LOGINBab 8. Dua Pria
Kemal yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) dari Ozdemir Group untuk Region Asia Pasific, melakukan rapat koordinasi dengan jajaran direksi untuk rencananya berkantor sementara di Surabaya. Kewenangannya tidak berubah, beberapa pekerjaannya akan dibantu oleh Chief Operating Officer (COO) atau direktur operasional. Lihat bagaimana Kemal mengatur semua dengan apik.
Kemal tetap menyelesaikan setumpuk berkas yang harus diteliti dan ditanda tangani. Pria itu paham betul tanggung jawabnya sangat besar. Karena segaris tanda tangannya pada dokumen yang dipegang itu, sangat berharga dan punya potensi hokum yang tinggi. Jadi dia tetap bekonsentrasi menyelesaikan semua sebelum bertolak ke Surabaya.
Kebetulan sang CEO itu akan bertemu dengan pejabat provinsi untuk mega proyek pemerintah di sana. Sungguh alam pun merestui rencananya.
“Bos, pesawat sudah mendapat izin terbang sore ini.” Heru melapor pada bosnya.
Rasa gugup langsung melingkupinya sekarang. Seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Pria itu juga meminta Heru mengantarnya ke barber shop terbaik untuk merapikan penampilannya sebelum bertemu lagi dengan pujaan hati. Kemarin saat bertemu, Kemal menyadari dirinya terlihat acak-acakan. Mungkin itu yang membuat jasmine sempat tak mengenalinya, pikirnya. Padahal bukan itu.
Tenanan iki, wong sugih kalo jatuh cinta kelakuannya suka alay!
Tentu Heru hanya bicara dalam hati. Mana berani dia bicara begitu. Bisa-bisa bonusnya tidak jadi cair. Kemal menjanjikannya bonus besar jika misi menyatukannya dengan Jasmine berhasil. Jadi, daripada bonus sepuluh ribu dollarnya hangus, Pria asal Sidoarjo itu lebih baik mulai sekarang menjaga mulutnya supaya tidak ceplas ceplos. Lumayan, tambahan modal untuk melamar pujaan hati yang belum tahu siapa.
Sementara, di tempat lain.
Di bandara Hongkong International Airport, Zacky sedang menunggu pesawatnya mendapat giliran untuk lepas landas.
Pria itu ingin memberikan kejutan pada Jasmine dengan datang ke Surabaya. Rindunya sudah tidak terbendung pada wanita yang selama ini menguasi penuh hatinya. Juga rindu pada Zico, si bayi mungil yang kelahirannya dulu disaksikan langsung olehnya. Zacky juga yang memerikan nama Zico dan meng-adzankannya.
“Tuan, pesawat sudah siap.” Amir, asisten Zacky memerikan informasi kalau penerbangan mereka telah siap.
Zacky meninggalkan lounge badnara dengan langkah pasti. Pria itu menggunakan maskapai miliknya, Ardnation Air, dengan rute penerbangan langsung menuju Bandara Juanda Surabaya.
Namanya juga bos maskapai, Zacky punya kebebasan waktu terbang kapanpun. Terutama dengan pesawat The Embarder Legacy 600 miliknya. Pesawat itu memiliki jalur penerbangan yang berbeda dengan pesawat komersil lainnya.
Pesawat tersebut bisa menjelajah hingga ketinggian 45.000 kaki, lebih tinggi dari pesawat komersil. Hal itulah yang membuat Zacky punya keleluasaan jam terbang. Waktu tempuh yang lebih cepat menjadikan jet pribadi banyak dilirik para pengusaha untuk kunjungan bisnisnya. Karena itu, Zacky juga menyewakan beberapa pesawat jetnya pada rekan bisnisnya.
Tugas Zacky sudah selesai di Hongkong. Bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan penerbangan Hongkong sudah berjalan dengan baik. Kini, Zacky ingin kembali ke Indonesia beberapa waktu. Apalagi tujuannya, kalau bukan untuk menemani Jasmine dan Zico. Pria itu ingin menebus waktu yang hilang diantara mereka.
***
Jasmine tiba satu jam lebih awal.
