Home / Fantasi / Ilmuwan Kultivasi / Chapter 6 Perjalanan

Share

Chapter 6 Perjalanan

Author: ChimungKing
last update publish date: 2026-05-05 19:30:20

Bakat hanyalah ilusi yang diciptakan manusia, itulah yang Aldi percaya. Tidak ada bakat atau orang berbakat, hanya ada orang berusaha dan mau mempelajarinya. Racun kuning kehijauan itu menandakan salah satunya, Aldi yang selalu bereksperimen berhasil mewujudkannya. Bukan karena dia berbakat tapi karena dia mau melakukannya.

“Tuan Muda itu…” Gerard yang terbiasa dengan dengan racun terkejut. Ekspresinya tak percaya melihat racun yang sering digunakan Katak Lendir. Efek korosi itu sama persis seperti yang dimiliki beberapa monster.

“Aku juga baru mempelajarinya, sepertinya asik juga.” Aldi mengeluarkannya lagi, kali ini kontrolnya lebih baik dan berbentuk bulan sempurna. Tak lupa dia mencobanya lagi ke tanah, efeknya tidak jauh berbeda tapi sedikit lemah.

Racun hanyalah ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan. Ia tampak mematikan karena diselimuti misteri. Namun saat lapisan itu tersingkap, saat setiap unsur dan alirannya dipahami, racun tak lagi menakutkan, ia berubah menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan, bahkan dimanfaatkan

Aldi melakukan beberapa penyesuaian beberapa saat, tanpa ia sadari 3 jam berlalu begitu saja. Frank dan Ronald tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan tapi Gerard benar-benar takjub.

“Oh, jadi bisa digunakan gini juga!” Aldi melempar bola di ujung jarinya. Sebelum racun menyebar, Aldi membungkusnya dengan prana. Hasilnya sungguh mengejutkan, racun terbang dengan baik meski kecepatannya sedikit kurang.

“Sepertinya ini dulu cukup.” Aldi harus puas dan tidak terburu-buru, energi Prana dalam tubuhnya berkurang hingga setengah hanya untuk percobaan itu. Tapi energi hangat tak berwarna itu dengan cepat menyembuhkan kelelahan dan memulihkan energinya.

Gerard masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang, harapan cahaya mulai muncul dibenaknya.

“Jangan banyak pikiran, istirahat saja dan ayo berangkat besok dini hari.” Aldi menepuk pundak Gerard yang tampaknya banyak pertanyaan.

Tengah malam telah tiba, sosok hitam muncul di jendela Aldi. Matanya merah dan dengan cepat menyergap targetnya. Namun matanya terbelalak saat melihat pedangnya menyentuh sesuatu yang lembut.

“Hei, setidaknya sembunyikan nafsu membunuhmu itu.” Aldi muncul dari belakang pintu kamar mandi.

Sosok lembut itu adalah jebakan racun yang telah dipersiapkan. “Boomm!” meledak ke seluruh ruangan.

Tubuh pembunuh yang terkena racun langsung meleleh layaknya lilin yang terbakar. Pemandangan mengerikan itu membuat semua orang jijik hingga muntah, tapi anehnya Aldi sama sekali tidak berekspresi.

Frank membuka pintu dengan tergesa-gesa. “Tuan muda ada apa ini.”

Aldi mengibaskan tangannya. Racun yang berceceran di seluruh ruangan bergerak dan memadat ia membuangnya keluar jendela. “Yah seperti biasa ada beberapa orang rese.”

Frank langsung bisa menyimpulkan, ada pembunuh yang tewas mengenaskan di ruangan ini.

“Bereskan sisanya.” Aldi berjalan keluar ruangan dengan santai.

Sebelum matahari menampakkan wujudnya, Aldi dan kelompoknya pergi. Meninggalkan rumahnya kosong tanpa ada penunggu. Mereka ingin segera menuju Desa Betik yang ditempuh selama seharian jika berjalan kaki.

Aldi dan kelompoknya berlari, mereka mengerahkan semua yang dimilikinya. Staminanya tekuras habis, bahkan itu lebih melelahkan dibandingkan pertarungan sebelumnya.

Pijakan yang tidak rata dan jalan yang berkelok-kelok tak menghalangi mereka berlari 20 kilometer per jam. Kecepatan itu sama dengan seorang professional maraton di dunia modern sebelum adanya suntikan genetik.

