공유

38

작가: Lumi Lite
last update 게시일: 2026-08-30 23:53:52

“Hellllooo, semuanya!” Alice melenggang masuk melewati pintu menuju ruang bermain.

“Tante Alice! Tante Alice!” Leon, Michael, dan Nathan berlari dari sisiku menuju Alice dan memeluk erat kakinya.

“Aww! Anak-anak baptisku sekarang sudah besar.” Dia mengelus kepala mereka dengan penuh kasih. “Aku kangen banget sama kalian.”

“Kami juga kangen sama Tante,” kata Leon saat mereka melepaskannya.

“Kalian suka rumah baru kita? Besar banget, dan ada kolam renangnya juga.” Michael meraih tangan Alice dan
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Ibu Anak Sang Miliarder   58

    ‘Ini semua milikku! Ini semua benar-benar milikku! Yes! Yes! Yes!’ pekikku, diliputi kebahagiaan murni yang begitu meluap-luap. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi indah yang luar biasa. Setelah bertahun-tahun mendambakannya, melupakannya, dan nggak punya uang untuk membelinya, akhirnya aku mendapatkan buku-buku yang selalu kuinginkan.Aku ingin menjerit kegirangan sekali lagi, tetapi kutahan.‘Tenang, Olly. Nggak perlu sampai bertingkah seperti banshee,’ kataku pada diri sendiri sambil berusaha mengatur napasku yang memburu karena kegirangan. ‘Lagipula, kamu belum memeriksa kotak-kotak lainnya, jadi santai saja.’Kulepaskan buku-buku yang kupeluk di dada ke atas kotak lainnya secepat angin, tetapi tetap hati-hati agar nggak ada satu pun yang kusut, lalu kuperiksa isi kotak terbuka di hadapanku. Sesuai harapanku, semuanya adalah buku karya April Dove.“Kenapa kamu membeli buku-buku ini? Aku nggak pernah memberitahumu tentang buku-buku ini,” seruku kaget sambil mengeluarkan

  • Ibu Anak Sang Miliarder   57

    “Selamat malam, Olivia,” kata Dante, memotong gumaman dan suara pengocokanku.“Selamat datang di rumah.” Aku meletakkan mangkuk berisi campuran madu, cuka, kecap asin, bawang putih, dan bahan-bahan lainnya di atas meja dapur, lalu berbalik untuk melihatnya berdiri di pintu masuk dapur.“Kamu pulang lebih awal dari yang kukira. Makan malam sebentar lagi siap.” Aku tersenyum, dan sekilas keterkejutan melintas di wajahnya.“Kamu nggak marah padaku?” tanyanya sambil mendekat dengan hati-hati, seolah-olah aku bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Keningku berkerut.“Hmm, nggak. Kenapa aku harus marah?” Aku mengernyit.“Aku kira kamu marah, melihat bagaimana kamu pergi begitu saja dariku sore tadi.” Dia berdiri di sampingku dan bersandar pada meja dapur berbentuk pulau. “Aku pikir aku sudah melakukan sesuatu yang salah.”“Oh, nggak. Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya sedang mengalami sedikit krisis batin.” Aku mengangkat wajan yang sudah kuolesi minyak, lalu berjalan menuju

  • Ibu Anak Sang Miliarder   56

    Kudorong pintu perpustakaan hingga terbuka, lalu berlari masuk dan melompat ke sofa, membenamkan wajahku ke bantal yang ada di sana. Pikiran dan perasaanku benar-benar kacau.Dante tahu pengaruhnya terhadapku. Dia tahu aku berusaha menjauhkannya, tapi gagal total setiap kali dia membuat kemajuan. Selama beberapa minggu terakhir aku tinggal bersamanya, tembok pertahananku perlahan-lahan mulai runtuh, dan aku bahkan nggak menyadarinya. Apalagi aturan no touchy-touchy dan no flirty-flirty yang kubuat masih berlaku.Tapi setelah apa yang terjadi di antara kami kemarin dan sehari sebelumnya di taman, rasanya seperti bola penghancur yang menghantam pertahananku. Tanpa kusadari, aku sudah menikmati perhatian dan kasih sayang yang dia berikan padaku. Aku begitu terlena sampai nggak menyadari seberapa besar pengaruh semua itu terhadap diriku, sampai akhirnya dia sendiri yang menunjukkannya. Aku lengah hanya sedetik, dan aku langsung hanyut dalam sentuhannya yang menggetarkan serta kata-katanya

