Share

Di Ceraikan Juga

Penulis: Azzkira
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-11 16:04:50

Semenjak di sentak Argo, Dewi sang ibu sering mengunci dirinya di dalam kamar dan mogok makan. Argo dan Ayunda sangat cemas, karena sudah dua hari Dewi enggan untuk keluar dari kamar. Tiba waktu dimana pagi itu Argo sangat khawatir dan mendobrak pintu kamar, betapa kagetnya Argo dan Ayu melihat Dewi sang ibu sedang terkulai lemas di atas lantai.

“Ayu segera panggil kak Pertiwi dan suaminya kesini sekarang juga!” teriak Argo panik.

“Baik Mas,” Ayu bergegas lari untuk menuruti perintah suaminya.

Ketika Ayu memberi kabar bahwa sang mertua pingsan, kakak iparnya Pertiwi beserta suaminya panik dan segera merapat ke rumah Argo. Argo dan Ridwan suami kakaknya itu langsung mengangkat tubuh Dewi ke dalam mobil. Argo memacu kencang mobil sedannya menuju rumah sakit terdekat, yang di susul dengan mobil kakaknya Pertiwi, dan sesampainya di rumah sakit, Dewi langsung di tangani di IGD.

Setelah pemeriksaan oleh dokter, Dewi masuk ruangan perawatan karena ia hanya dehidrasi biasa. Selang impusan terpasang di lengan kanannya, perlahan matanya terbuka dan melihat dua anaknya, dua menantunya dan dua cucunya berada di dekat dengan tubuh lemasnya. Wajahnya di palingkan kala melihat wajah Ayu yang tersenyum melihatnya siuman.

“Alhamdullilah.” Ucap Argo, Ayu, Pertiwi dan Ridwan bersamaan.

Bibir Dewi menyungging masam. “Buat apa kalian membawa aku ke tempat seperti ini?” ucapnya ketus.

“Bu, Ibu jangan ngomong gitu, kita semua khawatir tadi lihat Ibu terkulai lemas di lantai, lagian Ibu kenapa sih pake acara ngga mau keluar kamar? Makan juga ngga, udah dua hari Ibu engga keluar kamar, ya gimana kita ngga panik lah.” Argo menggenggam kedua telapak tangan Dewi dan menatap dalam dengan genangan air mata yang hampir jatuh.

Dewi menarik kasar genggaman tangan Argo. “Kamu khawatir? Sama siapa? Sama ibu atau pembunuh itu?” ucap Dewi ketus sambil melirik ke arah Ayu yang berdiri dekat Pertiwi.

“Hmm Bu, Ibu bisa ngga sih jangan sebut Ayunda dengan sebutan pembunuh? Siapa sih yang ingin kehilangan anaknya,” lirih Argo.

“Om Argo, tapi yang di katakan nenek itu benar! Tante Ayu yang membuat dedek bayinya Om Argo meninggal,” celoteh Delia dengan gelak tawa ringannya

“Husss kamu jangan sembarangan bicara, ayo keluar, Bu kami keluar dulu ya, Argo Mas keluar dulu ya,” ucap Ridwan singkat sambil menuntun Delia dan Egi keluar ruangan.

Pertiwi hanya menganggukkan kepala kala suami dan kedua anaknya melintas di depannya, begitu pun Argo yang hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah kakak iparnya itu. Sedangkan Ayu hanya bisa menitikkan air mata mendengar ucapan ibu mertua dan keponakannya itu. Pertiwi yang sudah tidak kuat menahan amarahnya kepada Ayu baru bida meremas kepalan tangannya sambil menunggu suami dan anak-anaknya tidak tampak dalam ruangan.

Tubuh Ayu terhuyung di dorong Pertiwi. “Aura gelap apa yang kamu bawa masuk ke dalam keluargaku hah?” bentak Pertiwi

Argo menoleh ke belakang dan menarik lengan kakaknya. “Apa yang Kak Tiwi lakukan?”

