Share

Bab 6

Author: Ranti
Amelia merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Telapak tangannya berkeringat dingin karena gugup.

Tiba-tiba, terdengar suara wanita yang genit, "Jody, kalian sudah datang?"

Tampak Rissa yang mengenakan gaun terusan berwarna merah muda lembut, dengan riasan yang halus dan elegan, berjalan keluar dari vila.

Theo meliriknya. Dia pun terkejut saat mendapati calon kakak iparnya itu begitu mirip dengan Amelia.

Theo pun tersenyum penuh arti. "Kak Jody, Amelia dan Kak Rissa begitu mirip. Mereka berdua juga sama-sama tinggal di sini. Mereka pasti bersaudara, 'kan?"

Amelia tertegun. Namun, sebelum dia bisa menjelaskan hubungan mereka, terdengar Rissa meninggikan suaranya dan membentak, "Mana mungkin? Dia cuma pembantu di rumah kami. Setelah susah payah mengumpulkan sedikit uang, dia malah operasi plastik dengan menggunakan fotoku."

Sambil berkata seperti itu, Rissa melotot tajam pada Amelia. "Dapur sudah sibuk setengah mati, cepat bantu sana!"

Amelia merasakan pipinya panas terbakar. Jelas-jelas ini bukan pertama kalinya Rissa menjelek-jelekkan dirinya seperti ini. Namun, entah mengapa, kali ini Amelia tidak ingin pria di depannya itu memandang rendah pada dirinya.

Tangan Amelia yang semula terkepal erat perlahan mengendur. Amelia mengangguk pelan, lalu berbalik dan masuk ke vila.

Di belakangnya, samar-samar terdengar suara Rissa, "Jody, kalian nggak tahu kalau wanita itu dari dulu memang benar-benar nggak tahu diri. Tiap kali melihat orang kaya, dia pasti selalu ingin mendompleng kepadanya. Kalau bukan karena kebaikan orang tuaku, dia pasti sudah lama diusir…"

Mendengar hal tersebut, raut wajah Theo menjadi muram. Dia lalu berkata sambil setengah tersenyum, "Nona Rissa mungkin salah paham tentang operasi plastik. Menurutku, justru hidungmu yang terlihat seperti sudah dioperasi, benar 'kan?"

"Theo, jangan kurang ajar." Jody menegur dengan suara rendah, tetapi nadanya sama sekali tidak mengandung maksud untuk menyalahkan.

Theo mengangkat bahu, lalu melangkah masuk ke vila terlebih dahulu.

Rissa mengepalkan tinjunya. Tubuhnya gemetar karena marah.

Semua ini gara-gara Amelia, si wanita jalang itu. Dia punya banyak cara untuk merayu orang. Bahkan, Pak Theo pun sampai melindunginya seperti itu.

Selain itu, Amelia bahkan berani melepas maskernya di depan Jody. Untungnya, dia cukup cerdik. Jody harusnya tidak menyadarinya. Jika tidak, dia pasti akan membuat Amelia menderita!

Lantaran kejadian yang tidak terduga itu, sikap Theo terhadap Rissa menjadi sangat dingin. Oleh karena itu, Rissa pun mengalihkan sasarannya pada Olivia.

Untuk bisa masuk dan berkuasa di Keluarga Bramantya, dia harus bisa memenangkan hati anggota keluarganya.

Memikirkan hal tersebut, Rissa pun mengambil sepotong iga dan meletakkannya di piring Olivia sambil tersenyum. Kemudian, Rissa berkata dengan lembut, "Olivia, coba cicipi iga ini. Koki di rumah kami memang nggak bisa menandingi koki Keluarga Bramantya. Tapi, iga rebus ini cukup enak."

"Aku nggak suka makan iga." Olivia mendengus pelan. Rasa muak Olivia terpancar jelas di wajahnya.

Olivia memang tidak menyukai wanita itu. Sikapnya munafik. Selain itu, mereka tidak dekat kan?

Akan tetapi, Rissa sepertinya tidak menyadari rasa tidak suka Olivia. Dia malah mengambilkan hidangan lainnya. "Begitu, ya… Kalau begitu, bagaimana kalau kamu coba daging ini…"

"Apa aku nggak punya tangan? Apa aku nggak bisa ambil sendiri?" Sebelum Rissa selesai bicara, Olivia langsung membentak Rissa tanpa menghormatinya sedikit pun.

Tangan Rissa yang sedang menyendok makanan terhenti di udara. Dia merasa begitu teraniaya sampai air matanya hampir menetes. Wajahnya terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, "Maaf…"

Suasana di meja makan langsung menjadi dingin. Ambar tidak tahan melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, dia juga tidak berani menyinggung Olivia. Ambar pun berdeham pelan, lalu melirik ke arah Jody dengan ragu.

Jody tampak meletakkan sendoknya dengan tenang, lalu berkata kepada Olivia dengan nada yang agak dingin, "Kalau nggak mau makan, sebaiknya kamu keluar saja."

Pfftt, pergi ya pergi!

Olivia malah senang bisa pergi.

