LOGINHari itu Jasmine bertemu dengan seorang wanita, tetangga baru yang katanya baru pindah ke kompleks tersebut. Entah bagaimana awalnya, wanita itu memberi info tentang lowongan kerja di PT Total Karya Indonusa. Bahkan dia memberikan tautan langsung untuk melamar.
Matanya berbinar begitu mendengar dan melihat langsung info lowongan kerja tersebut. Jasmine yang memang mencari kerja, merasa info lowongan ini adalah jawaban dari Tuhan atas kegundahan dan doa-doanya.
Kebetulan sekali, posisi yang ditawarkan juga bagus. Aku punya pengalaman di bidang itu sebelumnya. Apa ku kirim saja lamaran ini ya?
Dengan segera, Jasmine menyiapkan persyaratan dan langsung mengirimnya melalui surel.
“Ini sebuah kebetulan kan, Mbak Murni. Disaat aku sedang butuh kerjaan, eh ada orang yang kasih info lowongan.” Jasmine bicara dengan pengasuh anaknya, Mbak Murni.
Tentu bukan sebuah kebetulan, wanita tadi adalah orang suruhan Jiwa untuk mendekati jasmine dan membawa pesan lowongan itu. Sebab hingga mendekati sore, masih belum ada tanda-tanda Jasmine mengirim lamaran kerja. Terpaksa, Jiwa menggunbakan cara itu agar Jasmine langsung terinformasi.
Haaah tau gitu dari awal aja pake cara ini. Jiwa akhirnya bernapas lega, satu step telah diselesaikan.
“Mujur benar nasib Ibu. Semoga segera dapat panggilan, Bu. Terus keterima di sana. Itu kantornya bagus banget!” Wanita itu diperlihatkan bangunan yang akan menjadi kantor majikannya nanti.
Mbak Murni tak henti memberikan doa untuk Jasmine. Dia sudah lama ikut ibu satu anak itu, baginya, Jasmine sudah seperti keluarga. Jasmine yang memberinya kehidupan baru setelah dia terpuruk menjadi korban kdrt sang suami. Selama proses cerainya Mbak Murni mendapat bantuan dari Jasmine. Setelah itu Mbak Murni bekerja dan ikut tinggal bersama Jasmine, mengasuh Zico yang masih kecil.
Tak menunggu lama, Jasmine langsung mendapat panggilan tes kerja esok hari. Wanita itu diminta untuk mempersiapkan diri agar tes berjalan dengan baik.
“Baik Bu, saya akan hadir tepat waktu. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.” Jasmine menutup panggilan telepon dari HRD. Matanya berbinar, kebahagiaan pun membuncah.
“Mbak, aku dapat panggilan kerja!” Dengan girang, Jasmine mencari pengasuh putranya sambil berteriak.
“Wah, selamat, Bu! Udah saya bilang, nasib Ibu mujur.” Mbak Murni tak kalah antusias.
“Tapi aneh nggak si, Mbak. Perasaan kok cepet banget prosesnya ya? Biasanya kan kita nunggu lama baru dapat panggilan tes. Lah ini kok, sat set, aku dipanggil.” Rupanya Jasmine merasa aneh. Dia masih tak percaya dengan proses yang begitu lancar ini.
“Itu namanya mereka emang lagu butuh banget karyawan bu. Mungkin posisi itu harus cepat terisi.” Mbak Murni mematahkan kecurigaan Jasmine.
“Iya juga ya, MBak. Siapa tau emang kantor itu lagiu butuh cepat karyawan baru.” Jasmine akhirnya mengenyahkan kecurigaannya.
Sementara Kemal, bahagia karena rencananya berjalan lancar. Semua memang harus berjalan sesuai keinginannya, tidak boleh ada yang menggalkan niatnya. Maklum, Kemal sudah bucin akut.
***
Jarak dari Malang ke Surabaya yang lumayan jauh, membuat Jasmine sempat berpikir ulang. Tapi demi Zico, apapun rintangannya akan ia lalui. Malang Surabaya hanya berjarak dua jam jika menggunakan kereta. Maka dari itu, Jasmine memilih kereta untuk moda transportasi. Walaupun jadwal tesnya pukul 10 pagi, tapi Jasmine memilih tiba lebih awal di sana daripada harus terlambat. Jasmine menggunakan kereta Arjuno Ekspres Executive pukul 05:53.
“Mama berangkat ya, Nak. Doakan Mama tesnya berhasil.” Jasmine mengusap lembut kepala Zico kemudian mencium pipinya.