Tiwi membalikkan badan dan menatap tajam mata adik semata wayangnya. “Kamu yang seharusnya ku tanya, kamu nemu wanita pembawa sial macam ini dari mana hah?” Pertiwi melotot, bibir tebalnya beberapa inci lebih maju ke depan karena kesal.

“Astagfirullah Kak, yang eling kamu Kak ngatain orang pembawa sial!” pekik Argo.

“Apa yang dikatakan kakak mu itu benar Argo! Mau berapa anggota keluarga lagi yang akan kamu korbankan untuk membela wanita jahan*m itu!” bentak Dewi.

“Astagfirullah, ada apa dengan kalian ya Allah, kalian itu ....” Ucapan Argo terhenti.

“Kalian itu apa hah? Aku tanya sama kamu, anakmu mati karena kecerobohan siapa? Ibu masuk rumah sakit sekarang karena siapa hah? Masih kamu belain itu perempuan? Kamu mau selanjutnya Ibu dan aku yang metong?” cecar Pertiwi.

“Astagfirullah sungguh di luar nalar ucapan kalian itu! Ayu ayo kita pulang! Aku pusing lama-lama ada disini!” Argo menarik tangan istrinya yang sejak tadi menangis, langkah gagahnya melangkah keluar meninggalkan ruang perawatan.

***

Hari mulai siang, Argo makan hidangan yang disajikan istrinya dengan sangat lahap. Bagaimana tidak sudah lama ia tidak menikmati hidangan sedap karena uang belanja yang dia beri kepada istrinya selalu di jarah ibu dan kakak perempuannya. Ayu tersenyum bahagia melihat suaminya makan dengan sangat lahap.

“Mas pelan-pelan makannya, nanti tersedak,” ucap Ayu lembut.

Argo diam sejenak, kemudian minum satu gelas air mineral. “Aku semalam berpikir keras, apa yang di katakan kakak dan ibuku sepertinya benar, aku rekap dari perjalanan pernikahan kita, aku tidak menemukan kebahagiaan dengan mu Ayunda, anak laki-laki yang kudambakan malah meninggal secara konyol,” ucap Argo.

“Mas, aku minta maaf soal putra kita, demi Allah aku tidak ada niat untuk membuat putra kita meninggal dengan tragis, aku benar-benar minta maaf Mas, itu hanya kecelakaan,” lirih Ayu sambil menunduk.

“Hanya? Kamu bilang hanya? Itu nyawa loh kami kok bisa anggap enteng gitu seolah hidup anak kita gada artinya!” pekik Argo.

“Mas buka gitu maksudnya Mas, ya Allah aku salah ucap, maksud aku.”

“Diam! Harusnya aku dengerin ucapan ibu dan keluarga, kamu emang ngga pantes berada di rumah ini! Sekarang juga aku ceraikan kamu!” tegas Argo.

“Astagfirullah Mas, kenapa jadi gini sih Mas, maaf bukan gitu maksud aku Mas.” Ayu merengek dan bersujud di kaki Argo..

“Dah lepasin kaki aku! Besok aku akan ke pengadilan agama untuk urus perceraian kita! Aku ingin bahagia, aku ingin hidup dengan perempuan normal bukan perempuan yang yang ngga becus urus anak!” bentak Argo

***

Dua bulan berlalu proses perceraian, Ayunda di usir suaminya dan ibu mertuanya. Hanya membawa tentengan koper berisi baju yang tidak banyak jumlahnya, Ayunda yang bingung harus pergi ke mana terduduk lesu di trotoar, matanya sayu dan sembab karena lama menangis. Tiba-tiba seorang perempuan cantik memakai pakaian syari dan hijab yang rapi menghampirinya.

“Ayunda? Ini beneran kamu kan Yu?” tanya perempuan cantik.

Ayunda mendongkak, wajah lusuhnya kini nampak jelas. “Linda? Ya Allah Lin apa kabar? Iya aku Ay Lin Masya Allah ngga nyangka ketemu kamu.” Ayunda bangkit dan langsung memeluk Linda.

Setelah pelukan di lepas, Linda menatap Ayu lekat. “Apa yang terjadi denganmu Sayang? Apakah suamimu memperlakukan mu dengan buruk? Kenapa kamu bawa koper? Kamu mau ke mana?” tanya Linda bertubi-tubi.

