Se connecterBakat hanyalah ilusi yang diciptakan manusia, itulah yang Aldi percaya. Tidak ada bakat atau orang berbakat, hanya ada orang berusaha dan mau mempelajarinya. Racun kuning kehijauan itu menandakan salah satunya, Aldi yang selalu bereksperimen berhasil mewujudkannya. Bukan karena dia berbakat tapi karena dia mau melakukannya.
“Tuan Muda itu…” Gerard yang terbiasa dengan dengan racun terkejut. Ekspresinya tak percaya melihat racun yang sering digunakan Katak Lendir. Efek korosi itu sama persis seperti yang dimiliki beberapa monster. “Aku juga baru mempelajarinya, sepertinya asik juga.” Aldi mengeluarkannya lagi, kali ini kontrolnya lebih baik dan berbentuk bulan sempurna. Tak lupa dia mencobanya lagi ke tanah, efeknya tidak jauh berbeda tapi sedikit lemah. Racun hanyalah ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan. Ia tampak mematikan karena diselimuti misteri. Namun saat lapisan itu tersingkap, saat setiap unsur dan alirannya dipahami, racun tak lagi menakutkan, ia berubah menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan, bahkan dimanfaatkan Aldi melakukan beberapa penyesuaian beberapa saat, tanpa ia sadari 3 jam berlalu begitu saja. Frank dan Ronald tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan tapi Gerard benar-benar takjub. “Oh, jadi bisa digunakan gini juga!” Aldi melempar bola di ujung jarinya. Sebelum racun menyebar, Aldi membungkusnya dengan prana. Hasilnya sungguh mengejutkan, racun terbang dengan baik meski kecepatannya sedikit kurang. “Sepertinya ini dulu cukup.” Aldi harus puas dan tidak terburu-buru, energi Prana dalam tubuhnya berkurang hingga setengah hanya untuk percobaan itu. Tapi energi hangat tak berwarna itu dengan cepat menyembuhkan kelelahan dan memulihkan energinya. Gerard masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang, harapan cahaya mulai muncul dibenaknya. “Jangan banyak pikiran, istirahat saja dan ayo berangkat besok dini hari.” Aldi menepuk pundak Gerard yang tampaknya banyak pertanyaan. Tengah malam telah tiba, sosok hitam muncul di jendela Aldi. Matanya merah dan dengan cepat menyergap targetnya. Namun matanya terbelalak saat melihat pedangnya menyentuh sesuatu yang lembut. “Hei, setidaknya sembunyikan nafsu membunuhmu itu.” Aldi muncul dari belakang pintu kamar mandi. Sosok lembut itu adalah jebakan racun yang telah dipersiapkan. “Boomm!” meledak ke seluruh ruangan. Tubuh pembunuh yang terkena racun langsung meleleh layaknya lilin yang terbakar. Pemandangan mengerikan itu membuat semua orang jijik hingga muntah, tapi anehnya Aldi sama sekali tidak berekspresi. Frank membuka pintu dengan tergesa-gesa. “Tuan muda ada apa ini.” Aldi mengibaskan tangannya. Racun yang berceceran di seluruh ruangan bergerak dan memadat ia membuangnya keluar jendela. “Yah seperti biasa ada beberapa orang rese.” Frank langsung bisa menyimpulkan, ada pembunuh yang tewas mengenaskan di ruangan ini. “Bereskan sisanya.” Aldi berjalan keluar ruangan dengan santai. Sebelum matahari menampakkan wujudnya, Aldi dan kelompoknya pergi. Meninggalkan rumahnya kosong tanpa ada penunggu. Mereka ingin segera menuju Desa Betik yang ditempuh selama seharian jika berjalan kaki. Aldi dan kelompoknya berlari, mereka mengerahkan semua yang dimilikinya. Staminanya tekuras habis, bahkan itu lebih melelahkan dibandingkan pertarungan sebelumnya. Pijakan yang tidak rata dan jalan yang berkelok-kelok tak menghalangi mereka berlari 20 kilometer per jam. Kecepatan itu sama dengan seorang professional maraton di dunia modern sebelum adanya suntikan genetik. Disisi lain Faisal dan beberapa orang mengunjungi rumah Aldi. “Kemana mereka?” Tanyanya dengan bingung, Faisal tahu Aldi baru saja menyelesaikan pertarungan brutal, tapi kenapa rumah itu sangat sepi. Xorn juga bingung, informasi terbaru mereka hanya duduk-duduk