แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Ranti
"Ah…" Olivia menjerit.

Amelia menggigit bibirnya. Dia berusaha keras menahan mangkuk sup tersebut agar tetap stabil. Namun, sebagian besar sup panas itu tetap tumpah mengenai pergelangan tangannya sendiri.

Amelia terkesiap. Dia merasa pandangannya menjadi gelap.

Pak Irsan buru-buru berlari keluar. Dia langsung memarahi Amelia tanpa ampun, "Amelia! Dasar nggak guna! Apa sebenarnya yang bisa kamu lakukan? Kalau sampai Bu Olivia kena luka bakar karena tersiram, apa kamu sanggup bertanggung jawab?"

Segera setelah itu, terdengar Olivia angkat bicara, "Aku nggak apa-apa kok."

Olivia tidak banyak tersiram sup. Hanya pakaiannya saja yang sedikit kotor. Jeritannya tadi hanya reaksi refleks. Jelas-jelas Amelia yang terluka lebih parah. Kemerahan di punggung tangannya begitu lebar.

Melihat Olivia tidak marah, mata Pak Irsan pun melihat sekeliling. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk berkata, "Bu Olivia, kamu nggak tahu kalau pembantu ini sering bermalas-malasan dan licik. Kesalahannya sudah banyak. Terakhir kali, dia bahkan hampir menyiram Pak Jody dengan air panas!"

"Apa?" Rissa berteriak kaget. Amelia berani muncul di hadapan Jody tanpa sepengetahuannya?

Tanpa berkata-kata lagi, Rissa langsung menampar wajah Amelia, sambil memakinya dengan marah, "Amelia, kami kasihan padamu, makanya membiarkanmu tetap tinggal di rumah ini. Tapi, kamu malah nggak tahu diri! Kalau sampai kamu benar-benar melukai Jody dan Olivia, sepuluh nyawamu sekalipun nggak akan cukup untuk menebusnya. Menurutku, kamu memang sengaja melakukannya, 'kan?"

Suasana hening yang mencekam, langsung menyelimuti tempat itu. Tidak ada seorang pun yang menyangka jika Rissa akan main tangan.

Amelia merasakan sakit yang membakar di pipinya, tetapi dia tidak bisa melawan…

"Tes!" Setetes air mata Amelia jatuh ke punggung tangannya yang memerah karena luka bakar. Rasanya begitu perih seperti terbakar.

Detik berikutnya, ada punggung seseorang yang tiba-tiba berdiri mengadang di depan Amelia. Theo menatap dingin pada Rissa. "Cukup! Itu cuma kecelakaan. Kenapa Bu Rissa harus sekasar itu?"

"Pak Theo, Rissa cuma mengkhawatirkan Olivia. Karena begitu cemas, dia jadi kehilangan kendali."

Kata-kata Ambar tersebut menyadarkan Rissa. Rissa pun menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Benar, aku memang terlalu nggak sabaran. Untung Olivia baik-baik saja."

Heh?

Olivia mengangkat sudut bibirnya. Menjadikan dirinya sebagai senjata? Apa Rissa mengira dirinya itu bodoh?

Akan tetapi, Ambar tiba-tiba mengubah topik pembicaraan dan menatap Amelia. Kemudian, Ambar berkata, "Amelia, meski Nona Olivia nggak mempermasalahkan kejadian ini, tapi kamu terlalu ceroboh. Nggak pantas bagimu untuk tetap tinggal di rumah ini. Pergi dan kemasi barang-barangmu. Ambil gajimu selama tiga bulan, lalu tinggalkan Keluarga Amarta."

Amelia terkejut. Meninggalkan Keluarga Amarta? Lalu, bagaimana dengan penyakit ibunya?

Amelia begitu cemas sampai-sampai tidak sempat memedulikan rasa sakit di tangannya. Dia pun buru-buru memohon, "Bu Ambar, aku tahu aku salah. Tolong jangan suruh aku meninggalkan Keluarga Amarta."

"Bu Ambar, Amelia…"

"Pak Theo, apa Keluarga Amarta nggak berhak untuk memecat pembantu?"

Sebelum Theo selesai berbicara, Ambar sudah terlebih dahulu memotongnya.

