共有

Bab 5

作者: UmaMe
last update 公開日: 2026-08-03 12:22:57

Hari Pertama yang Sunyi

Jam dinding di ruangan itu tepat menunjuk pukul sepuluh lewat beberapa menit saat Danindra perlahan membuka matanya. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela yang tebal, menyinari lantai kamar yang luas itu. Ia terbaring sejenak, membiarkan kesadarannya pulih sepenuhnya, sebelum menyadari satu hal—hari ini ia tidak perlu pergi ke kampus. Hari libur. Artinya, ia punya sepanjang hari yang panjang untuk dihabiskan di rumah asing ini, tanpa ada kesibukan yang bisa ia jadikan pelarian.

Danindra bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan. Ia membersihkan diri, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, lalu merias wajahnya tipis-tipis—bukan untuk siapa pun, hanya agar dirinya sendiri merasa lebih siap menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Perutnya mulai terasa lapar, mengingat sejak kemarin sore ia belum makan dengan baik. Ia pun berjalan menuju pintu kamar, berniat turun ke ruang makan.

Belum sempat kakinya menginjakkan lantai marmer di lantai bawah, pintu salah satu kamar di lantai itu terbuka. Angga keluar berjalan melewatinya dengan langkah tegap, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah keberadaan Danindra tak lebih dari sekadar udara. Mata mereka bertemu sesaat—sepasang mata yang dingin dan tajam, dan sepasang mata yang penuh kebingungan serta ragu. Tak ada sapaan, tak ada satu kata pun yang terucap. Hanya keheningan yang terasa berat di antara mereka saat Angga berlalu pergi.

Tak lama kemudian, Rendra lewat di sana. Berbeda dengan atasannya, Rendra menyapa dengan sopan, "Selamat pagi, Nyonya."

Danindra terkejut sejenak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Selamat pagi, Mas Rendra."

"Selamat pagi, Nyonya." Suara lembut Bu Wati terdengar dari arah ruang makan. Wanita itu tersenyum ramah sambil memberi isyarat tangan. "Sarapan sudah siap. Silakan turun, Bu."

"Terima kasih, Bu Wati." Danindra mengikuti wanita itu dari belakang, menuruni tangga luas yang dingin itu. Ruang makan sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan di atas meja panjang. Danindra duduk dan mulai makan dalam diam. Suasana hanya diisi suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Ia makan perlahan, tanpa nafsu yang besar, seolah ada beban berat yang mengganjal di perutnya sekaligus di hatinya. Setelah selesai, ia tak langsung kembali ke kamar. Ia butuh bergerak, butuh melihat sekeliling agar tidak merasa terkurung di ruangan yang sempit.

Danindra mulai berkeliling, menjelajahi setiap sudut rumah megah itu. Ruang tamu utama yang luas, ruang kerja yang tertutup rapat, lorong-lorong dengan lukisan-lukisan mahal yang tergantung di dinding. Semuanya indah, namun terasa kosong dan sepi. Ia berjalan cukup lama, hingga kakinya terasa lelah. Akhirnya ia kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa empuk berwarna krem, lalu menyalakan televisi. Gambar bergerak di layar, namun matanya tak benar-benar memperhatikan. Lama-kelamaan, posisinya berubah dari duduk tegak menjadi bersandar, hingga akhirnya ia merebahkan diri di sofa itu, membiarkan rasa kantuk perlahan menyerang.

Sinar matahari kini sudah berubah menjadi keemasan, tanda sore hari telah tiba. Angga pulang tepat pada waktunya. Ia melangkah masuk ke ruang keluarga dengan langkah tenang, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok di sofa itu. Danindra terlelap, posisinya tidak terlalu rapi, seolah merasa cukup nyaman di ruang itu. Angga berdiri di sana cukup lama, menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan—entah kesal, entah bingung.

Danindra terbangun karena merasakan ada kehadiran di dekatnya. Ia membuka mata dengan cepat, mendapati Angga berdiri tegak tepat di samping sofa, menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk. Ia tersentak kaget, langsung bangkit dan berdiri dengan tergesa-gesa.

"Sudah belagak nyonya, ya?" ucap Angga tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh nada sindiran yang tajam.

Wajah Danindra memucat. "Aku... aku hanya menonton TV sebentar saja, lalu tidak sengaja tertidur. Maafkan aku..."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, tanpa menjawab satu kata pun, Angga berbalik dan berjalan menaiki tangga, menghilang di balik pintu kamarnya. Ia butuh mandi, membasahi tubuh yang terasa lelah seharian bekerja, sekaligus membasahi perasaan yang kian hari kian gelisah melihat kenyataan yang harus ia hadapi.

Danindra kembali duduk di tepi sofa, menatap pintu yang baru saja didatangi Angga. Ia menggerutu pelan pada dirinya sendiri, menahan rasa kesal dan malu yang bercampur menjadi satu. Baru hari pertama saja sudah begini, batinnya. Apa yang harus kulakukan agar semua ini tidak terasa semakin berat?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 12

    Hadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 11

    Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 10

    Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 9

    Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak DiharapkanHari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus."Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas. "Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan.""Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai. Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis. "Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas. Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan. "Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat perg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status