Disisi lain Faisal dan beberapa orang mengunjungi rumah Aldi.

“Kemana mereka?” Tanyanya dengan bingung, Faisal tahu Aldi baru saja menyelesaikan pertarungan brutal, tapi kenapa rumah itu sangat sepi.

Xorn juga bingung, informasi terbaru mereka hanya duduk-duduk santai sambil pesta daging. Namun sekarang rumahnya kosong tak berpenghuni. “Aku…”

Sebelum Xorn menyelesaikan perkataannya, sosok pria berpakaian hitam muncul di sebelahnya dan membisikkan informasi.

“Mereka keluar gerbang Kota Tuan.”

Faisal hanya bisa terdiam, jaraknya terlalu jauh untuk dikejar. “Baiklah, mari tunggu mereka pulang.”

Aldi sudah sampai pegunungan. “Setelah melewatinya kita sampai di desamu kan?” tanyanya sambil menunjuk pegunungan.

Gerard mengangguk setuju. “Iya Tuan Muda, tapi bisakah kita istirahat sebentar?”

Mereka semua membawa tas, itu membuat perjalanan mereka terasa seperti di neraka. Aldi melihat ke Frank dan Ronald yang tampak pucat kelelahan.

“Baiklah, istirahat disini 10 menit.”

Frank dengan cepat menurunkan tas yang beratnya sekitar 50 kilogram. Dalam keadaan normal dia mampu mengangkatnya berjam-jam, tapi Aldi mengajak mereka berlari sambil mendaki.

Meski Gerard terbiasa dengan situasi ekstrim, kali ini dia benar-benar kehabisan nafas. Cahaya matahari yang mulai menyengat membuat air dalam tubuhnya menguap dengan sangat cepat. Bahkan pandangannya hampir buram karena dehidrasi parah, tapi anehnya dia tetap bisa berlari.

Ronald tidak memiliki keluhan apa-apa, dia hanya lelah dan ingin istirahat. Meski ingin segera istirahat matanya menatap Aldi yang melihat ke depan. Kekagumannya bertambah karena Tuan yang dia layani benar-benar patut dicontoh. Nafasnya masih tenang dan kondisi fisiknya masih dalam kondisi prima.

Aldi sendiri sedang mengatur nafas dan mengedarkan energi hangat ke sekujur tubuhnya. Tanpa sadar dia mulai melepaskan energi hangat itu, meski begitu Aldi tidak mencoba menangkapnya dan membiarkan itu bocor sedikit. Tindakan sederhana itu membuat udara disekitar menjadi sejuk dan kelelahan pelayannya sembuh dengan cepat.

“Baiklah ayo berangkat, target kita sampai sebelum matahari tergelincir dari atas kepala.”

Frank dan Gerard menelan ludah, mereka tahu betapa susahnya target itu. Berbeda dengan Ronald yang dengan santai mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Ayo semangat teman-teman!”

Frank dengan cepat memukul kepalanya. “Diam, kau sedang bicara dengan Tuan Muda!”

Aldi tersenyum tipis dan mengabaikan bercandaan mereka. “Ayo.”

Semuanya berlari dengan kecepatan tinggi, tapi hal yang mengejutkan terjadi di depan mata semua orang. Sekelompok bandit menghancurkan Desa Betik dan membakarnya, hal itu bisa dilihat dari jarak yang cukup jauh.

Gerard tidak bisa mengontrol emosi. Wajah dan matanya tampak merah karena marah, tangannya menggenggam erat senjatanya dan tanpa aba-aba langsung melesat maju layaknya anak panah yang lepas dari busurnya

Aldi tidak menghentikannya, dia justru mengejarnya. Frank dan Ronald menyusul dengan ekspresi tegang.

Gerard yang sudah termakan emosi langsung menyerang. Meski serangannya tajam tapi energinya terlalu lemah, lebih soalnya orang yang dia serang adalah kepala bandit yang ingin keluar desa.

“Siapa bocah ini?”

Sosok pria tegap muncul di sebelah pemimpin bandit. “Oh aku ingat dia anak kepala desa. Sepertinya membunuhnya tidak akan mendapat apa-apa. Bagaimana jika kita sandra, supaya kakek tua itu keluar dari persembunyiannya.