santai sambil pesta daging. Namun sekarang rumahnya kosong tak berpenghuni. “Aku…” Sebelum Xorn menyelesaikan perkataannya, sosok pria berpakaian hitam muncul di sebelahnya dan membisikkan informasi. “Mereka keluar gerbang Kota Tuan.” Faisal hanya bisa terdiam, jaraknya terlalu jauh untuk dikejar. “Baiklah, mari tunggu mereka pulang.” Aldi sudah sampai pegunungan. “Setelah melewatinya kita sampai di desamu kan?” tanyanya sambil menunjuk pegunungan. Gerard mengangguk setuju. “Iya Tuan Muda, tapi bisakah kita istirahat sebentar?” Mereka semua membawa tas, itu membuat perjalanan mereka terasa seperti di neraka. Aldi melihat ke Frank dan Ronald yang tampak pucat kelelahan. “Baiklah, istirahat disini 10 menit.” Frank dengan cepat menurunkan tas yang beratnya sekitar 50 kilogram. Dalam keadaan normal dia mampu mengangkatnya berjam-jam, tapi Aldi mengajak mereka berlari sambil mendaki. Meski Gerard terbiasa dengan situasi ekstrim, kali ini dia benar-benar kehabisan nafas. Cahaya matahari yang mulai menyengat membuat air dalam tubuhnya menguap dengan sangat cepat. Bahkan pandangannya hampir buram karena dehidrasi parah, tapi anehnya dia tetap bisa berlari. Ronald tidak memiliki keluhan apa-apa, dia hanya lelah dan ingin istirahat. Meski ingin segera istirahat matanya menatap Aldi yang melihat ke depan. Kekagumannya bertambah karena Tuan yang dia layani benar-benar patut dicontoh. Nafasnya masih tenang dan kondisi fisiknya masih dalam kondisi prima. Aldi sendiri sedang mengatur nafas dan mengedarkan energi hangat ke sekujur tubuhnya. Tanpa sadar dia mulai melepaskan energi hangat itu, meski begitu Aldi tidak mencoba menangkapnya dan membiarkan itu bocor sedikit. Tindakan sederhana itu membuat udara disekitar menjadi sejuk dan kelelahan pelayannya sembuh dengan cepat. “Baiklah ayo berangkat, target kita sampai sebelum matahari tergelincir dari atas kepala.” Frank dan Gerard menelan ludah, mereka tahu betapa susahnya target itu. Berbeda dengan Ronald yang dengan santai mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Ayo semangat teman-teman!” Frank dengan cepat memukul kepalanya. “Diam, kau sedang bicara dengan Tuan Muda!” Aldi tersenyum tipis dan mengabaikan bercandaan mereka. “Ayo.” Semuanya berlari dengan kecepatan tinggi, tapi hal yang mengejutkan terjadi di depan mata semua orang. Sekelompok bandit menghancurkan Desa Betik dan membakarnya, hal itu bisa dilihat dari jarak yang cukup jauh. Gerard tidak bisa mengontrol emosi. Wajah dan matanya tampak merah karena marah, tangannya menggenggam erat senjatanya dan tanpa aba-aba langsung melesat maju layaknya anak panah yang lepas dari busurnya Aldi tidak menghentikannya, dia justru mengejarnya. Frank dan Ronald menyusul dengan ekspresi tegang. Gerard yang sudah termakan emosi langsung menyerang. Meski serangannya tajam tapi energinya terlalu lemah, lebih soalnya orang yang dia serang adalah kepala bandit yang ingin keluar desa. “Siapa bocah ini?” Sosok pria tegap muncul di sebelah pemimpin bandit. “Oh aku ingat dia anak kepala desa. Sepertinya membunuhnya tidak akan mendapat apa-apa. Bagaimana jika kita sandra, supaya kakek tua itu keluar dari persembunyiannya. “Ide bagus.” Pemimpin bandit ingin memberikan pukulan telak, tapi tebasan pedang dengan mulus memotong tangan kanannya. Dengan cepat dia mundur mengambil posisi. “Siapa kau, Sialan!” Aldi tanpa ekspresi menjawab, “Bukan orang yang mudah diganggu.” Tanpa peringatan tebasan pedang lainnya muncul, kecepatan luar biasa itu langsung menewaskan pemimpin bandit dalam sekali kedipan mata. Anggota bandit yang melihat tampak ketakutan, tapi Wakil mereka langsung memerintahkan untuk menyerang. “Pecundang, ayo serang dia!” Dimulai darinya, Wakil bandit dengan cepat melancarkan serangannya. Namun tusukannya berhasil dihindari dengan elegan dan tepat. Tidak