Zico tanpa henti mengucapkan doa dan permohonanannya. “Aku pasti doakan Mama. Semoga Mama dapat kerjaan baru yang gajinya lebih besar, jadi kita bisa makan enak terus, jalan-jalan terus, Mama bisa belikan aku mainan terbaru, dan …”
“Aamiin … Iya sayang, terima kasih doanya ya. Mama harus berangkat takut ketinggalan kereta.” Jasmine memotong ucapan anaknya yang lebih banyak minta makan enak dan mainan baru itu. Biar masih kecil, Zico sudah mengerti, jika ibunya punya gaji besar, artinya banyak uang. Dia bisa minta apapun yang dia inginkan.
“Mbak, Murni, titip Zico ya! Zico, baik-baik sama Mbak Murni ya. Jangan nakal, ini hari pertama masuk sekolah kan? Semangat sayang!”
Setelah saling memberi semangat, akhirnya Jasmine berangkat menuju stasiun. Sepanjang perjalanan, Ibu satu anak itu mengkhawatirkan satu hal, semoga identitasnya tidak terbongkar. Statsunya sebagai ibu beranak satu namun masih tertulis lajang di KTPnya. Jasmine pun tak berniat mengnubah itu dalam CV-nya. Biarlah itu menjadi rahasianya. Dia hanya akan bekerja dengan tekun dan mendapatkan gaji bulanan untuk bertahan hidup. Masalah Zico, biar nanti dia pikirkan lagi, yang terpenting Jasmine mendapat pekerjaan untuk menopang hidup mereka.
Pengumuman tentang keberangkatan kereta pun terdengar. Jasmine bergegas menuju peron yang telah disebutkan, dan memasuki gerbong kereta. Wanita itu sengaja memilih kereta executive karena selain ingin lebih nyaman, ia juga ingin menjaga mood-nya tetap baik sampai tiba di kantor itu. Ini adalah interview pertamanya setelah sekian lama tidak memasuki dunia perkantoran lagi.
Selama di kereta, entah mengapa Jasmine teringat Kemal. Pertemuan tak sengaja mereja masih membekas. Bagaimana suaranya yang bergetar memohon maaf dan matanya yang memelas membuat dirinya terusik. Marah, tentu saja ada. Tapi dia biasa apa? Jasmine lebih teringat ekspresi Zico yang mirip dengannya.
Tanpa terasa bulir bening keluar dari pelupuk mata indahnya. Kemal masih tetap menorehkan luka, bahkan setelah tujuh tahun tak bertemu, getara itubbegitu kuat menguasai dirinya. Namun, terganggu oleh pesan-pesan usil yang masuk ke ponselnya.
+852? Bukannya ini nomor dari Hongkong? Siapa? Orang iseng kali ya. Jasmine tak menanggapi pesan usil tersebut.
[ Hai Melati! Masih ingat aku? Jangan bilang kau sudah lupa denganku, Jasmine tea!]
[Kau baik-baik saja? Kau sedang apa? Rasanya lama sekali kita tak bertemu. Kau merindukanku tidak?]
[Jasmine, kalau baca pesanku cepat balas. Jangan Cuma dilihat aja! Open and read my mssg!]
Begitulah isi pesan usil yang memang hanya dilihat Jasmine dari notifikasi pada layar ponselnya. Jasmine tersenyum, ibu satu anak itu langsung teringat wajah seseorang.
Kalau isi pesannya cerewet begini, sudah pasti dia orangnya. Orang yang memang sudah lama tak berjumpa. Zacky Ardinto Meirzano. Sosok hangat dengan mata teduh. Pria periang yang menjadi penyelamat dirinya dan Zico kala itu.
Hanya dia yang berani memanggil Jasmine tea, kalau sudah kesal dengannya.
Jasmine kemudian menggulir pesan, membacanya, dan mengetuk foto profile untuk memastikan dugaannya. Foto itu hanya sebuah silut seorang pria yang sedang melihat kea rah pemandangan perbukitan. Dari Nampak belakang saja Jasmine sudah bisa mengenali pria itu. Benar, dia adalah Zacky, teman baiknya.
Keduanya saling berbalas pesan. Pesan rindu yang dibalut keusilan hingga Jasmine tertawa sendiri di kereta.
[By the way, gimana kabar anakku? Sudah sebesar apa dia sekarang?] Membaca pesan Zacky yang menanyakan Zico, matanya langsung memanas. Andai dia bisa menceritakan kejadian itu pada Zacky. Tapi waktunya tidak tepat.
[Zico, baik. Dia semakin pintar.] Jawab Jasmine singkat.
[Great, seperti Daddy-nya ya?!]