Bukan hanya Rissa yang merasa tidak nyaman melihat wajah Amelia. Ambar sendiri juga merasa terganggu di dalam hati, tiap kali melihat Amelia. Ambar bahkan curiga jika Amelia mungkin adalah anak haram Malik.

Sekarang, setelah akhirnya mendapat kesempatan untuk mengusir ibu dan anaknya itu, bagaimana mungkin Ambar akan melewatkannya begitu saja?

Namun, begitu kata-kata itu terucap, Jody yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba saja berdiri. "Olivia sudah bilang kalau dia nggak apa-apa. Jadi, anggap saja masalah ini selesai."

Kemudian, tatapan mata Jody menyapu punggung tangan Amelia secara sekilas. Sorot matanya menjadi agak muram. Setelah itu, Jody berkata dengan sopan, tetapi agak dingin, "Hari ini, kami sudah merepotkan kalian. Aku akan mengantar Olivia pulang dulu."

Melihat Jody hendak pergi, ekspresi Rissa pun sedikit berubah. Dia buru-buru meraih lengan Jody dengan gugup. "Jody."

Jody melirik tangan Rissa yang memegang lengannya itu. Entah mengapa, Rissa tiba-tiba merasakan tekanan yang kuat, sehingga tanpa sadar dia pun melepaskan lengan Jody. Saat Rissa mencoba memastikan kembali, terdengar suara Jody yang berkata dengan nada yang tenang, "Aku akan mengutus orang untuk datang membicarakan soal detail pertunangan."

Satu kalimat itu langsung menenangkan kegelisahan di hati Rissa.

Rissa tahu betul jika sekarang bukanlah saat yang tepat untuk terus memperpanjang masalah. Sambil tersenyum penuh perhatian, Rissa pun berkata, "Kalau begitu, hati-hati di jalan. Olivia, aku benar-benar minta maaf. Baru pertama kali kamu datang ke Keluarga Amarta, sudah terjadi hal seperti ini."

Olivia bahkan tidak mau repot-repot melirik ke arah Rissa. Betapa munafiknya wanita ini.

Setelah masuk ke mobil, Olivia benar-benar tidak bisa lagi menahan diri dan bertanya, "Kak, kamu nggak benar-benar akan menikahi Ris siapa itu, 'kan?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 50

    "Apa yang perlu ditakutkan? Ambar juga nggak ada di sini. Lihat saja tingkahnya hari ini yang begitu sombong, merasa di atas angin cuma karena putrinya menikah dengan Keluarga Bramantya. Lihat, betapa angkuh dirinya."Ambar menarik Amelia ke sudut yang agak sepi. Belum sempat Ambar menginterogasinya, Amelia sudah bertanya dengan nada yang tajam, "Apa kamu yang membawa ibuku pergi? Bukankah kamu sudah janji padaku, selama aku menggugurkan kandungan ini, kamu akan mencarikan donor ginjal untuk ibuku?"Ambar memasang wajah tanpa dosa. "Donornya sudah ditemukan, operasinya bisa segera dilakukan. Memindahkannya ke rumah sakit lain juga demi pengobatan yang lebih baik untuknya ke depan. Apa yang kamu cemaskan?""Di mana ibuku sekarang?" Amelia sama sekali tidak memercayai omong kosong wanita ini.Ambar mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.Di dalam video tersebut, Wulan tampak berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya, tetapi kondisinya ter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 49

    Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertanya, "Mana Ambar? Mana dia?"Pak Irsan mengerutkan kening dan membentak Amelia, "Lancang sekali kamu, beraninya menyebut nama Bu Ambar secara langsung!"Amelia berbalik. Sepasang matanya yang biasanya terlihat rendah hati dan polos, kini hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Cepat katakan!"Tatapan Amelia yang begitu dingin itu seketika membuat Pak Irsan tertegun dan gentar."Di, di Hotel Zaira," jawab Pak Irsan terbata-bata. Pak Irsan sendiri tidak tahu mengapa, tetapi saat menatap mata dingin Amelia, tiba-tiba muncul rasa takut di lubuk hatinya. "Hari ini Pak Jody menyiapkan pesta ulang tahun untuk Bu Rissa. Pak Malik, Bu Ambar dan Bu Rissa, semuanya ada di sana…"Belum sempat kata-kata

