LOGIN“Astagfirullah Ibu kenapa bicara seperti itu?” lirih Ayu.
Argo menatap Dewi dan Ayu bergantian. Lelah tubuhnya yang seharian bekerja keras di paksa untuk menyaksikan drama yang cukup menguras kesabaran yang hanya tinggal seujung jari. Dua wanita yang seharusnya membuatnya tenang dan nyaman justru berseteru menguji kesabarannya.
“Bu, bisa nggak sih jangan di buat pusing otak aku ini.” Ketus Argo sambil mengambil jas di atas sofa.
“Loh bukannya kamu sudah lelah dengan dia? Apa kamu pikir seorang istri yang baik itu yang monoton seperti itu?” ucap Dewi santai.
“Maksud Ibu?” langkah Argo terhenti dan menatap lekat ibunya.
“Ibu tanya sama kamu, kebahagiaan apa yang sudah istrimu beri selama ini? karier kamu meningkat nggak? Kamu punya keturunan? Kami punya kedudukan ngga di masyarakat? Jangankan di masyarakat, di keluarga aja kamu udah nngak punya pamor! Istri kamu nggak jelas asal usulnya apa kamu pikir itu bukan aib hah? Ibu malu Argo!”
“Bu, Ibu bicara apa bu, ya Allah,” lirih Ayu sambil mengusap air matanya.
“Udah diam kamu! Ngga ada yang menyuruh kamu bicara!” bentak Dewi ketus.
Argo melirik Ayu yang menangis sendu. “Sudahlah Bu, aku capek mau tidur,” ucap Argo sambil melangkah pergi.
“Berhenti!” teriak Dewi.
Argo menghentikan langkahnya, helaan nafas terdengar berembus dengan kasar. Bola matanya berputar ke atas, menatap kosong atap ruang tamu yang cukup tinggi. Kini Argo menatap tajam ibunya yang masih berdiri di bibir pintu.
“Bu tolong kali ini Bu, Argo lelah ingin istirahat, kenapa ibu malah ngajak Argo berdebat?”
“Ibu tidak ngajak kamu berdebat Argo, tapi ibu ingin kamu pahami maksud ibu, apa yang kamu cari dari perempuan itu! Bahkan kamu sendiri tidak bahagia dengan kehidupan kamu, ibu ingin kamu bahagia Nak,” ucap Dewi dengan wajah memelas.
“Argo harus bagaimana Bu? Aku belum lama kehilangan putraku Bu, masa iya aku harus kehilangan istriku juga, Ibu ingin aku stres?”
“Justru itu Argo, kamu sudah tahu kan siapa yang menyebabkan putramu tewas? Kenapa kamu masih bertahan sama seorang pembunuh?” Dewi berkacak pinggang, bibirnya menyeringai melirik Ayu yang sedang menangis.
“Astagfirullah Bu, cukup bu! Ucapan ibu ngelantur banget, aku udah lelah Bu mau istirahat, Ayu ayo cepat masuk kamar siapin aku piama.”
“Baik Mas,” jawab Ayu singkat dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar.
Langkah kecil membawa tubuh dan jiwa Ayu yang lelah masuk ke dalam kamar sesuai permintaan suaminya, yang disusul dengan langkah Argo. Dewi yang merasa kesal dengan sikap putranya itu berdecak kesal. Batinnya kesal karena gagal mempengaruhi Argo untuk menceraikan Ayunda.
Sedangkan hati Ayu berkecamuk, rasa sakit yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Derai air mata adalah simbol bahwa hatinya saat ini sedang sangat rapuh dan perih. Sayangnya sikap Argo sangat dingin, membuat dada Ayu terasa semakin sakit, baginya kini kehidupan amat sangat begitu berat.
“Kenapa kamu belum tidur juga?” tanya Argo membuyarkan lamunan Ayu.
“Hmm nggak kok Mas, gak ada apa-apa, aku hanya sedikit lelah he-he,”
“Oh gitu, yaudah aku tidur ya. Lelah banget hari ini kerjaan ku banyak banget.”
“Iya Mas, hmm maafin aku ya Mas, atas kejadian tadi. Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi istri yang baik untuk Mas,” lirih Ayu.