Ya, dia seperti papanya. Tentu dijawab hanya dalam hati. Jasmine tak menjawab pertanyaan Zacky.
Karena tak dapat menahan rindu, akhirnay Zacky menghubingi Jasmine dengan saluran telepon. Hanya bertukar pesan rasanya kurang puas, kalau belum mendengar suara lembut Jasmine.
Pria itu akhirnya menemani perjalanan Jasmine ke Surabaya. Jasmine juga cerita kalau dia ada tes kerja dan meminta doa dari pria itu.
“Jasmine, andai kau mau menerima tawaranku. Kau tidak perlu seperti ini. Kenapa harus ke Surabaya segala? Jauh-jauh ke sana hanya untuk tes. Belum tentu kamu keterima.” Pria campuan Sumatera-Itali itu mulai mengeluarkan unek-uneknya.
“Bukannya ngedoaian malah kasih ceramah. Sudahlah Zack, kamu muncul-muncul tambah cerewet ya! Aku baik-baik saja, beneran. Terima kasih untuk tawaranmu, tapi kamu pasti tau jawabanku apa.”
Zacky hanya menghela napas. Pria itu sangat peduli, dia tak ingin Jasmine kesulitan. Tapi wanita itu berkeras ingin hidup mandiri tanpa bantuan darinya.
“Jangan pura-pura kuat. Aku tau kamu pasti mau nangis habis kututup telponnya.”
“Sok tau!” Jasmine mendengus sebal, meski apa yang diucapkan Zacky benar. Dia menahan tangis sekarang.
“Ya Tuhan, andai aku bisa bersama kalian saat ini. Kalian pasti tidak akkan kesusahan. You know I really care ‘bout you Jasmine. Kau bisa mengandalkanku.”
“Iya baweeeel. Udah ah, sebentar lagi aku sampai di Stasiun Gubeng, nih. Bye, Zack. See you when I see you!”
Tak ingin terlalu lama membicarakan hal berat, Jasmine memutus sambungan telepon. Bukannya tadi dia mau menjaga mood-nya agar tetap baik, kenapa sekarang malah berantakan?
"Nak ... ini Papa." Untuk pertama kali Kemal menyebut dirinya Papa. Matanya terpejam karena kalimat itu menusuk batinya begitu tajam. Papa, satu kata singkat namun efeknya mampu mengguncang dunianya."Ini Papa," katanya lagi. Kemal berhenti sesaat, karena emosi ini terlalu kuat. Kemal belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.Bagaimana tidak emosional, seharusnya Kemal ada di sana, mendampingi Jasmine mengandungnya, menemani proses kelahirannya dan menyaksikan tumbuh kembangnya. Tapi Kemal tidak melalui semua itu, bahkan Kemal tidak mengetahui bahwa anak ini ada.Tapi Tuhan mempertemukan keduanya dengan jalan yang luar biasa. Melalui pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan logika dan kata-kata."Zico ... itu namamu?" Kemal mengambil satu tangan Zico yang bebas dari selang infus. "Terima kasih sudah datang dalam mimpi Papa." Air mata Kemal jatuh saat ia mencium perlahan punggung tangan Zico.Hatinya bergetar hebat, air mata itu luruh juga bersamaan dengan suara 'bip .
