Share

PART 6

Muhammad Azka Ramadhan. Saudara kembar Mas Gaza yang tiba-tiba membuat hatiku bergetar seketika. Laki-laki sederhana yang mau menerimaku apa adanya, tanpa pernah mencela apalagi mengungkit video panas yang Mas Gaza bilang akulah pelakunya.

Kedua mataku mulai menghangat lagi. Ada perasaan yang tak bisa kugambarkan di sana. Sementara Mas Gaza terpaku dari tempatnya. Berdiri di ambang pintu, sesekali melirikku tanpa kata.

"Bagaimana Rania? Apa kamu bersedia?" tanya laki-laki itu lagi.

Semua orang yang masih berdiri di halaman rumah cukup mewah ini pun terdiam beberapa saat lamanya. Saling pandang tak mengerti, bahkan Umi kembali dalam tangisnya.

"Ah iya, aku lupa memperkenalkan diri padamu. Aku Azka, adik kembar Mas Gaza. Tak banyak hal yang dapat kuceritakan padamu, Rania. Karena aku memang bukan seorang yang istimewa. Aku jauh berbeda dengan Mas Gaza. Karena itu pula, aku tak memaksamu untuk menerima pinanganku."

Kepalaku mendongak ke arahnya. Banyak pertanyaan yang lalu lalang di benakku detik ini. Kenapa dia bilang sangat berbeda? Apanya yang beda? Bahkan wajah mereka pun terlihat sama.

"Aku hanya punya cinta. Cinta untuk umi sebagai kunci surga dan cinta untukmu, karena kamulah kunci ummi bahagia. Tak ada yang patut dibanggakan dariku, Rania. Tak ada. Namun satu hal yang kamu harus tahu, aku tak akan mengingkari janjiku untuk setia. Itu saja."

Bulir bening kembali menetes di kedua sudut mataku. Kugenggam erat jemari ibu yang sedari tadi berusaha menguatkan dan menenangkan. Entah apa yang laki-laki ini sembunyikan. Mengapa dia terlihat berbeda? Sedikit tertutup, tak banyak bicara bahkan baru kali ini kudengar dia mengucapkan banyak kata.

"Jika kamu bersamaku, aku tak menjanjikan kemewahan dunia. Karena lagi-lagi aku tak punya apa-apa. Hanya sebatas cinta yang akan terus kuperjuangkan selama masih mampu membuka mata. Terdengar konyol memang. Tapi begitulah kenyataannya. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membuat hidupmu nyaman dan mapan karena aku hanya seorang penjual martabak dengan penghasilan tak seberapa. Aku juga tak punya mahar khusus untuk meminangmu, sekadar cincin biasa yang tak terlalu mahal harganya. Itu pun hasil dari menabung sekian minggu dari hasil penjualan martabakku."

Air mataku kian deras menitik. Kenapa? Kenapa dia menceritakan semuanya? Kenapa dia berbeda dengan kakak kembarnya? Apa yang salah?

Kutatap lekat wajah sayu ummi. Dia yang sudah luruh ke lantai. Sementara Abah, masih terus berusaha menenangkannya. Ibu kembali menatapku beberapa saat, namun tak kutemukan jawaban dalam sorot matanya. 

Sepertinya ibu menyerahkan semua keputusan di tanganku.

Kini, aku terjebak dalam dua pilihan membingungkan. Memilih Mas Azka dengan segala kesederhanaannya atau keluar dari rumah ini dengan menanggung malu. Pasti berita talak itu akan tersebar dengan cepat.

Namun, jika aku menerima lamaran Mas Azka, berita miring yang ada akan terbungkam dengan sendirinya. Hilang begitu saja seperti terkena hembusan angin.

"Aku hanya lulusan sekolah menengah atas, Rania. Tak seperti Mas Gaza yang sarjana. Kamu jangan mencurigai Abah dan Ummi apalagi menganggap mereka pilih kasih. Bukan ... bukan karena itu. Namun karena aku memang tak sanggup mengenyam pendidikan yang lebih daripada itu. Sepertinya memang aku tak layak. Aku tak memiliki prestasi khusus di sekolah, aku juga tak pernah membuat Abah dan Ummi bangga. Karena itulah Rania, aku ingin membuat mereka bangga kali ini. Aku ingin menggantikan Mas Gaza untuk menikah denganmu. Aku ingin membuatmu bahagia. Karena hanya kamu yang diharapkan Ummi menjadi menantunya."