“Ide bagus.”

Pemimpin bandit ingin memberikan pukulan telak, tapi tebasan pedang dengan mulus memotong tangan kanannya. Dengan cepat dia mundur mengambil posisi.

“Siapa kau, Sialan!”

Aldi tanpa ekspresi menjawab, “Bukan orang yang mudah diganggu.”

Tanpa peringatan tebasan pedang lainnya muncul, kecepatan luar biasa itu langsung menewaskan pemimpin bandit dalam sekali kedipan mata.

Anggota bandit yang melihat tampak ketakutan, tapi Wakil mereka langsung memerintahkan untuk menyerang. “Pecundang, ayo serang dia!”

Dimulai darinya, Wakil bandit dengan cepat melancarkan serangannya. Namun tusukannya berhasil dihindari dengan elegan dan tepat. Tidak kehabisan akal wakil bandit langsung melempar bubuk merica ke mata Aldi.

Serangan selanjutnya muncul, tapi bukannya pedangnya yang menjatuhkan musuh tapi dadanya tertusuk pedang hingga tembus kebelakang. Matanya terbelalak tak percaya, musuhnya jelas terkena bom merica.

Sebelum menutup mata, Wakil bandit melihat sosok Aldi yang penuh dengan intimidasi. Mata merah yang terkena bubuk merica masih terbuka melihat ke arahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 17 Shadow Step

    Regas dan Reymond tidak ada pilihan selain mengakuinya, meski begitu mereka tetap ingin mencari keuntungan dari pelayan Aldi yang sudah menghajar orangnya. Namun niat mereka berdua segera ditarik setelah melihat senyum Aldi yang sangat mengintimidasi.“Siapa sebenarnya rubah ini.” ucap Regas dalam hatinya yang masih tidak percaya salah satu tim elitnya kalah begitu mudah.Reymond segera beradaptasi dengan situasi, meski ia punya kepercayaan diri melawan mereka tapi mundur adalah pilihan terbaik. Tangan kanannya diangkat, energi dalam tubuhnya bersirkulasi pelan dan menciptakan sebuah benang terang, benang itu langsung mengangkat tubuh orang-orangnya. “Sepertinya cukup sampai disini,” ujar Reymond.Regas juga langsung beradaptasi, ia tidak perlu mencampuri urusan Kota Gayam lagi. Niatnya hanya ingin melihat situasi tapi kekalahan Moralez membuat Regas harus menampakkan dirinya.Setelah semua orang meninggalkan tempat, tatapan Aldi langsung mengarah ke Moralez yang masih terbaring di t

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 16 Mengecewakan

    Moralez melompat mundur, ia terpaksa membuka segel kekuatannya. “Baiklah kau memaksaku!”Tubuhnya bertambah besar dan kulitnya berubah merah. Matanya menyala garang, menyerupai iblis yang ingin menelan semua musuhnya. Sekarang penampilannya sudah seperti iblis yang siap menghancurkan apa saja di depannya.Aldi melihat indikator di atas kepala Moralez berubah menjadi hitam yang artinya mereka akan menjadi musuh sampai mati. Hal yang membuatnya sedikit antusias karena kekuatan yang tercatat dalam sistem.[Moralez, Level : 31 (Bintang 4), Power : 1100 Keterampilan :---]Senyum tipis merekah di wajah Aldi, matanya berkilat penuh antusias. “Ini dia yang aku cari, majulah!” teriaknya sambil menancapkan pedangnya di tanah.Tepat setelah ia menyelesaikan katanya, pukulan keras langsung menghantam dadanya. Aldi diterbangkan hingga puluhan meter, meski begitu dia berhasil berhenti dengan kedua kakinya. Matanya langsung melihat ke arah musuh, itu adalah tatapan kecewa karena pukulan Moralez tera