Syukurlah masih ada waktu mempersiapkan diri.
Kini ia ada di salah satu gedung pencakar langit tertinggi di Kota Surabaya. Tiba di lobby, jasmine terpana dengan gedung bertaraf internasional itu. Rasanya haru karena sudah lama ia tak menapaki lantai marmer perkantoran.
Dengan sedikti gugup, Jasmine melangkah pasti. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang menjadi ciri khas lobby perkantoran mewah. Aroma gourmand yang sangat soft namun menenangkan. Perpaduan antara floral, musky dan green. Jika pernah ke hotel Shangri-La, nah seperti itu aromanya.
Setelah melapor pada resepsionis dan mendapat kartu visitor, Jasmine menuju lift. Ia beridir di depan pintu kotak itu bersama para karyawan lain. Beberapa orang berpakaian sepertinya, Hitam-Putih.
ia terus menunduk sambil berdoa, sebelum sebuah teriakan mengagetkannya, dan orang lain di sekitarnya.
“Jasmine!!” Seorang wanita memekik, memanggilnya dengan mata berbinar. Rambutnya pendek sebahu dengan kacamata tebal dan lipstick merah cabai.
Jasmine mengerjap, mencoba mengenali siapa yang memanggilnya. Sebab, seingatnya, dia tak memiliki teman di gedung ini.
“Ya ampun, Hera!” Akhirnya ia bisa mengenali temannya.
Dialah Hera, sahabat Jasmine di kampus dulu. Sama-sama dijuluki ‘si random girl’ waktu itu, karena candaan mereka baisanya hanya Tuhan dan dua orang itu yang tahu.
Sejak lulus, Jasmine kehilangan kontak dengan Hera. Terlebih keduanya disibukkan dengan kehidupan masing-masing. Menjadi deweasa ternyata memang berat.
Dulu, setelah lulus, Jasmine langsung bekerja di perusahaan milik Keluarga Ozdemir dan di sanalah Jasmine muda bertemu dengan Kemal yang tiga tahun lebih tua darinya. Anak sang pemilik perusahaan.
“Aku kerja di tower ini juga. Di lantai dua belas. Kalau kamu sudah selesai interview, hubungi aku ya. Kita makan bareng. Ada tempat makan enak di sini. Tenang, aku traktir!”
Hera sangat bersemangat karena akhirnya bertemu dengan sahabat lamanya lagi. Mereka langsung bertukar nomor agar bisa saling menghubungi.
Setelah berpisah di lantai dua belas, Jasmine melanjutkan ke lantai dua puluh, tempatnya melaksanakan tes kerja. Dingin lift membuat Jasmine bersiap, ia menarik napas dan mulai mengatur senyumnya. Menghilangkan grogi.
Gedung yang berdiri menjulang, desain mewah dan karyawan yang hampir semua good looking, memang memberi kesan mengintimidasi. Tentu saja Jasmine tak kalah cantik, hanya saja dia sudah lama tak bergelut dengan dunia kerja seperti ini. Memakai setelan kerja formal dan heels tinggi.
Jasmine tiba di lantai yang di tuju, begitu keluar lift, ia disambut oleh ruangan bergaya modern dengan meja resepsionis yang futuristic seperti yang ada di film-film Korea.
Ia dan beberapa peserta tes disambut oleh resepsionis lantai tersebut dengan ramah. Mereka diarahkan menuju ruangan tes.
Mereka diberikan lembar isian psikotest sebagai tahap awal yang harus mereka kerjakan selama enam puluh menit. Tentu khusus untuk Jasmine, ini hanyalah tes formalitas. Tapi bagi tujuh kandidat lainnya, ini adalah tes sesungguhnya.
Nama Jasmine langsung diberi tanda oleh seorang pengawas.
Oh, jadi dia yang kemarin dibicarakan Pak Andre? Apa spesialnya?
Pengawas itu bolak-balik melihat CV Jasmine, tapi tak berani bersuara. Ia hanya menjalankan tugas dan menyimpan rasa iri dalam hati.
