LOGINNasya, seorang ibu tunggal dengan empat anak dari tiga mantan suami yang berbeda, merasa hidupnya tak pernah sepi dari kericuhan. Setiap hari adalah tantangan baru yang penuh kekacauan, mulai dari mengurus Dylan si anak sulung yang serius seperti ayahnya, Chaka dan Chiki si kembar yang tak kenal lelah, hingga si bungsu Nino yang meleng sedikit saja bisa membuat seluruh rumah hancur. Di tengah hiruk-pikuk hidupnya, Nasya berusaha keras untuk tetap tegar. Setelah tiga kali gagal dalam pernikahan—dari seorang workaholic gila kerja, influencer obsesif konten, hingga aktor sinetron drama yang sibuk, Nasya mulai meragukan bahwa kebahagiaan sejati akan datang untuknya. Namun, di balik layar, Bima Aryasetya—mantan suami pertamanya dan ayah dari Dylan—tak pernah benar-benar melupakan Nasya. Setelah bertahun-tahun berlalu, Bima akhirnya menyadari bahwa mengabaikan Nasya dan memilih pekerjaannya di atas keluarganya adalah kesalahan fatal. Ia pernah menganggap enteng kebutuhan Nasya akan perhatian, bahkan membiarkan keluarganya merendahkan istrinya tanpa pernah membela. Kini, penyesalan menghantuinya setiap kali ia merindukan momen bersama Dylan—anak yang kini lebih dekat dengan Nasya daripada dirinya. Bima ingin memperbaiki semuanya, tapi setelah semua luka yang ia tinggalkan, apakah Nasya masih mau memberinya kesempatan?
View More"Can't you do anything right you miserable wrench!" Anna, Magnolia's stepmother said as she pushed the poor girl to the ground. The shard's of the broken plates, pierced into her palm and knees as she looked up at her stepmother, tears flowing down her eyes.
"I-i'm sorry, I didn't mean to do it, it was a mistake" Magnolia said, her small and adorable voice strained as she spoke. Anna looked at her in distain as she walked out of the kitchen, pushing magnolia out of the way with her legs. Magnolia remained on the floor as she heard the door close behind her, tears rolled down her cheeks as she wiped them. Looking at the pile of plates above her, both dirty and clean, they always did this, it wasn't enough that she had to be a maid for them, they chose to make her work more harder. The kitchen was small and crummy, it had sinks and cabinets on one side and the rest of the kitchen had stoves and other essentials. Magnolia stood up from the floor as she proceeded to finish her washing, she needed to finish this fast and head down to the supermarket to get groceries for the house. Magnolia was the second child of her mother, she was known as an innocent beauty, from her chestnut brown hair, down to her brown big doe eyes that looked like crystal's when she cried. She wasn't beautiful like her stepsister but she was attractive in her own way. She had a petite body frame, from her thin waist to her large hips. Her only assets that brought men closer to her was her plump like ass that jiggled at every step she made. Magnolia had lost her mother when she was 15, her father had decided to remarry despite all her pleas and cries for him not to marry that witch, Anna. Who was just after his money, immediately he remarried, her older brother and the only sibling she had left the country and never came back. As Magnolia threw on her large but worn out coat, she looked at the sky that had started to rain snow drops as she shook her head. Clutching the small bag in her hand, pulling the hood of her coat, she walked off. Everytime she got a chance to leave the house, she would do her chores fast just to get out of that hell. Her father was hardly home, always travelling and sending money to them for upkeep but Anna never included her in the plan on how to spend that money. "Hey!" A scream of a woman made magnolia snap out of her thoughts to see that she had bumped into a woman who was dressed in all black and had a shady mask covering her nose. She smelled like cocaine but magnolia didn't mind. "I-i'm sorry, are you okay?" Magnolia asked as the woman snorted at her rudely, she had apologized after all. "Watch where you're going" The woman rolled her eyes at magnolia before running off. Magnolia shook her head, reminding herself to pay attention as she continued walking, hoping she would get to the supermarket before the sky goes dark. Magnolia picked up the things her stepmother had ticked on the list that were most important but as usual she was meant to use her money to complete it. Magnolia shook her head in anger as she continued shopping, she wasn't looking and walked into somebody. Again! Her mind screamed as she rubbed her forehead, maybe this time it was a wall because she could feel a headache forming in her head. "Are you okay?" The deep and husky voice asked her as magnolia opened her eyes to look at the guy who was at least 2 inches taller than her. "I-i am fine, thank you" magnolia said as the guy nodded, she stared into his grey eyes as she couldn't see any other part of him. He wore a black hoodie, black pants, a black ski mask to cover his face, only his unique grey eyes stood out. Magnolia told herself to stay focus as she continued shopping. Anna ran her fingers through her hair looking at the huge debt in her hands. The bills had came in and she found out the water bills, electricity bills and maintenance bills were all unpaid. Her husband had sent the money to her but she had been so engrossed in spending them on clothes and makeup that she forgot to pay