Share

Bab 74 — Racun Dingin

Author: Gekko
last update publish date: 2026-09-28 12:07:14

"Memangnya kenapa?" tanya Shelia penasaran. "Kau terdengar panik."

"Sebainya Nona ke sini saja," sahut Garry, enggan menjelaskan dan panggilan pun berakhir.

Shelia menaikkan sebelah alisnya dan akhirnya bergegas pergi kembali lagi ke rumah sakit.

'Ada apa ya?' pikirnya.

Beberapa waktu di perjalanan, Shelia tiba dan langsung masuk. Di lobi IGD yang cukup ramai, Shelia mendengar Garry memanggil.

"Nona Evelyn!"

Shelia berjalan menghampirinya. "Ada apa sebenarnya?"

"Ikut saya." Garry tak langsung m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 110 — Seseorang Yang Abadi

    Shelia berdiri tepat di hadapan seorang pria. Tubuh pria itu diikat kuat dan tergeletak begitu saja di lantai, seperti seekor ulat.Kedua tangannya tidak dapat bergerak. Mulutnya juga dibungkam dengan kain yang diikat erat. Beberapa memar terlihat di wajah dan tubuhnya."Hmp! Hmp!"W-46 meronta. Namun, ikatan tersebut tidak memberinya kesempatan untuk bergerak bebas.Shelia memandangnya dengan tenang. Kemudian ia menggeleng perlahan."Garry benar-benar kejam."Tatapannya tertuju pada luka-luka pria itu. Namun, Shelia sama sekali tidak merasa iba. Dia mendekat, lalu melepaskan kain yang membungkam mulut pria itu.W-46 langsung menarik napas panjang. "Kau..."Shelia menatapnya."Aku akan bertanya. Dan kau hanya perlu menjawab jujur."Pria itu tertawa remeh. "Kalau aku tidak mau?"Shelia hanya tersenyum, namun niat membunuh terpancar darinya."Kalau begitu, kau akan bertemu rekanmu saat ini juga."W-46 menatapnya beberapa saat. Ia terus berusaha menghindari tatapan Shelia. Dia sadar diri

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 109 — Markas Dark Mind

    Mobil merah Ashran akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kampus. Begitu mesin dimatikan, Ashran langsung membuka pintu dan turun. Garry yang duduk di sebelahnya juga segera mengikuti.Mereka berjalan melewati gerbang utama. Seorang satpam yang berjaga langsung menyapa ketika melihat Ashran."Selamat malam, Tuan Ashran. Tumben sekali, ada urusan apa kemari?"Ashran mengangguk singkat. "Pak, aku ingin menanyakan sesuatu."Satpam tersebut tampak sedikit bingung."Apakah kau pernah melihat hal-hal aneh di sekitar kampus ini?"Pak Suroso menggaruk kepalanya. "Hal-hal aneh? Seperti hantu?"Ashran menggeleng pelan."Bukan. Orang-orang yang mencurigakan.""Oh..." Pak Suroso berpikir sejenak. "Kalau begitu, sepertinya beberapa kali saya pernah melihat sesuatu.""Apa yang kau lihat?" tanya Garry."Beberapa kali saya melihat bayangan seseorang masuk ke kamar mandi terbengkalai di gedung dosen," jelas Suroso.Ashran mengerutkan kening. "Kau yakin?""Entahlah, Tuan. Saya hanya melihat bayangann

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 108 — Pesan Dari Bastian

    Ashran dan Garry langsung mengarahkan pandangan ke sumber suara."Arah suaranya dari sana!"Garry menunjuk ke area taman dekat rumah kaca. Tanpa membuang waktu, Ashran segera berjalan cepat ke arah tersebut. Garry ikut menyusul di belakangnya.Begitu mereka mendekati area rumah kaca, kerumunan orang sudah berkumpul.Beberapa petugas rumah sakit bahkan keluar dari gedung untuk memeriksa apa yang terjadi."Apa yang terjadi?""Katanya ada pencuri.""Siapa yang menangkapnya?"Suara orang-orang terdengar saling bersahutan.Ashran menerobos kerumunan. Namun, begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi, langkahnya berhenti.Seorang gadis berdiri di tengah taman. Sandy. Gadis itu sedang menahan seorang pria bertubuh jauh lebih besar darinya di atas tanah.Pria tersebut mencoba bergerak, tetapi Sandy dengan mudah menahannya.Ashran mengembuskan napas lega. Untuk sesaat, ia mengira orang yang membuat keributan tadi adalah anggota Dark Mind."Sandy?"Mendengar namanya dipanggil, Sandy mendongak.

