Share

Setelah Kepergian Bayi Aryan

Author: Azzkira
last update Huling Na-update: 2026-02-10 21:05:17

Sudah satu pekan kepergian Aryan berlalu, namun luka dan gundah yang di tinggalkan begitu sangat besar di hati Ayunda dan Argo. Argo yang sangat kecewa dan sedih karena kepergian putra pertamanya, memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sedangkan Ayunda yang lebih rapuh dari Argo di paksa untuk kuat dan dilarang bersedih oleh keluarga, terutama ibu mertuanya.

“Cepat lah kau bersihkan itu toiletnya!” pekik Dewi.

“Iya Bu, ini segera aku kerjakan.” Ayu mengusap keringatnya dengan punggung tangannya, matanya berair dan bibirnya bergetar.

“Jangan iya-iya nya aja! Kamu itu bisa engga sih kerja gesit gitu? Klamar klemer aja Kau tiap hari aku perhatiin! Orang tuh kalau numpang tahu diri, jangan malas-malasan!” bentak Dewi dengan mata membulat sempurna.

“Iya maaf Bu, saya usahakan akan lebih gesit lagi,” jawab Ayu dengan pelan menahan tangis yang sudah hampir meledak.

Prang ...

“Apa itu? Woy lah pusing banget hari ini!” teriak Dewi sambil melangkah dengan gagah ke ruang tamu.

Dilihatnya pecahan vas bunga kesayangannya yang kini menjadi serpihan yang tidak lagi berbentuk, berhamburan di lantai. Tak jauh dari serpihan vas bunga tampak Delia dan Egi menatap Dewi ketakutan. Putra dan putri dari Pertiwi kakak kandung Argo yang rumahnya bertetangga.

Bola mata Dewi membulat sempurna menatap serpihan vas bunga, Egi dan Delia bergantian, jantungnya terpacu kencang. Ia mengatur helaan napas yang keluar bak sedang berlomba meraih kemenangan. Hembusan napas panjangnya kini keluar, namun bukan nama cucunya yang di panggil, justru dengan lengkingan Dewi memanggil Ayunda.

“Aaaaayyuuu!” teriak Dewi.

Dengan tergopoh Ayu berlari mendekati sumber suara itu berasal. “Iya Ibu, ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu budek atau gimana? Apa kamu tidak dengar suara pecahan di rumah ini!” Dewi berkacak pinggang, matanya melotot, dan bibir atasnya melengking.

“Maaf Ibu, tadi saya fokus mau ke kamar mandi, jadi kurang dengar ada suara pecahan disini,” lirih Ayu.

“Dasar budek kamu ya, benar-benar budek! Sini Aku kasih pelajaran Kamu biar normal lagi!” Dewi menjewer dan melintir telinga Ayu dengan keras, ia menoleh ke arah kedua cucunya yang belum bergeming dari posisi awal.

“Aaawww ... sa ... sakit mah, astagfirullah ampun mah ampun,” Dewi merintih sambil memegang telinganya.

Delia yang baru duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga dan Egi kelas satu tersenyum lebar melihat tantenya di jewer. Hati mereka sangat puas dan bangga terhadap neneknya, karena tidak memarahi mereka. Mereka malah mendekat ke arah Ayu dan menjulurkan lidah, kemudian lari berlalu pergi.

“Dengar ya, aku bersumpah kamu tidak akan pernah menjumpai rasa tenang dan aman disini kalau sampai Aku lihat Kamu tidak bekerja dan bergerak, paham!” jerit Dewi sambil melotot menatap lekat Ayu yang meringis kesakitan.

“Iya Bu iya, maaf banget Bu, akan aku perbaiki sikap ku mulai sekarang, maafin aku Bu,” rintih Ayu.

Dewi melepaskan jewerannya, “Beresin pecahan vas bunga ini, dan ketika Argo pulang kamu harus minta uang sebesar lima juta untuk membeli vas bunganya lagi, paham!”

“Maaf Bu, tapi kan itu vas bunga nya bukan aku yang mecahin, kenapa Mas Argo yang harus ganti,”

“Eh ... eh ... eh ... bisa-bisanya kamu komplen! Terus kamu kira aku harus minta ganti ke Pertiwi gitu? Hellow Pertiwi itu udah punya dua anak, keperluannya banyak, lah kamu? Baru punya anak satu aja mati kemarin, jadi pengeluarannya beda, pokoknya aku nggak mau tahu, besok harus udah ada uangnya, atau aku akan bilang kalau kamu yang mecahin vas bunganya!”

“Jangan Bu jangan ya Allah, baik Bu baik, nanti aku usahain bilang ke Mas Argo,” lirih Ayu sambil memegangi telinganya yang perih.

“Nah gitu dong, dah sana kamu beresin cepat! Aku mau tidur siang dulu! Aku bangun pokoknya rumah harus sudah cling, dan jangan sampai aku lihat kamu lagi diam pas aku bangun, paham!” ancam Dewi sambil berkacak pinggang.