“Yayaya aku Cuma gak mau besok dan seterusnya kamu suguhin aku menu seperti tadi lagi,” timpal Argo sambil menarik selimut ke tubuhnya.
“Hmm itu Mas, soalnya uang yang Mas beri hanya cukup untuk beli itu,”
“Apa?” Argo terperanjat dari tidurnya, menatap lekat wajah istrinya dengan ekspresi tidak percaya.
“Hmm ... anu Mas.” Ayu terlihat sangat kikuk dan takut, wajahnya menunduk tangan kanannya memainkan kain seprei.
“Kamu bilang apa tadi? Uang yang saya kasih nggak cukup? Ayu please uang lima ratus ribu sehari kamu bilang hanya bisa untuk beli umbi-umbian dan wedang jahe? Kalau sarapan dan makan siang juha menunya sangat sederhana, kasih aku penjelasan Ayu kenapa itu bisa terjadi!” bentak Argo.
“Mas, sebelumnya aku minta maaf kalau aku nggak pernah cerita sama Mas, sebenarnya uang yang biasa Mas kasih itu sering di pinjam oleh Kak Pertiwi dan Ibu, jadi aku hanya pegang uang sebesar lima belas ribu.”
“Oh my God omong kosong apa ini! Kamu ngga bohong kan? Jangan adu domba aku dan keluargaku Ayu!”
“Kapan aku berani bohong sama kamu Mas? Aku gakan pernah berani bohong dan ngga akan pernah bohong Mas,” lirih Ayu pelan.
“Ya Allah, dah aku mau tidur aku pusing sangat hari ini, kalian sungguh buat aku lelah jiwa raga, besok aku interogasi Ibu dan Kak Pertiw.” Argo memejamkan matanya, kedua tangannya di taruh diatas kepala.
***
Pukul enam sarapan nasi goreng dan dua gelas susu sudah tersaji diatas meja makan. Ayu yang sudah menyajikan sarapan, langsung bergegas lagi ke dapur untuk membersihkan dapur setelah membuat sarapan. Ayunda tidak ikut sarapan bersama suami dan ibu mertuanya, semenjak kehilangan bayinya. Tiba-tiba tepukan tangan di punggung Ayu mengagetkan ayu yang sedang mencuci piring.
“Mana uang lima jutanya?” bisik Dewi.
Ayu kaget dan langsung menoleh. “Ibu? Uang lima juta yang apa ya Bu maksudnya?”
“Kamu jangan berlagak bego ya, aku kan sudah peringati kamu untuk ganti vas bunga yang kemarin pecah. Jangan bilang kalau kamu benaran lupa untuk minta ganti rugi ke Argo,” cecar Dewi pelan.
“Ya Allah maaf Bu, saya lupa bilang ke Mas Argo, semalam kan suasanya sedang tidak memungkinkan untuk bicara Bu,” lirih Ayu.
“Aku gak mau tahu ya, kalau kamu masih ingin tinggal disini sebelum malam tiba, uang itu harus sudah ada, bagaimanapun caranya paham!” Dewi menatap sinis Ayu, tangannya berkacak pinggang dengan sempurna.
“Apa yang kalian bicarakan disini!”
Suara gagah yang seketika membuat pasang dua bola mata mencuat dan jantung berpacu kencang. Dewi mengedipkan matanya memberi kode kepada Ayu untuk diam dan merahasiakan apa yang ia rencanakan. Sementara Ayu masih memegang gelas yang masih penuh dengan busa sabun cuci piring hanya diam tertunduk setelah ibu mertuanya mengedipkan mata.
“Hmm ngga ada Nak, ayo kita ke meja makan saja. Jangan ganggu kerjaan pembantu.” Dewi menerik halus lengan putranya ke meja makan dengan lembut disertai senyuman.
Argo hanya menurut dan mengikuti langkah ibunya tanpa mempedulikan perasaan dan keadaan istrinya yang disebut pembantu. Diatas meja makan, Argo menatap lekat wajah ibunya yang selalu menunjukkan rasa sayangnya. Hatinya bergejolak untuk menanyakan apa yang diutarakan istrinya semalam, Argo tidak ingin melukai hati ibunya namun ia ingin mengetahui kebenaran ucapan istrinya.
