แชร์

Chapter 2 Sistem Kesetiaan

ผู้เขียน: ChimungKing
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 19:00:10

Semua pelayan dipanggil, total ada 12 Pelayan Wanita dan 7 pelayan laki-laki termasuk Frank. Aldi melihat mereka semua takut menatap matanya, ada jurang diantara mereka.

“Apa ada yang mau keluar?” tanya Aldi dengan suara pelan.

Hening, semua terdiam. Mereka menggap Aldi ingin memecat dan menyengsarakan keluarganya.

Setelah beberapa saat, Frank memecah keheningan. “Tuan Muda Aldi, apa anda tidak puas dengan pelayanan kami?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Aku tidak menyuruh kalian pergi,” katanya singkat. “Hanya saja… kalian terlalu banyak.” Tatapannya tajam, tanpa emosi berlebih.

“Jangan salah paham. Ini bukan pemecatan.” Ia berhenti sebentar. “Aku hanya ingin tahu—kalian ikut karena pilihan, atau karena terpaksa.”

Suasana hening sejenak.

“Pikirkan. Jawabannya aku tunggu besok pagi.”

Ia mengalihkan pandangannya, seolah urusan itu sudah selesai.

“Sekarang, ambil makanan secukupnya. Lalu pergi.”

Awalnya semua diliputi keraguan, tak satu pun berani bergerak. Namun Frank akhirnya melangkah maju, mengambil sedikit makanan, lalu pergi tanpa sepatah kata. Tindakannya memecah kebekuan, seorang pengurus kebun menyusul, lalu seorang penjaga keamanan. Aldi hanya memperhatikan dalam diam. Ia sadar, memiliki sembilan belas pelayan di istana kecilnya adalah kemewahan yang tak lagi bisa dipertahankan. Uang kiriman dari orang tuanya kian menipis, dan kini, di sakunya, hanya tersisa seratus koin emas.

Setelah pagi, Aldi mengumpulkan semua orang lagi. Dia melihat semua orang ketakutan. Mereka benar-benar ingin meninggalkan Aldi tapi takut keluarganya terdampak.

“Aku akan bertanya sekali lagi, apa ada yang ingin keluar?”

Hening semua diam, bahkan Frank juga terdiam.

“Aku pastikan tidak akan ada yang terjadi pada keluargamu. Hiduplah lebih layak!”

Frank menatap Aldi dengan sorot tajam, pikirannya menimbang segala kemungkinan. Di usia dan dengan kemampuannya sekarang, seharusnya ia sudah menjadi kesatria yang disegani di mana pun ia berdiri. Namun instingnya berkata lain—tetap di sisi Aldi adalah pilihan yang paling tepat. “Tuan Muda Aldi, aku akan tetap berada di rumah ini,” ucapnya mantap, menegaskan keputusannya.

Sebuah tanda hijau tiba-tiba muncul di atas kepala Frank, membuat Aldi sedikit terkejut, namun ia segera menenangkan diri. Di hadapannya, sebuah jendela sistem bertuliskan “Sistem Kesetiaan” muncul, tapi ia mengabaikannya untuk sementara. Tatapannya kembali tegas saat ia melanjutkan, “Ada lagi?”

Seorang pelayan wanita dengan ketakutan menjawab, “Tuan Muda apa benar Anda akan membiarkan keluargaku?”

“Ya, aku berjanji atas namaku!”

“Maafkan aku Tuan Muda, aku sudah tidak tahan bekerja di rumah ini. Izinkan aku keluar.”

Aldi tanpa ekspresi menjawab, “Baiklah.” Setelah beberapa saat dia memberikan satu koin emas. “Terimalah, anggap saja ini pesangonmu."

Semua pelayan membelalakkan mata saat satu per satu pergi, dua belas orang keluar, menyisakan tujuh yang masih berdiri ragu. Namun perhatian Aldi tertuju pada tiga tanda hijau yang muncul di atas kepala beberapa dari mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya, setidaknya ada tiga orang yang benar-benar berada di pihaknya. Meski begitu, ia tidak berniat menyingkirkan empat lainnya. Dengan beberapa perintah singkat, Aldi mulai menata ulang tugas masing-masing. Rumahnya memang cukup besar, tapi ia ingin semuanya tetap bersih dan terurus dengan baik.

Setelah selesai semuanya Aldi melihat Jendela Melayang di depannya. Tiga nama yang memiliki indikator hijau muncul.

[ 1. Frank S

Gerard

Ronald.]

Aldi sedikit menyempitkan mata, dia baru menyadari nama orang-orang terlihat mencurigakan. Sebelum Frank kembali, dia menyuruh Ronald yang bekerja sebagai tukang kebun menyusul untuk membelikan Buku.

Sebelum sore Gerard datang ke hadapan Aldi dengan ekspresi bingung, indikator di atas kepalanya masih hijau tapi ekspresinya tidak bisa bohong.