“Iya Bu baik,” jawab Ayu singkat.

***

Malam semakin larut, bulan yang tampak malu memperlihatkan pesonanya menambah kepekatan malam yang dingin. Arloji dinding yang berdetak cukup kencang karena sunyi malam membuatnya bak penghuni satu-satunya di dalam rumah. Seperti setrikaan yang tak kunjung membuat pakaian rapi, Ayunda gagal membuat tenang hatinya yang gundah menantikan kepulangan sang imam dalam hidupnya.

“Mas Argo, kamu dimana jam segini belum pulang,” lirih Ayu sambil melirik jam dinding yang menunjukkan jam sembilan malam.

Brem ... suara kuda besi milik Argo sampai di teras rumah.

“Alhamdulillah sampai juga kamu Mas.” Ayu tersenyum lebar, langkah kecil kakinya membawanya ke depan rumah.

Kereket ... suara pintu terbuka.

Ayu segera menyalami tangan dingin suaminya. “Alhamdulillah, lembur lagi ya Mas hari ini?” tanya Ayu dengan lembut.

Argo menatap lekat wajah Ayu. Wajah yang dulu menenangkan kini bagaikan duri bagi Argo. Senyuman yang dulu menyejukkan, kini terasa sangat hambar untuk dilihat.

“Bisa enggak kalau suami datang itu langsung di suguhi air minum gitu? Bukan di todong dengan pertanyaan yang jawabannya sudah pasti sama seperti kemarin.” Argo menatap hampa Ayu, bibirnya menyungging kesal.

“Ya Allah iya maaf mas, aku sudah siapkan wedang jahe kesukaan mas di dapur, sebentar aku ambilin dulu Mas, ayo Mas duduk dulu,” Ayu mempersilahkan Argo duduk dan langsung bergegas ke dapur.

Tidak berselang lama wedang jahe hangat tersaji di atas meja. Rebusan singkong dan ubi juga ikut tersaji tak jauh dari segelas wedang jahe. Pemandangan yang hampir setiap hari di lihat Argo ketika pulang kerja.

Argo mengambil gelas berisi wedang jahe hangat, dan prang ... seketika gelas berisi air jahe tercecer di atas lantai bercampur dengan serpihan pecahan gelas.

“Astagfirullahalazim.” Ayu kaget, tubuhnya tersentak. “Ada apa Mas? Apakah ada yang salah?” tanya Ayu dengan suara bergetar.

“Ada yang salah? Hah? Kamu tanya ada yang salah? Apakah tiap aku pulang kerja kamu suguhin wedang jahe dan umbi-umbian terus itu adalah suatu kewajiban hah? Aku tanya sama kamu apakah uang belanja yang aku kasih tidak cukup untuk membeli kue? Tidak cukup untuk membeli martabak? Tidak cukup untuk membeli es teh? Kamu memperlakukan aku seperti orang jompo yang tak bergigi Ayu!” teriak Argo dengan napas yang memburu.

Bak disambar petir, Ayu mematung tidak percaya akan ucapan suaminya. Netranya kini berkaca, dan dadanya bergetar hebat. Bibirnya bergetar untuk melafalkan kalimat yang tertahan dengan rasa sesak.

“Maaf mas, aku,” ucapan Ayunda terhenti.

“Ceraikan saja dia Nak!”

Dewi tiba-tiba keluar dari kamarnya. Menyambar percakapan yang sedang menegang antara Ayunda dan Argo. Melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Ayunda dengan kebencian.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Dinterima Menjadi Ibu Susu

    Langit yang begitu cerah, mentari menyinari hari dengan penuh semangat hingga membuat keringat dengan bebas membasahi wajah dan badan manusia tanpa kecuali Ayunda. Tawaran yang Linda di sanggupi Ayu, hingga hari dimana awal mula sebuah kehidupan baru setelah perceraian di mulai. Rumah bak istana dengan penjagaan ketat dari beberapa personil satpam yang modar mandir di depan sekitar pagar beton yang menjulang.“Bismillah ya Allah, berkahi setiap langkah yang dengan ikhlas mengharap kasih sayang Mu.” Lirih Ayu dan melangkah ke mendekati pos satpam.“Cari siapa Dek?” tanya seorang pria dengan badan tegap dan proporsional di depan pos.“Assalamualaikum, permisi Pak saya mau bertemu dengan Pak Billy untuk melamar sebagai ibu susu sekaligus baby sitter bayinya.” Ayu tersenyum, gigi gingsul putihnya mengintip di balik bibir tipis berbalut lipstik pink.“Dapat info dari siapa Dek?” tanya satpam singkat“Dari seorang saudara Pak namanya Linda,” timpal Ayu.“Oh Neng Linda, istrinya Pramono ya?

