Share

Bab 6

Penulis: UmaMe
last update Tanggal publikasi: 2026-08-09 19:07:58

Pagi yang Terburu-buru dan Malam yang Berjuang

Keesokan harinya, Danindra terbangun jauh sebelum matahari benar-benar naik. Hatinya berdebar tak tenang—ia berencana pulang terlambat hari ini, dan harus berangkat lebih dulu agar tidak ada yang bertanya-tanya. Ia berjalan cepat menuruni tangga, langkahnya ringan seakan tak ingin meninggalkan jejak, dan hampir saja membuka pintu utama untuk keluar.

"Nyonya Danindra!"

Suara Bik Wati memanggil dari kejauhan, membuat Danindra berhenti mendadak. Ia menoleh dengan senyum yang terasa kaku. "Iya, Bik?"

"Silakan sarapan dulu, nyonya. Sebelum berangkat ke kampus," ajak Bik Wati lembut namun tegas. Danindra tak bisa menolak. Ia hanya menuang segelas susu dan mengambil sepotong roti lapis, memakannya sambil berjalan menuju pintu. "Terima kasih, Bik Wati. Saya berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan, nyonya."

Di depan teras, sebuah mobil sedan hitam terparkir rapi. Danindra mengira itu adalah mobil yang disiapkan untuk Angga, jadi ia berjalan melewatinya tanpa berniat berhenti. Namun sopir yang berdiri di samping pintu mobil itu segera memanggilnya. "Nyonya, silakan naik. Saya Pak narto, yang akan mengantar Nyonya ke kampus."

Danindra tertegun. "Tidak usah, Pak. Saya bisa naik bus saja."

"Maaf, Nyonya. Tugas saya mengantar-jemput Nyonya. Saya tidak bisa membiarkan Nyonya pergi sendiri," jawab Pak narto, dengan sopan namun tegas. Akhirnya Danindra terpaksa naik ke dalam mobil BMW yang mewah itu.

"Pak Narto, tolong turunkan saya agak jauh dari gerbang kampus, ya?" pinta Danindra pelan. Namun Pak Narto justru mengendarai mobil itu lurus menuju halaman fakultas, berhenti tepat di depan pintu masuk gedung tempat Danindra belajar. "Jam berapa Nyonya selesai, agar saya bisa menjemput?" tanyanya.

Danindra gugup seketika. "Hari ini... ada kegiatan sampai malam, Pak. Tidak perlu menjemput, saya pulang sendiri saja." Ia berbohong, berharap tak perlu diantar-jemput setiap hari.

Begitu turun, beberapa teman yang lewat mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka membuat Danindra buru-buru berjalan masuk dan duduk di bangkunya. Belum lama ia duduk, seorang gadis dengan tatapan tajam menghampirinya. Itu Angel—gadis yang selalu membully-nya, yang iri melihat nilai-nilai Danindra yang selalu unggul di setiap mata kuliah.

"Siapa laki-laki hidung belang yang kamu gaet, hah?" tanya Angel ketus sambil tersenyum mengejek. Danindra diam, tak mempedulikannya, dan justru mengobrol dengan sahabatnya, Diana. Sikap itu membuat Angel semakin kesal.

"Kamu tuli ya?!" Angel mengebrak meja Danindra keras.

Diana yang sejak tadi menahan diri tak tahan lagi. "Hei, kamu itu yang tidak tahu sopan santun! Jangan mengganggu orang lain!"

Danindra segera menahan sahabatnya. "Sudah, na. Jangan diladeni. Sama saja kita meladeni orang yang tidak waras."

Wajah Angel memerah menahan amarah, hendak membalas lagi—namun dosen masuk ke ruangan. Pelajaran pun dimulai. Danindra menjawab setiap pertanyaan dosen dengan lancar dan tepat, sementara Angel hanya bisa menatapnya dengan rasa benci yang semakin membara.

Bel berbunyi tanda pelajaran selesai. Saat berjalan melewati koridor, seorang staf keuangan kampus memanggilnya. "Danindra, pembayaran uang kuliah sudah telat seminggu. Segera lunasi ya."

Danindra mengangguk namun hatinya dilanda gelisah. Ia sama sekali lupa soal pembayaran itu. Pikirannya kembali ke masa lalu—saat ia meminta uang pada ayahnya, Pak Haris, dan selalu dimarahi karena hasutan ibu tirinya, Melda yang bilang Danindra hanya menghamburkan uang. Sekarang siapa yang harus ia minta? Ayahnya? Atau suaminya, Angga? Keduanya terasa mustahil.