“Tuan Muda…” Gerard menghentikan perkataannya, mulutnya seperti terkunci oleh sesuatu.

“Katakan saja.”

“Istriku sedang sakit, bolehkan – Aku tahu aku berhutang Budi padamu Tuan. Tapi – aku benar-benar butuh uang.”

Aldi langsung mengeluarkan 5 Koin Emas, itu uang yang sangat banyak untuk pelayan seperti Gerard. “Pulanglah, temani istrimu.”

Gerard memberi hormat dan langsung mengambil uangnya.

Aldi memeriksa sisa uangnya, hanya tiga puluh koin emas. Jumlah itu jelas tidak akan cukup hingga akhir bulan. Namun untuk sementara, ia memilih mengesampingkan kekhawatiran itu. Fokusnya beralih pada tubuhnya sendiri, ia kembali berlatih, membangun kekuatan dan otot yang lebih kokoh. Perkembangannya terasa tidak masuk akal, dalam tujuh hari saja berat badannya turun drastis. Kini ia sudah bisa berjalan dan duduk dengan jauh lebih baik. Meski begitu, tubuhnya masih besar, sekitar dua ratus kilogram dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter.

Meski kondisinya sekarang kurang baik, ototnya terbentuk dengan sangat cepat. Itu terjadi karena energi hangat misterius yang selalu menyenangkan ototnya saat kelelahan. Bahkan sekarang energi hangat itu semakin banyak, dan recovery ototnya semakin tidak masuk akal.

Aldi mencoba cara ekstrim, dia keluar rumah dan mulai berjalan kaki selama 1 jam. Otot jantungnya berdetak kencang, tapi hanya istirahat 20 menit semua seperti tidak terjadi apa-apa, otot jantungnya bahkan semakin kuat.

“Tergesa-gesa tidak akan mendapat hasil baik, sepertinya cukup sampai disini.” Aldi berbicara dengan dirinya sendiri.

Frank dan Ronald melihat usaha Aldi yang tidak biasa. Mereka sudah disisinya sejak kecil, hampir tidak mungkin Aldi melakukan hal yang merepotkan seperti itu.

Frank dan Ronald saling memandang, mereka membulatkan tekat dan mulai berjalan di sisi Aldi yang tampak ingin istirahat.

“Tuan Muda, biarkan kami ikut denganmu!” ucap Frank dengan ekspresi antusias.

Aldi yang ingin istirahat tidak enak hati, akhirnya mereka berjalan lagi selama satu jam untuk membakar lemak di tubuhnya. Energi hangat di tubuhnya semakin agresif, tidak perlu menunggu 20 menit sekarang Aldi bisa berjalan terus menerus tanpa kelelahan.

Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa Aldi sudah berjalan cepat selama 1 bulan. Frank dan Ronald juga melakukannya, tubuh mereka juga meningkat pesat.

Indikator hijau di atas kepala mereka tampak berkilau dan terdapat tulisan “Level Up”. Aldi penasaran dan mengedipkan mata untuk melihat detail status dua pelayannya.

[Frank

Level : 2

Power : 120

Bakat : Administrasi (C), Pisau Tersembunyi (E).]

[Ronald

Level : 2

Power : 90

Bakat : Berkebun (D), Harvest Blade Art (E).]

Meski tidak detail, Aldi dapat memperkirakan kemampuan mereka. Setelah sebulan berlatih fisik ringan, mereka bertiga terlihat lebih sehat. Bahkan Aldi membangkitkan sesuatu yang mengesankan.

Kepekaannya terhadap lingkungan sekitar juga menjadi lebih tajam. Bahkan Aldi dapat merasakan orang-orang yang sedang mengawasinya. Meski sudah tau Aldi membiarkan mereka melakukannya.

“Apa Gerard belum kembali?” tanya Aldi pada Frank yang masih skeptis dengan peningkatan fisiknya.

“Belum Tuan, mungkin dia kabur. Apa aku perlu mencarinya?”

Ronald melirik ke arah Aldi. Dia menantikan keputusan yang diambil tuannya.

“Tidak perlu, sekarang buatkan kita makan rebus seperti biasa.”

Krisis keuangan Aldi semakin membaik karena uang kiriman dari Keluarga Utama. Bulan sebelumnya dia menghabiskan 200 Koin Emas, sedangkan bulan kemarin hanya menghabiskan 130 koin emas. Keluarga memberinya 200 Koin Emas pada awal bulan, itu membuatnya lebih tenang.

Setelah mereka bertiga makan, Aldi melihat beberapa pelayan yang tidak berani mendekatinya. Bukan karena takut tapi karena mereka orang suruhan. Aldi mengabaikannya, ia membawa Frank dan Ronald keliling Kota.

Informasi dalam Buku yang disediakan Frank sudah sangat sempurna, sekarang saatnya membuat gerakan. Kota tempat ia tinggal sekarang adalah Kota Gayam, sebuah kota Kecil di pinggir laut yang punya 2000 jiwa penduduk aktif bekerja.