Kemal memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dirinya ingin segera tiba di rumah sakit. Rasa rindu yang awalnya belum ada namanya pada anak itu terkuak sudah. Semua tindakan spontan pengorbanan dan rasa takut kehilangan anak itu ternyata bukan lain karena dia adalah darah dagingnya.Lima belas menit mengendarai mobil, Kemal kini tiba di tujuan. Mobilnya memasuki area parkir utama rumah sakit dan melihat mobil sedan mewah berwarna hitam itu sudah terparkir rapih di sana. Itu adalah mobil Zacky."Sial, aku sudah keduluan!" umpatnya sambil memukul setir.Dengan langkah lebar Kemal memasuki lobi rumah sakit. Ayunan kakinya terhenti karena baru menyadari bahwa ia tidak mengetahui ruang tempat anak itu di rawat. Pasti sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat, kan? Heru tadi bilang Zico sudah pindah ruangan. Tapi bodohnya, Kemal tidak mendengar semua penjelasan Heru. Karena terbawa emosi, Kemal pergi begitu saja, membawa surat hasil tes paternitas yang telah di print out."Permis
Klik!Suara tajam dari mouse mengalirkan getaran aneh pada pria bermata coklat terang itu. Kemal melihat tajam, dan fokus pada layar laptop. HASIL TES PATERNITAS adalah judul yang pertama ia baca. Kemudian bacaannya turun pada badan surat yang berisi keterangan pengantar dilakukannya tes kecocokan DNA.'Variasi alel dilaporkan sebagai angka dari jumlah kopi unit pengulangan nukleotida marka 13 loci STR seperti terlihat pada tabel di bawah ini ...'Telunjuknya menarik scroll wheel pada mouse ke bawah untuk menggulir bacaan berikutnya. Di sana terdapat tabel berupa anka-angka hasil uji kecocokan DNA. Banyak angka dan penjelasan dalam istilah medis yang tidak Kemal pahami sepenuhnya. Kedua alisnya berkerut, istilah-istilah yang ditertera terasa asing baginya."Sulit sekali bacanya," katanya mengeluh.Tak sabaraan, Kemal langsung beralih pada bagian akhir surat tersebut dan mendapati keterangan,'Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel
"Atau ... dia bukan ayahnya."Ucapan Heru sedikit banyak memengaruhi pikiran Kemal. Isi kepala pria itu bagai diteror banyak pertanyaan yang belum dapat ia jawab. Ia harus mencari tahu sendiri. Kemal benar-benar diuji, baik kesabaran maupun kewarasannya.Empat hari berlalu sejak kecelakaan itu, Kemal sudah kembali bekerja seperti biasa walau pikirannya kacau. Ditambah kali ini Kemal memegang langsung operasional kantor di Surabaya yang seharusnya bisa dijalankan oleh Direktur baru, tapi karena ide gilanya mengejar Jasmine, Kemal harus menanggung konsekuensinya. Hal itu tentu menambah beban dan membuatnya lelah.Bukan lelah karena lot kerjanya yang padat, Kemal sudah terbiasa akan hal itu. Tapi lelah dengan rasa sakit yang ditahannya karena harus menahan diri dari Jasmine. Ia mulai berpikir untuk kembali fokus di kantor induk saja. Dari sana ia bisa memantau semua perusahaan dibawah pimpinannya, termasuk di Surabaya.Di ruang kerjanya, Kemal berdiskusi dengan Heru yang baru saja tiba d
Jasmine membekap mulutnya, dokter membentangkan hasil rontgen dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk Zico. Meski kondisi Zico masih kritis, Zico harus segera dioperasi. Dengan izin orangtuanya, Zico segera dibawa ke ruang operasi. Proses operasi berlangsung sekitar dua jam. Selama itu pula Jasmine dan Zacky diliputi cemas yang tak bertepi. Doa-doa dipanjatkan. Masing-masing saling menguatkan. Sementara Kemal, pria itu seorang diri ketika membuka matanya. Tadi Heru pergi untuk bicara dengan dokter.Sepi, tapi hatinya terasa penuh. Kemal butuh penyesuaian dari alam bawah sadar ke alam kenyataan. Sinar lampu rumah sakit yang terang tak sama silaunya dengan cahaya terang yang tadi dilihatnya. Iya, Kemal mengalami pengalaman spiritual yang menakjupkan.Sebelum sadar dari pingsannya, Kemal berada di sebuah ruang gelap tak berujung. Di tengah kebingunan, muncullah setitik cahaya terang dari kejauhan yang lama-lama mendekat. Cahaya itu semakin lebar dan semakin terang, hingga Kem
Tiba-tiba Kemal merasa mual dan sangat pusing, tubuhnya mendadak lemah seakan kehilangan tenaga. Melihat ada yang tidak beres, Heru cepat berjalan di samping Kemal. "Anda baik-baik saja?" Ia khawatir dengan kondisi Kemal."Yeah, i'm fine," jawab Kemal yang masih berusaha berjalan. Bos perusahaan multinasional itu tak ingin dibantu Heru, gengsi karena ada Jasmine dan pria itu di sana. Namun gengsinya tak berlangsung lama, Kemal limbung. "Pak Bos!""Kemal!" Jasmine spontan berdiri, lantas bergerak maju ingin menahan tubuh Kemal agar tidak terjatuh. Tapi terlambat, Kemal ambruk. Wanita itu hanya mematung melihat Kemal jatuh di hadapannya.Meski ambruk, namun Kemal tetap dalam kesadaran. Ia hanya kehabisan tenaga untuk berdiri dan berpikir. Semakin ia berpikir, kepalanya semakin pusing. Perawat datang mendorong bed pasien untuk Kemal. Heru dan satpam rumah sakit dengan cekatan membantu Kemal untuk merebah di tempat tidur pasien. "Bos saya kenapa, Sus?" tanya Heru khawatir melihat wajah K