Setelah dinyatakan lulus ke tahap selanjutnya, Jasmine beserta empat kandidat lainnya menuju ruang interview. Mereka akan langsung diinterview dengan user atau calon atasannya sesuai dengan divisi masing-masing. Baru setelah itu interview dengan manager HRD untuk bernegosiasi tentang hak dan kewajiban sebagai karyawan.
“Selamat siang, pak.” Sapa Jasmine lebih dulu dengan ramah pada pria berkacamata tipis yang mengenakan kemeja biru langit itu. Di mejanya, terdapat tulisan nama serta jabatan. Andre, Manager HRD.
Andre terdiam beberapa detik. Ia terpana dengan kedatangan Jasmine. Sebelumnya ia memang telah melihat CV dan foto Jasmine, hanya saja, ia tak menyangka Jasmine asli seindah ini.
Pak Jeremi sudah memperingatkannya, agar tidak macam-macam dengan Jasmine. Dia milik Bos besar.
Waduh, berat juga kalau saingannya sama Bos Kemal. Gue gak ada seujung rambutnya!
"Nak ... ini Papa." Untuk pertama kali Kemal menyebut dirinya Papa. Matanya terpejam karena kalimat itu menusuk batinya begitu tajam. Papa, satu kata singkat namun efeknya mampu mengguncang dunianya."Ini Papa," katanya lagi. Kemal berhenti sesaat, karena emosi ini terlalu kuat. Kemal belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.Bagaimana tidak emosional, seharusnya Kemal ada di sana, mendampingi Jasmine mengandungnya, menemani proses kelahirannya dan menyaksikan tumbuh kembangnya. Tapi Kemal tidak melalui semua itu, bahkan Kemal tidak mengetahui bahwa anak ini ada.Tapi Tuhan mempertemukan keduanya dengan jalan yang luar biasa. Melalui pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan logika dan kata-kata."Zico ... itu namamu?" Kemal mengambil satu tangan Zico yang bebas dari selang infus. "Terima kasih sudah datang dalam mimpi Papa." Air mata Kemal jatuh saat ia mencium perlahan punggung tangan Zico.Hatinya bergetar hebat, air mata itu luruh juga bersamaan dengan suara 'bip .
Kemal memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dirinya ingin segera tiba di rumah sakit. Rasa rindu yang awalnya belum ada namanya pada anak itu terkuak sudah. Semua tindakan spontan pengorbanan dan rasa takut kehilangan anak itu ternyata bukan lain karena dia adalah darah dagingnya.Lima belas menit mengendarai mobil, Kemal kini tiba di tujuan. Mobilnya memasuki area parkir utama rumah sakit dan melihat mobil sedan mewah berwarna hitam itu sudah terparkir rapih di sana. Itu adalah mobil Zacky."Sial, aku sudah keduluan!" umpatnya sambil memukul setir.Dengan langkah lebar Kemal memasuki lobi rumah sakit. Ayunan kakinya terhenti karena baru menyadari bahwa ia tidak mengetahui ruang tempat anak itu di rawat. Pasti sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat, kan? Heru tadi bilang Zico sudah pindah ruangan. Tapi bodohnya, Kemal tidak mendengar semua penjelasan Heru. Karena terbawa emosi, Kemal pergi begitu saja, membawa surat hasil tes paternitas yang telah di print out."Permis
Klik!Suara tajam dari mouse mengalirkan getaran aneh pada pria bermata coklat terang itu. Kemal melihat tajam, dan fokus pada layar laptop. HASIL TES PATERNITAS adalah judul yang pertama ia baca. Kemudian bacaannya turun pada badan surat yang berisi keterangan pengantar dilakukannya tes kecocokan DNA.'Variasi alel dilaporkan sebagai angka dari jumlah kopi unit pengulangan nukleotida marka 13 loci STR seperti terlihat pada tabel di bawah ini ...'Telunjuknya menarik scroll wheel pada mouse ke bawah untuk menggulir bacaan berikutnya. Di sana terdapat tabel berupa anka-angka hasil uji kecocokan DNA. Banyak angka dan penjelasan dalam istilah medis yang tidak Kemal pahami sepenuhnya. Kedua alisnya berkerut, istilah-istilah yang ditertera terasa asing baginya."Sulit sekali bacanya," katanya mengeluh.Tak sabaraan, Kemal langsung beralih pada bagian akhir surat tersebut dan mendapati keterangan,'Hasil analisa menunjukkan bahwa tiga belas alel loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel
