi: Ruang Sortir Tunai, Bank Mega KaryaSuara riuh rendah para pengemudi ojol yang sedang merayakan penemuan tas mewah Nyonya Pramono mendadak terasa jauh di telinga Rangga. Dunia di sekelilingnya seolah be

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 72: Uang Tebusan Triliunan dan Invasi Pasukan Aspal

    Lokasi: Ruang Sortir Tunai (Lantai Dasar), Bank Mega KaryaEnam laras senapan serbu berperedam membidik tepat ke arah tumpukan karung uang. Lampu laser merah menari nari di dahi Rangga, Berlin, dan Nyonya Pramono.Nyonya Pramono memeluk karung berisi uang pecahan seratus ribu rupiah erat erat sambil memejamkan mata. Bibirnya komat kamit membaca doa yang tercampur aduk dengan keluhan."Ya Tuhan, kalau memang harus mati malam ini, tolong jangan di atas karung goni yang bau apek ini. Kulit Mama sensitif..." rintih Nyonya Pramono gemetar."Ma, plis deh. Peluru itu nggak peduli kulit Mama pakai skincare apa," bisik Berlin sambil menahan nyeri di tulang bahunya yang terkilir akibat menarik Rangga tadi. Meskipun terpojok

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 71: Akrobat Udara dan Panjat Pinang Kematian

    Lokasi: Ruang Brankas VIP, Bank Mega KaryaAsap putih pekat menyembur dengan desisan marah dari tabung logam di lantai. Ruangan bundar itu seketika berubah menjadi oven gas beracun. Mata Rangga mulai perih. Tenggorokannya terasa seperti disikat menggunakan kawat cuci piring."Tutup hidung pakai baju! Bernapas lewat mulut pelan pelan!" teriak Rangga. Suaranya teredam oleh lengkingan sirene brankas.Nyonya Pramono terbatuk batuk hebat. Wajah riasannya luntur berantakan.

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 70: Peretas Terjebak dan Hitung Mundur Kematian

    Lokasi: Ruang Brankas VIP (Lantai B3), Bank Mega KaryaLampu neon putih kini berganti menjadi kedipan merah yang menyakitkan mata. Suara sirene meraung memantul di dinding dinding baja bawah tanah.Namun bagi Rangga, suara yang paling keras adalah detak jantungnya sendiri. Surat pengakuan mendiang ayah angkatnya terlepas dari tangannya, melayang jatuh ke lantai marmer yang dingin.Karakter Rangga yang biasanya jenaka dan penuh akal jalanan mendadak hancur. Wajahnya pias. Selama ini dia mengira Tuan Pramono adalah malaikat penolong yang mengangkatnya dari panti asuhan. Ternyata, pria itu ada

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 69: Brankas Utama dan Warisan Berdarah

    Lokasi: Bengkel Bang SomadPukul 01.15 WIB."Ma, bangun." Rangga mengguncang pelan bahu ibu angkatnya.Nyonya Pramono membuka mata dengan kaget. Wajahnya pias melihat tumpukan ban bekas di sekelilingnya. Dia hampir lupa kalau keluarganya kini berstatus buronan."Kita harus ke Bank Mega Karya sekarang," kata Rangga cepat. Suaranya ditekan sekecil mungkin. "Ada token fisik di kotak deposit rahasia Papa. Cuma sidik jari Mama yang bisa buka. Itu satu satunya cara menguras uang Vanguard."Nyonya Pramono memucat. "Ke bank? Rangga,

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 68: Markas Gerilya dan Sinyal Balasan

    Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalan tanah berbatu. BMW Seri 7 yang dikemudikan Rangga berguncang keras. Bumper mobil mewah itu sesekali bergesekan dengan polisi tidur semen yang dibuat asal asalan oleh warga. Kaca mobil diturunkan. Bau khas Sungai Ciliwung dan asap pembakaran sampah langsung memenuhi kabin yang sebelumnya wangi parfum mobil mahal. Nyonya Pramono menutup hidungnya dengan saputangan sutra yang sudah basah oleh air mata. Tuan Wibawa terus merangkul istrinya sambil menatap waspada ke luar jendela. Rangga menghentikan mobil tepat di depan sebuah bengkel motor berlantai dua yang sangat sempit. Pintu ro

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status