“Hmm ... aku.” Ayu terdiam dan menunduk, air matanya tumpah.

“Sini sini, ayo kita duduk di halte saja,” ajak Linda sambil menuntun tubuh Ayu untuk bangkit.

Ayu dan Linda kini duduk di halte. “Ceritain secara singkat apa yang terjadi denganmu Yu,” timpal Linda singkat.

“Aku baru saja resmi cerai Lin, Mas Argo menceraikan aku karena dia kecewa putra pertama kita meninggal. Aku bingung harus ke mana sekarang, aku mau kembali ke panti tidak punya ongkosnya,” lirih Ayunda.

“Inalillahi Ayu kamu yang sabar ya, aku yakin Allah pasti persiapkan jodoh yang lebih baik dari Argo, aku ada info ada yang mencari ibu susu untuk anaknya karena istrinya meninggal setelah melahirkan, dia konglomerat apakah kamu mau jadi ibu susu sekaligus baby sitter untuk anaknya?”

“Kamu serius Lin?” tanya Ayu dengan heran.

“Aku serius, dari pada kamu kembali ke panti. Aku kasihan sama kamu Ayu, kamu berhak bahagia, lihat kamu sekarang, kamu kusut banget, setidaknya gaji yang di tawarkan konglomerat itu tidak sedikit jumlahnya, dan kerjanya juga kan ngga begitu berat, kamu hanya fokus urus anaknya, karena pekerjaan lain ada yang hendel juga asisten rumah tangganya, dan yang penting kamu bisa tinggal disana, bagaimana?”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Dinterima Menjadi Ibu Susu

    Langit yang begitu cerah, mentari menyinari hari dengan penuh semangat hingga membuat keringat dengan bebas membasahi wajah dan badan manusia tanpa kecuali Ayunda. Tawaran yang Linda di sanggupi Ayu, hingga hari dimana awal mula sebuah kehidupan baru setelah perceraian di mulai. Rumah bak istana dengan penjagaan ketat dari beberapa personil satpam yang modar mandir di depan sekitar pagar beton yang menjulang.“Bismillah ya Allah, berkahi setiap langkah yang dengan ikhlas mengharap kasih sayang Mu.” Lirih Ayu dan melangkah ke mendekati pos satpam.“Cari siapa Dek?” tanya seorang pria dengan badan tegap dan proporsional di depan pos.“Assalamualaikum, permisi Pak saya mau bertemu dengan Pak Billy untuk melamar sebagai ibu susu sekaligus baby sitter bayinya.” Ayu tersenyum, gigi gingsul putihnya mengintip di balik bibir tipis berbalut lipstik pink.“Dapat info dari siapa Dek?” tanya satpam singkat“Dari seorang saudara Pak namanya Linda,” timpal Ayu.“Oh Neng Linda, istrinya Pramono ya?

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Di Ceraikan Juga

    Semenjak di sentak Argo, Dewi sang ibu sering mengunci dirinya di dalam kamar dan mogok makan. Argo dan Ayunda sangat cemas, karena sudah dua hari Dewi enggan untuk keluar dari kamar. Tiba waktu dimana pagi itu Argo sangat khawatir dan mendobrak pintu kamar, betapa kagetnya Argo dan Ayu melihat Dewi sang ibu sedang terkulai lemas di atas lantai.“Ayu segera panggil kak Pertiwi dan suaminya kesini sekarang juga!” teriak Argo panik.“Baik Mas,” Ayu bergegas lari untuk menuruti perintah suaminya.Ketika Ayu memberi kabar bahwa sang mertua pingsan, kakak iparnya Pertiwi beserta suaminya panik dan segera merapat ke rumah Argo. Argo dan Ridwan suami kakaknya itu langsung mengangkat tubuh Dewi ke dalam mobil. Argo memacu kencang mobil sedannya menuju rumah sakit terdekat, yang di susul dengan mobil kakaknya Pertiwi, dan sesampainya di rumah sakit, Dewi langsung di tangani di IGD.Setelah pemeriksaan oleh dokter, Dewi masuk ruangan perawatan karena ia hanya dehidrasi biasa. Selang impusan ter

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Ibu dan Kakak Sering Minta Uang?