"Atau ... dia bukan ayahnya."Ucapan Heru sedikit banyak memengaruhi pikiran Kemal. Isi kepala pria itu bagai diteror banyak pertanyaan yang belum dapat ia jawab. Ia harus mencari tahu sendiri. Kemal benar-benar diuji, baik kesabaran maupun kewarasannya.Empat hari berlalu sejak kecelakaan itu, Kemal sudah kembali bekerja seperti biasa walau pikirannya kacau. Ditambah kali ini Kemal memegang langsung operasional kantor di Surabaya yang seharusnya bisa dijalankan oleh Direktur baru, tapi karena ide gilanya mengejar Jasmine, Kemal harus menanggung konsekuensinya. Hal itu tentu menambah beban dan membuatnya lelah.Bukan lelah karena lot kerjanya yang padat, Kemal sudah terbiasa akan hal itu. Tapi lelah dengan rasa sakit yang ditahannya karena harus menahan diri dari Jasmine. Ia mulai berpikir untuk kembali fokus di kantor induk saja. Dari sana ia bisa memantau semua perusahaan dibawah pimpinannya, termasuk di Surabaya.Di ruang kerjanya, Kemal berdiskusi dengan Heru yang baru saja tiba d
Jasmine membekap mulutnya, dokter membentangkan hasil rontgen dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk Zico. Meski kondisi Zico masih kritis, Zico harus segera dioperasi. Dengan izin orangtuanya, Zico segera dibawa ke ruang operasi. Proses operasi berlangsung sekitar dua jam. Selama itu pula Jasmine dan Zacky diliputi cemas yang tak bertepi. Doa-doa dipanjatkan. Masing-masing saling menguatkan. Sementara Kemal, pria itu seorang diri ketika membuka matanya. Tadi Heru pergi untuk bicara dengan dokter.Sepi, tapi hatinya terasa penuh. Kemal butuh penyesuaian dari alam bawah sadar ke alam kenyataan. Sinar lampu rumah sakit yang terang tak sama silaunya dengan cahaya terang yang tadi dilihatnya. Iya, Kemal mengalami pengalaman spiritual yang menakjupkan.Sebelum sadar dari pingsannya, Kemal berada di sebuah ruang gelap tak berujung. Di tengah kebingunan, muncullah setitik cahaya terang dari kejauhan yang lama-lama mendekat. Cahaya itu semakin lebar dan semakin terang, hingga Kem
Tiba-tiba Kemal merasa mual dan sangat pusing, tubuhnya mendadak lemah seakan kehilangan tenaga. Melihat ada yang tidak beres, Heru cepat berjalan di samping Kemal. "Anda baik-baik saja?" Ia khawatir dengan kondisi Kemal."Yeah, i'm fine," jawab Kemal yang masih berusaha berjalan. Bos perusahaan multinasional itu tak ingin dibantu Heru, gengsi karena ada Jasmine dan pria itu di sana. Namun gengsinya tak berlangsung lama, Kemal limbung. "Pak Bos!""Kemal!" Jasmine spontan berdiri, lantas bergerak maju ingin menahan tubuh Kemal agar tidak terjatuh. Tapi terlambat, Kemal ambruk. Wanita itu hanya mematung melihat Kemal jatuh di hadapannya.Meski ambruk, namun Kemal tetap dalam kesadaran. Ia hanya kehabisan tenaga untuk berdiri dan berpikir. Semakin ia berpikir, kepalanya semakin pusing. Perawat datang mendorong bed pasien untuk Kemal. Heru dan satpam rumah sakit dengan cekatan membantu Kemal untuk merebah di tempat tidur pasien. "Bos saya kenapa, Sus?" tanya Heru khawatir melihat wajah K