"Kamu melamun dari tadi, kenapa?" Diana menepuk bahunya pelan.

"Enggak apa-apa," jawab Danindra berusaha tersenyum. Ia memisahkan diri di depan gerbang, berbohong ingin membeli sesuatu. Setelah Diana pergi, Danindra berjalan sendirian, memikirkan cara mendapatkan uang sendiri.

Tak jauh dari sana, matanya menangkap papan pengumuman lowongan kerja yang ditempel di kaca jendela sebuah restoran. Tanpa pikir panjang, ia masuk dan bertanya pada kasir bernama Rara. "Maaf, lowongan pelayan itu masih kosong?"

"Masih, Kak. Silakan saya antarkan ke Madam Ane, pemilik restoran ini," jawab Rara ramah. Madam Ane, wanita paruh baya yang tetap memancarkan keanggunan, menatap Danindra dari atas ke bawah. "Kamu yakin bisa bekerja sebagai pelayan?"

"Ya, saya yakin," jawab Danindra mantap.

"Baiklah, mulai hari ini kamu bekerja."

Sore itu hingga malam Danindra bekerja sekuat tenaga. Hampir pukul sepuluh malam restoran tutup. Rara menegurnya sebelum berpisah. "Pulang naik apa, Kak?"

"Naik bus saja." Mereka berpisah dengan salam perpisahan. Danindra menunggu cukup lama di halte, hingga hampir pukul setengah sebelas bus yang ia tuju datang. Sesampainya di dekat rumah, ia berjalan perlahan menuju pagar rumah mewah milik Angga, berdoa dalam hati semuanya sudah tertidur.

Namun begitu ia masuk, Bik Wati ternyata masih ada di sana. "nyonya Danindra, kenapa baru pulang?"

Danindra tergagap. "A... ada tugas kampus yang harus diselesaikan, Bik. Saya izin naik ke kamar dulu." Ia berjalan cepat menuju tangga, berharap tak ada lagi pertanyaan. Hatinya berdebar—hari yang panjang baru saja berakhir, dan ia tahu perjuangannya belum selesai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 52

    Keseruan Berkeliling Mall Milik AnggaDiana tampak sangat antusias sejak langkah pertama memasuki mall yang megah itu. Ia langsung mengandeng lengan Danindra dengan riang, menarik‑narik untuk berkeliling ke sana kemari. Mata Diana tak henti‑hentinya berbinar kagum melihat kemegahan mall tersebut, mulai dari lampu‑lampu kristal yang berkilauan di langit‑langit hingga lantai marmer yang mengkilap bak cermin.Tiba‑tiba Diana mendekatkan mulut ke telinga Danindra dan berbisik pelan, "Bolehkah aku minta dibelikan sesuatu?" sambil mengedip‑ngedipkan mata dengan wajah memohon. Danindra menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis, "Kamu mau beli apa?" tanyanya. "Ehhhh apa ya… kita putar‑putar dulu nanti kalau ada yang membuatku tertarik baru kita lihat‑lihat," jawab Diana sambil menarik lengan Danindra lagi."Na, kita sudah mengitari mall ini tiga kali lho, kakiku sampai capek," keluh Danindra sambil menggosok pergelangan kakinya. "Baru tiga kali lho belum sepuluh kali!" rengek Diana dengan nad

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 51

    Kejutan Jalan‑Jalan ke MallSesampainya di kampus pagi itu, Danindra langsung berkeliling mencari Diana di koridor dekat kelas. Begitu mata bertemu mata, Diana segera mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Eh Din! Kenapa kemarin izin kuliah? Aku kan sudah menunggumu," tanya Diana dengan nada kepo yang khas.Danindra tersenyum tipis. "Ada urusan keluarga Di, aku pergi ke rumah Kakek Hardian milik Angga."Diana mengerutkan dahi lalu cemberut sambil bergumam, "Iya‑iya… yang sudah berkeluarga sibuk ya."Danindra hanya tertawa pelan tanpa membantah."Eh aku makin kepo deh!" seru Diana lagi. "Lalu gimana respon Kakeknya Angga sama kamu?""Kakeknya baik sekali sama aku Di. Tapi Paman Gunawan sama Bibi Sinta sepertinya kurang suka melihat aku dekat dengan Angga," jawab Danindra pelan."Lho kenapa emang?" tanya Diana makin penasaran."Kurang tahu aku Di. Kamu ini kepo sekali ya," ucap Danindra sambil menyenggol lengan Diana."Ihhh!" Diana mendengus sambil tersenyum. "Ok deh aku tidak a