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 107 — Fungsi Lain Jam Saku?

    "Maaf..."Suara Laurel terdengar lirih. Gadis itu menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara air mata masih menggenang di sudut matanya."Ini salahku sampai Louis dibawa oleh mereka."Shelia yang berdiri di sampingnya menatap Laurel dengan prihatin. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Alfred lebih dahulu membuka suara."Tidak, Nak."Suara lelaki tua itu terdengar tenang meskipun wajahnya masih terlihat pucat."Aku yang diincar oleh mereka. Hanya saja, mereka mengambil Louis sebagai gantinya." Alfred menghela napas panjang. "Jika aku menyerahkan diri sejak awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi."Laurel menggeleng kuat. "Tapi, Kakek—""Ini bukan salah kalian berdua." Suara Ashran terdengar berat.Pria itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan yang sejak tadi ditahannya akhirnya terlihat jelas dari sorot matanya."Para bajingan itu yang sudah kelewatan."Laurel terdiam. Ashran benar. Tidak ada seorang pun di ruangan

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 106 — Mana Louis?

    "Lambat sekali, Garry! Kenapa kau sangat lambat?!"Shelia memprotes dari samping sambil menjambak rambut Garry yang duduk di kursi pengemudi."Aduh! Nona, ini sudah cepat!" protes Garry sambil berusaha mempertahankan kendali atas mobil. "Kenapa Nona tidak naik ke mobil Nona sendiri saja?"Shelia mendengus kesal."Kau lihat sendiri tadi. Ashran sudah pergi lebih dulu, sementara kunci mobilku ada padanya.""Kalau begitu, duduklah dengan tenang. Ini mobil saya!" balas Garry mengomel."Halah, kau sangat lambat. Cepat menepi!"Shelia kembali menarik rambut Garry lebih kencang."Baik, baik! Lepaskan rambut saya dulu!"Akhirnya, Garry menepikan mobil abu-abu yang mereka gunakan. Belum sempat ia benar-benar mematikan mesin, Shelia sudah membuka pintu dan keluar dari mobil.Tanpa membuang waktu, ia berjalan ke sisi pengemudi, membuka pintu, lalu menarik Garry keluar dari kursinya."Nona, jangan membuat si manis lecet."Garry sempat mengusap jok mobilnya dengan ekspresi prihatin, seolah-olah ya

  • Ilmuwan Jenius, Terbangun Di Tubuh Gadis Lemah   Bab 105 — Pengorbanan

    "Pergilah." Suara Louis terdengar lirih.Tubuh pria itu bersandar lemah pada dinding. Napasnya tersengal-sengal, sementara darah terus mengalir dari sudut bibirnya.Laurel menatapnya dengan wajah pucat."Tidak." Dia menggeleng kuat. "Mengapa aku harus meninggalkanmu?""Pergilah, dan bawa Kakek." Louis mencoba berdiri, tetapi lututnya hampir kembali ambruk.Laurel segera meraih lengannya. "Ayo. Kita pergi dari sini."Dia berusaha memapah Louis. Namun, baru beberapa langkah..."Uhuk!"Laurel tiba-tiba membungkuk. Batuk keras mengguncang tubuhnya. Saat dia menutup mulut, cairan merah terlihat di telapak tangannya.Louis langsung membeku."Kau..." Laurel mengangkat wajah. Louis menatap darah di tangan wanita itu dengan mata membelalak."Kau juga?"Laurel tidak menjawab.Louis langsung menyadari sesuatu."Ini racun." Dia menatap sekeliling dengan napas berat. "Kita semua sudah diracuni.""Racun?" Laurel terlihat kebingungan. "Tapi kapan?""Aku tidak tahu. Kita pikirkan itu nanti. Yang lebi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status