Seorang pria paruh baya mendekatinya, iaadalah Walikota Gayam. Pria itu bernama Faisal Asahan, Mantan Ksatria Kerajaan.

“Tuan Muda, hari ini Festival Bunga. Tolong jangan membuat masalah di Kota. Festival ini sangat sakral untuk kita!” ucap Faisal dengan tatapan tajam.

Aldi tersenyum tipis dan menjawab ancaman dengan tenang. “Baiklah, tapi biarkan aku melihat festival itu!”

Faisal mengeratkan giginya, firasatnya mengatakan Aldi akan membuat masalah besar. Namun, ia tak memiliki alasan yang cukup untuk menolak.

“Demi keluarga Duke Rahmat…” ucapnya, mencoba menahan situasi.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Aldi sudah memotong dengan tenang, “Aku akan melihatnya dari bukit. Jangan khawatir.”

Faisal tercengang melihat perubahan sikap Tuan Muda Aldi. Sebelum berhasil memenangkan diri, Aldi sudah berbalik dan meninggalkan jalan kota.

Aldi dan dua pelayannya segera mendaki bukit, anehnya Aldi yang punya tubuh besar bisa berjalan di bukit tanpa kelelahan. Efektivitas jantung dan ototnya sangat tinggi, berbanding terbalik dengan Frank dan Ronald yang mulai kelelahan.

“Ayo istirahat dulu. Mulai sekarang naik bukit ini akan menjadi rutinitas kita.”

Tepat sebelum Aldi sempat duduk dengan nyaman, instingnya tiba-tiba memberi peringatan. Ia langsung berdiri, tubuhnya menegang, pandangannya menyapu sekitar dengan waspada. Ada sesuatu yang tidak beres.

Benar saja, seekor babi bermata merah muncul dari kejauhan, menatap ke arah mereka dengan ganas. “Monster babi!” seru Frank, terkejut melihat makhluk itu muncul di bukit yang seharusnya sepi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 27 Metode

    Tim pengintai yang nekat membuntuti kelompok Basara langsung dieksekusi di tempat tanpa suara. Kemampuan Gerard dan Grace berkembang sangat pesat setelah mereka mendalami Prinsip Jiwa.Usai membersihkan area, Aldi segera memberikan arahan untuk menjamu kelompok Basara. Koordinasi timnya berjalan sangat cepat dan terukur. Frank, sebagai penanggung jawab utama, terlihat begitu tenang meski harus mengurus banyak tugas logistik sekaligus dalam waktu singkat.Tidak lama kemudian, Basara dan Aldi sudah duduk berhadapan di ruangan yang sama. Keduanya saling melempar pandang, mencoba mengukur kedalaman kekuatan masing-masing.Namun, saat Aldi mengaktifkan sistemnya, sebaris teks aneh muncul: [Basara, Level ?, Power : ?.]Mata identifikasi yang selalu ia andalkan ternyata tidak berfungsi. Aldi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya ini memiliki kekuatan yang berada di luar jangkauan sistemnya saat ini. Informasi dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Basara adalah seorang jenderal pera

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 26 Memperbaiki

    Aldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 25 Druid

    Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 24 Sosok Misterius

    Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 23 Gila

    Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 22 Final

    Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 5 Pengakuan

    Cahaya kuning menjulang tinggi ke langit, satu ayunan pedang langsung membelah musuhnya. Peristiwa itu menggemparkan seluruh Kota Gayam, bahkan Faisal terlihat ternganga.Disisi lain Aldi sedikit terkejut dengan output yang dihasilkan. Dia hanya bereksperimen dengan prana dan memadatkannya dengan t

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 4 Pertarungan

    Aldi tidak tau seberapa efektif tekniknya dibanding orang didunia ini. Standarnya masih seperti dunia modern yang selalu mengejar kesempurnaan dan kekuatan.Sosok pria berkarisma terlihat mendekati lapangan latihan, Aldi berdiri dan melihat dua orang berjalan ke arahnya, mereka adalah Faisal dan Xo

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 3 Monster

    Monster seharusnya tidak ada di pelosok desa kecuali ada gerbang misterius. Frank segera memasang badan di depan Aldi, begitu juga Ronald.Aldi memperhatikan monster babi itu terluka, kaki belakangnya patah. “Menarik!”Meski sudah membaca buku, Aldi tetap tercengang melihat perbedaan orang biasa de

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 1 Orang Tak Berguna

    Pada suatu tempat di ujung dunia terdapat sesosok pria berpakaian putih, dia adalah Robert Sang Ilmuwan Ilahi. Wajahnya lesu dan kantung mata terlihat sangat jelas, hari ini adalah tugas terakhirnya untuk menyelesaikan penelitian tentang obat penguat fisik manusia.“Akhirnya… Revolusi umat manusia

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status