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 50

    Pagi Setelah Berkunjung ke MakamSetelah selesai berdiam sejenak di makam ayah dan ibu Angga, hati Danindra masih terasa penuh haru. Di dalam mobil, Angga duduk tenang di sampingnya, tatapannya melurus ke depan seolah masih teringat ucapan yang ia sampaikan tadi di makam. Pak Budi mengarahkan mobil menuju rumah tempat mereka tinggal, karena buku perkuliahan Danindra masih tertinggal di sana dan ia harus segera berangkat ke kampus.Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Bik Wati sudah berdiri di teras menyambut mereka dengan senyum hangat."Selamat datang tuan Angga, Nyonya Danindra," sapa Bik Wati sambil melangkah mendekat.Angga mengangguk pelan. "Terima kasih Bik Wati."Bik Wati menatap wajah mereka bergantian lalu bertanya dengan nada perhatian, "Apakah tuan berdua sudah sarapan pagi ini?""Sudah Bik Wati," jawab Angga. "Kami sudah sarapan di rumah Kakek Hardian sebelum berangkat ke makam.""Oh begitu ya tuan," ucap Bik Wati. "Kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan di dapur dulu ya

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 49

    Kunjungan ke Makam Ayah dan IbuSetelah selesai sarapan, Angga dan Danindra berpamitan kepada Kakek Hardian untuk pulang. Kakek mengantar mereka sampai ke teras depan, tersenyum hangat sambil menepuk pelan bahu Angga sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan awalnya hanya ada keheningan yang tenang, sampai tiba-tiba Angga menoleh ke arah Danindra dan membuka suara."Danindra..." panggilnya pelan. "Kamu mau aku ajak ke makam ayah dan ibuku?"Danindra menatapnya sejenak, lalu mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Mau," jawabnya tegas namun lembut.Angga tersenyum lega, lalu menoleh ke depan. "Pak Budi, kita ke makam keluarga Pratama ya.""Baik, Tuan Angga," jawab Pak Budi sambil memutar setir, mengubah arah mobil menuju tempat yang bagi Angga adalah tempat paling sunyi namun juga paling berharga di hatinya.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Saat gerbang makam terbuka, Danindra terkesima. Kawasan ini sangat luas, tertata rapi dengan jalan setapa

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 48

    Pagi yang Penuh Kejutan Pagi itu, Angga terbangun lebih dulu. Senyum merekah di wajahnya saat melihat Danindra masih terlelap di depannya. Ia perlahan mengusap wajah Danindra, sentuhan itu membuat pemilik wajah terasa terganggu dan akhirnya membuka mata. Danindra terkejut saat mata mereka bertemu langsung. Angga hanya tersenyum lembut lalu bertanya, “Tidurmu nyenyak?” Danindra hanya mengangguk, masih diliputi rasa canggung. Saat ia hendak bangun, Angga justru memeluknya pelan dan berbisik, “Biarkan dulu seperti ini.” Danindra pun diam, menunggu sampai Angga melepaskan pelukannya. Tiba‑tiba terdengar ketukan di pintu. “Iya,” jawab Angga. Ia melepaskan pelukan itu lalu menyuruh Danindra mandi. Danindra segera berlari kecil menuju walk‑in closet; pipinya sudah memerah seperti tomat karena perlakuan Angga tadi. Angga membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Kakek Hardian. “Kakek, ada apa?” tanya Angga sambil membuka pintu setengah. Kakek tampak penasaran, celingak‑celinguk ing

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 47

    Malam yang Lembut di Kamar KenanganSaat Danindra keluar dari kamar mandi, Angga yang sedang berdiri di dekat jendela hanya melirik sekilas lalu berbalik hendak pergi ke dalam kamar mandi. Danindra yang melihat pergerakan itu langsung merasa panik kecil, seketika berdiri dan bertanya dengan suara yang terdengar sedikit tergesa, "Mau ke mana?""Mandi," jawab Angga singkat namun nadanya tetap lembut, seakan ingin menenangkan kegelisahan yang tiba-tiba muncul di wajah Danindra. Lalu ia melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang terhubung dengan kamar mandi, menutup pintunya perlahan dari luar."Oh..." Danindra bergumam sendirian di ruangan yang cukup luas itu, pipinya tiba-tiba terasa hangat karena merasa malu sendiri karena bertanya begitu tiba-tiba. Ia berjalan mendekati ranjang besar yang terbuat dari kayu jati tua itu dan duduk perlahan di tepinya. Rasanya sungguh canggung sekali—meski saat ini hanya ada dirinya sendiri di kamar yang megah itu, ia ragu untuk sekadar merebahkan tub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status