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Di Ceraikan Juga

    Semenjak di sentak Argo, Dewi sang ibu sering mengunci dirinya di dalam kamar dan mogok makan. Argo dan Ayunda sangat cemas, karena sudah dua hari Dewi enggan untuk keluar dari kamar. Tiba waktu dimana pagi itu Argo sangat khawatir dan mendobrak pintu kamar, betapa kagetnya Argo dan Ayu melihat Dewi sang ibu sedang terkulai lemas di atas lantai.“Ayu segera panggil kak Pertiwi dan suaminya kesini sekarang juga!” teriak Argo panik.“Baik Mas,” Ayu bergegas lari untuk menuruti perintah suaminya.Ketika Ayu memberi kabar bahwa sang mertua pingsan, kakak iparnya Pertiwi beserta suaminya panik dan segera merapat ke rumah Argo. Argo dan Ridwan suami kakaknya itu langsung mengangkat tubuh Dewi ke dalam mobil. Argo memacu kencang mobil sedannya menuju rumah sakit terdekat, yang di susul dengan mobil kakaknya Pertiwi, dan sesampainya di rumah sakit, Dewi langsung di tangani di IGD.Setelah pemeriksaan oleh dokter, Dewi masuk ruangan perawatan karena ia hanya dehidrasi biasa. Selang impusan ter

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Ibu dan Kakak Sering Minta Uang?

    “Astagfirullah Ibu kenapa bicara seperti itu?” lirih Ayu.Argo menatap Dewi dan Ayu bergantian. Lelah tubuhnya yang seharian bekerja keras di paksa untuk menyaksikan drama yang cukup menguras kesabaran yang hanya tinggal seujung jari. Dua wanita yang seharusnya membuatnya tenang dan nyaman justru berseteru menguji kesabarannya.“Bu, bisa nggak sih jangan di buat pusing otak aku ini.” Ketus Argo sambil mengambil jas di atas sofa.“Loh bukannya kamu sudah lelah dengan dia? Apa kamu pikir seorang istri yang baik itu yang monoton seperti itu?” ucap Dewi santai.“Maksud Ibu?” langkah Argo terhenti dan menatap lekat ibunya.“Ibu tanya sama kamu, kebahagiaan apa yang sudah istrimu beri selama ini? karier kamu meningkat nggak? Kamu punya keturunan? Kami punya kedudukan ngga di masyarakat? Jangankan di masyarakat, di keluarga aja kamu udah nngak punya pamor! Istri kamu nggak jelas asal usulnya apa kamu pikir itu bukan aib hah? Ibu malu Argo!”“Bu, Ibu bicara apa bu, ya Allah,” lirih Ayu sambil

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Setelah Kepergian Bayi Aryan

    Sudah satu pekan kepergian Aryan berlalu, namun luka dan gundah yang di tinggalkan begitu sangat besar di hati Ayunda dan Argo. Argo yang sangat kecewa dan sedih karena kepergian putra pertamanya, memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sedangkan Ayunda yang lebih rapuh dari Argo di paksa untuk kuat dan dilarang bersedih oleh keluarga, terutama ibu mertuanya.“Cepat lah kau bersihkan itu toiletnya!” pekik Dewi.“Iya Bu, ini segera aku kerjakan.” Ayu mengusap keringatnya dengan punggung tangannya, matanya berair dan bibirnya bergetar.“Jangan iya-iya nya aja! Kamu itu bisa engga sih kerja gesit gitu? Klamar klemer aja Kau tiap hari aku perhatiin! Orang tuh kalau numpang tahu diri, jangan malas-malasan!” bentak Dewi dengan mata membulat sempurna.“Iya maaf Bu, saya usahakan akan lebih gesit lagi,” jawab Ayu dengan pelan menahan tangis yang sudah hampir meledak.Prang ...“Apa itu? Woy lah pusing banget hari ini!” teriak Dewi sambil melangkah dengan gagah ke ruang

  • Ibu Susu Cantik Untuk Putri Milyader   Tragedi Bayi Aryan

    “Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa istirahat di rumah juga.” Ayunda meletakan bayi mungil berkulit merah di tempat tidurnya yang sudah di lapisi kain lembut khusus bayi.“Aku berangkat kerja dulu ya Sayang, sudah agak telat ini soalnya, takut macet nuga di jalan,” ucap Argo sambil mengecup lembut kening Ayunda yang di susul dengan Aryan bayi mungil yang sedang terlelap tidur.“Iya Mas, hati-hati ya di jalannya jangan ngebut-ngebut, nanti pulang malam juga hati-hati di jalannya, aku dan Aryan bayi kita selalu mendoakanmu Sayang,” kat Ayu.“Hmm aku dan Aryan katanya, emang yang sayang sama Argo tu hanya kamu sama anak kamu doang! Ingat ya yang paling kuat doain Argo itu aku Ibunya! Paham kamu! Jadi jangan merasa sok penting di rumah ini!” ucap perempuan paruh baya yang dengan bebasnya masuk ke dalam kamar Ayu dan Argo.Ayu menunduk, perasaan tidak enak langsung menyelimuti hatinya. Sejak awal menikah hingga usia pernikahan mereka sudah menginjak umur lima belas bulan, ibu mertuanya s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status