kehabisan akal wakil bandit langsung melempar bubuk merica ke mata Aldi. Serangan selanjutnya muncul, tapi bukannya pedangnya yang menjatuhkan musuh tapi dadanya tertusuk pedang hingga tembus kebelakang. Matanya terbelalak tak percaya, musuhnya jelas terkena bom merica. Sebelum menutup mata, Wakil bandit melihat sosok Aldi yang penuh dengan intimidasi. Mata merah yang terkena bubuk merica masih terbuka melihat ke arahnya.Tim pengintai yang nekat membuntuti kelompok Basara langsung dieksekusi di tempat tanpa suara. Kemampuan Gerard dan Grace berkembang sangat pesat setelah mereka mendalami Prinsip Jiwa.Usai membersihkan area, Aldi segera memberikan arahan untuk menjamu kelompok Basara. Koordinasi timnya berjalan sangat cepat dan terukur. Frank, sebagai penanggung jawab utama, terlihat begitu tenang meski harus mengurus banyak tugas logistik sekaligus dalam waktu singkat.Tidak lama kemudian, Basara dan Aldi sudah duduk berhadapan di ruangan yang sama. Keduanya saling melempar pandang, mencoba mengukur kedalaman kekuatan masing-masing.Namun, saat Aldi mengaktifkan sistemnya, sebaris teks aneh muncul: [Basara, Level ?, Power : ?.]Mata identifikasi yang selalu ia andalkan ternyata tidak berfungsi. Aldi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya ini memiliki kekuatan yang berada di luar jangkauan sistemnya saat ini. Informasi dari jaringan intelijen menyebutkan bahwa Basara adalah seorang jenderal pera
Aldi perlahan membuka mata. Ia akhirnya memahami mengapa tekniknya tiba-tiba berkembang sendiri. Ternyata, Teknik Prinsip Jiwa ini bukanlah seratus persen ciptaannya, melainkan gabungan dari berbagai kekuatan. Saat mendapat tambahan energi lain, teknik itu akan berkembang secara alami dan memberikan wawasan baru bagi penggunanya. Artinya, semakin banyak ras yang menggunakan Teknik Prinsip Jiwa, semakin mendalam pula pemahaman mereka tentang kultivasi.Pandangannya langsung mengarah ke sosok penyihir yang terbang di langit. Di saat yang sama, ia juga bisa merasakan keberadaan kubah tak kasat mata yang melindungi semua orang. Kedua alis Aldi berkerut saat melihat Justin yang tampak kebingungan.Justin adalah penyihir jenius, anak dari seorang Viscount yang berkelana demi mencari pengalaman bertarung. Namun, langkahnya sedikit terhambat karena Aldi berhasil mengalahkannya dengan cukup mudah—bahkan setelah laga itu, Aldi masih harus menghadapi Visco.Bagi seorang penyihir, terbang adalah
Kabut panik sempat menyergap benak Aldi saat melihat tubuh Rini perlahan melenyap. Namun, ia memaksakan Prana tetap mengunci pandangannya untuk membedah fenomena yang sedang terjadi. Begitu pendaran cahaya hijau memudar, Aldi melesat mendekat.Tunas pohon kecil di hadapannya mulai bermanifestasi dan tumbuh secara abnormal. Dari yang awalnya hanya setinggi sejengkal tangan, tanaman itu meroket cepat hingga menjadi pohon dewasa setinggi dua meter.DEG!Dentuman misterius itu kembali menggetarkan udara. Aldi menoleh ke segala penjuru, nihil. Penasaran, ia memberanikan diri menempelkan telinganya ke kulit pohon yang masih bergetar hebat tersebut."Tidak mungkin... suaranya berasal dari dalam batang ini?"Sebelum rasa terkejutnya reda, tubuh Aldi mendadak memancarkan pendaran hijau pekat. Kemampuan pasif Regenerasi Super miliknya tiba-tiba meraung liar, menciptakan resonansi paksa yang menyedot sekaligus mengalirkan balik seluruh energi alam di sekitarnya."Cih, fenomena apa lagi ini?!" er