    “Astagfirullah Ibu kenapa bicara seperti itu?” lirih Ayu.Argo menatap Dewi dan Ayu bergantian. Lelah tubuhnya yang seharian bekerja keras di paksa untuk menyaksikan drama yang cukup menguras kesabaran yang hanya tinggal seujung jari. Dua wanita yang seharusnya membuatnya tenang dan nyaman justru berseteru menguji kesabarannya.“Bu, bisa nggak sih jangan di buat pusing otak aku ini.” Ketus Argo sambil mengambil jas di atas sofa.“Loh bukannya kamu sudah lelah dengan dia? Apa kamu pikir seorang istri yang baik itu yang monoton seperti itu?” ucap Dewi santai.“Maksud Ibu?” langkah Argo terhenti dan menatap lekat ibunya.“Ibu tanya sama kamu, kebahagiaan apa yang sudah istrimu beri selama ini? karier kamu meningkat nggak? Kamu punya keturunan? Kami punya kedudukan ngga di masyarakat? Jangankan di masyarakat, di keluarga aja kamu udah nngak punya pamor! Istri kamu nggak jelas asal usulnya apa kamu pikir itu bukan aib hah? Ibu malu Argo!”“Bu, Ibu bicara apa bu, ya Allah,” lirih Ayu sambil

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Setelah Kepergian Bayi Aryan

    Sudah satu pekan kepergian Aryan berlalu, namun luka dan gundah yang di tinggalkan begitu sangat besar di hati Ayunda dan Argo. Argo yang sangat kecewa dan sedih karena kepergian putra pertamanya, memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sedangkan Ayunda yang lebih rapuh dari Argo di paksa untuk kuat dan dilarang bersedih oleh keluarga, terutama ibu mertuanya.“Cepat lah kau bersihkan itu toiletnya!” pekik Dewi.“Iya Bu, ini segera aku kerjakan.” Ayu mengusap keringatnya dengan punggung tangannya, matanya berair dan bibirnya bergetar.“Jangan iya-iya nya aja! Kamu itu bisa engga sih kerja gesit gitu? Klamar klemer aja Kau tiap hari aku perhatiin! Orang tuh kalau numpang tahu diri, jangan malas-malasan!” bentak Dewi dengan mata membulat sempurna.“Iya maaf Bu, saya usahakan akan lebih gesit lagi,” jawab Ayu dengan pelan menahan tangis yang sudah hampir meledak.Prang ...“Apa itu? Woy lah pusing banget hari ini!” teriak Dewi sambil melangkah dengan gagah ke ruang

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Tragedi Bayi Aryan

    “Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa istirahat di rumah juga.” Ayunda meletakan bayi mungil berkulit merah di tempat tidurnya yang sudah di lapisi kain lembut khusus bayi.“Aku berangkat kerja dulu ya Sayang, sudah agak telat ini soalnya, takut macet nuga di jalan,” ucap Argo sambil mengecup lembut kening Ayunda yang di susul dengan Aryan bayi mungil yang sedang terlelap tidur.“Iya Mas, hati-hati ya di jalannya jangan ngebut-ngebut, nanti pulang malam juga hati-hati di jalannya, aku dan Aryan bayi kita selalu mendoakanmu Sayang,” kat Ayu.“Hmm aku dan Aryan katanya, emang yang sayang sama Argo tu hanya kamu sama anak kamu doang! Ingat ya yang paling kuat doain Argo itu aku Ibunya! Paham kamu! Jadi jangan merasa sok penting di rumah ini!” ucap perempuan paruh baya yang dengan bebasnya masuk ke dalam kamar Ayu dan Argo.Ayu menunduk, perasaan tidak enak langsung menyelimuti hatinya. Sejak awal menikah hingga usia pernikahan mereka sudah menginjak umur lima belas bulan, ibu mertuanya s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status