LOGINMendadak pintu kamar Sarah diketuk dari luar. Sarah yang masih memegang ponselnya dengan nada panggilan yang juga masih berdering itu, terkejut dan menoleh ke arah pintu kamar. Sarah mengerutkan kening sesaat, sebelum kemudian dengan ragu menghampiri pintu yang telah sunyi itu. Saat Sarah membuka pintunya, betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah Harris di sana. “Tuan Harris, apa yang Anda lakukan di sini?” Harris mengangkat ponselnya yang berdering pelan. “Bukankah kau yang memanggilku?” Sarah memperhatikan ponsel itu dan terdiam. “Bukankah Anda–maksudku … bukankah kau datang terlalu cepat? Aku baru saja mengklik panggilan” “Sepertinya kau lupa kalau kamarku tidak jauh dari kamarmu,” ujar Harris, lalu menunjuk salah satu kamar yang ada di lantai dua dekat tangga. “Oh, aku melupakan itu,” kata Sarah sedikit malu. Untungnya dia masih bisa memasang wajah tenang di permukaan. “Jadi … adakah yang kau perlukan saat ini?” tanya Harris. “Mungkin aku agak lancang
“Apakah Anda berniat memperhatikannya seperti ini Tuan Harris?”Harris masih terpaku pada layar tab yang belum lama menampilkan ibu dan anak di layarnya. Setelah hening tak menjawab beberapa saat, akhirnya dia meletakkan benda itu di meja setelah keduanya tidak lagi terlihat di kamera pengawas.Harris tahu apa yang dipertanyakan asistennya. Namun, dia tidak mau mengatakannya dengan lantang.“Aku hanya memantau apakah mereka menerima perlakuan yang benar dari kepala pelayan.”Asisten itu menatap kosong pada Harris. Sejak kapan Tuan Harrisnya yang pendiam dan tidak terlalu peduli pada apapun itu kini memperhatikan seseorang?Apalagi dia bahkan meragukan pelayanan seorang kepala pelayan yang sudah berpengalaman bertahun-tahun?“Lagi pula kamera pengawas dipasang sebelum mereka datang,” lanjut Harris tanpa rasa bersalah.Asisten itu hanya menanggapi dalam hati , ‘Memang dipasang sebelum kedatangan mereka, tapi kamera itu juga ada karena kedatangan mereka.’Asisten itu tidak tahu lagi sepe
13. Sarah“Saya sudah menyiapkan dua kamar untuk kalian,” jawab Harris dengan kata-kata yang pas untuk menenangkan Sarah yang sedikit khawatir.“Kamar kalian memiliki jarak dengan kamar serta ruang kerjaku, jadi kalian bisa memiliki privasi lebih. Namun, itu juga tidak terlalu jauh sehingga kalian bisa mencari ku jika ada sesuatu yang kalian butuhkan.”Meski Sarah menyayangkan sikap Harris yang seperti semaunya itu, tapi mendengar dia dan Dion memiliki privasi membuatnya menerima perlakuan ini sebagai toleransi.“Meski Anda membuat keputusan sendiri, setidaknya Anda masih menghargai tempat yang akan kami tinggali,” ujar Sarah, masih tanpa ekspresi.Harris tersenyum kecil saat dia membalas, “Setidaknya saya harus memuaskan Anda jika apa yang saya lakukan tidak sesuai kehendak Anda.” Wanita ini sungguh sulit menerima perlakuan tanpa berbicara lebih dulu seperti itu.Harris sebagai tersangka utama hanya bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Jarang ada seseorang yang tidak suka denga
Sarah memejamkan matanya sejenak, mencoba menetralkan rasa terkejut yang dia terima dari berita mendadak Harris.“Apa … maksudmu?” tanya Sarah sedikit berusaha. Sebab emosinya belum sepenuhnya hilang.Harris tersenyum canggung sebagai balasan dan menjawab, “Apakah Anda mau mendengarkan penjelasan saya dulu?”“Saya bertanya dari tadi,” balas Sarah dengan wajah datar.Harris memaklumi sikap Sarah yang defensif seperti itu. Padahal di perjanjian yang mereka sepakati, Sarah meminta tempat tinggal berupa rumah dan dia menyetujui itu, tapi dia tidak melakukannya seperti perjanjian sebelumya“Sebenarnya agak sulit mencari rumah yang–”“Saya tidak meminta rumah mewah,” kata Sarah memotong ucapan Harris. “Saya hanya meminta tempat tinggal yang nyaman saja.”“Saya berpikir pihak Anda akan bisa mencarinya dalam waktu singkat. Jadi sebab itulah saya tidak terlalu memikirkan tempat seperti apa yang akan saya tinggali nanti.”Sarah kemudian sedikit mengerutkan kening, “Dan saya tidak berniat berbag
“Yah, kita akan menyelesaikannya selama sepuluh menit seperti yang kau bilang.”Setelah itu Harris fokus meneliti dokumen yang diberikan oleh asistennya.Sepuluh menit kemudian, Harris benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan secepat kilat seperti yang sudah ditebak oleh sang asisten.Harris melihat jam di tangannya sekilas lalu berdiri dan mengambil jas yang tersampir di sandaran kursinya.“Mari kita berangkat,” kata Harris kepada asistennya. “Aku sudah berjanji padanya untuk datang tepat waktu. Aku harus menyambutnya sendiri.”Asisten itu mengikuti di belakang Harris yang berjalan cepat dan stabil menuju lif.“Apakah Anda memiliki janji temu dengan seseorang di luar jadwal yang sudah saya susun?” tanya si asisten. Seingatnya, Tuan Harris tidak pernah memiliki janji temu di luar gedung kantor seperti ini.Sangat jarang ada klien yang meminta bertemu di luar. Sebab takut dengan terbongkarnya percakapan mereka dengan sang pengacara.Harris menunggu angka lif turun dengan cepat sam
Amarah Sarah langsung reda saat itu juga. Sekarang perasaannya justru diliputi rasa bersalah.Dia membentak klien besarnya sendiri!Memikirkannya saja sudah membuat Sarah meringis di dalam hatinya.Sarah terbatuk sebagai bentuk menyembunyikan rasa malunya karena membentak orang yang salah. Dia juga mencoba menenangkan diri agar bisa menjawab dengan tenang.“Ah, maafkan saya Tuan Harris. Sebelumnya ada masalah sedikit, jadi saya terbawa suasana,” kata Sarah setelah bisa mengontrol diri.“Tidak apa-apa,” jawab Harris dari seberang telepon. “Tapi saya harap kau tidak melakukan itu di pekerjaanmu.”Sarah mengernyit tidak mengerti, “Maksudnya?”“Kalau kau marah ketika menganalisis saham, apakah kau akan memaki perusahaan?”Akhirnya Sarah mengerti. Ini adalah teguran dari klien besarnya sendiri. “Saya jamin saya adalah orang yang profesional dalam pekerjaan. Pembawaan emosi di beberapa waktu tidak akan mempengaruhinya.”Ada jeda di ujung sana, tapi akhirnya Harris menjawab, “Oh, saya lupa