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 15 Baron Moralez

    Xorn tertawa terbahak-bahak. “Seperti yang diharapkan dari rivalku. Sebagai pelayan apa kau tidak punya pikiran bergabung dengan kami?”Frank menggelengkan kepala. “Sebenarnya aku cukup terkejut saat melihatmu melakukan semua ini. Ah jika saja Tuan Faisal melihat ini, dia pasti akan sangat terpukul.”Sekali lagi Xorn tertawa. “Dia tidak akan tahu, semua dilakukan dengan baik. Jadi aku akan kembali ke sisinya tanpa ada sedikitpun kecurigaan.”Frank hanya bisa diam karena itu memang fakta, ia mendengar pembicaraan pasukan mereka. Faisal sudah dikondisikan supaya tidak bisa mendengar kejadian disini, ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai walikota.“Baiklah-baiklah, jangan membuat ini berlarut-larut. Ayo hilangkan bukti yang bisa membawamu ke neraka ini!” ucap Frank dengan senyum lebar.10 anak mulai ketakutan saat Frank melepaskan Prana berwarna ungu kehitaman. Aura mencekam dan gelap itu seperti kematian yang sedang mengintai targetnya.Xorn mundur selangkah tapi langsung melawan tekan

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 14 Bandit

    Prinsip Jiwa adalah teknik kultivasi yang masih bisa berkembang, Aldi akan terus memperbaikinya seiring berjalannya waktu. Teknik kultivasi kuno dipadukan dengan pengetahuan modern menciptakan aliran baru.Pemuda yang paling tua berdiri dan bertanya dengan ekspresi serius. “Tuan Muda, bagaimana dengan adik-adik kami?”“Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga, bahkan jika kalian menolak dan ingin menjadi anggota biasa aku tidak memaksa.”Pemuda berumur 16 tahun itu langsung berlutut dan melakukan ritual sumpah darah. Jarinya digigit hingga darah mengucur, lalu ia mengusapkannya ke dahi.“Aku tidak akan pernah mengkhianati Tuan Muda Aldi.” Cahaya keemasan menerobos keluar dari tubuhnya. Sebuah benang terhubung antara dirinya dan Aldi yang berdiri tegak.“Aku menghargai keputusanmu. Kau yang paling tua jadi jangan memaksa kehendak adik-adikmu.” Aldi memberi peringatan.Sembilan pemuda lainnya mengangguk setuju, mereka tidak punya orang tua jadi lebih baik mengikuti Aldi Rahmat yang bis

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 13 Serikat Petualang

    Aldi duduk bersila menghadap matahari pagi yang begitu indah. “Bumi dulu pasti seindah ini.” Kenangan lama mulai muncul di pikirannya. Namun Aldi tidak mau ambil pusing dan fokus memperbaiki tubuhnya.Semua otot tubuhnya sudah mencapai puncaknya, ia hanya menemukan dorongan lebih untuk mendobrak penghalangnya. Prana miliknya tidak terlalu melimpah karena akar spiritualnya hanya tingkat Roh.Akar spiritual adalah pondasi awal setiap manusia di dunia ini berkultivasi. Ada 7 tingkat akar kultivasi yaitu Fana, Roh, Murni, Elemen, Raja, Surgawi, Kekacauan.Kakak ke-6 hingga ke-4 punya akar spiritual Elemen, mereka punya elemen api, angin, dan air. Kakak ketiga dan kedua punya akar spiritual Raja, dan Kakak sulungnya punya akar spiritual Surgawi seperti Duka Rahmat.

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 12 Semangat Juang

    Gerard yang sudah tak sadarkan diri menyerang membabi buta. Ronald menangkis serangan dengan senyum lebar di bibirnya, meski beberapa serangan kecil menembus penjagaannya itu dapat diabaikan berkat Keterampilan Regenerasi.Grace melihat pertarungan gila itu, ia sudah sebulan berlatih dengan Ronald tapi tidak mengetahuinya. Perisai itu begitu kokoh layaknya sebuah tembok raksasa.Serangan Gerard mulai melemah sebelum dia memulihkan diri perisai penyok itu langsung menyodok wajahnya. Gerard langsung pingsan setelah terkena serangan.Ronald tersenyum di balik perisai, tubuhnya penuh darah yang mengalir tapi staminanya masih terjaga. “Pertarungan yang hebat, Kawan. Lain kali berusahalah lebih kuat.”Rossa, Rina, dan Rini melihat pertarungan hebat itu. Mereka tidak menyangka di balik penampilan konyol Ronald, ternyata tersimpan semangat juang yang begitu membara.Orang yang paling terkejut disini tentu saja Frank, setelah ia melihat pertarunga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status