MasukDari kantor pusatnya di Jakarta, Kemal mendapat laporan bahwa Jasmine saat ini sedang mencari pekerjaan.
Benar, adalah hal biasa bagi pengusaha sepertinya berada di dua atau bahkan tiga tempat dalam satu hari untuk perjalanan bisnis. Seperti saat ini, Kemal ada di Jakarta, namun sore nanti sudah kembali ke Surabaya. Pria itu tersenyum penuh arti ketika mendapat ide brilliant di pikirannya. “Heru, masih ada formasi kosong tidak untuk kantor kita di Surabaya?” Seketika keningnya berkerut. Heru mengingat-ingat laporan dari kantor mereka di Surabaya yang minggu lalu ia baca. “Seingat saya sih, sudah full team, Bos.” “Kamu yakin?” Walau terlihat masih berpikir, tapi Heru mengangguk yakin. “Yakinlah, Bos. Kan timnya sudah running lama. Memang kenapa?” “Nggak bisa dicek dulu?” “Bisa. Memang ada apa sih, Bos?” Heru dibuat penasaran. “Banyak tanya kamu!” Bukan Heru namanya jika tidak ceplas ceplos. Dan jika rasa penasarannya belum tertuntaskan, maka dia akan terus mencecar Kemal, meski Kemal adalah bosnya. “Jangan bilang kalau Bos Kemal mau nerima titipan orang. Kok bisa? Bukan Pak Bos banget kayak gitu.” Kemal melirik sinis. Reaksi asistennya lagi-lagi menguji kesabarannya. Walau pria itu sudah terbiasa menghadapi tingkah Heru yang menyebalkan bahkan kadang lebih menyebalkan dari bosnya sendiri, Kemal tetap saja kehabisan kesabaran. “Titipan apa?! Bisa tidak kondisikan pikiranmu itu?” Kemal sewot. “Jasmine sedang mencari pekerjaan. Atur panggilan kerja untuknya. Buat posisi yang sesuai dengan capability-nya, untuk kantor kita di Surabaya. Kantor kita di sana tidak menggunakan nama Ozdemir. Jasmine tentu tidak akan tahu itu punya kita. ” “Oow … I see. Saya paham sekarang.” Heru menganggkuk, pria berkacamata itu dengan cepat bisa mengerti maksud bosnya. Kemal benar, kantor di Surabaya adalah anak perusahaan dari Ozdemir Group yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan alat berat yang tidak menggunakankan nama Ozdemir sebagai identitas, mereka menggunakan nama yang lebih melokal. PT. Total Karya Indonusa. Nama Ozdemir tertera pada akta pendirian sebagai penyokong modal. Jasmine pasti tidak mengetahui karena perusahaan itu baru berdiri lima tahun belakangan. Perusahaan itu merupakan unit bisnis Ozdemir Group untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Sang putra mahkota berhasil melebarkan sayap menjangkau seluruh Indonesia setelah sebelumnya juga berhasil membuat unit bisnis lain. Berkantor di salah satu office tower bergengsi di kawasan Central Business District (CBD) Surabaya, Kemal membeli lima lantai di tower tersebut, tepatnya dari lantai tujuh belas sampai lantai dua puluh satu. Tiga lantai untuk perusahaan barunya, dan dua lantai lagi untuk disewakan kembali. Memang dia tidak mau rugi. “Saya mau kamu take action hari ini juga, hubungi Pak Jeremy. Minta dia buka beberapa lowongan, gunakan semua media agar Jasmine melihat iklan itu.” Kemal menyusun rencana dengan Heru. Dia akan mulai menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Jasmine kembali. “Siap laksanakan, Bos!” Ide bagus lainnya, Kemal akan berkantor sementara di Surabaya agar lebih dekat dengan jasmine. Sebagian besar pekerjaannya akan dilakukan dari sana. Itu bukan maslah besar untuknya, tapi masalah untuk Heru. Karena pasti bukan Kemal yang repot melainkan sang asisten, Heru. Belum apa-apa pria itu sudah terbayang bagaimana repotnya pekerjaan dia selama misi Bosnya untuk mendapatkan Jasmine kembali. Heru bergerak cepat, dia menghubungi HRD perusahaan di Surabaya. Tentu panggilan itu membuat heboh satu divisi, karena mendapat telepon dari big bos mereka. Heru adalah representative dari Kemal, apa yang diucapkan Heru sudah pasti adalah perintah Kemal. Pria itu meminta Pak