Entah mengapa tiap kali Mas Azka mengucapkan sebaris kalimat sederhananya, tiap itu juga Ummi menangis histeris. Kenapa? Aku tak paham apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

Kulihat Mas Azka mengangguk pelan lalu tersenyum saat tak sengaja beradu pandang denganku. Mas Alif mengusap pundakku pelan.

"Terserah kamu, Rania. Semua keputusan ada di tanganmu. Kalau memang kamu belum yakin, bisa istikharah dulu."

"Kamu nggak salah akan menikahi Rania?" Pertanyaan Mas Gaza membuyarkan berbagai pertanyaan yang sedari tadi bersemayam dalam benak. Mas Azka menoleh lalu mengangguk yakin.

"Bahkan di saat aku sudah menolaknya? Kamu mempercayainya?" tanyanya lagi begitu datar.

Kulihat tak tampak keakraban dan rasa persaudaraan diantara mereka. Mungkinkah selama ini dua saudara kembar itu memang sekaku ini?

"Ummi percaya jika Rania tak mungkin melakukan itu, Mas. Apalagi yang harus kuragukan? Aku percaya ucapan Ummi adalah benar," ucap laki-laki di hadapanku itu lagi. Mas Gaza menggeleng pelan seolah tak percaya.

"Terserah. Aku tak peduli, yang pasti aku sudah mengingatkanmu, Ka." 

Mas Gaza kembali masuk ke dalam rumah, sementara Umi masih saja terisak di pelukan Abah. Entah mengapa Ummi bisa sehisteris ini.

"Ummi ... apa Ummi setuju jika Rania menikah dengan Mas Azka? Apa Ummi masih yakin jika dalam video itu bukan Rania?" Aku duduk di samping Ummi yang masih sesenggukan di pelukan Abah. Ummi mendongak lalu membingkai wajahku. Dia mengangguk perlahan.

"Ummi yakin itu bukan kamu, Nak. Ummi yakin," ucapnya lagi. Isak itu pun masih saja terdengar.

"Kalau Ummi yakin, bolehkah Rania menikah dengan Mas Azka?" Ummi menoleh ke arah anak lelakinya. Bulir-bulir bening itu pun kembali meluncur deras.

"Ummi kenapa? Apa yang salah?" tanyaku lagi, tapi lagi-lagi Ummi hanya menggeleng perlahan.

"Azka tahu Rania adalah calon menantu pilihan Ummi dan Ummi ingin Mas Gaza lah yang menikahi Rania, bukan Azka. Tapi--

Laki-laki itu tak melanjutkan kalimatnya.

"Tapi Mas Gaza tak menginginkan Rania, Mi. Mas Gaza menolak pernikahan ini. Bolehkah Mas Azka yang menggantikan posisi kakaknya?" tanyaku lagi.

Kuseka air mata yang berjatuhan ke pipi. Entah bagaimana rasanya hatiku detik ini. Campur aduk tak karuan. Aku sendiri tak menyangka jika pada akhirnya kisah cintaku akan serumit ini.

"Apa kamu mencintai Azka, Nia?" Aku terdiam sejenak lalu kembali menatap wajah Ummi.

"Bukankah Ummi dan Ibu pernah bilang, jika cinta akan datang karena terbiasa bersama?" Kulihat Ummi dan Ibu saling pandang. Hanya isyarat mata yang mereka tunjukkan.

"Kamu benar mau menerima Azka? Meski Azka--

"Azka tak seistimewa Gaza?" tanyaku lagi. Ummi hanya diam saja tak menjawab. Sepertinya memang benar ucapan Mas Azka, sejujurnya Ummi ingin Mas Gaza yang menikah denganku bukan dia.

"Jika Rania menerima segala kekurangan dan kelebihan Mas Azka, apa Ummi setuju pernikahan ini nantinya?"

Ummi kembali mendongak. Ada gurat kecewa di wajahnya, tapi lagi-lagi dia kembali menitikkan air mata. Perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatapku dan Mas Azka bergantian lalu kembali menyeka kedua pipinya hang basah.

Akankah Ummi setuju aku menikah dengan Mas Azka? Atau Ummi justru akan menolaknya?

***

Comments (12)
goodnovel comment avatar
Fikri Dzakwan Atallah
cerita seru tpi kudu beli koin
goodnovel comment avatar
Noor Dewi
kumpulin bonusnya.....gratis
goodnovel comment avatar
Noor Dewi
ambil bonusnya kak.... ga prlu bayar klaim aja bonusnya...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status