“Bu, aku mau nanya, apa benar Ibu dan kakak selalu meminta uang ke Ayu? Untuk apa Bu?” tanya Argo pelan.
Uhuuuk ... uhuuuk ..., Dewi tersedak dan langsung minum. “Apa? Maksudmu gimana? Kamu nuduh Ibu hah?” decak Dewi.
“Aku bertanya Bu, karena seperti yang diutarakan Ayu, ibu dan kak Pertiwi selalu meminta uang belanja yang aku kasih, jadi dia hanya mampu beli umbi-umbian dan wedang jahe untuk menjamu ku kala pulang kerja,” papar Argo
Bak disambar petir, amarah Dewi bergejolak. “Dasar memantu sialan, bisa-bisanya dia fitnah saya dan anak sulung saya, sudah di angkat derajatnya sama anak saya bukan terima kasih malah fitnah, itu gak benar Argo! mamah sama kakak mu tidak pernah minta, dia sendiri yang kasih, bilangnya ingin berbakti sama ibu dan kakakmu. Ibu perintahkan kamu ceraikan dia sekarang juga!” teriak Dewi.
Ucapan Dewi yang sangat kencang, membuat Ayu tergopoh dari dapur untuk mengetahui apa yang terjadi. Dengan wajah yang kusam karena lelah Ayu menatap wajah suami dan mertuanya bergantian. Degup jantungnya terdengar begitu kencang dan kasar.
“Ada apa Bu, ada apa Mas?” tanya Ayunda pelan.
Argo menatap wajah istrinya dan ibunya bergantian, “Bu, aku harap ini yang terakhir kalinya ibu membuat argumen untuk memecah belah rumah tangga kami! Selama ini aku cukup sabar tapi, Ibu selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami, sekali lagi aku temukan ibu membuat kegaduhan, aku akan pindahkan ibu ke rumah kak Pertiwi dan aku tidak akan memberi ibu uang lagi!”
***
Langit yang begitu cerah, mentari menyinari hari dengan penuh semangat hingga membuat keringat dengan bebas membasahi wajah dan badan manusia tanpa kecuali Ayunda. Tawaran yang Linda di sanggupi Ayu, hingga hari dimana awal mula sebuah kehidupan baru setelah perceraian di mulai. Rumah bak istana dengan penjagaan ketat dari beberapa personil satpam yang modar mandir di depan sekitar pagar beton yang menjulang.“Bismillah ya Allah, berkahi setiap langkah yang dengan ikhlas mengharap kasih sayang Mu.” Lirih Ayu dan melangkah ke mendekati pos satpam.“Cari siapa Dek?” tanya seorang pria dengan badan tegap dan proporsional di depan pos.“Assalamualaikum, permisi Pak saya mau bertemu dengan Pak Billy untuk melamar sebagai ibu susu sekaligus baby sitter bayinya.” Ayu tersenyum, gigi gingsul putihnya mengintip di balik bibir tipis berbalut lipstik pink.“Dapat info dari siapa Dek?” tanya satpam singkat“Dari seorang saudara Pak namanya Linda,” timpal Ayu.“Oh Neng Linda, istrinya Pramono ya?