them. "What do I do now?" She asked herself, her daughter, Lucinda walked down the stairs with her usual gothic her up as she stared at her mother. "I see the bills has arrived, don't forget what I told you mom" Lucinda held eyes with her mother before walking out of the house. Anna couldn't do that to magnolia, she was already making the poor girl suffer but if she doesn't do it, she would get into huge trouble with her husband. With shaky hands, she grabbed her phone as she scrolled through the contacts, seeing that one name, she hesitated for a while before pressing it. "Oh my dear Anna, you come running back as always" The man said, his voice arrogant and teasing and he spoke. "You can daunt me all you want but that's not why I called, I want to agree with your proposal" Anna said as the man chuckled darkly. She wanted to hang up immediately she heard his voice but she really needed this money. "Wow! You finally agreed to it. Someone would be there tomorrow to pick up the girl, get her ready and then send me your account details. Thank you very much" the man said as he hung up rudely leaving Anna in despair. She ran her fingers through her hair, thinking she had made a wrong decision agreeing to this but what could she do. She never liked the lad and magnolia was always an obstruction to her plans.Nasya menarik napas panjang. “Oh, saya masak lumayan banyak, kok, Ma. Di wajan masih ada. Kalau Mama mau, saya bisa siapkan,” jawabnya, berusaha tetap ramah.Namun, Melati mengibaskan tangannya seolah menolak sesuatu yang menjijikkan. “Ah, nggak usah. Nasi goreng sisa? Mama nggak pernah sudi makan yang begitu.”Nasya mencoba menelan kesal yang mulai mengumpul di tenggorokannya. Ia mengingatkan diri sendiri, jangan marah-marah, demi bayinya. Ia melatih senyum sabar, meski dalam hati ingin balas sindir. Namun, belum sempat berkata apa-apa, suara bel pintu terdengar.“Bukain pintu sana. Masa hamil muda aja nggak bisa buka pintu buat tamu? Nggak bikin kecapekan dan ‘mengganggu’ kehamilan kamu kan?” sindir Melati dengan nada sinis.Nasya menahan diri agar tidak melontarkan sindiran balasan. “Iya, Ma. Saya bukain.”Nasya segera berjalan ke arah pintu. Setiap langkah di pagi itu seolah jadi ajang uji kesabaran. Bagi Nasya, Melati sudah seperti ahli sindiran yang sangat mumpuni.Ketika Nasya
Bab 33. Ratapan Ibu HamilNasya menghela napas panjang, meratapi kehamilan pertamanya yang dijalani lebih banyak dalam kesendirian. Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang entah kenapa makin terasa hambar. Bima selalu pulang larut, nyaris hanya meninggalkan jejak sepatu dan jas kerjanya. Di saat ia merasa makin butuh perhatian, yang ada justru hanya sofa, beberapa bantal yang sudah pasrah kusut, dan kamar yang terasa dingin. Sesekali ia merasa seperti ‘jablay’—jarang dibelai—seolah-olah kehamilan ini hanya urusannya seorang diri.Suatu sore, setelah seharian dihantam rasa mual yang tak kunjung reda, Nasya bangkit tertatih-tatih menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun, begitu sampai di sana, perutnya kembali bergejolak, dan ia pun buru-buru ke kamar mandi. Di depan wastafel, tubuhnya berguncang-guncang saat ia muntah, dan yang ia temukan hanya bayangan wajahnya sendiri di cermin—lelah, berantakan, tapi tetap berusaha tegar. Duh, kasihan amat aku ini, ya… pikirnya, mengusap waja
Mereka pun mengobrol panjang lebar, sampai waktu terus bergulir tanpa terasa. Harun dan Ranti tampak antusias berbagi rencana masa depan untuk cucu pertama mereka, seakan anak Nasya dan Bima ini bakal jadi penerus kerajaan. Mereka menyarankan hal-hal aneh dengan penuh keyakinan, dari saran nama bayi yang panjang dan penuh makna hingga nasehat perawatan bayi tradisional yang terdengar kuno.Di sela obrolan, Harun menepuk bahu Bima, seakan enggan melepaskan menantunya itu. “Bima, ini udah malam. Tapi kalau mau nginap dulu di sini, nggak apa-apa, lho. Malah Papa senang banget kalau kalian di sini lebih lama.”Ranti menambahkan dengan nada manis, “Iya, lagian, nanti kalau sudah ada cucu, bakal makin seru! Rasanya pengen bisa bantu jagain cucu.”Nasya mengerling, lalu berkata sambil menahan tawa, “Mama sama Papa, beneran nih, sok berat pisahnya? Bukannya dulu Mama Papa malah sengaja paksa aku nikah biar aku cepet angkat kaki dari rumah?”Ranti tertawa kikuk, sedikit tersipu. “Ah, kamu ini.
Nasya benar-benar menikmati masa-masa ini, memanfaatkan kehamilannya sebagai ‘alasan resmi’ untuk santai seharian. Ia duduk di sofa, menikmati acara TV favorit sambil mengunyah camilan, sesekali tertawa sendiri saat melihat adegan lucu. Di sisi lain, Melati yang merasa kesal tak henti-hentinya mencoba mencari cara untuk ‘mengganggu.’“Nasya,” panggil Melati dengan nada yang sengaja dibuat sedikit keras, “Kayaknya karpet di ruang tamu udah kotor, perlu diganti. Atau kamu bisa coba nyapu-nyapu ringan aja?”Nasya menatap karpet sebentar, lalu mengelus perutnya sambil berakting lelah. “Aduh, ma… Saya lemes banget, rasanya gak kuat nyapu-nyapu dulu nih. Kata dokter, ibu hamil harus banyak istirahat, jangan capek-capek.”Melati mendesah panjang, tetapi Nasya tetap tak bergeming, malah asyik kembali menonton TV. Tak lama, Melati mencoba taktik baru dengan menyalakan vacuum cleaner di dekatnya, membuat suara berisik untuk mengusik ketenangan Nasya.“Waduh, maaf ya kalau agak berisik, Nasya. S
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.