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 48

    "Aaah…"Peralatan medis yang dingin mulai masuk merobek. Rasa sakit yang luar biasa datang menghujam.Wajah Amelia pucat pasi bagaikan kertas. Pupil matanya bergetar hebat.Anak…Anaknya…Amelia baru saja mengetahui kehadiran anak itu, tetapi sekarang dia harus kehilangan anak itu.Rasa sakit yang menusuk tulang berpadu dengan kepedihan di dalam hati Amelia.Amelia pun memejamkan mata, lalu jatuh pingsan…Amelia bermimpi. Dalam mimpinya, dia mendekap seorang bayi yang berlumuran darah. Suara tangis bayi itu seolah menembus langsung ke ulu hatinya.Dalam sekejap mata, bayi itu menghilang. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Jody dengan wajah sedingin es. Amelia berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Suaranya parau terisak, "Aku mohon... aku mohon, selamatkan anak kita."Namun, pria itu tidak bergeming. Pada akhirnya, Jody bahkan mendorong Amelia dengan kasar dan mencengkeram lehernya. "Memangnya kamu itu siapa sampai merasa layak melahirkan anakku?"Amelia tertegun. Dia diliputi kepani

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 47

    Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang hamil…Tamatlah riwayat Keluarga Amarta.Lalu, putri kandungnya yang sudah bersusah payah menjadi istri Jody, akan direbut posisinya oleh wanita murahan itu.Di kalangan elite, latar belakang keluarga yang bersih adalah satu hal. Namun, begitu ada anak yang terlibat, itu urusan lain lagi.Bola mata Ambar berputar dengan cepat. Tiba-tiba, Ambar tersenyum tipis. Dia segera menelepon Amelia, tetapi tidak diangkat. Ambar tidak marah. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Amelia.[Aku tahu, kamu selama ini mencari donor ginjal yang cocok untuk ibumu. Aku bisa membantumu, asalkan kamu setuju untuk menggugurkan kandungan itu dan menjaga rahasia ini. Ibumu bisa menjalani operasi transpla

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 46

    Menyadari adanya kemungkinan lain, Ambar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rissa. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?""Nggak ada, Ibu.""Masih berani membohongiku? Amelia hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Rissa, apa yang sebenarnya terjadi?""Apa?" Rissa terkejut di dalam hati.Langsung hamil hanya dalam satu malam? Keberuntungan macam apa yang dimiliki Amelia ini?"Rissa, apa kamu berniat menyembunyikannya dari Ibu?" Ambar menyadari ada yang tidak beres dari nada suara putrinya. Dia pun melunakkan bicaranya.Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dialah yang memberikan obat dan fakta jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Rissa pun berkata dengan mencampurkan antara fakta dan kebohongan, "Orang yang bersama Jody di hotel malam itu adalah Amelia. Kebetulan aku memergokinya. Jadi, aku menyuruh Amelia merahasiakannya agar aku bisa berpura-pura menjadi dirinya.""Kamu… Kenapa masalah ini nggak kamu beritahukan pada Ibu sejak dulu?""Ibu, aku, aku

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 45

    Rissa akhirnya keluar dari rumah sakit tepat sebelum Jody kembali ke tanah air.Alergi Rissa sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuh maupun wajahnya.Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta. Begitu Rissa turun dari mobil, Ambar langsung memeluk putrinya itu. "Biarkan Ibu melihatmu. Syukurlah kalau kamu sudah nggak apa-apa. Kamu benar-benar membuat Ibu khawatir.""Ibu, aku janji nggak akan bertindak sembarangan lagi ke depannya."Di samping mereka, Malik dengan wajah serius memanggil Rissa ke ruang kerja dan berkata dengan nada yang tegas, "Masalah ini cukup sampai di sini. Nanti, setelah kamu masuk ke Keluarga Bramantya, sebaiknya kamu simpan baik-baik sifat manjamu itu. Juga… kali ini Amelia sudah membantumu. Pergilah dan ucapkan terima kasih padanya dengan baik.""Aku mengerti, Ayah," jawab Rissa. Namun, dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.Menyuruhnya berterima kasih pada Amelia?Jangan mimpi.Malik menggelengka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status