  • Ibu Anak Sang Miliarder   55

    Apa yang dia rasakan?Cemoohan?Rasa jijik?Aku penasaran apa yang dia pikirkan tentangku sekarang.Perempuan murahan?Pelacur?Mengingat begitulah internet menggambarkanku saat itu, aku nggak akan terkejut kalau dia berpikir begitu, meskipun aku pasti akan terluka. Liam orang yang baik, dan aku berharap kami bisa berteman karena sama-sama menyukai novel romantis. Aku yakin kami sebenarnya cocok saat mengobrol, tapi kalau dia ingin memandangku buruk tanpa memikirkan sudut pandangku sendiri, ya sudah. Menyakitkan dan menyedihkan, tapi nggak apa-apa.“H-hari yang menyenangkan juga untuk Anda, Nona Olivia.” Dia tergagap, menyadari bahwa dia sudah terlalu lama menatapku. Ada rasa malu, terkejut, dan sedikit takut dalam suaranya, tapi nggak ada sedikit pun nada menghakimi.Nggak dari cara dia berbicara, nggak dari cara dia memandangku. Sama sekali nggak ada. Dan aku tahu dia nggak berpura-pura. Sejak pertama kali bertemu dengannya, dia terlihat seperti tipe orang yang benar-benar jujur.“T

  • Ibu Anak Sang Miliarder   54

    Ada banyak hal yang salah dari perkataan Dante. Aku paham kalau dia adalah atasan Liam, tapi perlakuannya sudah keterlaluan.Dante hampir, tidak, benar-benar nggak manusiawi terhadapnya. Ada batas tipis antara menegur seseorang dan menghina secara verbal, dan Dante sudah melewati batas itu. Astaga, kalau aku berada di posisi Liam, aku pasti sudah mengundurkan diri karena sebanyak apa pun uang yang dibayarkan, itu nggak akan cukup untuk menebus trauma yang harus kualami.Dan sepertinya Dante hanya bersikap seperti itu terhadap Liam. Saat berinteraksi dengan para staf di rumah, dia selalu dingin, berwibawa, dan mengintimidasi seperti biasanya. Tapi kalau sudah berurusan dengan Liam, sikapnya naik ke level yang sama sekali berbeda dan jauh lebih parah.“Rasa hormat lebih baik daripada rasa takut, Dante. Orang-orang bekerja lebih baik di lingkungan yang dipimpin seseorang yang mereka hormati daripada seseorang yang mereka takuti,” jelasku kepadanya, berusaha membuatnya melihat situasi ini

  • Ibu Anak Sang Miliarder   53

    “Tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan. Tarik dan embuskan terus sampai kamu merasa tenang.”Liam mengangguk dan mengikuti instruksiku, menarik dan mengembuskan napas berulang kali sampai dia terlihat lebih rileks dan tidak lagi gemetar di bawah telapak tanganku.“Bagus.” Aku tersenyum dan mengangkat tanganku dari bahunya. “Sekarang, bagaimana kalau kita kembali dan memeriksa ruang kerja itu sekali lagi? Mungkin tadi kamu melewatkannya tanpa sengaja.”“Kamu mau membantuku?” Dia terkesiap, dan kedua mata cokelatnya membelalak.“Tentu saja. Kita nggak mau bosmu membunuhmu, kan?” Aku terkekeh.•••••••••••“Nah, kubilang juga apa. Aku sudah bilang kita akan menemukannya kalau kamu tenang,” kataku sambil menyampirkan selimut tebal ke bahuku dan menjatuhkan diri ke sofa di perpustakaan.“Terima kasih banyak. Aku nggak akan bisa menemukannya tanpa bantuanmu.” Liam mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya hari itu sambil duduk di sampingku dengan sebuah map cokelat berisi dokumen yang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status