Jeremy, Direktur Operasional untuk menyediakan beberapa posisi atas permintaan Kemal. Heru menggunakan alasan logis yang tepat, seiring dengan load pekerjaan mereka yang menigkat karena permintaan pada sektor bisnis mereka juga sedang naik. Jadi dalam rangka membatu dan percepatan pertumbuhan bisnis, Kemal meminta penambahan karyawan. Hebat bukan Kemal? Maski ada tujuan terselubung, tapi dia tetap bicara soal bisnis. Biar bucin, tapi tetap professional. Heru bersama Jiwa menaruh iklan di semua media agar mudah terjangkau. Tentu saja fokusnya adalah agar Jasmine melihat iklan itu bagaimanapun caranya, lalu membuatnya mengirimkan lamaran kerja. Cara mereka berhasil, tak berapa lama, Heru mendapat laporan bahwa sudah banyak lamaran yang masuk untuk posisi yang dibuka termasuk Jasmine. “Bos, kita strike!” pekik Heru penuh semangat. Sore itu Heru mendapat email masuk berupa CV Jasmine yang dikirim oleh HRD Surabaya. Dia puas karena telah berhasil menjalankan misi pertamanya. Senyum Kemal terkembang lebar. “Guzel!” katanya dalam bahasa Turki. “Sarjana Ekonomi, Cumlaude, pengalaman terakhir pemandu wisata Jawa Timur. Waw, anak pintar rupanya …” Heru asyik membaca Curriculum Vitae Jasmine. Ternyata Heru terkesan pada CV itu, kecerdasan Jasmine yang diatas rata-rata, plus wajahnya yang manis, membuat denyut aneh pada di dadanya. Pantas saja bos klepek-klepek, udah cakep, pinter juga.Jewel akan sangat senang jika pembaca memberi jejak komentar. Terima kasih masih menemani Kemal mengejar Jasmine. Hehehe ...
Seminggu ini, sudah tiga kali Kemal mengantar Jasmine pulang. Seperti biasa, Jasmine akan turun di tower yang berbeda, lalu setelah mobil Kemal menjauh, wanita itu akan berjalan menuju tower tempat unitnya berada. Meski tak begitu jauh, tapi jika jalan kaki, lumayan capek juga. Namun itu masih lebih baik, dibanding Kemal mengetahui tempat tinggalnya. Jasmine tidak ingin ambil resiko lebih besar lagi. Seperti sore ini, di akhir pekan minggu ke tiga bulan Oktober. Waktunya gajian bagi karyawan di perusahaan konstruksi itu. Wajah para pegawai sumringah menerima notifikasi m-banking di ponselnya. Tak sedikit yang langsung mengagendakan belanja di mall, makan malam fancy serta melepas lelah di club atau karaoke. Tapi tidak berlaku bagi Jasmine. Wanita itu akan segera pulang dan mengajak Zico makan malam di luar seperti bulan lalu. Zacky belum sempat mengunjungi mereka karena kesibukan pria Italy itu makin bertambah dengan mulai beroperasinya kantor baru di Jakarta. "Jasmine, ikut
Jasmine berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di lobi, wanita itu merogoh tasnya ingin mengambil ponsel untuk memesan taksi online. Tapi sial ponselnya kehabisan daya. "Bagus!" Maki Jasmine pada dirinya sendiri. "Bagaimana ini, mana di luar turun hujan." Ia mendengus pelan. Jasmine menyalahkan kecerobohannya. Gara-gara salah input tanda koma, jadi telat pulang. Padahal ia sudah sudah sangat rindu putra semata wayangnya, ditambah interaksinya dengan Kemal membuatnya ingin segera meninggalkan gedung itu. Tapi hujan tak kunjung reda. Jasmine melihat risau lagi arloji di pergelangan tangannya. "Sudah hampir jam 8 malam," keluhnya. Menatap kembali luar gedung, lalu ia berdiri. Bersiap menerobos hujan meski tak sederas tadi sore. Jasmine harus pulang saat itu juga, Zico pasti khawatir menunggu ibunya yang tanpa kabar sejak sore. Jasmine akan menunggu taksi di halte dekat gedung itu saja. Sedikit basah tak akan membuatnya sakit, kan? Jasmine sudah biasa. Wanita 30 tahun itu