Semenjak di sentak Argo, Dewi sang ibu sering mengunci dirinya di dalam kamar dan mogok makan. Argo dan Ayunda sangat cemas, karena sudah dua hari Dewi enggan untuk keluar dari kamar. Tiba waktu dimana pagi itu Argo sangat khawatir dan mendobrak pintu kamar, betapa kagetnya Argo dan Ayu melihat Dewi sang ibu sedang terkulai lemas di atas lantai.“Ayu segera panggil kak Pertiwi dan suaminya kesini sekarang juga!” teriak Argo panik.“Baik Mas,” Ayu bergegas lari untuk menuruti perintah suaminya.Ketika Ayu memberi kabar bahwa sang mertua pingsan, kakak iparnya Pertiwi beserta suaminya panik dan segera merapat ke rumah Argo. Argo dan Ridwan suami kakaknya itu langsung mengangkat tubuh Dewi ke dalam mobil. Argo memacu kencang mobil sedannya menuju rumah sakit terdekat, yang di susul dengan mobil kakaknya Pertiwi, dan sesampainya di rumah sakit, Dewi langsung di tangani di IGD.Setelah pemeriksaan oleh dokter, Dewi masuk ruangan perawatan karena ia hanya dehidrasi biasa. Selang impusan ter
“Astagfirullah Ibu kenapa bicara seperti itu?” lirih Ayu.Argo menatap Dewi dan Ayu bergantian. Lelah tubuhnya yang seharian bekerja keras di paksa untuk menyaksikan drama yang cukup menguras kesabaran yang hanya tinggal seujung jari. Dua wanita yang seharusnya membuatnya tenang dan nyaman justru berseteru menguji kesabarannya.“Bu, bisa nggak sih jangan di buat pusing otak aku ini.” Ketus Argo sambil mengambil jas di atas sofa.“Loh bukannya kamu sudah lelah dengan dia? Apa kamu pikir seorang istri yang baik itu yang monoton seperti itu?” ucap Dewi santai.“Maksud Ibu?” langkah Argo terhenti dan menatap lekat ibunya.“Ibu tanya sama kamu, kebahagiaan apa yang sudah istrimu beri selama ini? karier kamu meningkat nggak? Kamu punya keturunan? Kami punya kedudukan ngga di masyarakat? Jangankan di masyarakat, di keluarga aja kamu udah nngak punya pamor! Istri kamu nggak jelas asal usulnya apa kamu pikir itu bukan aib hah? Ibu malu Argo!”“Bu, Ibu bicara apa bu, ya Allah,” lirih Ayu sambil
Sudah satu pekan kepergian Aryan berlalu, namun luka dan gundah yang di tinggalkan begitu sangat besar di hati Ayunda dan Argo. Argo yang sangat kecewa dan sedih karena kepergian putra pertamanya, memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sedangkan Ayunda yang lebih rapuh dari Argo di paksa untuk kuat dan dilarang bersedih oleh keluarga, terutama ibu mertuanya.“Cepat lah kau bersihkan itu toiletnya!” pekik Dewi.“Iya Bu, ini segera aku kerjakan.” Ayu mengusap keringatnya dengan punggung tangannya, matanya berair dan bibirnya bergetar.“Jangan iya-iya nya aja! Kamu itu bisa engga sih kerja gesit gitu? Klamar klemer aja Kau tiap hari aku perhatiin! Orang tuh kalau numpang tahu diri, jangan malas-malasan!” bentak Dewi dengan mata membulat sempurna.“Iya maaf Bu, saya usahakan akan lebih gesit lagi,” jawab Ayu dengan pelan menahan tangis yang sudah hampir meledak.Prang ...“Apa itu? Woy lah pusing banget hari ini!” teriak Dewi sambil melangkah dengan gagah ke ruang
“Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa istirahat di rumah juga.” Ayunda meletakan bayi mungil berkulit merah di tempat tidurnya yang sudah di lapisi kain lembut khusus bayi.“Aku berangkat kerja dulu ya Sayang, sudah agak telat ini soalnya, takut macet nuga di jalan,” ucap Argo sambil mengecup lembut kening Ayunda yang di susul dengan Aryan bayi mungil yang sedang terlelap tidur.“Iya Mas, hati-hati ya di jalannya jangan ngebut-ngebut, nanti pulang malam juga hati-hati di jalannya, aku dan Aryan bayi kita selalu mendoakanmu Sayang,” kat Ayu.“Hmm aku dan Aryan katanya, emang yang sayang sama Argo tu hanya kamu sama anak kamu doang! Ingat ya yang paling kuat doain Argo itu aku Ibunya! Paham kamu! Jadi jangan merasa sok penting di rumah ini!” ucap perempuan paruh baya yang dengan bebasnya masuk ke dalam kamar Ayu dan Argo.Ayu menunduk, perasaan tidak enak langsung menyelimuti hatinya. Sejak awal menikah hingga usia pernikahan mereka sudah menginjak umur lima belas bulan, ibu mertuanya s