Setelah mengerahkan seluruh perlawanan, Visco akhirnya tumbang dan jatuh pingsan di tanah yang hancur. Di tengah gemuruh stadion, Aldi justru mendongak, menatap lurus ke langit tempat dua sosok pria tua mengawasinya sedari tadi. Sadar keberadaan mereka telah terkunci, kedua sosok misterius yang enggan menampakkan wajah itu langsung melesat pergi.Bersamaan dengan itu, suara komentator membahana mendefinisikan kemenangan mutlak nomor 178. Pihak penyelenggara Arena Mojor kembali menelan pil pahit; mereka merugi hingga sebelas ribu koin emas karena meremehkan Aldi. Di sisi lain, kelompok Bluewings pulang dengan kantong yang dipenuhi ribuan koin emas hasil taruhan.Setelah menerima hadiah utama berupa Inti Monster tingkat tinggi, Aldi menyadari benda itu tidak lagi berguna untuk menembus batas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia menyerahkannya kepada Frank. Setelah Frank berhasil menyerap dan menyaring seluruh energi keruh di dalam inti tersebut, sebuah ledakan energi murni tercipta—pria par
Melihat energi hijau yang menyelimuti tubuh Aldi, Visco segera meningkatkan kewaspadaannya dan langsung menerjang maju. Satu hantaman keras ia layangkan murni untuk meremukkan dada musuhnya, namun serangan bertenaga itu mendadak terhenti oleh satu telapak tangan Aldi.Energi hijau di tangan Aldi tidak hanya menahan benturan, tetapi juga meredam seluruh gelombang kejutnya, membuat pukulan telak Visco seketika kehilangan daya ancam.Aldi memutuskan bahwa waktu bermain-mainnya sudah habis. Menolak untuk terus membuang waktu dengan bertahan, ia mengambil alih kendali pertempuran. Tinju kanannya melesat secepat kilat, menghantam dada Visco yang sempat lengah akibat kehilangan momentum.Melihat pertahanan musuhnya terbuka, insting bertarung Aldi bergejolak. Tanpa memberi jeda satu napas pun, ia menghujani Visco dengan kombinasi pukulan beruntun yang brutal.BAM! BLAAM! BAM!Udara di sekeliling mereka menjerit hebat, terdistraksi oleh gelombang kejut mematikan yang tercipta dari setiap bentu
Wujud asli dari mode bertarung Justin kini terekspos sepenuhnya. Jubah penyihirnya yang terkoyak menampilkan bentuk tubuh yang bertolak belakang dengan penyihir rapuh pada umumnya. Otot-ototnya mengeras padat, berpadu dengan kulit biru tua yang membuatnya tampak seperti entitas iblis yang siap meratakan seisi kota.Sebelum Aldi sempat menganalisis perubahan struktur energi tersebut, tubuh Justin lenyap secara mutlak. Tanpa ada riak udara ataupun peringatan, sosok biru tua itu sudah muncul tepat di depan garis pandang Aldi, melayangkan satu pukulan keras ke arah dada.BLAAM!Hantaman berkekuatan destruktif itu melempar tubuh Aldi melesat lurus hingga menabrak dinding pembatas arena hingga retak parah. Asap tebal dan puing batu berjatuhan. Namun, alih-alih meringis kesakitan akibat patah tulang, dari balik kepulan debu, Aldi justru bangkit berdiri perlahan dengan seringai lebar di wajahnya. Rasa sakit dan tekanan hebat ini... adalah apa yang ia cari selama ini untuk menembus batas kemam
Aldi tidak tau seberapa efektif tekniknya dibanding orang didunia ini. Standarnya masih seperti dunia modern yang selalu mengejar kesempurnaan dan kekuatan.Sosok pria berkarisma terlihat mendekati lapangan latihan, Aldi berdiri dan melihat dua orang berjalan ke arahnya, mereka adalah Faisal dan Xo
Monster seharusnya tidak ada di pelosok desa kecuali ada gerbang misterius. Frank segera memasang badan di depan Aldi, begitu juga Ronald.Aldi memperhatikan monster babi itu terluka, kaki belakangnya patah. “Menarik!”Meski sudah membaca buku, Aldi tetap tercengang melihat perbedaan orang biasa de
Semua pelayan dipanggil, total ada 12 Pelayan Wanita dan 7 pelayan laki-laki termasuk Frank. Aldi melihat mereka semua takut menatap matanya, ada jurang diantara mereka.“Apa ada yang mau keluar?” tanya Aldi dengan suara pelan.Hening, semua terdiam. Mereka menggap Aldi ingin memecat dan menyengsar
Pada suatu tempat di ujung dunia terdapat sesosok pria berpakaian putih, dia adalah Robert Sang Ilmuwan Ilahi. Wajahnya lesu dan kantung mata terlihat sangat jelas, hari ini adalah tugas terakhirnya untuk menyelesaikan penelitian tentang obat penguat fisik manusia.“Akhirnya… Revolusi umat manusia