Olivia langsung berdiri dan berjalan keluar. Tepat pada saat itu, Amelia masuk sambil membawa semangkuk sup panas. Ketika Amelia menyadari Olivia berjalan keluar dengan marah, sudah terlambat baginya untuk menghindar. Akibatnya, mereka berdua pun langsung bertabrakan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 50

    "Apa yang perlu ditakutkan? Ambar juga nggak ada di sini. Lihat saja tingkahnya hari ini yang begitu sombong, merasa di atas angin cuma karena putrinya menikah dengan Keluarga Bramantya. Lihat, betapa angkuh dirinya."Ambar menarik Amelia ke sudut yang agak sepi. Belum sempat Ambar menginterogasinya, Amelia sudah bertanya dengan nada yang tajam, "Apa kamu yang membawa ibuku pergi? Bukankah kamu sudah janji padaku, selama aku menggugurkan kandungan ini, kamu akan mencarikan donor ginjal untuk ibuku?"Ambar memasang wajah tanpa dosa. "Donornya sudah ditemukan, operasinya bisa segera dilakukan. Memindahkannya ke rumah sakit lain juga demi pengobatan yang lebih baik untuknya ke depan. Apa yang kamu cemaskan?""Di mana ibuku sekarang?" Amelia sama sekali tidak memercayai omong kosong wanita ini.Ambar mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.Di dalam video tersebut, Wulan tampak berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya, tetapi kondisinya ter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 49

    Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertanya, "Mana Ambar? Mana dia?"Pak Irsan mengerutkan kening dan membentak Amelia, "Lancang sekali kamu, beraninya menyebut nama Bu Ambar secara langsung!"Amelia berbalik. Sepasang matanya yang biasanya terlihat rendah hati dan polos, kini hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Cepat katakan!"Tatapan Amelia yang begitu dingin itu seketika membuat Pak Irsan tertegun dan gentar."Di, di Hotel Zaira," jawab Pak Irsan terbata-bata. Pak Irsan sendiri tidak tahu mengapa, tetapi saat menatap mata dingin Amelia, tiba-tiba muncul rasa takut di lubuk hatinya. "Hari ini Pak Jody menyiapkan pesta ulang tahun untuk Bu Rissa. Pak Malik, Bu Ambar dan Bu Rissa, semuanya ada di sana…"Belum sempat kata-kata

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 48

    "Aaah…"Peralatan medis yang dingin mulai masuk merobek. Rasa sakit yang luar biasa datang menghujam.Wajah Amelia pucat pasi bagaikan kertas. Pupil matanya bergetar hebat.Anak…Anaknya…Amelia baru saja mengetahui kehadiran anak itu, tetapi sekarang dia harus kehilangan anak itu.Rasa sakit yang menusuk tulang berpadu dengan kepedihan di dalam hati Amelia.Amelia pun memejamkan mata, lalu jatuh pingsan…Amelia bermimpi. Dalam mimpinya, dia mendekap seorang bayi yang berlumuran darah. Suara tangis bayi itu seolah menembus langsung ke ulu hatinya.Dalam sekejap mata, bayi itu menghilang. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Jody dengan wajah sedingin es. Amelia berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Suaranya parau terisak, "Aku mohon... aku mohon, selamatkan anak kita."Namun, pria itu tidak bergeming. Pada akhirnya, Jody bahkan mendorong Amelia dengan kasar dan mencengkeram lehernya. "Memangnya kamu itu siapa sampai merasa layak melahirkan anakku?"Amelia tertegun. Dia diliputi kepani

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 47

    Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang hamil…Tamatlah riwayat Keluarga Amarta.Lalu, putri kandungnya yang sudah bersusah payah menjadi istri Jody, akan direbut posisinya oleh wanita murahan itu.Di kalangan elite, latar belakang keluarga yang bersih adalah satu hal. Namun, begitu ada anak yang terlibat, itu urusan lain lagi.Bola mata Ambar berputar dengan cepat. Tiba-tiba, Ambar tersenyum tipis. Dia segera menelepon Amelia, tetapi tidak diangkat. Ambar tidak marah. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Amelia.[Aku tahu, kamu selama ini mencari donor ginjal yang cocok untuk ibumu. Aku bisa membantumu, asalkan kamu setuju untuk menggugurkan kandungan itu dan menjaga rahasia ini. Ibumu bisa menjalani operasi transpla

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 46

    Menyadari adanya kemungkinan lain, Ambar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rissa. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?""Nggak ada, Ibu.""Masih berani membohongiku? Amelia hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Rissa, apa yang sebenarnya terjadi?""Apa?" Rissa terkejut di dalam hati.Langsung hamil hanya dalam satu malam? Keberuntungan macam apa yang dimiliki Amelia ini?"Rissa, apa kamu berniat menyembunyikannya dari Ibu?" Ambar menyadari ada yang tidak beres dari nada suara putrinya. Dia pun melunakkan bicaranya.Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dialah yang memberikan obat dan fakta jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Rissa pun berkata dengan mencampurkan antara fakta dan kebohongan, "Orang yang bersama Jody di hotel malam itu adalah Amelia. Kebetulan aku memergokinya. Jadi, aku menyuruh Amelia merahasiakannya agar aku bisa berpura-pura menjadi dirinya.""Kamu… Kenapa masalah ini nggak kamu beritahukan pada Ibu sejak dulu?""Ibu, aku, aku

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 45

    Rissa akhirnya keluar dari rumah sakit tepat sebelum Jody kembali ke tanah air.Alergi Rissa sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuh maupun wajahnya.Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta. Begitu Rissa turun dari mobil, Ambar langsung memeluk putrinya itu. "Biarkan Ibu melihatmu. Syukurlah kalau kamu sudah nggak apa-apa. Kamu benar-benar membuat Ibu khawatir.""Ibu, aku janji nggak akan bertindak sembarangan lagi ke depannya."Di samping mereka, Malik dengan wajah serius memanggil Rissa ke ruang kerja dan berkata dengan nada yang tegas, "Masalah ini cukup sampai di sini. Nanti, setelah kamu masuk ke Keluarga Bramantya, sebaiknya kamu simpan baik-baik sifat manjamu itu. Juga… kali ini Amelia sudah membantumu. Pergilah dan ucapkan terima kasih padanya dengan baik.""Aku mengerti, Ayah," jawab Rissa. Namun, dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.Menyuruhnya berterima kasih pada Amelia?Jangan mimpi.Malik menggelengka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status