Hari-hari berikutnya di kantor berjalan normal, setidaknya Jasmine bisa bernapas lega dan konsentrasi pada pekerjaannya. Padahal Kemal memang sengaja memberi jeda agar Jasmine tidak takut padanya.Pembicaraan mereka kemarin dirasa cukup membuat Jasmine tak berkutik. Wanita itu benar-benar terkurung lagi dalam hidup Kemal. Katakanlah untuk beberapa bulan mendatang.Bukan Jasmine tak paham, wanita itu sadar betul Kemal tak akan melepaskannya dengan mudah. Jasmine harus bersabar sambil mengumpulkan kembali pundi-pundi uangnya, baru kemudian ia benar-benar akan keluar dari perusahaan itu.Namun hari ini, Jasmine harus satu lift dengan pria yang wanginya telah lama menjadi favoritnya itu. Jasmine tak sengaja menggunakan lift direksi saat akan turun ke loby. Jasmine ingin segara pulang. Tapi tindakan cerobohnya malah memberikan keduanya waktu bersama. Keheningan menyelimuti. Jasmine tak berani bicara. Ia menggenggam eratnya. Malas melihat ke depan, dimana ada pantulan diri Kemal. Pria itu
Jasmine kembali ke kubikelnya lagi setelah diminta untuk memberikan laporan ke meja Kemal. Wanita itu menjatuhkan punggung pada sandaran kursi, seraya mengembuskan napas berat. Ia coba mengumpulkan keberanian menghadapi Kemal sendirian. Bagi Jasmine ini seperti mendatangi sendiri singa yang sedang lapar. Merelakan diri menjadi buruannya. Jasmine pusing sendiri. Tapi demi gaji dua digit-nya, Jasmine harus sanggup. Dua digit, Jasmine. Semangat! Jasmine membayangkan angka itu masuk dengan tertib ke rekeningnya tiap bulan. Membayangkan sekolah Zico, sewa apartemen dan biaya pemeliharaannya, budget makan selama satu bulan,serta gaji Mbak Murni. Dengan gaji sebesar itu, ia dapat memberikan Zico kehidupan yang lebih baik. Dan yang paling utama, ia bisa hidup mandiri tanpa merepotkan Zacky lagi. Dengan segera beranjak dari kubikelnya menuju lantai paling horor di gedung ini. Lantai tempat Kemal berada. Sampai di cluster khusus pimpinan, Jasmine bertemu dengan Hansen, sekretaris
"Kembali ke tempat dudukmu!" perintah Kemal bak sengatan listrik yang membuat Jasmine kena serangan jantung. Skak mat! Jasmine kembali ke kursinya dengan wajah memerah karena malu. Tidak ada yang tahu bahwa dua orang itu saling kenal, mereka hanya melihat kasihan pada Jasmine, di rapat pertamanya wanita itu harus mendapat teguran dan tatapan tajam dari big bos mereka. Jasmine hanya bisa berharap rapat ini berjalan singkat. Iya, semoga saja singkat. Sebab dirinya jadi kesulitan napas karena serangan jantung mendadak yang dialaminya barusan. Jasmine berusaha fokus meski sulit. Diam-diam ia memperhatikan Kemal. Pria yang telah ia tinggalkan tujuh tahun itu, terlihat berbeda sekarang. Kemal lebih bisa mengendalikan diri, dengan tetap fokus pada materi rapat, diskusi dengan para petinggi yang lain, walau sesekali tatapan mereka bertemu, Kemal dengan cepat memutusnya dan menguasai diri. Jasmine tahu, Kemal pasti ingin berbicara banyak dengannya. Mengingat pertemuan tak sengaja
"Jasmine, jangan lupa meeting gabungan nanti sore, ya." Rekan kerja Jasmine mengingatkan."Meeting gabungan, Mbak Pur?""Iya. Big Boss mendadak ngadain meeting gabungan. Feelingku sih buat nyecer anak-anak tentang mega proyeknya, katanya ada masalah," terang Mbak Pur. "Tapi aku baru gabung, Mbak. Belum megang proyek itu." Jasmine tiba-tiba gugup. "Tenang, kamu siapin aja bahan dan laporan tim kita. Filenya ada di folder ini." Mbak Pur menunjuk pada layar komputernya, menunjukkan folder yang harus Jasmine lihat. "Aku juga bikin kok, biar nanti kita bisa saling back up, in case si Boss tanya-tanya," terangnya lagi.Jasmine hanya mangguk-mangguk pasrah. Sore itu, pekerjaannya hampir selesai. Jasmine sudah membayangkan akan pulang cepat dan menemani Zico ke toko buku seperti permintaannya tadi pagi. Namun sayang, rupanya ada rapat dadakan yang harus dihadirinya. Ini adalah rapat gabungan pertama baginya, dan Jasmine harus menampilkan performa terbaik nanti.Bersama dengan staff yang lai







